Piknik Ke Bali

Dear readers…. setelah hampir setengah tahun aku absen menulis postingan di blog ku ini, kini ketika aku ingin menulis lagi, aku bingung mesti cerita tentang apa. Banyak yang ingin kuceritakan, tapi aku bingung mana yang akan kupilih lebih dahulu. Begini rupanya efek dari lama absen menulis.

Akhirnya, aku memutuskan untuk memilih judul ini, dan bercerita tentang perjalanan ke Bali beberapa waktu lalu. Sebetulnya, ceritanya amat sangat biasa sekali, hanya kisah tentang seorang guru yang menemani para siswanya (yang terdiri dari rombongan 7 bis) yang mengadakan kunjungan industri dan berwisata ke pulau Bali.

Bisa ditebak, bahwa ini adalah my first trip to Bali. Iya, mana pernah aku pergi-pergi ke tempat-tempat eksotis di manca negara. Ke Bali ini aja kalau nggak nebeng rombongan siswa mungkin aku nggak akan pernah sampai ke sana. Dulu pernah sekali ke Singapura aja karena alhamdulillah dapet yang gratisan semuanya.🙂🙂 Waktu ke Palembang juga. Kalau dipikir, aku ini beruntung banget bisa dapat banyak trip gratisan, lengkap dengan akomodasinya pula. Oh ya, nggak banyak banget sih, baru tiga itu seingatku. Semoga di masa-masa mendatang akan ada lebih banyak lagi. Aamiin… ngarep banget deh.

Tentang perjalanan ke Bali ini, sebenarnya aku sudah ditawari berkali-kali oleh temanku, Waka Humas yang merupakan panitia kegiatan kunjungan industri siswa kelas 12. Sejak tahun 2011, setiap tahun aku ditawari untuk ikut. Karena katanya, satu sekolahan hanya aku sendiri yang belum pernah pergi ke Bali. Dan temanku itu mengutamakan guru-guru yang belum pernah ke Bali untuk mengawal siswa yang melakukan kunjungan industri dan wisata ke sana.

Sejak tahun 2011 itu pula, aku selalu menolak tawaran itu, tentu saja dengan alasan kesehatan. Di tahun 2011 itu kan, aku baru saja menyelesaikan serangkaian proses pengobatan breast cancer, diantaranya kemoterapi. Bagaimana mungkin aku berani melakukan perjalanan jauh ke Bali? Oh ya, perlu diketahui bahwa sarana transportasi yang dipakai semua siswa dan guru pendamping adalah bis. Tentu saja, kan ? Mana mungkin carter pesawat ? Jadi kupikir pasti capek banget perjalanan sehari semalam ke Bali. Itu sebabnya aku selalu menolak tawaran itu. Sampai tahun ini. Kebetulan di tahun ajaran ini aku sudah mengundurkan diri dari jabatan K3 (Kepala Kompetensi Keahlian) Akuntansi, dan sekarang dengan senang hati aku menjadi wali kelas 12 Ak 3. Kupikir sekaranglah waktu yang tepat untuk pergi ke Bali, senasib seperjalanan bersama anak-anak, duduk satu bis bareng mereka, dan kebetulan di tahun ini pengobatanku bisa dibilang sudah berakhir sempurna (walaupun aku memutuskan untuk tetap minum tamofen sampai 10 tahun) jadilah  aku mendaftar untuk ikut kunjungan industri tahun ini.

Akhirnya, malam itu tanggal 10 Oktober 2016, aku diantar suamiku (yang alhamdulillah mengijinkan kepergianku, padahal biasanya susah dimintain ijin :)) ke sekolah, tempat berkumpul sebelum semua peserta tour masuk bis masing-masing. Aku mendapat tempat di bis 2, bersama dengan siswa-siswa kompetensi keahlian Akuntansi. Berada satu bis bersama anak-anak, sungguh pengalaman yang amat menyenangkan. Melihat mereka yang begitu ceria tanpa beban, membuatku ketularan ceria pula. Aku berusaha menikmati perjalanan panjang itu sebaik-baiknya, walaupun ada rasa capek, tapi kubawa tidur jika memungkinkan🙂.

