Surat Terbuka

Kepada Yth : Bpk. Ir. H. Joko Widodo

Presiden Republik Indonesia

Di

Jakarta

Assalaamu’alaikum  Warahmatullaahi wa Barakaatuhu

Selamat pagi dan salam sejahtera untuk kita semua

Sebelumnya mohon maaf Pak, saya mengucapkan selamat pagi karena saya berasumsi bahwa Bapak membaca surat terbuka ini pada waktu pagi hari. Pagi hari adalah saat dimana saya dan banyak teman-teman saya merasa sangat bersyukur bahwa kami telah diberi satu hari lagi kesempatan untuk hidup dan berkarya.

Bapak Presiden yang saya hormati, sekali lagi mohon maaf apabila surat ini menyita waktu Bapak yang sangat berharga untuk bekerja mengurus rakyat yang sangat banyak dalam satu negara yang sangat besar bernama Indonesia beserta segenap isinya. Tentunya hal itu menyita banyak sekali waktu, tenaga dan pemikiran Bapak.

Melalui surat ini, ijinkanlah saya menyampaikan harapan saya beserta seluruh teman-teman saya, para penderita kanker (maaf, sebetulnya saya lebih suka menggunakan kalimat ini : “orang-orang yang telah dipilih oleh Tuhan untuk mendapatkan penyakit kanker pada suatu masa dalam hidup mereka”).

Barangkali Bapak sudah mengetahui bahwa kami para pasien kanker membutuhkan waktu yang lama dalam proses pengobatan dalam rangka upaya menuju kesembuhan. Banyak diantara kami yang harus mengikuti berbagai macam pengobatan sesuai dengan petunjuk dokter. Jika jenis kankernya adalah breast cancer (kanker payudara) seperti yang dialami oleh saya dan teman-teman saya yang lain, maka terapi yang harus dijalani diantaranya adalah operasi, kemoterapi, radioterapi dan (kalau relevan), terapi hormon dan apa yang disebut sebagai ‘targeted therapy’ misalnya dengan obat Herceptin.

Kami dengan patuh mengikuti petunjuk dokter dengan harapan akan mendapatkan kesembuhan. Kami berusaha untuk bisa mengikuti semua terapi itu sesuai dengan waktu yang telah dijadwalkan. Kami mendapatkan kemoterapi setiap tiga minggu sekali, sesuai dengan waktu yang ditentukan oleh dokter spesialis onkologi kami. Obat-obatan untuk kemoterapi itu sungguh mahal sekali bagi kami, Pak. Alhamdulillah banyak diantara kami yang beruntung karena dicover oleh ASKES (dulu) atau BPJS sekarang. Akan tetapi, banyak juga diantara kami yang belum tercover BPJS dan harus menjual tanah, rumah dan apa saja yang kami miliki demi harapan untuk bisa sembuh dari penyakit mematikan ini.

Salah satu contoh yang klasik dari obat mahal ini adalah, obat Herceptin, yaitu obat yang termasuk ‘targeted therapy’ yang sekali infus pasien harus membayar sekitar 22 juta rupiah karena BPJS hanya mengcover obat ini pada keadaan tertentu.  Rekomendasi dokter adalah, Herceptin diberikan 18 kali infus (total hampir 400 juta rupiah), sementara BPJS hanya mengcover 10 kali infus, itupun dengan syarat kalau penderita menyandang kanker payudara yang sudah stadium lanjut (= stadium 4) dimana kanker nya sudah menyebar ke organ tubuh lain dan tidak hanya ada di dalam payudara.  Peraturan BPJS ini menyebabkan tidak ada coverage sama sekali untuk Herceptin yang diperlukan pada mereka dengan stadium yang lebih awal (stadium 1 sampai stadium 3), sehingga seluruh biaya hampir 400 juta tersebut harus ditanggung pasien sendiri.

Padahal dulu sewaktu masih ASKES, saya yang stadium 3 dan berobat di tahun 2011 masih bisa mendapatkan obat kemo herceptin walaupun hanya 8 kali. Dan saya sudah sangat bersyukur bisa mendapatkan obat itu karena jika saya berobat sekarang maka harus bayar sendiri, karena untuk stadium 3 tidak dicover BPJS, seperti telah saya sampaikan di atas. Mengapa kebijakan ASKES dan BPJS berbeda Pak?

Kami bersedia mengupayakan berbagai cara hanya untuk mendapatkan layanan pengobatan untuk penyakit kami. Hanya saja, perlu saya sampaikan bahwa upaya kami sepertinya menjadi tak berarti lagi ketika selain obat yang mahal juga ada persoalan besar lain, yaitu peralatan untuk mengobati kami rupanya tidak cukup tersedia. Bapak bisa bayangkan, untuk pasien yang mendaftar layanan radioterapi sekarang (bulan ini), baru akan bisa dilayani berbulan-bulan lagi. Dari data yang berhasil saya dapatkan, jika sekarang mendaftar radioterapi, maka : di Rumah Sakit Ken Saras Ungaran antrinya sekitar 3 bulan, di Rumah Sakit Dr. Moewardi Solo antri 4 bulan dan di Rumah Sakit Umum Pusat Dr. Sardjito antriannya mencapai 7 bulan. Padahal idealnya setelah selesai dengan kemoterapi, kami harus segera mendapatkan radioterapi.

