Paranoid

Dear  readers, if you ever read my writing on this blog from the very beginning, you know how I want to be free from any anxiety, any worries. But it’s seem so hard to feel. Sulit rasanya untuk bisa merasa tidak pernah khawatir tentang apapun. Saat inipun, aku sedang merasa sedikit khawatir. Bukan, bukan tentang kankerku, kali ini bukan itu. Tapi tentang jantungku. Aku merasa khawatir jika ada masalah pada jantungku.

Pernah menjalani delapan kali kemoterapi dengan obat Herceptin, dan sebuah kejadian yang kualami beberapa waktu yang lalu, sudah cukup menjadi alasan bagiku untuk merasa khawatir dengan kondisi jantungku. Efek Herceptin itu benar-benar merusak jantung. Aku ingat dulu sebelum dr. K (Sp.B (K) Onk) merekomendasikan dan meresepkan obat ini (karena hasil pemeriksaan immunohistokimia ku menunjukkan Her2Neu +++ pada 30 – 35% sel tumor), beliau memintaku untuk cek up jantung dulu di Poli Jantung Terpadu. Untunglah hasilnya bagus. Berdasarkan hasil cek up yang ditandatangani oleh ahli jantung dr. M (Sp.JP), jantungku normal sehingga layak untuk mendapatkan kemoterapi dengan obat Herceptin.

Dulu ketika akan memakai obat itu, oleh salah seorang medical representative dari produsen Herceptin (PT Roche) yang bernama Mas Bagyo, aku diberi semacam product knowledge tentang Herceptin. Bentuknya berupa buku kecil yang menjelaskan tentang Herceptin. Ketika kubaca, disebutkan bahwa Herceptin memiliki efek ke jantung. Jadi kemungkinannya kankerku bisa sembuh, tetapi jantungku bisa rusak… Duh, obat-obat kanker memang seperti itu ya… menyedihkan sekali. Tak adakah obat yang tidak memiliki efek samping memiliki daya rusak ke organ lain ? Obat-obat yang dulu kupakai,  obat kemo doxorubicin dan brexel daya rusaknya kalau bukan ke liver maka ke ginjal atau keduanya. Karena itulah dulu aku selalu diminta rutin cek up untuk melihat normal tidaknya fungsi liver dan fungsi ginjal setiap satu minggu setelah kemoterapi.

Kekhawatiranku akan fungsi jantungku saat ini bukannya tanpa sebab. Aku ingat suatu pagi di hari senin ketika sedang mengikuti upacara bendera di sekolah, tiba-tiba aku merasa lemas seperti mau pingsan. Rasanya nggak karuan, padahal posisi barisku berada di bawah keteduhan, pagi itu baru jam tujuh, matahari belum tinggi, dan aku juga sudah sarapan di rumah. Mengapa tiba-tiba aku merasa seperti mau pingsan ? Saat itu aku merasa tidak kuat lagi melanjutkan kegiatan upacara. Aku berpikir bahwa aku tak boleh pingsan di depan seluruh siswa dan teman-teman guru peserta upacara. Maka aku segera keluar dari barisan dan berjalan menuju UKS. Untungnya lokasi UKS tidak terlalu jauh dari lapangan upacara sehingga aku tidak keburu pingsan di selasar. Aku segera berbaring dan beristirahat. Rasanya badanku lemas, jantung berdebar-debar dan keringat dingin bercucuran.

Kalau kuingat-ingat lagi, penyebab jantungku berdebar keras pagi itu adalah karena sebelum upacara aku sempat berlari kecil di selasar ketika akan menyerahkan kunci mobil kepada suamiku. Pagi itu suamiku menyusulku ke sekolah, mau menukar motornya dengan mobil yang kupakai. Dia butuh mitsu mirage itu untuk suatu keperluan. Sehari-hari dia lebih suka pakai motor ke tempat kerja, dan karena aku lebih membutuhkan mobil itu untuk antar jemput 2 orang anak dengan 2 tas ransel yang besar-besar, maka mobil itu aku  yang pakai. Ketika dia datang itulah aku berlari kecil di sepanjang selasar sekolah yang panjang untuk memberikan kunci. Waktu itu aku sudah berada di bagian belakang sekolah, sudah dekat dengan lapangan upacara dan suamiku berada jauh di depan, di dekat ruang guru. Aku berlari karena aku nggak mau terlambat ikut upacara. Sejak itulah jantungku berdebar, dan ketika upacara aku merasa sangat lemas seperti mau pingsan.

Aku ingat, dulu ketika pertama kali obat Herceptin itu masuk ke venaku, perawat yang memberikan obat itu bertanya, “Ada yang dirasakan bu ?” Aku jawab, “Iya mbak, jantung saya jadi berdebar-debar…” padahal obat itu masuk lewat infus yang di drip lambat. Mendengar jawabanku, perawat itu mengatur drip infusku, membuat laju tetes drip yang masuk lebih pelan lagi. See ? Obat itu, baru beberapa tetes yang masuk ke tubuhku, jantungku langsung memberikan reaksi. Sebegitu besarkah daya rusak herceptin kepada jantung ? Mengerikan sekali.

Senin pagi itu, kebetulan hari pertamaku masuk sekolah kembali setelah 3 hari berada di Makassar untuk suatu kegiatan. Ketika kembali sampai di kotaku  malam sabtu, rasanya memang capek sekali. Tapi bukankah aku sudah cukup beristirahat selama dua hari di hari sabtu dan minggu ? Tapi sampai hari ini, aku tak pernah lagi mengalami perasaan seperti mau pingsan dan lemas seperti senin pagi itu. Mungkin, sebenarnya jantungku baik-baik saja. Aku saja yang terlalu paranoid. Mohon doanya, semoga semuanya baik-baik saja. All is well.