Sesampainya di Pulau Bali, banyak jadwal yang harus kami ikuti sesuai itinerary yang telah dirancang. Kami mengunjungi Istana Tampak Siring, mengunjungi pabrik PT Tehbotol Sosro (hanya bis 2 yang kesana, bis lain ke perusahaan lain sesuai kompetensi keahlian masing-masing), ke Garuda Wisnu Kencana, museum Bajra Sandhi, menonton pertunjukan tari Barong di Galuh…pokoknya tempat-tempat yang khas anak sekolahan banget deh. Tapi selain itu kami juga ke Bedugul, ke pantai Kuta, ke Krisna, Joger dan Mr. Kuta. Oh ya, di Joger aku menemukan satu kalimat yang kucatat dalam hati : lebih baik sedikit tetapi cukup daripada banyak tetapi tidak cukup🙂.

Travelling (pakai kata ini aja biar keren :)) ini berlangsung selama 5 hari, 2 hari di perjalan dan 3 hari di Bali. 5 hari itu, berjalan bagaikan mimpi. Waktu melayang begitu cepat. Perjalanan yang tadinya kupikir “it will be the longest trip I’ve ever made” itu pun berakhir. Senang sekali jika kita mengalami sebuah perjalanan yang penuh kesan. Itu pula yang kualami. Dan…yang paling berkesan dari seluruh perjalanan ini adalah….saat itu ketika rombongan kami mulai menaiki kapal ferry yang akan membawa kami semua menyeberang dari Gilimanuk ke Ketapang, kami menyaksikan di langit sore saat itu, tergambar dua bentuk awan yang serupa dengan dua orang memakai ikat khas bali, berdiri menunduk dan mengatupkan kedua tangan di dada. Sungguh, bukan hanya aku sendiri yang mendapatkan kesan bentuk awan itu. Maksudku, itu bukan imajinasiku seorang. Teman-temanku juga punya pendapat yang sama tentang bentuk kedua awan itu, yang tergambar dengan sangat jelas di langit sore yang cerah ketika itu. Dan saat itu pula, di kapal ferry itu, aku menyaksikan senja turun perlahan, menyinari seluruh panorama alam yang terbentang. Aku menyaksikan semuanya hingga selesai, hingga Gunung Ijen dan Gunung Raung yang tadinya tampak jelas, tinggal menjadi siluet saja, dan kemudian menghilang dalam kegelapan yang perlahan menyelimuti.

Saat itu, dalam hati aku berkata, “Selamat tinggal pulau Bali, entah kapan aku bisa datang lagi ke sini.” Kedengarannya sedikit lebay ya…tapi memang itulah yang kuucapkan dalam hatiku saat itu. Sama seperti dulu ketika aku melintasi jembatan Ampera di Palembang untuk terakhir kalinya, saat aku dalam perjalanan menuju bandara Sultan Mahmud Badaruddin II, untuk kembali pulang ke pulau Jawa. Ya, mungkin aku memang lebay, karena saat itu akupun berkata dalam hati “Selamat tinggal Palembang, entah kapan aku bisa datang ke sini lagi…”🙂. Sambil dalam hatiku bertanya-tanya, apakah kiranya yang akan membuatku datang lagi ke Palembang. Tak mungkin aku diundang diklat di sana bukan ? Oh sudahlah. lupakan Palembang, kita kembali ke pulau Bali.

Aku merasa bersyukur bahwa aku diberi kesehatan yang cukup dan kesempatan untuk bisa berkunjung ke pulau Bali, pulau yang membuat semua orang ingin berlibur di sana. Dan kemarin aku dikejutkan dengan berita gembira yang dibawa oleh suamiku bahwa kita bertiga (aku, suamiku dan Nayla) akan pergi ke Bali naik pesawat dari Yogya. Ada program family gathering di sana, dari kantor suamiku. Waktunya belum pasti, tapi sudah diprogramkan. Jadi suatu saat nanti pasti berangkat.

Memang, sewaktu aku berada di Bali, sempat aku berpikir, betapa senangnya jika aku datang ke sini bersama keluarga, bersama anak dan suamiku. Bahagia sekali ketika Allah mengabulkan doaku. Walaupun belum pasti kapan tanggalnya, but I feel so happy and grateful for whatever I had. I feel that all my life is full with blessing. Thank You Allah, for everything You have given to me.

 

 



Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s