Hal ini terjadi karena begitu banyak pasien yang membutuhkan layanan radioterapi, tetapi alat yang tersedia jumlahnya sangat minim. Hanya ada satu alat tersedia di rumah sakit-rumah sakit tersebut. Di RSUP dr. Sardjito tempat dimana saya berobat, sebelumnya tersedia 2 alat, tetapi yang satu sering sekali rusak dan informasi yang terakhir saya dapatkan, alat tersebut sudah “dinonaktifkan” karena memang sudah tidak bisa berfungsi lagi, sehingga yang tersisa hanya satu.

Bapak mungkin sudah mengetahui bahwa hanya rumah sakit tertentu yang sanggup membeli alat radioterapi karena harganya yang sangat mahal. Pada saat yang bersamaan, hanya rumah sakit yang memiliki dokter spesialis radioterapi onkologi yang bisa meresepkan dosis yang tepat untuk penyinaran dengan sinar gamma melalui alat radioterapi tersebut.

Tingkat kesembuhan kami bergantung pada stadium penyakit kami. Banyak diantara teman kami yang sudah masuk dalam stadium IV/stadium lanjut/stadium terminal dimana proses pengobatan yang harus dijalani adalah layanan paliatif. Padahal sementara ini di Indonesia layanan paliatif tidak masuk dalam kategori layanan yang dapat dicover oleh BPJS.

Untuk itu, melalui surat ini mohon kiranya Bapak dapat memberikan kebijakan yang lebih berpihak kepada kami para penderita kanker pada umumnya dan secara khusus terutama kepada para pasien dari kalangan kurang mampu. Kami berharap kemudahan dan kelancaran untuk bisa mendapatkan layanan pengobatan dengan baik, ketersediaan alat untuk proses pengobatan dan biaya yang terjangkau.

Mohon apabila memungkinkan untuk bisa digratiskan bagi kalangan yang benar-benar kurang mampu. Penghasilan mereka pas-pasan untuk hidup bahkan untuk membayar iuran BPJS saja mereka kesulitan. Sehingga tidak terbayangkan jika mereka harus mengeluarkan uang 400 juta untuk mendapatkan infus obat Herceptin. Yang ada adalah, banyak dari kami yang “menerima nasib” saja untuk menunggu kematian karena kanker payudara, dengan tidak menjalani terapi yang dianjurkan oleh dokter karena memang tidak mampu membeli obat tersebut.

Kiranya demikian yang dapat saya sampaikan dalam kesempatan ini. Saya berharap bahwa setelah membaca surat ini, tergerak hati Bapak untuk dapat membantu kami, orang-orang yang hidup dengan kanker. Sungguh, kami semua memiliki semangat dan daya juang untuk tetap bertahan hidup selama mungkin, dengan kualitas hidup yang sama dengan mereka yang dikaruniai kesehatan. Bagi kami, setiap detik waktu sangat berharga. Kebijakan Bapak yang berpihak kepada kami, akan sangat besar artinya bagi hidup kami.

Terimakasih banyak saya ucapkan atas kesediaan Bapak membaca surat ini, di sela-sela kesibukan yang tidak terhingga dalam tugas yang mulia, tugas negara sebagai seorang Presiden Republik Indonesia. Mohon maaf jika ada diantara kata-kata saya yang kurang berkenan di hati Bapak. Semoga Bapak diberi karunia dengan kesehatan, kebahagiaan, umur yang panjang yang bermanfaat untuk seluruh rakyat Indonesia.

Wassalaamu’alaikum Warahmatulaahi wa Barakaatuhu

Failasufah

Survivor  Breast Cancer

(Ditulis dalam rangka memperingati Breast Cancer Awareness Month pada bulan Oktober)


Bone Survey (I Mean “Photo Session” :))

Guess what I have done today ? Ya, hari ini (23 September 2015) aku check up di Yogya lagi, di RSUP Sardjito. Jangan bosan ya… dengan ceritaku seputar check up mencheck up :). Sebetulnya aku berangkat dari Cilacap hari selasa sore jam 4, sampai di rumah ibu mertua di Klaten jam11 malam. Lalu paginya dari Klaten berangkat jam 6 ke Yogya, sampai di Yogya sekitar jam 07.30. Langsung menuju laboratorium Patologi Klinik. Masih pagi, jadi dapat antrian no 14. Sekitar jam 08.30 aku dipanggil masuk ruangan pengambilan sampel darah.