Semoga saja tulisanku ini tidak membuat takut orang yang diresepkan herceptin. Sungguh, bukan maksudku membuat takut. Jika mungkin ada diantara para pembaca yang kebetulan saja mengalami hal yang sama seperti saya (breast cancer dengan hasil immunohistikimia Her2 +++ dan diresepkan Herceptin), saya sarankan ikuti saja yang direkomendasikan dan diprogramkan oleh dokter onkologi anda. Semua itu tentu demi kesembuhan anda. Jangan takutkan apapun. Just be brave and never give up. And everything will be allright.


Alhamdulillah, Everything is Over

Dear readers, akhirnya, segalanya berakhir sudah. Sekarang, semuanya hanya tinggal menjadi kenangan yang tak kan terlupakan. Sebuah kisah dalam perjalanan hidupku sudah berakhir. Tentunya masih akan ada kisah-kisah yang lain, dan aku harus mempersiapkan diri untuk menghadapinya.

Rasanya seperti mimpi, hampir aku tak percaya. Masih kuingat bagaimana lima tahun lalu, siang itu di bulan November 2010. Pertama kalinya aku datang ke poli Tulip untuk menemui dr. Kunta, membawa dan memperlihatkan hasil PA biopsiku yang bertuliskan “invasif ductal carcinoma mammae grade 2”. Masih kuingat ketika dokter Kunta berkata padaku dan ibuku yang menemani saat itu, “Operasinya besok ya. Kita kejar-kejaran dengan waktu”. Aku paham maksudnya. Semakin cepat sel kanker itu dibuang dari tubuhku, akan semakin bagus hasilnya nanti. Kemungkinanku untuk bisa sembuh akan lebih besar. Itu sebabnya aku jawab “Ya”. Setuju dengan langkah pengobatan yang akan diambil. Aku tahu, beliau sudah mempersiapkan sebuah program pengobatan yang terencana dan sistematis untuk mengobati sakit kankerku. Terimakasih banyak atas semuanya Dok, melalui Dokter, dengan ijin Allah saya bisa sembuh.

Aku masih mengingat juga apa yang beliau katakan tentang Tamofen. Postingannya bisa dibaca di sini : https://failasufah01.wordpress.com/2011/03/26/be-patient-please/ . Saat itu beliau berkata : “Ibu harus minum Tamofen selama lima tahun”. Masih kuingat bagaimana reaksiku. Aku menahan napas dan dalam hati berkata “Lima tahun??? Lama sekali…” tapi yang kuucapkan adalah “baik Dok.” Alhamdulillah, waktu lima tahun itu akan berakhir bulan April depan. Setelah itu, aku tak perlu lagi minum Tamofen.

Melalui postingan di blog ini, aku ingin mengucapkan banyak terimakasih kepada semua tenaga kesehatan yang telah terlibat dalam proses pengobatan kankerku selam lima tahun di RSUP dr. Sardjito. Terimakasih kepada para dokter yang telah merawatku, dr. Kunta, dr. Artanto dan dr. Herjuna, semua dokter di Poli Tulip yang telah menuliskan resep dan/atau surat rujukan ke laborat dan radiologi untukku, termasuk dokter residen di Poli Bedah.

Terimakasih kepada para perawat di ruang Instalasi Rawat Inap Wijaya yang telah merawatku selama 6 hari pasca operasi. Aku lupa nama-namanya, yang kuingat hanya Mbak Iin dan Mas Andi (kalau tidak salah). Mas Andi ini yang malam hari sebelum operasi mendorong kursi rodaku menuju ruang 3 di Poli Radiologi untuk diambil foto rontgen. Padahal aku bisa berjalan sendiri, tapi tentu saja prosedurnya aku harus naik kursi roda. 🙂

Terimakasih kepada para perawat dan tenaga administrasi di Poli Tulip, bu Siti, para perawat di ruang kemoterapi ; Bu Kaning, Bu Rukini, Mbak Apri, Mbak Santi, Mbak Atun, Mbak Dorta yang telah menyuntikkan obat-obat kemo, melayani proses kemoterapi, menyuntikkan Leukoken saat leukositku nol koma sekian setiap selesai kemoterapi dan melakukan cek EKG sebelum kemoterapi. Terimakasih kepada para laboran di laboratorium Patologi Klinik, juga di laboratorium Wijaya waktu itu, yang melayani proses cek darah setiap kali aku membutuhkan untuk cek darah sebelum kemo atau sesudah kemoterapi.

Terimakasih kepada perawat di IRD yang waktu itu (dulu) menyuntikkan Leukoken pada hari Minggu ketika poli Tulip tutup, saat kebetulan jadwal harian suntik Leukoken-ku melewati hari Minggu.  Kepada dr. Maharani, dokter ahli penyakit jantung yang telah memeriksa kesehatan jantungku dulu, di awal ketika aku akan memakai obat Herceptin. Kepada dr. Mimiek, dr. Wigati, para dokter ahli radiologi di poli radioterapi dan kedokteran nuklir, para petugas radioterapi yang dulu melayani proses radioterapiku. Kepada para petugas penata rontgen di poli radiologi, para residen radiologi di poli USG yang melayaniku setiap kali check up.

Terimakasih juga kepada dokter bedah di RSUD Cilacap dr. Gatot yang telah melakukan biopsi, memberiku diagnosa sesuai hasil PA kemudian menyarankan pengobatan tuntas dan pengantar untuk berobat ke poli Tulip RSUP dr. Sardjito. Beliau juga yang meresepkan tamofen setiap persediaan obatku habis dan tidak sempat ke Yogya, dulu sebelum era BPJS.

Terimakasih juga kepada dr. Maryam di puskesmas Cilacap Selatan, yang selalu memberiku rujukan askes setiap aku akan kontrol ke Yogya. Beliau juga yang terkadang memberikan semangat dan motivasi. Terimakasih, semoga semua yang telah Bapak Ibu lakukan menjadi pahala amal kebaikan.

