Thank You for Everything :)

Dear readers, I still feel amazed and so grateful. How could all of these happened to me ? Jika mengingatnya, rasanya takjub banget dengan ke-Maha Besar-an dan ke-Maha Kuasa-an Allah SWT.  Bagaimana mungkin hal itu terjadi padaku ? Bagaimana mungkin Allah begitu cepat mengabulkan keinginanku ? Tidak semua, memang tidak semua keinginan…. Tapi cukuplah jika hanya satu saja keinginan yang terbersit di dalam hati kemudian begitu cepat Dia mewujudkannya, bukankah itu benar-benar menakjubkan ? Padahal aku hanyalah seorang hambaNya yang amat-sangat-biasa-biasa-saja-sekali. Yang masih banyak dosanya. Masih banyak lalainya. Sungguh, Allah benar-benar Maha Pemberi.

Jadi… memang benar sekali apa yang sering dikatakan orang-orang. Janganlah kau pernah berhenti berharap, janganlah kau pernah berhenti meminta. Karena kau tidak tahu kapan semuanya itu akan dikabulkan. Kapan Dia berkenan untuk mewujudkannya. Bisa dalam waktu dekat… atau pada suatu saat nanti. Dan benar sekali, berharap dan memintalah hanya kepadaNya, karena hanya Dialah yang Maha Kuasa atas segala sesuatu, Maha Kuasa atas segalanya, yang menentukan segala apa yang akan terjadi maupun segala apa yang tidak akan (pernah) terjadi.

Sebenarnya keinginanku yang telah Dia kabulkan itu sederhana saja. Mungkin itu sebabnya Dia berkenan untuk mewujudkannya, karena apa sih yang tidak mungkin bagi Allah? Adalah mudah sekali bagiNya untuk memberikan apapun yang diminta oleh hambaNya. Apapun. Jangankan hanya sebuah keinginan sederhana.

Well, I think I have to tell you the whole story. Pada suatu hari di bulan November, aku diberi tugas oleh Lembaga Sertifikasi Profesi Teknisi Akuntansi (LSP TA) sebagai asesor uji kompetensi di sebuah SMK. Ini adalah kegiatan tahunan dan hampir setiap tahun aku diberi tugas sebagai asesor uji kompetensi akuntansi manual di sekolah-sekolah yang berbeda, yang telah menjadi Tempat Uji Kompetensi / TUK (karena tidak semua sekolah adalah TUK). Saat itulah, ketika usai menjadi asesor di sana, terbersit keinginan ditugaskan sebagai asesor untuk unit kompetensi Spreadsheet dan Komputer Akuntansi. Kebetulan aku sudah lulus dari dua mata uji itu dan juga sudah punya sertifikatnya. Aku hanya bisa berharap, karena yang mengatur para asesor dan menentukan seseorang menguji mata uji apa adalah pihak LSP. Aku sudah merasa bersyukur setiap tahun bisa diberi tugas untuk menguji sebagai asesor kompetensi, dan selama ini kebetulan hanya diberi tugas untuk menguji kompetensi akuntansi manual saja. Sebetulnya, memang salah satu penyebabnya adalah karena hanya sedikit sekali sekolah yang mengujikan Spreadsheet dan Komputer Akuntansi. Selama ini kebanyakan sekolah yang menjadi TUK, ketika mengikuti UK LSP Teknisi Akuntansi  hanya mengujikan Akuntansi Manual saja untuk para siswanya

Dalam rentang waktu kurang dari seminggu setelah itu, tiba-tiba aku mendapat telepon dari LSP, ditawari untuk menjad asesor pada unit kompetensi Spreadsheet dan Komputer Akuntansi, bertempat di D3 Perpajakan Kampus Tri Sakti Jakarta. Wow…. I feel so grateful. Begitu cepat Allah memberikan kesempatan itu. It was His gift. So quickly He sent to me. And to me, it was a huge gift.

Hari Rabu aku mendapatkan telepon itu, Jumat sore aku berangkat dengan kereta api Purwojaya menuju Jakarta, sendirian. Kegiatan Uji Kompetensi itu berlangsung selama dua hari. Hari pertama dengan mata uji akuntansi manual yang terdiri dari memproses entry jurnal, memproses buku besar, menyusun laporan keuangan dan uji teori akuntansi, hari kedua uji wawancara, uji praktek spreadsheet dan praktek komputer akuntansi. Jadi aku hanya berada di sana selama satu hari yaitu hari Sabtu saat mata ujiku diujikan.

