(Another) Sad Story

Dear readers, ketika menuliskan ini, aku masih tak percaya dengan apa yang kulihat dan kudengar. Bener ya, kanker itu ternyata sungguh-sungguh penyakit yang amat mengerikan. Seorang temanku, saat ini sedang berjuang melawan sakit, yang sepertinya adalah kanker (karena hasil lab terakhir belum jadi, masih nunggu). Tadi siang aku baru saja menjenguknya untuk kedua kalinya, sebelum hari ini juga dia akan dibawa ke RSUP Sardjito untuk ditangani oleh dokter onkologi. Sungguh tak tega rasanya melihatnya berjuang menahan sakit dan sesak napas. Padahal jumat kemarin ketika pertama kujenguk, tanggal 19 September, kondisinya masih cukup baik.

Cepat sekali kondisinya memburuk. Sepertinya itu adalah salah satu karakter sel kanker. Daya serang dan daya rusaknya begitu cepat. Temanku ini, bernama Bu Lutfi, awalnya merasakan ada benjolan di payudara, pada bulan Maret lalu. Lalu dia berobat ke dokter bedah, dan diminta untuk dioperasi, diambil benjolannya untuk diperiksa di Lab Patologi Anatomi. Dia pun menjalani operasi itu dan menunggu hasilnya dengan harap-harap cemas.

Setelah dua minggu berlalu (lama banget, sama seperti aku dulu nunggu hasil PA di RSUD😦 )  hasil lab itu pun diterima. Dan ternyata, menurut hasil lab itu : “tidak ditemukan keganasan”. Oke. Legalah temanku itu. Tidak ditemukan keganasan. Berarti bukan tumor ganas. Bukan kanker. Berarti tumor jinak, bukan ? Lalu pengobatan pun berhenti sampai di situ.

Sampai pada sekitar dua minggu yang lalu, tiba-tiba temanku merasa sesak napas yang hebat. Untuk bernafas sulit sekali rasanya. Dia pun berobat, awalnya ke dokter umum. Kata dokter sakitnya asam lambung (maag bukan sih ?), lalu diberi obat. Obat sudah diminum, sakitnya tidak berkurang juga. Akhirnya dibawa ke salah satu dokter SPPD di kotaku, yang terkenal resepnya mahal-mahal banget (kalo memang manjur sih nggak papa). Kata dokter SPPD itu juga asam lambung. Diresepin obat mahal banget, enam ratus ribu sekian (buatku segitu lumayan mahal ya, biasa pake BPJS, nggak bayar🙂 ) Dibeli aja obat itu sama temanku. Tapi obatnya juga nggak mempan. Sesak napasnya masih aja. Akhirnya dia berhenti minum obat itu. Lalu ganti lagi ke dokter SPPD lainnya. Sama dokter itu diminta foto rontgen. Dari hasil rontgen, diketahui bahwa paru-paru kanan sudah penuh berisi cairan, dan yang kiri juga mulai terisi cairan.

Hari rabu tanggal 17 September lalu, temanku masuk rawat inap. Hari kamis cairan di paru-paru di ambil, dibawa ke lab Patologi Anatomi (hasilnya nunggu, dua minggu lagi).  Hari itu juga, suami temanku dipanggil oleh dokter, diberitahu bahwa warna cairan di paru-paru itu merah, bukan kuning. Dikhawatirkan, itu adalah indikasi kanker, bukan paru-paru basah. Malamnya, empat orang dokter residen bedah datang menemui temanku, bertanya-tanya tentang apa yang dirasakan. Selain sesak napas, temanku juga merasa pegal-pegal di punggung dan pinggang. Mendengar keluhan itu, kesimpulan sementara dari mereka para dokter itu adalah kanker.

Dan siang ini, suami temanku diberitahu oleh dokter yang merawat istrinya bahwa paru-parunya sudah terisi cairan lagi, dan bahwa di perutnya ada tumornya. Hari ini, kondisi temanku itu memang memburuk. Sesak napas, dan perutnya membesar. Menyedihkan sekali.

Bagaimana mungkin, kalau hasil lab PA nya dulu tidak ditemukan keganasan ? Bagaimana mungkin ?? Dalam waktu dua minggu, sejak dimulai serangan sesak napas, tiba-tiba sekarang di perutnya sudah ada tumor yang menyerang livernya ?? Bukan salah temanku kalau dalam waktu enam bulan ini dia tidak melanjutkan berobat dengan kemoterapi, radioterapi dan lain-lainnya. Karena hasil lab PA nya tumor jinak bukan ? Dokter bedahnya juga tidak menyuruhnya kemo. Apa mungkin hasil lab nya yang salah ? FYI, laboratorium rujukannya ternyata adalah sebuah laboratorium rumah sakit swasta di Banyumas. Tidak seperti aku dulu, kop surat hasil PA ku adalah FK UNS.

Mengapa ini bisa terjadi pada temanku ? Aku ngeri membayangkan, bagaimana jika hal itu terjadi padaku dulu ? Apa yang akan terjadi denganku jika dulu hasil lab PA nya keliru seperti itu ? Oke, kita berbaik sangka saja. Bisa saja hasil lab PA nya tidak keliru. Bisa jadi, sel kanker itu baru muncul setelah hasil lab PA itu jadi dibuat. Entah bagaimana.

Para pembaca yang budiman, mohon tolong ikut mendoakan temanku, Bu Lutfi, semoga diberi kesembuhan. Siang ini dia dibawa ke RSUP Sardjito, semoga langsung bisa ditangani oleh para dokter onkologi di sana. Semoga Bu Lutfi mendapatkan pengobatan yang terbaik, penanganan yang tepat dan bisa sehat kembali, bisa beraktivitas kembali seperti semula.

Ya Alloh, tolong sembuhkanlah sakit temanku. Angkatlah penyakitnya, beri dia kekuatan dalam menjalani pengobatannya. Beri dia kesembuhan dan kesehatan seperti sediakala. Hanya Engkau yang Maha Kuasa Atas Segalanya. Engkau yang Maha Pemberi Kesembuhan. Mohon kabulkanlah doa kami. Amin…


2 Comments on “(Another) Sad Story”

  1. Felicity says:

    Ikutan sedih dan prihatin membaca postingan ini, semoga teman mbak itu sekeluarga diberi kekuatan dan kesehatan melewati masa2x sulit ini… Kalau agresif begitu berarti masuk ganas ya mbak? Saya juga bingung…. ini salah deteksi awal atau telat deteksi mungkin….

  2. Failasufah says:

    Amin…terimakasih doanya Mbak… Iya, kasihan sekali mereka… sampai sekarang masih dirawat di Yogya Mbak…


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s