Selesai dari lab Patologi Klinik, aku menuju ke Poli Radiologi. Tapi ternyata, bagian pendaftarannya masih tutup ! Padahal sudah jam 09.00 wib lewat beberapa menit. Tapi memang, hari ini sebagian orang sudah merayakan hari raya Idul Adha. Jadi mungkin para karyawan di bagian pendaftaran itu tadi pagi baru shalat Idul Adha sehingga jadwal kedatangannya mundur sedikit. Pasien sudah banyak banget berkumpul di depan loket pendaftaran.Tempat duduk di situ penuh, dan yang tidak dapat tempat duduk, mereka berdiri di depan loket dan di depan ruang-ruang sekitar loket.  Setelah menunggu agak lama (karena pasiennya emang banyak banget dan “being a patient is have to be patient” bukan ?) namaku dipanggil, lalu diberi berkas untuk dibawa ke ruang tes (bukan ruang ujian, tapi :)).

Tes pertama adalah di ruang 3 tempat rontgen. Kalau dulu-dulu di tempat rontgen aku hanya menjalani rontgen thorax aja, tadi itu aku menjalani semacam sesi pemotretan (berasa kayak model 🙂 🙂 :)). Sungguh aku jadi kepingin ketawa kalo  inget tulisannya  Mbak Sima di blognya yang dia ceritakan dengan lucu tentang sesi pemotretan yang dijalaninya di poli radiologi RS Dharmais. Mbak Sima itu orangnya lucu banget, aku inget dulu Mbak Sima bilang gimana. Jadi pas sesi pemotretan itu berlangsung, sambil berbaring di meja alat rontgen itu aku hampir aja kelepasan ketawa. Tapi untung masih bisa kutahan, nggak aku tau apa jadinya kalau aku beneran ketawa karena Mbak petugas rontgennya itu jutek banget. Cantik sih, tapi judes. “Cepetan bu, banyak pasien lain yang nunggu dirontgen juga” gitu katanya waktu menyuruh aku naik meja itu, padahal aku masih sibuk melepas perhiasan dan karet rambut 🙂 :). “Jangan bergerak bu. Sudah diposisikan begini jangan gerak-gerak” katanya beberapa kali dengan sikap judes. Gak papalah, asal acara kali ini berlangsung dengan sukses, aku menurut saja berbaring diam tak bergerak selama sekitar 10-15 menit.  Mbak petugasnya sibuk mengatur posisi lampu (atau kamera kalii…) di atasku.

Rupanya, aku sedang menjalani apa yang disebut ”bone survey”.  Jadi seluruh tubuhku di rontgen. Mulai dari kepala, leher, dada, perut atas, perut bawah, kaki (terdiri dari 3 bagian), bahu, lengan atas dan lengan bawah. Bener-bener dari ujung kepala sampai ujung kaki. Aku hitung kira-kira aku dipotret sebanyak 14 kali. Berasa jadi model dadakan 🙂 🙂 Aku nggak menyangka bahwa pada akhirnya aku akan menjalani tes ini, tes yang pernah dijalani oleh Mbak Sima, yang  pernah kubaca di blog nya. Sempat ada sedikit rasa ngeri dan khawatir dengan hasilnya besok Jumat. Tapi, ketika aku ingat kembali tulisan Mbak Sima, aku malah jadi kepingin ketawa.

Bener yang Mbak Sima bilang. Rasanya ini seperti bukan tes imaging. Ini seperti sesi pemotretan. Walaupun sedikit ngeri jika membayangkan jangan-jangan hasilnya menampakkan ada massa di tulangku (Oh No!!!!). Tapi ketika di USG setelah rontgen, Mbak residennya bilang kalau penampakannya baik. “Untuk sementara aman kok bu”, begitu katanya  :). Tinggal nunggu hasil cek darah dan hasil bone survey nya ini nih…yang bikin deg-degan. Tak sabar rasanya menunggu hari Jumat pagi saat aku kembali ke RSUP Sardjito untuk mengambil hasil lab semuanya. Semoga saja hasilnya baik, normal semuanya. Amin… 🙂

(Itu tulisan late post…kutulis pada hari H, baru bisa kuposting hari ini. Alhamdulillah, semua hasil lab pada hari itu hasilnya baik semua. Tidak ditemukan massa pada tulang ataupun metastase. Hasil USG juga sama. dan hasil Ca 15-3 ku masih berada pada angka normal. Alhamdulillah :))


Just Another Post

Bingung mau kasih judul apa di postingan kali ini…. akhirnya pakai kalimat itu saja. Just another post. Hanya sekedar postingan lainnya. Sebenarnya aku kepingin menulis tentang banyak kisah…tapi…mungkin sebaiknya jangan. Aku kepingin nulis tentang frenvy yang bikin sebel dan jengkel, tapi kayaknya mendingan nggak usah aja. Nanti ujung-ujung nya ada yang tersinggung lalu terpaksa aku delete postinganku, seperti dulu.

Sejauh ini… sejak mulai bikin blog di awal Maret 2011, aku sudah delete dua postingan yang pernah aku publish gara-gara nggak enak sama orang. Gara-gara orang itu ngerasa lalu tersinggung dengan tulisanku, kebetulan tentang hal yang sama dengan yang ingin aku tulis, yaitu tentang frenvy, atau friend envy. Sudahlah. Biarpun sebel dan marah, sebaiknya aku tuliskan di tempat lain saja, bukan di blog yang seluruh dunia bisa baca seperti ini 🙂 :). Padahal aku nggak pernah pamerin blog ku, tapi orang-orang ini tau kalo aku punya blog. Dan kadang mereka suka mengintip-intip…apa yang aku tulis di sini 🙂 🙂 .