Aku belum pernah sendirian pergi ke Jakarta. Tapi saat itu aku merasa bahwa aku harus berani. Suamiku tidak bisa menemani karena sedang berada di Solo mengurus pameran pertanian, tugas dari kantor. Tidak ada teman asesor lain yang menemani. Asesor untuk mata uji ini hanya aku sendiri, teman asesor lain yang ditugaskan adalah bu Siti Komariah dari Bengkulu, untuk mata uji akuntansi manualnya. Saat itu aku berpikir, “this will be my one day adventure”. Hanya sehari, karena usai pelaksanaan kegiatan pada hari Sabtu sore aku langsung pulang ke Cilacap. Aku menginap di rumah kakak iparku di Bekasi. Sabtu pagi diantar menuju kampus Tri Sakti.

Di perjalanan saat berangkat, hujan gerimis turun. Aku memandangi pemandangan indah yang terhampar bagaikan lukisan di sepanjang jalur kereta, di antara rinai hujan gerimis, sungguh indah. Aku pasti sudah pernah cerita kalau aku suka sekali naik kereta api (seperti anak kecil saja🙂🙂 ). Aku sungguh menikmati my-one-day-adventure ini. Aku berada di Jakarta dari jam 10 malam pada hari Jumat  tanggal 6 November sampai dengan hari Sabtu 7 November  jam 10 malam. Bener-bener one day🙂. Malam itu aku sampai di Stasiun Bekasi dan dijemput kakak iparku. Menginap di rumahnya semalam, esok paginya aku diantar ke kampus Trisakti di daerah Grogol.

Pagi itu sekitar jam 10 pagi, saat aku sedang menguji praktik komputer akuntansi dan spreadsheet di lantai 9 gedung I FE Trisakti, hujan gerimis turun.  Sambil menunggui para peserta uji mengerjakan soal, aku memandangi keruwetan jalanan Jakarta diantara rinai hujan gerimis dari ketinggian, sungguh asyik sekali. Kapan lagi aku punya kesempatan seperti ini.  Mungkin suatu saat nanti aku kembali akan menguji di sana, tapi belum tentu saat  kesempatan itu datang, hujan gerimis turun bukan ? Seolah, hujan gerimis itu mengiringi perjalananku, my-one-day-adventure sejak berangkat hingga kepulanganku kembali ke kotaku. Karena sore itu, saat aku tiba di stasiun Gambir, hujan pun turun. Aku suka hujan gerimis, karena gerimis itu romantis, eksotis dan melankolis🙂

Di Gambir, aku menunggu lama. Keretaku berangkat jam 21.30 WIB, dan aku datang ke stasiun itu pukul 16.00 WIB. Dan rupanya, Allah tak henti memberiku kejutan. Sore itu, aku dipertemukan dengan teman seperjuangan dalam melawan kanker, anggota komunitas Love Pink Yogyakarta. Mereka bertiga tiba-tiba datang, duduk di sebelahku, di kiri dan kananku, karena kebetulan bangku yang kosong berada di situ, di sebelah menyebelah dari tempat dudukku. Mereka mengobrol tentang kanker, tentang proses pengobatan, kemoterapi dan sebagainya. Aku tak tahan untuk ikut menimbrung dalam pembicaraan mereka. Mereka menyambut obrolanku dengan hangat. Sampai akhirnya salah satu dari mereka berkata, “kami ikut grup WhatsApp Love Pink Bu…” spontan aku bilang, “Saya juga anggota Love Pink bu… “ Rupanya, mereka adalah Bu Endang Hangestiningsih (yang sering dipanggil Eyang Uthie di grup dan sering kubaca postingannya) beserta sepupunya  (lupa namanya🙂 yang juga sedang berobat breast cancer serta seorang saudaranya yang tinggal di Jakarta. Wah, makin ramailah perbincangan kami sore itu. Hingga kereta mereka datang dan mereka pamit untuk menuju lantai atas, dimana kereta yang akan membawa mereka ke Yogyakarta, sudah menunggu.

Kembali aku merasa takjub. Allah sungguh penuh kejutan. Skenarionya sungguh luar biasa. Setting dan waktunya sudah diatur sedemikian detil, tepat waktunya tanpa ada keterlambatan sedetikpun. Kun fayakun. Jika Dia berkehendak, maka jadilah. Thank you Allah, for everything you have given to me.

(Ini tulisan late post, kutulis sejak bulan November, baru sempat diposting hari ini :))

 

 

 



Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s