Tak lupa, ucapan terimakasih juga ingin kusampaikan kepada teman-teman sesama pasien yang telah bersama-sama berjuang menuju kesembuhan. Baik teman-teman lama sejak 5 tahun lalu, maupun teman-teman baru. Dari mereka semua aku belajar tentang makna kesabaran dan keikhlasan. Kepada teman-teman Love Pink dan Tulip Lover, terimakasih banyak atas sapaan, postingan dan candaan, semangat dan motivasi yang ditularkan melalui grup WhatsApp. Andaikan sejak 2010 ada grup semacam ini, pasti dulu aku tidak akan sempat bersedih dan menangis 🙂 Tapi tak apalah, walau belum begitu lama bergabung, aku banyak belajar dari mereka. Senang sekali bisa kenal dengan wanita-wanita hebat seperti mereka. Terimakasih banyak kepada dr. Inez Nimpuno yang telah memperkenalkanku dengan teman-teman Love Pink.

Begitu banyak orang yang telah terlibat dalam rangka proses pengobatanku selama ini, mereka yang telah berusaha untuk membantu kesembuhanku. Mereka adalah orang-orang yang telah dipersiapkan oleh Allah untuk kutemui dalam perjalanan hidupku, mereka yang akan membantu kesembuhan penyakitku. Aku percaya, ketika Allah memberikan penyakit itu kepadaku, Dia sudah mempersiapkan semua skenarionya. Dia sudah mempersiapkan siapa saja orang-orang yang akan kutemui dalam rangka proses pengobatan ini, supaya aku bisa sembuh.

Saat ini, ketika aku duduk mengetikkan ini sambil “melihat ulang” seluruh peristiwa yang terjadi sejak diagnosa itu muncul, aku hanya bisa bersyukur, berterimakasih atas segalanya. Bahwa Allah telah memberiku kesempatan untuk mendapatkan pengalaman berobat kanker hingga sembuh. Bahwa Allah telah memilihku untuk mendapatkan penyakit ini. Bersyukur bahwa Allah telah memberiku kekuatan untuk dapat melalui seluruh proses pengobatan itu. Bahwa Allah mengijinkan aku untuk bertemu dengan mereka, orang-orang yang telah banyak berperan dalam proses pengobatanku hingga sembuh.  Sungguh, Allah telah merangkai seluruh skenarionya, dan aku hanya tinggal menjalaninya.

Sebuah quote dari Tere Liye kebetulan kubaca tadi ketika sedang menuliskan ini. “Selalu ada alasan terbaik kenapa sesuatu itu terjadi, meski itu menyakitkan, membuat sesak dan menangis. Kita boleh jadi tidak paham kenapa itu harus terjadi, kita juga mungkin tidak terima, tapi Tuhan selalu punya skenario terbaiknya. Jadi, jalanilah dengan tulus. Besok lusa, semoga kita bisa melihatnya…dan tersenyum lapang”.  *Tere Liye, novel “Rindu”.

Kiranya, inilah yang bisa kutuliskan, setelah kemarin tanggal 14 dan 15 Maret 2016 aku kembali menjalani check up per 6 bulanan. Dokter bilang, aku hanya tinggal satu bulan lagi minum tamofen, dan setelah itu check up cukup satu tahun sekali. Tapi untuk 6 bulan ke depan, yaitu bulan September yang akan datang, aku masih akan check up ca 15-3. Hanya cek darah saja.

Aku berharap, kisah hidupku dengan breast cancer disease benar-benar sudah berakhir, dan aku akan bisa lebih tenang melanjutkan hidupku, tanpa kekhawatiran akan apapun lagi. Aku harus melanjutkan hidupku dan berusaha mewujudkan mimpi-mimpku. I hope one day, all my dreams come true. Amin.


Bone Survey (I Mean “Photo Session” :))

Guess what I have done today ? Ya, hari ini (23 September 2015) aku check up di Yogya lagi, di RSUP Sardjito. Jangan bosan ya… dengan ceritaku seputar check up mencheck up :). Sebetulnya aku berangkat dari Cilacap hari selasa sore jam 4, sampai di rumah ibu mertua di Klaten jam11 malam. Lalu paginya dari Klaten berangkat jam 6 ke Yogya, sampai di Yogya sekitar jam 07.30. Langsung menuju laboratorium Patologi Klinik. Masih pagi, jadi dapat antrian no 14. Sekitar jam 08.30 aku dipanggil masuk ruangan pengambilan sampel darah.

Selesai dari lab Patologi Klinik, aku menuju ke Poli Radiologi. Tapi ternyata, bagian pendaftarannya masih tutup ! Padahal sudah jam 09.00 wib lewat beberapa menit. Tapi memang, hari ini sebagian orang sudah merayakan hari raya Idul Adha. Jadi mungkin para karyawan di bagian pendaftaran itu tadi pagi baru shalat Idul Adha sehingga jadwal kedatangannya mundur sedikit. Pasien sudah banyak banget berkumpul di depan loket pendaftaran.Tempat duduk di situ penuh, dan yang tidak dapat tempat duduk, mereka berdiri di depan loket dan di depan ruang-ruang sekitar loket.  Setelah menunggu agak lama (karena pasiennya emang banyak banget dan “being a patient is have to be patient” bukan ?) namaku dipanggil, lalu diberi berkas untuk dibawa ke ruang tes (bukan ruang ujian, tapi :)).