Aku juga sebenernya kepingin nulis tentang proses menuju kegiatan akreditasi kemarin… tentang orang-orang yang tidak bisa bekerjasama…tentang orang-orang yang hanya bisa membebankan pekerjaan dan hanya bisa memerintah. Sepertinya tidak ada kata “membantu” dalam kamus hidup mereka, yang ada hanya kata “memerintah”. Sedih sekali rasanya mengerjakan tugas yang begitu banyak hanya dengan dibantu beberapa orang. Syukurlah, masih ada beberapa orang yang baik hati dan mau menolong dengan tulus. Mungkin sebaiknya aku fokus saja pada mereka dan mengabaikan orang-orang yang tidak mau membantu sama sekali, padahal sudah dimasukkan dalam daftar kepanitiaan.

Tapi cukuplah hanya satu paragraf itu saja yang kutuliskan disini. Nggak enaknya nulis di blog itu kayak gini. Aku tak bisa dan tak boleh menuliskan segala hal yang ingin kutulis, karena orang-orang dari seluruh dunia bisa membaca… 😦 Pada akhirnya, aku harus bisa menata hatiku, menghibur diri dengan bersyukur. Bahwa selama aku masih bisa merasa marah, jengkel dan sakit hati, berarti aku masih hidup. Yay…I’m still alive !! Because you are a woman with cancer, remember ??? Apa lagi yang harus disyukuri selain kesadaran bahwa hari ini kau masih hidup, masih bisa bekerja, masih bisa beraktivitas dengan normal seperti orang-orang lain?

Jadi jika teman-temanmu membuatmu marah, kecewa, sakit hati dan terluka, itu berarti hatimu masih bisa berfungsi dengan baik bukan ? Bukannya marah-marah dan menuliskan segalanya di blog, justru sebaliknya harusnya kau bersyukur bukan ? Dan dunia ini memang tempatnya segala hal seperti ini. Segala hal yang membuat galau, segala kekacauan, kemarahan, kekecewaan, sakit hati dan luka, semuanya hanya ada di dunia. Dan kau masih ada di sini, bukan di surga 😦 .(Dan berusahalah agar kau bisa hidup di surga kelak).  Sabarlah, hadapilah segalanya dengan senyum.

(Rasanya cukup sampai di sini saja dulu nasehat untuk diriku sendiri. 😦 )


Blogging and Blogwalking

blog1 Ketika kembali membuka blog ini, terbaca postingan terakhir ternyata tanggal 29 April… padahal sekarang sudah bulan Juli. Target untuk menulis satu postingan minimal dalam satu bulan rupanya belum terpenuhi. Benar yang orang-orang bilang bahwa untuk bisa konsisten menulis di blog itu bukan satu hal yang mudah. Sebetulnya mungkin bukan karena tidak ada yang perlu ditulis atau diceritakan, tapi lebih kepada sempitnya waktu untuk menulis. Sebegitu sibuknyakah diriku ? Mungkin tidak juga, mungkin hanya karena aku tidak mau meluangkan waktu saja untuk membuat postingan baru.

Tetapi memang, bulan Mei lalu sepertinya aku cukup sibuk. Sebenarnya kesibukan di sekolah biasa aja, tapi bulan Mei itu dua kali aku ikut diklat di luar. Satu di luar kota, satu lagi di luar sekolah. Setelah itu, persiapan Lomba Kompetensi Siswa.

Bulan Juni, acaranya adalah membuat soal, lalu Ulangan Umum Kenaikan Kelas, koreksi dan memproses nilai. Setelah itu adalah Penerimaan Peserta Didik Baru. Dan selanjutnya adalah menyiapkan segala sesuatu untuk akreditasi yang akan dilaksanakan besok tanggal 10-13 Agustus 2015. Liburnya cuma sebentar, hari-hari berikutnya diisi dengan menyiapkan dokumen-dokumen akreditasi.

Dan… ada hal lain lagi yang akan kuceritakan kali ini. Suatu ketika saat aku sedang blogwalking, aku menemukan sebuah blog yang sangat informatif sekali tentang ca mamae. Dan ternyata  blog itu ditulis oleh seorang survivor ca mamae dan beliau adalah seorang dokter yang tinggal di Australia. Kalau mau baca blognya, klik saja di sini . Dan berkat bu dokter Inez Nimpuno pula (sang pemilik blog) aku menjadi member grup WhatsApp dan Telegram Love Pink, tempat berkumpul dan sharing segala hal tentang breast cancer oleh para warrior dan survivor ca mamae.

