Being Strong

Pada suatu hari aku membaca blog milik temanku, Emil. Di kolom sebelah kanan, di tempat widget twitter ada satu tweet dari temannya,”Sampai dimana kesabaranku akan terus diuji ya…?” Temanku jawab, “Kalau nggak lulus-lulus akan terus diuji…” “Tau nggak, kenapa orang yang lemah, rapuh dan oon seperti aku diuji terus?” Aku tersenyum membacanya. Pertanyaan itu sama seperti yang kupikirkan setahun yang lalu,  bahkan sekarang, kadang-kadang I still wondering why. Jawaban temanku adalah “Supaya kamu kuat.” Hm, jawaban yang cukup memotivasi.🙂

Mungkin memang benar ya, kita yang lemah diuji dengan maksud supaya menjadi kuat. Tapi kadang, dalam keterbatasan akalku, aku bertanya-tanya bagaimana kalau yang terjadi justru sebaliknya ? Bagaimana kalau orang yang diuji itu, karena lemah dan rapuh, malah menjadi hancur karenanya? (Semoga hal itu tidak akan pernah terjadi pada diriku dan semua orang yang kukenal. Amin)

Soalnya, aku tahu ada beberapa kasus yang begitu. Misalnya, ada pasien ca mamae yang setelah mastektomi dan kemoterapi, bukannya jadi sembuh, malah jadi gila (na’udzubillahi min dzalik). Ada juga pasien ca mamae yang seharusnya kemoterapi selama enam kali, tapi baru kemo satu kali terus berhenti, tidak mau lagi melanjutkan kemonya karena merasa tidak kuat. Padahal resikonya, sel kankernya semakin berkembang setiap hari. Berarti penyakitnya akan semakin parah.

Bagaimana dengan mereka ? Walaupun aku yakin dengan satu ayat dalam Al Qur’an surat Al Baqarah ayat 286 yang menyatakan bahwa ”Allah tidak akan membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya.” tapi kadang-kadang aku masih bertanya-tanya seperti itu. Bukannya aku tidak percaya dengan apa yang telah Allah firmankan. Mungkin, mestinya mereka kuat. Seharusnya mereka kuat. Allah tidak mungkin salah. Maha Benar Allah dengan segala firmanNya. Ketika Allah memberikan mereka ujian itu, pasti Allah tahu bahwa mereka mestinya sanggup melaluinya. Tapi mungkin ada faktor lain, yang membuat mereka tidak sanggup. Faktor apakah itu ? Aku tidak tahu, benar-benar tidak tahu. Aku bukan psikolog, soalnya.

Dan bagaimana dengan diriku sendiri ? Apakah aku kuat ? Aku tidak bisa mengatakan bahwa aku orang yang kuat dan tegar menghadapi semuanya ini. Sombong sekali tampaknya, kalau aku katakan itu. Karena ada saat-saat dimana aku menangis, dan yang amat sangat  terasa sulit bagiku adalah, aku harus menyembunyikan air mataku, dan menghilangkan jejak tangisanku. Aku tidak boleh terlihat menangis di depan semua orang terdekatku. Mereka tidak boleh melihat aku sedih karena sakitku.

Ada saat-saat dimana aku tidak bisa tersenyum. Bahkan pernah, pada suatu hari, aku tidak bisa membalas senyum seseorang yang kukenal. Keterlaluan sekali, bukan? Bayangkan, seseorang tersenyum padamu, tapi kau hanya bisa menatapnya, karena saat itu kau sedang berpikir tentang sesuatu hal yang mencemaskanmu. Kau hanya bisa menatapnya, bahkan tidak sadar bahwa orang itu telah tersenyum padamu. Memalukan sekali, bukan ? (I wonder what he thought about me that time😦 GR amat ya..🙂 bisa aja beliau nggak mikirin sama sekali). (Please forgive me :().

Setiap pasien ca, pasti punya luka psikis yang mungkin (bisa) sulit untuk sembuh.  Tak perlu kata-kata menyakitkan untuk membuatnya bersedih. Dia sudah cukup banyak menangis karena bersedih, kok. Percayalah. Tak perlu melukainya dengan kata-kata yang tak perlu, karena biasanya mereka sangat sensitif, sehingga gampang sekali terluka. Sampai sekarang, aku masih ingat apa yang dikatakan oleh gerombolan residen bedah (I really hate them all :() pada suatu pagi, ketika mereka melihatku sedang duduk sendirian di depan ruang simulator.

Haruskah aku cerita ? Oke, aku ceritakan aja, ya. Hari itu, Senin, 28 Maret 2011. Jam delapan pagi, aku sudah duduk di depan ruang simulator, karena hari itu adalah jadwal simulatorku yang ke dua. Sebetulnya tanggal 28 Februari 2011 aku sudah simulator, tapi karena jadwal radioterapinya mundur,maka aku harus mengulang lagi proses simulator. Saat itu aku sudah selesai siklus kemo doxo, tinggal dua kali kemo herceptin dan aku merasa gembira karena pada akhirnya aku mendapat jadwal untuk radioterapi, dan memulai proses itu dengan simulator (pemberian tanda di lokasi yang akan disinar).