Tes pertama adalah di ruang 3 tempat rontgen. Kalau dulu-dulu di tempat rontgen aku hanya menjalani rontgen thorax aja, tadi itu aku menjalani semacam sesi pemotretan (berasa kayak model 🙂 🙂 :)). Sungguh aku jadi kepingin ketawa kalo  inget tulisannya  Mbak Sima di blognya yang dia ceritakan dengan lucu tentang sesi pemotretan yang dijalaninya di poli radiologi RS Dharmais. Mbak Sima itu orangnya lucu banget, aku inget dulu Mbak Sima bilang gimana. Jadi pas sesi pemotretan itu berlangsung, sambil berbaring di meja alat rontgen itu aku hampir aja kelepasan ketawa. Tapi untung masih bisa kutahan, nggak aku tau apa jadinya kalau aku beneran ketawa karena Mbak petugas rontgennya itu jutek banget. Cantik sih, tapi judes. “Cepetan bu, banyak pasien lain yang nunggu dirontgen juga” gitu katanya waktu menyuruh aku naik meja itu, padahal aku masih sibuk melepas perhiasan dan karet rambut 🙂 :). “Jangan bergerak bu. Sudah diposisikan begini jangan gerak-gerak” katanya beberapa kali dengan sikap judes. Gak papalah, asal acara kali ini berlangsung dengan sukses, aku menurut saja berbaring diam tak bergerak selama sekitar 10-15 menit.  Mbak petugasnya sibuk mengatur posisi lampu (atau kamera kalii…) di atasku.

Rupanya, aku sedang menjalani apa yang disebut ”bone survey”.  Jadi seluruh tubuhku di rontgen. Mulai dari kepala, leher, dada, perut atas, perut bawah, kaki (terdiri dari 3 bagian), bahu, lengan atas dan lengan bawah. Bener-bener dari ujung kepala sampai ujung kaki. Aku hitung kira-kira aku dipotret sebanyak 14 kali. Berasa jadi model dadakan 🙂 🙂 Aku nggak menyangka bahwa pada akhirnya aku akan menjalani tes ini, tes yang pernah dijalani oleh Mbak Sima, yang  pernah kubaca di blog nya. Sempat ada sedikit rasa ngeri dan khawatir dengan hasilnya besok Jumat. Tapi, ketika aku ingat kembali tulisan Mbak Sima, aku malah jadi kepingin ketawa.

Bener yang Mbak Sima bilang. Rasanya ini seperti bukan tes imaging. Ini seperti sesi pemotretan. Walaupun sedikit ngeri jika membayangkan jangan-jangan hasilnya menampakkan ada massa di tulangku (Oh No!!!!). Tapi ketika di USG setelah rontgen, Mbak residennya bilang kalau penampakannya baik. “Untuk sementara aman kok bu”, begitu katanya  :). Tinggal nunggu hasil cek darah dan hasil bone survey nya ini nih…yang bikin deg-degan. Tak sabar rasanya menunggu hari Jumat pagi saat aku kembali ke RSUP Sardjito untuk mengambil hasil lab semuanya. Semoga saja hasilnya baik, normal semuanya. Amin… 🙂

(Itu tulisan late post…kutulis pada hari H, baru bisa kuposting hari ini. Alhamdulillah, semua hasil lab pada hari itu hasilnya baik semua. Tidak ditemukan massa pada tulang ataupun metastase. Hasil USG juga sama. dan hasil Ca 15-3 ku masih berada pada angka normal. Alhamdulillah :))


There’s Nothing to Say but Alhamdulillah :)

salah satu rute yang harus kutempuh diantara panjangnya perjalanan hidupku

salah satu rute yang harus kutempuh diantara panjangnya perjalanan hidupku

Dengan menuliskan ini di blog, berarti aku mengumumkan kepada seluruh dunia bahwa : semua hasil lab ku di bulan Maret ini baik semua 🙂 🙂 🙂 Wow 🙂 Alhamdulillah 🙂 🙂 So, there will be no more worries…forever and ever. It’s been four years since my breast cancer surgery and other cancer treatment… and now I’m still alive, healthy and happily 🙂 🙂 🙂 Sungguh sebuah karunia yang tak terhingga, Allah benar-benar amat baik dan Maha Penyayang. Tiada henti aku mengucap rasa syukur dalam hati, sejak aku membaca semua hasil lab itu.

Jadi kemarin itu tanggal 23 dan 24 Maret hari Senin dan Selasa aku kontrol rutin 6 bulanan ke RSUP Dr. Sardjito Yogya. Sebetulnya kami berangkat dari Cilacap sejak hari Sabtu tanggal 21, tapi ke Klaten dulu, ke rumah ibu mertua. Hari senin tanggal 23 Maret kami ke RSUP untuk cek darah, ronsen dan usg. Acara cek up hari pertama itu berjalan lancar. Hasil lab baru bisa diambil esok hari. Siang itu setelah segala urusan selesai, kami kembali ke rumah ibu mertua di Klaten. Esok paginya, kami bersiap untuk kembali ke Yogya mengambil hasil lab dan menemui dokter, setelah itu pulang ke Cilacap.

Hari kedua itu, tanggal 24 Maret aku ambil hasil lab di lab patologi klinik, sementara suamiku ke bagian radiologi. Selanjutnya kami fotokopi semua hasilnya. Sebelum difotokopi, kubaca dulu. Ca15-3 berada di angka normal. Hasil USG, normal, tak tampak tanda metastase. Hasil ronsen juga normal, tak tampak kelainan. Rasanya lega sekali setelah membaca itu semua. Selanjutnya kami mendaftar ke poli tulip. Dapat antrian no 16, jadi ketika dzuhur tiba kami sholat dulu di masjid dan karena Nayla lapar, kami makan siang dulu di kantin depan gedung radioterapi.

Sekitar jam 12.45 WIB kami kembali ke poli tulip dan langsung menuju ruang tunggu di depan kamar periksa 3. Baru duduk sebentar, sudah dipanggil dokter untuk masuk. Bukan dr. K, tapi dr. A. Beliau sangat baik dan ramah. Beliau mencatat semua hasil lab itu di rekam medisku. Aku memberanikan diri untuk bertanya, “Dok, apakah normal bila saya mendapat haid padalah sedang mengkonsumsi tamofen ? Karena setahu saya seharusnya jika mengkonsumsi tamofen itu tidak haid.” Sok tau banget aku ini ya… 😦 😦 Tau darimana aku ya…kalo seharusnya ketika mengkonsumsi tamofen itu tidak haid ? Oh, ya. Mungkin dari blog Cancer Sucks punya Mbak Sima. Entahlah. Atau mungkin dari blog lain. Kata dokter tidak apa-apa tuh. Berarti normal. Berarti aku tidak perlu khawatir.