Sebenarnya, di satu sisi aku senang bisa berkomunikasi dengan mereka, saling sharing tentang berbagai hal. Tapi di sisi lain, ada rasa khawatir jika aku akan mengalami apa yang beberapa orang dari mereka alami. Satu hal yang jadi momok paling menakutkan adalah : setelah bertahun-tahun minum tamofen, rutin menjalani cek up dengan hasil yang selalu bagus, tiba-tiba pada suatu hari muncul hasil lab yang menyatakan bahwa sel kanker telah ber metastase sampai ke tulang. Horor banget bukan ? Paling horor diantara segala horor deh.

Tapi mungkin, aku tak boleh memikirkan hal-hal yang belum tentu terjadi seperti itu. Mestinya aku harus bisa berpikir positif. Fokus untuk selalu berpikir positif. Tapi sayangnya kadang-kadang aku tak bisa. Kapan aku bisa bebas dari rasa khawatir semacam ini ? Apakah setelah lewat 5 tahun dari tanggal kemoterapi pertama? Jadi sebetulnya ketika di postingan sebelumnya aku menulis “there will be no more worries forever and ever” itu bohong belaka. Sepertinya tak mungkin aku bisa bebas dari rasa khawatir seperti itu. Hanya saja, mungkin jangan terlalu khawatir. Sebaiknya aku berpikir positif saja, sebisanya. That’s it. And I just have to try.

picture taken from http://andrewchen.co/2011-blogging-roadmap-zero-to-productmarket-fit/


Too Many Dreams (Never) Come True :)

Recently I wonder what happen to me ? Ada apa dengan diriku ini ya ? Rupanya impian dan keinginanku terlalu banyak. Selain bermimpi untuk bisa travelling around the world (mimpi yang kelewat absurd, menyedihkan, macam ABG labil saja 😦 untung nggak pake tambahan “in eighty days”  kayak judul novel Jules Verne “Travelling Around The World in Eighty Days” 🙂 🙂 ) aku juga punya banyak keinginan yang aku tahu bahwa mungkin itu semua tidak bakalan bisa terealisasi. Ada beberapa yang awalnya sempat kupikir  rasanya takkan bisa terealisasi, tapi tidak juga ternyata. Syukurlah ada satu dua yang ternyata sudah bisa direalisasikan. Misalnya, aku kepingin punya online shop… dan ternyata aku sudah bisa mewujudkannya dengan berjualan shabby chic stuff (new and second), di instagram dan BB.

Aku kepingin ikut jelly art cooking class, lalu jualan kreasi jelly art ku. Ini yang belum bisa terealisasi sampai sekarang. Padahal aku sudah punya contact person master jelly art di kotaku. Impian yang lainnya, aku kepingin punya produk dengan label namaku sendiri. Karena aku sangat hobby merajut, tadinya aku ingin membuat tas rajut, dompet dan tempat pensil rajut dengan warna-warni yang colourful (colourful and wonderful as my life 🙂 ) diberi label dengan bordiran yang colourful juga. Sebenernya ini bisa diwujudkan, kalau saja aku lebih serius mengejar mimpiku :).

Sepertinya mudah saja. Aku tinggal pesan aja labelnya. Selanjutnya aku tinggal belanja benang rajut atau nylon, lalu duduk manis sambil asyik merajut sepanjang hari. Tapi…bagaimana dengan pekerjaanku ? What about my students ? Saking banyaknya pekerjaanku (mengajar, masak, nyapu, ngepel, nyetrika, beberes rumah… (help 😦 😦 …aku nggak punya  pembantu… 😦 😦 😦 ) aku sampai “bingung” yang mana sebenernya perkerjaan utamaku. Apakah pekerjaan sebagai PNS guru akuntansi SMK atau pekerjaan rumah tangga sebagai istri ?

Sebagai seorang istri (yang baik), mestinya yang diutamakan adalah pekerjaan rumah tangga, melayani anak dan suami di rumah sebelum berangkat bekerja keluar rumah. Mestinya pekerjaan sebagai PNS guru akuntansi SMK itu bisa dianggap sebagai pekerjaan sambilan saja bukan ? (Hm… kalau Kepsek ku baca ini, nggak kebayang apa komentar beliau 😦 😦 ). Jadi sebagai seorang istri (yang baik 🙂 ) aku harus bangun sebelum subuh menyiapkan segala sesuatunya supaya rumah bisa ditinggal seharian. Setelah itu, tibalah waktunya untuk pekerjaan berikutnya yang merupakan “pekerjaan sambilan” yaitu PNS guru akuntansi SMK.

Tapi… gimana bisa dibilang pekerjaan sambilan kalau jam kerjanya menyita banyak sekali waktu dan juga menyita banyak perhatian, tenaga dan pikiran. Dari jam 7 pagi sampai jam 3 sore, dengan pekerjaan yang amat banyak, dengan banyak target yang harus dipenuhi, dengan banyak event-event yang harus dipersiapkan…Oke, cukup sampai disini. Tidak baik mengeluh begini. Tapi sungguh, kadang-kadang aku merasa capek banget. Mungkin ini gara-gara sudah sekitar setengah tahun ini aku nggak punya ART. Cari asisten rumah tangga yang cocok itu sulit sekali. Rasanya bener-bener so little time so much to do 😦 .

