Paranoid

Dear  readers, if you ever read my writing on this blog from the very beginning, you know how I want to be free from any anxiety, any worries. But it’s seem so hard to feel. Sulit rasanya untuk bisa merasa tidak pernah khawatir tentang apapun. Saat inipun, aku sedang merasa sedikit khawatir. Bukan, bukan tentang kankerku, kali ini bukan itu. Tapi tentang jantungku. Aku merasa khawatir jika ada masalah pada jantungku.

Pernah menjalani delapan kali kemoterapi dengan obat Herceptin, dan sebuah kejadian yang kualami beberapa waktu yang lalu, sudah cukup menjadi alasan bagiku untuk merasa khawatir dengan kondisi jantungku. Efek Herceptin itu benar-benar merusak jantung. Aku ingat dulu sebelum dr. K (Sp.B (K) Onk) merekomendasikan dan meresepkan obat ini (karena hasil pemeriksaan immunohistokimia ku menunjukkan Her2Neu +++ pada 30 – 35% sel tumor), beliau memintaku untuk cek up jantung dulu di Poli Jantung Terpadu. Untunglah hasilnya bagus. Berdasarkan hasil cek up yang ditandatangani oleh ahli jantung dr. M (Sp.JP), jantungku normal sehingga layak untuk mendapatkan kemoterapi dengan obat Herceptin.

Dulu ketika akan memakai obat itu, oleh salah seorang medical representative dari produsen Herceptin (PT Roche) yang bernama Mas Bagyo, aku diberi semacam product knowledge tentang Herceptin. Bentuknya berupa buku kecil yang menjelaskan tentang Herceptin. Ketika kubaca, disebutkan bahwa Herceptin memiliki efek ke jantung. Jadi kemungkinannya kankerku bisa sembuh, tetapi jantungku bisa rusak… Duh, obat-obat kanker memang seperti itu ya… menyedihkan sekali. Tak adakah obat yang tidak memiliki efek samping memiliki daya rusak ke organ lain ? Obat-obat yang dulu kupakai,  obat kemo doxorubicin dan brexel daya rusaknya kalau bukan ke liver maka ke ginjal atau keduanya. Karena itulah dulu aku selalu diminta rutin cek up untuk melihat normal tidaknya fungsi liver dan fungsi ginjal setiap satu minggu setelah kemoterapi.

Kekhawatiranku akan fungsi jantungku saat ini bukannya tanpa sebab. Aku ingat suatu pagi di hari senin ketika sedang mengikuti upacara bendera di sekolah, tiba-tiba aku merasa lemas seperti mau pingsan. Rasanya nggak karuan, padahal posisi barisku berada di bawah keteduhan, pagi itu baru jam tujuh, matahari belum tinggi, dan aku juga sudah sarapan di rumah. Mengapa tiba-tiba aku merasa seperti mau pingsan ? Saat itu aku merasa tidak kuat lagi melanjutkan kegiatan upacara. Aku berpikir bahwa aku tak boleh pingsan di depan seluruh siswa dan teman-teman guru peserta upacara. Maka aku segera keluar dari barisan dan berjalan menuju UKS. Untungnya lokasi UKS tidak terlalu jauh dari lapangan upacara sehingga aku tidak keburu pingsan di selasar. Aku segera berbaring dan beristirahat. Rasanya badanku lemas, jantung berdebar-debar dan keringat dingin bercucuran.

Kalau kuingat-ingat lagi, penyebab jantungku berdebar keras pagi itu adalah karena sebelum upacara aku sempat berlari kecil di selasar ketika akan menyerahkan kunci mobil kepada suamiku. Pagi itu suamiku menyusulku ke sekolah, mau menukar motornya dengan mobil yang kupakai. Dia butuh mitsu mirage itu untuk suatu keperluan. Sehari-hari dia lebih suka pakai motor ke tempat kerja, dan karena aku lebih membutuhkan mobil itu untuk antar jemput 2 orang anak dengan 2 tas ransel yang besar-besar, maka mobil itu aku  yang pakai. Ketika dia datang itulah aku berlari kecil di sepanjang selasar sekolah yang panjang untuk memberikan kunci. Waktu itu aku sudah berada di bagian belakang sekolah, sudah dekat dengan lapangan upacara dan suamiku berada jauh di depan, di dekat ruang guru. Aku berlari karena aku nggak mau terlambat ikut upacara. Sejak itulah jantungku berdebar, dan ketika upacara aku merasa sangat lemas seperti mau pingsan.