Setelah itu, nunggu perawat memproses berkas rekam medis. Nunggunya agak lama, karena perawatnya sibuk sekali. Sungguh, poli tulip itu pasiennya banyak sekali,  dokternya juga banyak. Tapi…perawatnya kurang banyak 😦 😦 Ada 2-3 orang perawat di nurse station, satu bertugas di bag keuangan, memanggil pasien untuk membayar ke loket. Satu lagi menerima pendaftaran pasien. satu lagi mas-mas sibuk di depan komputer. Lalu ada beberapa perawat yang stand by di ruang kemoterapi. Lalu beberapa lagi yang memanggil pasien untuk masuk ke ruang periksa dan memproses berkas-berkas administrasi. Rekam medis, resep, surat keterangan diagnosis dan lain-lain yang diperoleh pasien dari dokter. Dan repotnya, sepertinya 1 perawat melayani pasien-pasien dari 2 orang dokter atau lebih. Sibuk banget, para perawat itu.

Kalo tidak salah, dulu malah tugas mereka dirangkap dobel-dobel. Jadi mereka merangkap bekerja di ruang kemoterapi sekaligus melayani pasien yang akan periksa di ruang periksa. Sekali lagi, poli tulip itu sibuk banget dan pasiennya banyak banget. Dan harus mendaftar lewat telepon 3 hari sebelumnya jika ingin menemui dokter tertentu. Jika tidak, maka dengan dokter pengganti. Buatku, tak masalah dengan dokter pengganti. Yang penting hasil lab ku bagus semua, tak jadi soal dengan siapa yang harus aku temui di poli Tulip. Mereka semua adalah para dokter yang kompeten dan baik hati. 🙂

Segala urusan pada hari itu berakhir jam 3 sore. Sore itu, hari Selasa tanggal 24 Maret 2015, angin bertiup kencang ketika kami keluar dari apotik. Begitu kami sampai di depan gedung IRD, hujan turun deras. Terpaksa kami menunggu hujan reda karena tidak bawa payung dan tempat parkir lumayan jauh. Sekitar jam 4 sore hujan sedikit reda, kami bertiga (dengan Nayla) setengah berlari menuju ke lokasi parkir. Pulanglah kami ke Cilacap, sampai di rumah jam 22.00 WIB. Dan dua hari yang penuh cerita itupun berlalu sudah.

Sometimes I think… I wonder why, in the middle of my life journey, aku harus meluangkan sekian banyak dari waktuku untuk kuhabiskan di RSUP Sardjito Yogyakarta ? Mengapa aku harus sakit kanker, harus operasi di sana, berobat di sana… (berobatnya lama sekali… 😦 😦 😦 ) Oh ya. Tidak ada seorangpun yang mengharuskan aku untuk berobat di sana. Ini pilihanku sendiri, ketika itu.  But… still I wonder why, dalam garis perjalanan hidupku, ada rute untuk ke sana pada suatu masa? Padahal, sebelum September 2010 when this story  has just begun, seumur-umur sama sekali tak pernah terlintas dalam benakku sama sekali tentang RSUP Dr. Sardjito. Indeed, this life is full of unsolved mistery.

Oh sudahlah. Selama semua hasil lab ku bagus dan normal, aku tidak perlu berpikir macam-macam. I just have to continue my life, healthy and happily 🙂 And this is the end of my story 🙂 :).


Life Goes On, Time Rolls On

Welcome-December-Wallpapers-2014

… And December has come. The end of the year is on the way. And I nearly a four year survivor 🙂 🙂 ! Wow 🙂 🙂 There were so many works to do, so many task to be done, made me nearly didn’t realize it. Sometimes I think time rolls too fast.

… And now, December has come. I wish I could say ” Look ! It’s snowing outside !” 🙂 🙂 instead of “Look ! It’s raining outside !” I hope one day I can see the snow flying down, covering tree and everything outside. It was only just a dream, I know. But as some people say, life is full of unlimited possibilities. So, I think it’s OK to have such a dream like that.

But, what effort I have done to make it becomes true? Almost nothing, sad to say :). I am just waiting for a miracle, like it happened before, when I was magically chosen to go to Singapore two years ago. Because I never stop believing miracles happen everyday (FYI, that sentence is my Display Picture on FB 🙂 🙂 ).

never stop believeThis month, there will be many people who make some resolutions to do next year. But for me, I almost have nothing. I am afraid I cannot fulfill it, so I think it will be better if I don’t make any resolution at all :). I enjoy living the way I live. I will not make a resolution such as: I will give more love for my family. There will be no more love for my family, because they have got enough love all these times. Or, I will reduce my weight five kilograms so I will look more slim :). No, I don’t need it. I think I am slim enough now. If my weight reduces five kilograms, I will look so skinny 🙂 :).

I prefer to have some expectations instead of resolutions. I like to expect good things happen in the future. Not only expect, but I pray. I pray all is well in my life. I ask to Allah to make it happens. All is well. My all lab results every six month are good. There will be nothing to worry about. There will be nothing to be fear. It might be rather difficult, because honestly now I’m in.