Kadang-kadang aku kepingin seperti temanku yang full time mother. Dia bisa asyik merajut seharian, bisa asyik membuat jelly art… mengurus rumah dan tanaman… what a wonderful life. Temanku ini  tadinya kerja di bank, lalu resign karena ingin fokus mengurus rumah, anak dan suami. Kadang terpikir, seneng banget dia ya… nggak perlu kerja…bisa punya waktu untuk hobby… Nggak kayak aku yang harus curi-curi waktu untuk bisa menekuni hobby.

Tapi kadang terpikir juga, mestinya aku bisa bersyukur karena dengan bekerja aku bisa mandiri, punya pendapatan sendiri untuk membeli kebutuhanku sendiri. Wanita yang bekerja, maka jika dia membelanjakan pendapatannya untuk keluarganya, itu adalah shodaqoh baginya. Pahalanya banyak. Enaknya punya pendapatan sendiri, aku bisa belanja apa aja tanpa perlu merasa bersalah karena menghabiskan gaji suami 🙂

Anyway, aku harus bersyukur atas apapun dan bagaimanapun keadaanku sekarang. And I believe there will be so many dreams will come true in the future 🙂 🙂


There’s Nothing to Say but Alhamdulillah :)

salah satu rute yang harus kutempuh diantara panjangnya perjalanan hidupku

salah satu rute yang harus kutempuh diantara panjangnya perjalanan hidupku

Dengan menuliskan ini di blog, berarti aku mengumumkan kepada seluruh dunia bahwa : semua hasil lab ku di bulan Maret ini baik semua 🙂 🙂 🙂 Wow 🙂 Alhamdulillah 🙂 🙂 So, there will be no more worries…forever and ever. It’s been four years since my breast cancer surgery and other cancer treatment… and now I’m still alive, healthy and happily 🙂 🙂 🙂 Sungguh sebuah karunia yang tak terhingga, Allah benar-benar amat baik dan Maha Penyayang. Tiada henti aku mengucap rasa syukur dalam hati, sejak aku membaca semua hasil lab itu.

Jadi kemarin itu tanggal 23 dan 24 Maret hari Senin dan Selasa aku kontrol rutin 6 bulanan ke RSUP Dr. Sardjito Yogya. Sebetulnya kami berangkat dari Cilacap sejak hari Sabtu tanggal 21, tapi ke Klaten dulu, ke rumah ibu mertua. Hari senin tanggal 23 Maret kami ke RSUP untuk cek darah, ronsen dan usg. Acara cek up hari pertama itu berjalan lancar. Hasil lab baru bisa diambil esok hari. Siang itu setelah segala urusan selesai, kami kembali ke rumah ibu mertua di Klaten. Esok paginya, kami bersiap untuk kembali ke Yogya mengambil hasil lab dan menemui dokter, setelah itu pulang ke Cilacap.

Hari kedua itu, tanggal 24 Maret aku ambil hasil lab di lab patologi klinik, sementara suamiku ke bagian radiologi. Selanjutnya kami fotokopi semua hasilnya. Sebelum difotokopi, kubaca dulu. Ca15-3 berada di angka normal. Hasil USG, normal, tak tampak tanda metastase. Hasil ronsen juga normal, tak tampak kelainan. Rasanya lega sekali setelah membaca itu semua. Selanjutnya kami mendaftar ke poli tulip. Dapat antrian no 16, jadi ketika dzuhur tiba kami sholat dulu di masjid dan karena Nayla lapar, kami makan siang dulu di kantin depan gedung radioterapi.

Sekitar jam 12.45 WIB kami kembali ke poli tulip dan langsung menuju ruang tunggu di depan kamar periksa 3. Baru duduk sebentar, sudah dipanggil dokter untuk masuk. Bukan dr. K, tapi dr. A. Beliau sangat baik dan ramah. Beliau mencatat semua hasil lab itu di rekam medisku. Aku memberanikan diri untuk bertanya, “Dok, apakah normal bila saya mendapat haid padalah sedang mengkonsumsi tamofen ? Karena setahu saya seharusnya jika mengkonsumsi tamofen itu tidak haid.” Sok tau banget aku ini ya… 😦 😦 Tau darimana aku ya…kalo seharusnya ketika mengkonsumsi tamofen itu tidak haid ? Oh, ya. Mungkin dari blog Cancer Sucks punya Mbak Sima. Entahlah. Atau mungkin dari blog lain. Kata dokter tidak apa-apa tuh. Berarti normal. Berarti aku tidak perlu khawatir.