Aku ingat, dulu ketika pertama kali obat Herceptin itu masuk ke venaku, perawat yang memberikan obat itu bertanya, “Ada yang dirasakan bu ?” Aku jawab, “Iya mbak, jantung saya jadi berdebar-debar…” padahal obat itu masuk lewat infus yang di drip lambat. Mendengar jawabanku, perawat itu mengatur drip infusku, membuat laju tetes drip yang masuk lebih pelan lagi. See ? Obat itu, baru beberapa tetes yang masuk ke tubuhku, jantungku langsung memberikan reaksi. Sebegitu besarkah daya rusak herceptin kepada jantung ? Mengerikan sekali.

Senin pagi itu, kebetulan hari pertamaku masuk sekolah kembali setelah 3 hari berada di Makassar untuk suatu kegiatan. Ketika kembali sampai di kotaku  malam sabtu, rasanya memang capek sekali. Tapi bukankah aku sudah cukup beristirahat selama dua hari di hari sabtu dan minggu ? Tapi sampai hari ini, aku tak pernah lagi mengalami perasaan seperti mau pingsan dan lemas seperti senin pagi itu. Mungkin, sebenarnya jantungku baik-baik saja. Aku saja yang terlalu paranoid. Mohon doanya, semoga semuanya baik-baik saja. All is well.

Semoga saja tulisanku ini tidak membuat takut orang yang diresepkan herceptin. Sungguh, bukan maksudku membuat takut. Jika mungkin ada diantara para pembaca yang kebetulan saja mengalami hal yang sama seperti saya (breast cancer dengan hasil immunohistikimia Her2 +++ dan diresepkan Herceptin), saya sarankan ikuti saja yang direkomendasikan dan diprogramkan oleh dokter onkologi anda. Semua itu tentu demi kesembuhan anda. Jangan takutkan apapun. Just be brave and never give up. And everything will be allright.

Advertisements

Akhirnya….

Akhirnya terjawab sudah pertanyaan yang selama ini ada dalam benakku. Bisakah aku ikut program SafeHer ? Kupikir dosis herceptin yang kudapat masih kurang, karena dulu aku  hanya dapat herceptin selama 8 kali setiap tiga minggu, hanya enam bulan kan ? Padahal katanya pengobatan dengan herceptin itu mestinya selama satu tahun setiap tiga minggu sekali. Berarti aku masih kurang banyak bukan ?

Tapi ternyata tidak. Ternyata, ini kata sales Herceptin nih, yang dapat herceptin selama satu tahun itu adalah mereka yang dosis herceptinnya setengah. Sedangkan aku dulu dosisnya penuh. Jadi kesimpulannya, herceptin yang aku dapat dulu 8 kali itu, sama dengan mereka yang mendapat herceptin selama satu tahun. Tergantung dokter masing-masing, mau kasih dosis penuh atau setengah. Oh…ternyata begitu….

Ya sudahlah kalau begitu, berarti kan aku sudah nggak perlu khawatir lagi, karena prosedur pengobatanku sudah benar. Itu sebabnya kata Mas Hendra, aku nggak bisa ikut program SafeHer, karena sudah pernah dapat Herceptin. Dia sudah tanyakan itu ke dokter SPPD KHOM di poli tulip.

Oke, berarti aku nggak perlu bolak-balik ke Yogya setiap tiga minggu sekali untuk suntik Herceptin (Alhamdulillah….) Betapa leganya. Sekarang ini aku hanya harus jaga kondisi, jaga makanan agar tetap sehat, hilangkan semua rasa cemas dan khawatir yang masih tersisa, banyak berdoa, agar benar-benar sembuh total. Amin.