As a cancer survivor, there are many things to make me worried. As a tamoxifen consumer, I worry with its side effect. They say these side effects are rare, but are more dangerous. These include : overgrowth of the lining of the uterus (endometrial hyperplasia) and cancer of the lining of the uterus (endometrial cancer), and ovarian cyst. As I ever tell in this blog, I have had an ovarian cyst. And I don’t need that endometrial cancer 😦 :(. Thanks to Allah, I don’t have any problem with my eyes, because they say another side effect is an increased risk of cataract formation and the need for surgery for cataracts. But I don’t even need a pair of glasses at all 🙂 🙂  Alhamdulillah.

Although there are so many things to make some kind of people just like me to be worry, but still I expect, I pray there will be no more things to be worried. There will be nothing to be fear, in the future. And I hope life goes on, in the way I want 🙂 :), with Allah’s blessings. Amin 🙂


Dear Cancer…

Dear readers, di FB, aku ikut banyak grup. Salah satunya adalah I Had Cancer. Berbagai topik dibahas di sini. Yang terakhir adalah “What do you have to say to cancer?” it’s about to tell cancer how you really feelBanyak comment di topik ini. Diantaranya yang berkesan buatku adalah comment dari :

Gwen Fields-O’Brien Dear Cancer, The lessons that I learned from sharing my life with you for 12 years have been mostly good. I have learned to appreciate small things, like breathing, and the sound of my grown daughters giggling like little girls when they get together, I have learned that there are people that you never dreamed would love you and care for you and do mundane things like sweep your floor, cook you a meal, or just sit next to you on the couch while your hair fell out. I learned that people I thought would always be there were suddenly scared of you as if they could “catch” your cancer and stay away from you and it’s never the same again. I learned to have perseverance and courage. I learned that every headache or backache is not a re-occurrence but simply that, a headache or a backache. I am just now learning after 12 years that I can still be an attractive and sometimes downright sexy female. I’ve learned that my scars are indicators of survival and I have learned to love life again. I have learned that having a grandchild is the most amazing thing and I am so glad I didn’t miss it. I also have learned that if and when the times comes again that I hear the diagnosis, that I handle it with grace, dignity and a blazing passion to start the whole thing over again, because I won’t go down without a fight. I hate you cancer with all my soul, but thank you for what I have learned.

Comment itu berkesan buatku, karena ternyata bukan hanya aku, banyak orang lain yang berusaha mengambil hikmah dan pelajaran dari kanker. There are many lessons learned from being a cancer patient. Dan karena aku kepingin ikutan comment, maka aku tuliskan saja ini :

Failasufah Saefuddin dear cancer, please never come back to my life anymore. All that you’ve done is enough for me. In real, you couldn’t kill me. You have just made me stronger. So you better just keep away from me, from my life. Far, far away..forever and ever.

Ada juga dari website I had Cancer,  seperti ini:

Cancer, You will never win this battle, regardless of how vulnerable you tend to make me. This is only one of life’s hurdles and I will conquer. I do NOT accept you and will NOT allow you to take control of my body or my emotions. I may have moments when I break down, but I’m strong and I’m a fighter. You will NOT win this fight! In another 2 weeks, you will be gone from my life entirely. I will forever have the scars you have caused me, both mentally and physically, but in the long run, you will make me stronger. I HATE YOU CANCER and I hope one day, someone finds a cure to destroy you completely!

Reading their messages, made my eyes moist 😦


Tanggal 20 Oktober (2010 – 2014)

Dear readers, sekarang ini di berbagai media sedang heboh banget perihal tanggal 20 Oktober. Kesannya seakan-akan tanggal 20 Oktober itu tanggal yang keramat banget 🙂 :). Ada apa lagi di tanggal 20 Oktober itu, kalau bukan acara pelantikan presiden baru ?

Bagi seluruh rakyat Indonesia, tanggal 20 Oktober 2014 itu menjadi sesuatu yang bisa dibilang amat penting, Tanggal yang bersejarah tentu saja, ganti presiden, gitu lho. Bagi sang presiden sendiri (beserta seluruh keluarga dan pendukungnya, barangkali 🙂 ), tentu saja hari dan tanggal itu bakal menjadi tanggal yang takkan terlupakan seumur hidup.

Barangkali hanya sekedar kebetulan aja, tanggal yang sama yaitu tanggal 20 Oktober 2010 (20-10-2010 – tanggal yang cantik) merupakan hari yang bersejarah pula buatku. Karena hari itu adalah hari pertama kemoterapi ku. Suatu hari yang WOW banget deh. Sebuah hari dimana aku pertama kali merasakan efek kemoterapi. Yang pertama selalu berkesan bukan ? yang selanjutnya sih biasa aja 🙂 . Iya, bagiku kemoterapi selanjutnya biasa aja. Efeknya juga biasa aja. Sama aja kayak sebelumnya, maksudnya 🙂 sama-sama WOW banget :), luar biasa :).

Kadang-kadang, aku kepikiran kepingin fotokopi buku rekam medisku yang ada di poli tulip, untuk kenang-kenangan. Dulu aku mencatat semua tanggal pelaksanaan kemoterapi, baik kemo doxorubicyn maupun kemo herceptin. Aku juga mencatat tanggal berapa saja aku disuntik leukoken. Bukannya kayak orang kurang kerjaan ya, tapi kupikir itu semua adalah bagian dari sejarah hidupku, jadi aku ingin merekam semuanya. Sayangnya, catatan itu terserak entah dimana sekarang. Sebagian di file di laptop, sebagian lagi di kertas (yang entah di mana lagi sekarang) sebagian lagi kucatat di notes HP.

Karena itu, aku kepingin fotokopi rekam medisku. Tapi sayangnya, aku bisa pegang rekam medis itu hanya beberapa detik saja, ketika dokter memberikannya kepadaku, untuk kuserahkan ke perawat. Kadang malah dokternya langsung yang menyerahkan ke perawat. Tak terpegang olehku sama sekali. Kira-kira, bisa tidak ya, rekam medis itu dipinjam sebentar, lalu difotokopi ?

