Menjelang Bulan Maret

Perasaan itu datang lagi. Perasaan yang sama yang dialami oleh teman-temanku yang pernah kemoterapi di poli Tulip. Rasa trauma setiap kali harus pergi ke sana lagi. Bukan karena tempatnya, Poli Tulipnya sendiri, kurasa. Polinya sendiri bagus, bersih, nyaman, dokternya juga baik-baik, nggak ada yang judes, para perawatnya juga. Tapi  lebih karena terkenang kembali pengalaman selama menjalani kemoterapi di sana. Ketika harus disuntik leukoken disana. Sulit sekali menghilangkan perasaan itu.

Baru kemarin aku mendengar seorang temanku yang berobat di Dharmais, mengeluhkan hasil tes ca 15-3 nya yang naik tinggi, melebihi batas normal. Dia juga sudah tes bone scan, dan sekarang diminta untuk pet scan. Aduh, aku takut sekali kalau harus menjalani itu semua. Tes ku yang sekarang, belum sampai ke tahapan itu. Aku hanya harus tes ca 15-3, usg dan rontgen thorax per 6 bulan. Kuharap aku tidak perlu menjalani bone scan dan pet scan.

Belum juga menjalani tes, rasa cemas dan khawatir akan hasil tes nya bulan depan sudah kurasakan dari sekarang. Kalau biasanya aku tak terlalu peduli dengan apa yang kurasakan, sekarang jadi sensitif banget. Rasa pusing, tangan dan kaki yang pegal, jadi dihubung-hubungkan dengan kanker. Jangan-jangan ini yang dimaksud dengan keluhan ketika dokter bertanya “ada keluhan?” Padahal kaki yang pegal mungkin hanya karena naik turun tangga dan berjalan ke ruangan kelas yang jauh. Kalau pusing, lalu dibawa tidur, biasanya begitu bangun pusingnya sudah hilang. Tapi satu hal yang kukhawatirkan, rasa pegal di tangan kiriku sudah beberapa hari ini belum hilang juga. Semoga saja besok bisa hilang.

Seorang temanku, dokter di Puskesmas yang kutemui saat minta surat rujukan, mengatakan bahwa perasaan nrimo dan pasrah dalam menerima penyakit, menerima apa yang Allah takdirkan, sesungguhnya merupakan obat yang manjur untuk penyakit apapun. Beliau, bu dokter itu mengisahkan tentang seseorang yang mempunyai sakit kanker hati, yang dokternya sudah angkat tangan, tidak mampu mengobati bahkan memvonis bahwa waktunya hanya tinggal sebulan lagi. Tapi dengan sikap pasrah dan nrimo setiap menjelang tidur, ditambah dengan doa, dan rasa syukur setiap bangun dari tidur bahwa hari itu dia masih hidup, maka dia bisa hidup sampai lebih dari sepuluh tahun dari vonis dokter. Bahkan setiap kali bertemu, sang dokter kaget dan bertanya “Lho ? Anda masih hidup ?”🙂

Bu dokter temanku itu juga memberikan motivasi, pencerahan, bahwa “Kalau mau hidup bahagia, merasa bahagia, bahagialah sekarang. Jangan khawatirkan apapun. Bahagialah sekarang. Rasakanlah bahagia itu. karena bahagia itu datangnya dari diri sendiri. Bukan dari orang lain, bukan dari apapun. Tapi dari perasaan kita sendiri. Ya, benar sekali apa yang beliau katakan. Sungguh beliau itu baik sekali.  (Terimakasih banyak untuk dr. Maryam).

Akhirnya, hanya doa yang bisa kupanjatkan semoga aku dan teman-temanku sesama penyintas kanker, diberi kesehatan, diberi kesembuhan, diberi umur panjang yang berkah dan bermanfaat. Amin.

 

 



Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s