Setelah itu, nunggu perawat memproses berkas rekam medis. Nunggunya agak lama, karena perawatnya sibuk sekali. Sungguh, poli tulip itu pasiennya banyak sekali,  dokternya juga banyak. Tapi…perawatnya kurang banyak 😦 😦 Ada 2-3 orang perawat di nurse station, satu bertugas di bag keuangan, memanggil pasien untuk membayar ke loket. Satu lagi menerima pendaftaran pasien. satu lagi mas-mas sibuk di depan komputer. Lalu ada beberapa perawat yang stand by di ruang kemoterapi. Lalu beberapa lagi yang memanggil pasien untuk masuk ke ruang periksa dan memproses berkas-berkas administrasi. Rekam medis, resep, surat keterangan diagnosis dan lain-lain yang diperoleh pasien dari dokter. Dan repotnya, sepertinya 1 perawat melayani pasien-pasien dari 2 orang dokter atau lebih. Sibuk banget, para perawat itu.

Kalo tidak salah, dulu malah tugas mereka dirangkap dobel-dobel. Jadi mereka merangkap bekerja di ruang kemoterapi sekaligus melayani pasien yang akan periksa di ruang periksa. Sekali lagi, poli tulip itu sibuk banget dan pasiennya banyak banget. Dan harus mendaftar lewat telepon 3 hari sebelumnya jika ingin menemui dokter tertentu. Jika tidak, maka dengan dokter pengganti. Buatku, tak masalah dengan dokter pengganti. Yang penting hasil lab ku bagus semua, tak jadi soal dengan siapa yang harus aku temui di poli Tulip. Mereka semua adalah para dokter yang kompeten dan baik hati. 🙂

Segala urusan pada hari itu berakhir jam 3 sore. Sore itu, hari Selasa tanggal 24 Maret 2015, angin bertiup kencang ketika kami keluar dari apotik. Begitu kami sampai di depan gedung IRD, hujan turun deras. Terpaksa kami menunggu hujan reda karena tidak bawa payung dan tempat parkir lumayan jauh. Sekitar jam 4 sore hujan sedikit reda, kami bertiga (dengan Nayla) setengah berlari menuju ke lokasi parkir. Pulanglah kami ke Cilacap, sampai di rumah jam 22.00 WIB. Dan dua hari yang penuh cerita itupun berlalu sudah.

Sometimes I think… I wonder why, in the middle of my life journey, aku harus meluangkan sekian banyak dari waktuku untuk kuhabiskan di RSUP Sardjito Yogyakarta ? Mengapa aku harus sakit kanker, harus operasi di sana, berobat di sana… (berobatnya lama sekali… 😦 😦 😦 ) Oh ya. Tidak ada seorangpun yang mengharuskan aku untuk berobat di sana. Ini pilihanku sendiri, ketika itu.  But… still I wonder why, dalam garis perjalanan hidupku, ada rute untuk ke sana pada suatu masa? Padahal, sebelum September 2010 when this story  has just begun, seumur-umur sama sekali tak pernah terlintas dalam benakku sama sekali tentang RSUP Dr. Sardjito. Indeed, this life is full of unsolved mistery.

Oh sudahlah. Selama semua hasil lab ku bagus dan normal, aku tidak perlu berpikir macam-macam. I just have to continue my life, healthy and happily 🙂 And this is the end of my story 🙂 :).


How Time Flies ….

I cannot believe it has already been two months since I posted last. Well, actually I didn’t wrote my latest post on January. I just share that annual report from wordpress.com 🙂

Begitu banyak peristiwa telah terjadi dalam dua bulan terakhir ini. Kesibukan di sekolah…jangan tanya lagi. Pengayaan, ujian praktek, baik di sekolah sendiri maupun di sekolah yang menginduk. Untuk tahun ini ada 10 SMK Swasta yang menginduk dan untuk kompetensi keahlian akuntansi sendiri ada 4 SMK.

Tapi, aku tetap bisa mengerjakan hobiku. Akau sangat suka merajut, dan aku tak ingin kesibukanku  di sekolah mengganggu hobiku yang satu ini. I believe that making crochet is my cure beside tamofen 🙂 What I’ve been made is crochet flower, flower and flower…because I love them all.

Oh… I forgot. Not only flower…but I also have been made crochet bag and phone case

Ini bahan mentahnya, sebelum diolah.

Ini bahan mentahnya, sebelum diolah. Aku beli benang nylon, katun rajut dan wol. Tapi kebanyakan nylon

IMG_20150129_191853

These are my “African Flower Hexagon”

Flower and flower

Flower and flower

And those flowers are stitch together become a bag

And those flowers are stitch together become a bag

This bag is still in process :)

This “Colourful African Flower Hexagon Bag” is still in process 🙂

I've been made this colourful HP case too :)

I’ve been made this colourful HP case too 🙂

And this

And this “red fanta bag” too

Aku nggak peduli betapapun banyaknya pekerjaan di sekolah…ujian praktek… rekap nilai… whatever. Aku sempatkan untuk bisa merajut setiap hari di rumah. Walaupun cuma dapat sedikit. Walaupun cuma dapat satu bunga saja. Because I believe that making crochet is a cure.


2014 in review

The WordPress.com stats helper monkeys prepared a 2014 annual report for this blog.

Here’s an excerpt:

The concert hall at the Sydney Opera House holds 2,700 people. This blog was viewed about 14,000 times in 2014. If it were a concert at Sydney Opera House, it would take about 5 sold-out performances for that many people to see it.