Rekam medis itu berisi rekaman pengobatanku, tanggal berapa saja, berisi catatan dokter atas tindakan apa yang diberikan, obat apa saja yang diresepkan dari sejak aku masuk rawat inap untuk operasi, lalu rawat luka pasca operasi, setiap kali kemoterapi, lengkap berisi kapan aku kemo, berapa jumlah leukositku, lengkap dengan bermacam-macam hasil lab setiap kali kontrol, hasil EKG setiap kali mau kemo, dan sebagainya. File nya lumayan tebal juga sekarang, setelah sampai di tahun ke 4 pengobatan.

Barangkali rekam medis itu tidak boleh dibawa keluar poli  untuk dipinjam dan difotokopi ya, karena pasti perawatnya takut kalo hilang. Karena itu dokumen yang penting banget. Ya sudahlah, kalau begitu mungkin sebaiknya aku nggak usah punya keinginan yang aneh-aneh macam itu :).

Alhamdulillah, hampir 4 tahun berlalu sejak hari kemoterapi pertamaku, dan sampai sekarang aku merasa baik-baik saja. All is well :). Semoga saja selamanya, all is well. Amin 🙂 .


Because Sharing is Caring…

(Status di Facebook)
Mbak Deasy Maslianita Burhan, sabar ya… saya share status Mbak supaya orang lebih tau tentang sakit kanker. Orang-orang taunya cuma dari luarnya aja keliatan sehat… padahal… 😦 (sedih banget saya baca status Mbak) Semoga kita bisa lebih mengerti orang yang sakit kanker.
Ya allah..pagi2 sdh dicoba.terima kasih.

Memang org sakit kanker ga keliatan kyk org sakit..dikira org sehat diluar..pdhal…
Sdh 2 x saya ditanya sm ditegur sm pegawai busway
1. Sy sdh ga tahan berdiri lama krn kanker sdh kena tulang sy..sy pake peyangga badan…sy minta duduk sm peawai di dlm bis..malah ditanya balik.. “ibu hamil?”…apakah mesti harus org hamil saja yg dikasih duduk..pdhal ada anak abg sma yg duduk…ikhlas sy berdiri dg kaki kesemutan..

2. Hari ini di halte ragunan..sy masuk antrian ibu hamil..pegawai bernama Ritalia..negur saya…”ibu hamil?”..”bukan..sy lg sakit..” dg pandangan heran liat sy pake peyangga..”sakit apa bu?”..”saya kena kanker tulang.saya ga kuat berdiri lama..ga boleh saya antri disini?”…ibu2 nyeletuk…boleh mba… pegawai buswaynya tidak mengiyakan…saya mah cuek aja…

Sepertinya masyarakat awam belum tau apa itu sakit kanker…

Ya Allah…

Dear readers, siapapun yang baca ini, ayo dong postingan ini dishare juga (klik judulnya, lalu di bagian bawah tulisan muncul pilihan mau di share lewat FB atau apa), supaya makin banyak orang tau, gimana rasanya orang yang sakit kanker. Supaya mereka lebih bisa bersikap manusiawi 😦 Sedih banget tadi pagi aku baca status FB temanku itu, Nggak kebayang gimana rasanya kalo aku jadi dia. Paling-paling cuma bisa nangis 😦 😦

Mbak Deasy ini masih sangat muda, umurnya jauh di bawahku. Tadinya ca mamae, sudah berobat, kemoterapi, radioterapi… tapi sekarang kankernya sudah bermetastase ke tulang dan liver… padahal anaknya baru satu, Nixie masih kecil, baru 3,5 tahun.

Sekarang Mbak Deasy masih menjalani pengobatan di Dharmais. Masih bisa pergi kemana-mana sendiri, masih produktif pula membuat kue-kue cake pesanan. Kue-kuenya sungguh cantik-cantik, dia bisa membuat cake dengan berbagai macam tema. Sungguh, cake bikinannya bukanlah cake biasa, tapi cake yang luar biasa.

Mbak Deasy, semoga segera sembuh. Semoga penyakitnya segera hilang yaa… hanya ini yang bisa kulakukan, semoga makin banyak orang yang paham sakit kanker itu bagaimana. Setidaknya, mereka bisa ikut merasakan apa yang Mbak Deasy rasakan.


(Another) Sad Story

Dear readers, ketika menuliskan ini, aku masih tak percaya dengan apa yang kulihat dan kudengar. Bener ya, kanker itu ternyata sungguh-sungguh penyakit yang amat mengerikan. Seorang temanku, saat ini sedang berjuang melawan sakit, yang sepertinya adalah kanker (karena hasil lab terakhir belum jadi, masih nunggu). Tadi siang aku baru saja menjenguknya untuk kedua kalinya, sebelum hari ini juga dia akan dibawa ke RSUP Sardjito untuk ditangani oleh dokter onkologi. Sungguh tak tega rasanya melihatnya berjuang menahan sakit dan sesak napas. Padahal jumat kemarin ketika pertama kujenguk, tanggal 19 September, kondisinya masih cukup baik.

Cepat sekali kondisinya memburuk. Sepertinya itu adalah salah satu karakter sel kanker. Daya serang dan daya rusaknya begitu cepat. Temanku ini, bernama Bu Lutfi, awalnya merasakan ada benjolan di payudara, pada bulan Maret lalu. Lalu dia berobat ke dokter bedah, dan diminta untuk dioperasi, diambil benjolannya untuk diperiksa di Lab Patologi Anatomi. Dia pun menjalani operasi itu dan menunggu hasilnya dengan harap-harap cemas.

Setelah dua minggu berlalu (lama banget, sama seperti aku dulu nunggu hasil PA di RSUD 😦 )  hasil lab itu pun diterima. Dan ternyata, menurut hasil lab itu : “tidak ditemukan keganasan”. Oke. Legalah temanku itu. Tidak ditemukan keganasan. Berarti bukan tumor ganas. Bukan kanker. Berarti tumor jinak, bukan ? Lalu pengobatan pun berhenti sampai di situ.