Ruang simulator itu bersebelahan dengan sebuah ruang tempat belajar koass. Pagi itu, ruang itu penuh dengan koass dan residen. Mereka sedang belajar tentang sesuatu rupanya. Sepertinya para residen itu sedang mengajari para koass membaca hasil foto rontgen. Aku bisa melihatnya, karena aku duduk di kursi tunggu yang ada di depan jendela ruang itu. Jendelanya dari kaca yang lebar dan rendah, jadi siapapun yang duduk di situ bisa melihat mereka.

Rupanya, aku datang terlalu awal. Petugas simulator memintaku menunggu dulu. Aku duduk sendirian, menunggu petugas yang lainnya datang. Sekian lama menunggu, aku masih saja sendirian, belum ada pasien yang lain. Tiba-tiba, seorang residen keluar dari ruang sebelah, nggak tau mau kemana, dan dia melihatku. Rupanya dia mengenaliku (mungkin dia salah satu residen yang berada di ruang operasi, waktu itu). Aku pura-pura tidak melihatnya, sibuk dengan hp ku.  Entah bagaimana, tiba-tiba beberapa residen sudah berdiri mengerumuniku (nggak ding, tapi berdiri berjejer di depan bangku dekatku), menatapku. Aku pura-pura asyik dengan hapeku, terus menunduk dan tidak mau melihat mereka. Kalau ada orang lewat aku lihat orang itu, berharap mereka juga pasien yang akan simulator dan duduk di dekatku. Tapi aku tetap tidak mau melihat ke arah para residen yang berdiri di dekatku itu.

Mungkin mereka jengkel atau kenapa, lalu salah satu dari mereka berkata “Botak….” Pelan, tapi aku mendengarnya dengan jelas. Tentu saja mereka tahu aku botak waktu itu, karena alis mataku habis dan untuk pertama kalinya seumur hidupku, aku memakai pensil alis. Aku dengar seseorang dari mereka berkata “botak”, dan yang lainnya tertawa, sambil berjalan menjauh. Cukup menyakitkan, bukan ? Lebih dari cukup untuk bisa membuatku menangis. Saat itu, rasanya aku ingin sekali menangis, tapi aku tak bisa. Tidak boleh ada orang melihatku menangis di situ, karena bisa-bisa nanti aku dikira orang gila. Cukup. Itulah ceritaku tentang hari itu. Memang sudah lama berlalu, tapi aku tetap tidak bisa lupa. Kalau saja aku punya alat penghapus kenangan. Akan kuhapus semua kenangan buruk yang pernah kualami. (Mungkinkah suatu hari nanti ada penemuan baru alat ini, memory eraser ? :))

Kupikir, adalah suatu keajaiban bahwa aku masih merasa baik-baik saja saat ini. Quote yang ada di gambar di atas adalah salah satu quote favoritku. “Never stop believing miracles happen everyday.” Yes, I believe miracles had been happen to me, and it’s still happening until today.

Dulu, saat masih kemo, teman-temanku heran karena kuku jari tangan dan kakiku tetap putih, tidak berubah warna menjadi hitam, seperti teman-teman kemo ku yang lain. I believe that it was a kind of miracle. Lalu setiap leukositku nol koma seminggu setelah kemo, aku masih bisa berjalan ke mana-mana, sementara temanku sesama pasien, jatuh pingsan ketika suatu  ketika leukositnya nol koma.  Keajaiban telah terjadi pada diriku, dan aku yakin masih akan tetap terjadi, dengan kehendak Allah. I just have to be strong, to fill the rest of my life. Dan berbaik sangka.

Seperti sekarang ini, sejak tanggal 23 April kemarin sampai tanggal 4 Mei nanti, aku mengikuti diklat guru inti di P4TK Sawangan, Depok. Aku mendapat kamar di asrama, di lantai 3. Lantai 3, bayangkan. Sehari aku naik turun tangga minimal 3 kali. Tapi aku berusaha berbaik sangka, mungkin dengan cara ini Allah bermaksud untuk menguatkan ototku, menguatkan jantungku, menguatkan fisikku. Masih ditambah dengan seminggu dua kali, ada jadwal senam aerobik. Aku yakin, ini adalah cara Allah untuk membuatku lebih sehat. Dan semoga saja aku benar-benar sudah sembuh, dan sehat, seperti yang kurasakan sekarang. Amin..


2 Comments on “Being Strong”

  1. gambarpacul says:

    Hapus saja kenangan itu La……kalo masih ada dan ada masih ada rasa jengkelnya…..itu namanya dendam walopun sangat halus…. gak boleh itu. Tujuan kita adalah bisa nafsul mutmainah -jiwa yang tenang- karena hanya itu yang diakui Allah (QS al Fajr 27-30).

    #eh, malah khotbah…..maaf yaaa

    • Failasufah says:

      Iya Mil…aku juga kepinginnya bisa lupakan itu semua…tapi masih sulit banget…😦 I really need a memory eraser😦 Di korea ada yang jualan nggak ?🙂


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s