Click here to see the complete report.


How Much Is The Price of Your Bag?

bags 1

As a woman, like other women in this world, I like buying bags or shoes. But every bag or pair of shoes I bought is in the normal price. “Normal price” I mean is at a reasonable price. That’s why I can’t understand how some women can buy some bags or shoes at a wonderful price. I said it was wonderful, because the price tag can reach a million, even more. What a wonderful price, isn’t it?

OK, maybe It’s better for me to keep my eyes close from that situation. It was their money, so they can buy anything they want at any level price, can’t they? But I’m so amazed with that reality in our society. I just don’t understand how they can spend their money in a very-very large amount only on a bag? They will say, it’s not an ordinary bag, but it’s an extra ordinary bag. It’s a handmade, it has a super duper high quality, it has a famous worldwide branded, etc. I see… but it’s just a bag, isn’t it?

Well, maybe I have a very different thinking from them. We live in different worlds, of course. While they race on spending larger and larger amount of money for bags, shoes and fashion, there are so many people who don’t know what to eat for dinner this night. They don’t know what to eat for breakfast tomorrow morning. They cannot earn money, because they are jobless and maybe even homeless. In our society, there are still many people who live under the poverty line. So how can someone buy a bag of which cost is more than a million? Are they blind? Giving charity is better for them, instead of bags and shoes at a wonderful price.

But they live in a different world with us. They live in a golden castle with all luxury need of life. Perhaps even when they walk, they don’t step on the ground :). Perhaps, if that extra large amount of money they have is they use to earn from a straight way, it doesn’t matter (a bit). But many of them (we can’t say “all”), socialite women who pride their bags price tags are wives of (so sorry 😦 ) corruptors. There are many of them (I can’t say “all”, of course :)). They are not different from a thief. They steal money from the state (and remember, that money is from our society, from their tax, etc.) to enrich them and their family. To pay for their high level lifestyle. Wow, what a wonderful life they have 🙂 :).

But the other problem is, sometimes, there are some women from an average class of society imitating their high level lifestyle in order to get acknowledgement from their friends, or their surrounding society. Moreover they find a loan to pay their imitating high expensive lifestyle. How poor they are 😦 :(. Honestly, I don’t have any jealousy with their life, at all. I’m just amazed, how can they live in such the way like that ?? But I think, like I ever said above, the best thing I can do is just keep my eyes close from that situations.


Life Goes On, Time Rolls On

Welcome-December-Wallpapers-2014

… And December has come. The end of the year is on the way. And I nearly a four year survivor 🙂 🙂 ! Wow 🙂 🙂 There were so many works to do, so many task to be done, made me nearly didn’t realize it. Sometimes I think time rolls too fast.

… And now, December has come. I wish I could say ” Look ! It’s snowing outside !” 🙂 🙂 instead of “Look ! It’s raining outside !” I hope one day I can see the snow flying down, covering tree and everything outside. It was only just a dream, I know. But as some people say, life is full of unlimited possibilities. So, I think it’s OK to have such a dream like that.

But, what effort I have done to make it becomes true? Almost nothing, sad to say :). I am just waiting for a miracle, like it happened before, when I was magically chosen to go to Singapore two years ago. Because I never stop believing miracles happen everyday (FYI, that sentence is my Display Picture on FB 🙂 🙂 ).

never stop believeThis month, there will be many people who make some resolutions to do next year. But for me, I almost have nothing. I am afraid I cannot fulfill it, so I think it will be better if I don’t make any resolution at all :). I enjoy living the way I live. I will not make a resolution such as: I will give more love for my family. There will be no more love for my family, because they have got enough love all these times. Or, I will reduce my weight five kilograms so I will look more slim :). No, I don’t need it. I think I am slim enough now. If my weight reduces five kilograms, I will look so skinny 🙂 :).

I prefer to have some expectations instead of resolutions. I like to expect good things happen in the future. Not only expect, but I pray. I pray all is well in my life. I ask to Allah to make it happens. All is well. My all lab results every six month are good. There will be nothing to worry about. There will be nothing to be fear. It might be rather difficult, because honestly now I’m in.

As a cancer survivor, there are many things to make me worried. As a tamoxifen consumer, I worry with its side effect. They say these side effects are rare, but are more dangerous. These include : overgrowth of the lining of the uterus (endometrial hyperplasia) and cancer of the lining of the uterus (endometrial cancer), and ovarian cyst. As I ever tell in this blog, I have had an ovarian cyst. And I don’t need that endometrial cancer 😦 :(. Thanks to Allah, I don’t have any problem with my eyes, because they say another side effect is an increased risk of cataract formation and the need for surgery for cataracts. But I don’t even need a pair of glasses at all 🙂 🙂  Alhamdulillah.

Although there are so many things to make some kind of people just like me to be worry, but still I expect, I pray there will be no more things to be worried. There will be nothing to be fear, in the future. And I hope life goes on, in the way I want 🙂 :), with Allah’s blessings. Amin 🙂