Sampai pada sekitar dua minggu yang lalu, tiba-tiba temanku merasa sesak napas yang hebat. Untuk bernafas sulit sekali rasanya. Dia pun berobat, awalnya ke dokter umum. Kata dokter sakitnya asam lambung (maag bukan sih ?), lalu diberi obat. Obat sudah diminum, sakitnya tidak berkurang juga. Akhirnya dibawa ke salah satu dokter SPPD di kotaku, yang terkenal resepnya mahal-mahal banget (kalo memang manjur sih nggak papa). Kata dokter SPPD itu juga asam lambung. Diresepin obat mahal banget, enam ratus ribu sekian (buatku segitu lumayan mahal ya, biasa pake BPJS, nggak bayar 🙂 ) Dibeli aja obat itu sama temanku. Tapi obatnya juga nggak mempan. Sesak napasnya masih aja. Akhirnya dia berhenti minum obat itu. Lalu ganti lagi ke dokter SPPD lainnya. Sama dokter itu diminta foto rontgen. Dari hasil rontgen, diketahui bahwa paru-paru kanan sudah penuh berisi cairan, dan yang kiri juga mulai terisi cairan.

Hari rabu tanggal 17 September lalu, temanku masuk rawat inap. Hari kamis cairan di paru-paru di ambil, dibawa ke lab Patologi Anatomi (hasilnya nunggu, dua minggu lagi).  Hari itu juga, suami temanku dipanggil oleh dokter, diberitahu bahwa warna cairan di paru-paru itu merah, bukan kuning. Dikhawatirkan, itu adalah indikasi kanker, bukan paru-paru basah. Malamnya, empat orang dokter residen bedah datang menemui temanku, bertanya-tanya tentang apa yang dirasakan. Selain sesak napas, temanku juga merasa pegal-pegal di punggung dan pinggang. Mendengar keluhan itu, kesimpulan sementara dari mereka para dokter itu adalah kanker.

Dan siang ini, suami temanku diberitahu oleh dokter yang merawat istrinya bahwa paru-parunya sudah terisi cairan lagi, dan bahwa di perutnya ada tumornya. Hari ini, kondisi temanku itu memang memburuk. Sesak napas, dan perutnya membesar. Menyedihkan sekali.

Bagaimana mungkin, kalau hasil lab PA nya dulu tidak ditemukan keganasan ? Bagaimana mungkin ?? Dalam waktu dua minggu, sejak dimulai serangan sesak napas, tiba-tiba sekarang di perutnya sudah ada tumor yang menyerang livernya ?? Bukan salah temanku kalau dalam waktu enam bulan ini dia tidak melanjutkan berobat dengan kemoterapi, radioterapi dan lain-lainnya. Karena hasil lab PA nya tumor jinak bukan ? Dokter bedahnya juga tidak menyuruhnya kemo. Apa mungkin hasil lab nya yang salah ? FYI, laboratorium rujukannya ternyata adalah sebuah laboratorium rumah sakit swasta di Banyumas. Tidak seperti aku dulu, kop surat hasil PA ku adalah FK UNS.

Mengapa ini bisa terjadi pada temanku ? Aku ngeri membayangkan, bagaimana jika hal itu terjadi padaku dulu ? Apa yang akan terjadi denganku jika dulu hasil lab PA nya keliru seperti itu ? Oke, kita berbaik sangka saja. Bisa saja hasil lab PA nya tidak keliru. Bisa jadi, sel kanker itu baru muncul setelah hasil lab PA itu jadi dibuat. Entah bagaimana.

Para pembaca yang budiman, mohon tolong ikut mendoakan temanku, Bu Lutfi, semoga diberi kesembuhan. Siang ini dia dibawa ke RSUP Sardjito, semoga langsung bisa ditangani oleh para dokter onkologi di sana. Semoga Bu Lutfi mendapatkan pengobatan yang terbaik, penanganan yang tepat dan bisa sehat kembali, bisa beraktivitas kembali seperti semula.

Ya Alloh, tolong sembuhkanlah sakit temanku. Angkatlah penyakitnya, beri dia kekuatan dalam menjalani pengobatannya. Beri dia kesembuhan dan kesehatan seperti sediakala. Hanya Engkau yang Maha Kuasa Atas Segalanya. Engkau yang Maha Pemberi Kesembuhan. Mohon kabulkanlah doa kami. Amin…


It’s OK, I’ll be Fine

Dear readers, kemarin tanggal 4 dan 5 Maret aku ke RSUP Dr. Sardjito dalam rangka evaluasi 6 bulanan. Hari pertama aku tes darah lengkap, usg mammae, upper and lower abdomen dan foto rontgen thorax. Hari kedua mengambil hasil dari semua tes itu dan menyampaikan hasilnya sekaligus konsultasi ke dokter. Dan hasilnya adalah…. Baik. Yes, I’m fine. Ca 15-3 di angka 9 koma sekian (normal) hasil USG dan rontgen juga normal. Alhamdulillah 🙂 .

Hanya saja, ada satu kista di ovarium ku yang terlihat saat di USG. But it’s OK. Kata dokter, tiga bulan lagi dilihat lagi, di usg lagi, barangkali sudah hilang. Kalau tidak hilang ? Mungkin operasi. OK. Apapun. Aku tidak takut operasi. Kalu memang itu hal terbaik yang harus dilakukan. Daripada kistanya berubah menjadi kanker ? (bisa nggak sih ? Aku nggak nanya sih, kemarin :)) Tapi lebih baik lagi, kalau ternyata dalam tiga bulan kista  itu sudah lenyap. Semoga saja begitu. Amin.

___everything_will_be_fine____by_rare_pearl-d5kg2cu

note_to_self__smile_by_kisstheskies

keep-calm-and-smile-everything-will-be-fine-2