Selamat Jalan Mbak Sima Gunawan

Tadi malam aku baru tahu kalau Mbak T. Sima Gunawan sudah meninggal, pada 19 Januari 2012. Beliau adalah wartawati The Jakarta Post, survivor ca mamae stadium 4, pemilik blog Cancer Sucks yang sering aku kunjungi, karena aku menyukai tulisan-tulisannya. Dia menulis di blog itu sejak November 2007 dan tulisan terakhirnya bertanggal 22 Desember 2012.

Sejak 2004, beliau sudah mastektomi dan kemoterapi sebanyak 6 kali. Tapi tahun 2007, kankernya kambuh lagi, dan sudah stadium 4, sudah menyebar ke tulangnya. Selama ini beliau sudah berjuang dengan sangat gigih dan tidak kenal menyerah, melawan penyakitnya. Beliau berobat di beberapa rumah sakit di Jakarta, antara lain di RS. Dharmais, dan beberapa rumah sakit swasta bahkan RS. National University Hospital Singapura. Beliau sudah menjalani berbagai macam terapi dan tindakan medis untuk membunuh sel kankernya. Sejak akhir 2004 sampai 2011, jumlah dokter yang telah ditemuinya dalam rangka pengobatan itu total berjumlah 30 orang.

Selama ini, setiap kali membaca tulisannya, aku terinspirasi dengan semangat dan kegigihannya untuk terus berjuang dengan berbagai macam cara menuju kesembuhan.  “Perang melawan kanker memang melelahkan. Hampir empat tahun telah berlalu sejak aku naik kelas ke stadium lanjut. Berbagai cara telah dilakukan untuk memberantasnya hingga tuntas, atau paling tidak untuk mengendalikannya agar tidak menyebar ke mana2. Perjuangan belum selesai. Pengobatan dan pemeriksaan rutin dilakukan untuk mendeteksi keberadaan sel2 kanker.” Tulisnya, tertanggal 14 Maret 2011. Melalui blognya, aku juga banyak belajar dari informasi-informasi yang beliau berikan, seperti ini misalnya :”

Dokter Roland adalah salah satu pembicara dalam Temu Pasien Kanker Payudara: “Mengobati Kanker Payudara: Peluang Kesembuhan dan Akses Terhadap Pengobatan Inovatif.”

Tak jelas apa yang dimaksud dengan pengobatan inovatif, tapi yang jelas acara ini diadakan oleh Yayasan Kanker Indonesia dan Roche Indonesia pada tanggal 30 Oktober 2007 dalam rangka memperingati Bulan Peduli Kanker Payudara yang jatuh setiap bulan Oktober.

Sebelum tulisan ini dilanjutkan, bagi yang ingin mengetahui mengenai stadium kanker, berikut petikan dari http://www.cancerhelp.org.uk/.

Stage 1 usually means a cancer is relatively small and contained within the organ it started in
Stage 2 usually means the cancer is localised, but the tumour is larger than in stage 1. Sometimes stage 2 means there are nearby lymph nodes that have cancer cells in.
Stage 3 usually means the cancer is larger and there are cancer cells in the lymph nodes in the area
Stage 4 means the cancer has spread from where it started to another body organ, such as the liver, bones or lungs

Kata Dr. Ronald, harapan sembuh pasien dalam stadium awal atau stadium 1 dan 2 mencapai lebih dari 70 persen. Bahkan jika masih dalam stadium 1, kemungkinan untuk sembuh bisa mencapai 95 persen.
Kalau pasien dalam stadium 3, kemungkinan sembuh 40-50 persen dan stadium 4 kemungkinan sembuh kurang dari 15 persen.

Tetapi “sembuh” disini bukan berarti benar-benar sembuh. Setelah beberapa tahun, bisa saja penyakit ini muncul kembali.

Setelah lima tahun, sebanyak 70 persen dari pasien yang sudah sembuh itu memang “bersih” dari sel-sel kanker. Tetapi sisanya ternyata kurang beruntung karena kanker kembali menyerang mereka.

“Hal ini disebabkan karena perangai sel tumor yang memang berbeda,” kata Dr. Ronald.

Rendahnya peluang kesembuhan bagi penderita kanker stadium lanjut harus menjadi peringatan bagi perempuan agar menyadari pentingnya deteksi dini kanker, yang bisa dilakukan melalui mamografi.

Selain menegaskan perlunya deteksi dini kanker, Dr. Melissa Luwia MHA (singkatan apakah itu? … ooohhh … ternyata Master of Health Administration) dari YKI mengumumkan bahwa YKI menyediakan layanan mamografi murah bagi anggotanya maupun masyarakat.

Kalau di RS, biaya mamografi paling sedikit Rp 175.000, tapi di YKI hanya Rp 100.000 untuk masyarakat dan Rp 75.000 untuk anggota. Itu tarif untuk mereka yang berpayudara sepasang. Anggota yang hanya mempunyai 1 payudara (setelah payudara yang sebelah dibuang dalam operasi mastectomy) hanya perlu membayar Rp 50.000 dan non-anggota Rp 75.000.”

Selain itu, aku sangat menyukai blognya karena beliau itu humoris, tulisannya kadang-kadang lucu-lucu. Di tengah penderitaannya melawan sakit, Mbak Sima masih bisa bercanda. Kepergian Mbak Sima menambah panjang daftar survivor ca pemilik blog yang tidak bisa lagi bertahan untuk tetap survive.

Sekarang, seperti para survivor ca pemilik blog lainnya yang telah berpulang, seperti http://sitianiroh.wordpress.com/, http://kankerpayudara.wordpress.com/, dan mungkin juga http://dirikuwanita.wordpress.com/, (kebetulan pake wordpress semua) dan lain-lainnya, blog mereka tidak akan pernah diupdate lagi. Aku tidak bisa lagi membaca tulisan-tulisan terbaru mereka.😦

Seperti tulisanku di https://failasufah01.wordpress.com/2011/03/05/selamat-jalan-siti-aniroh/, bahwa segalanya harus berakhir pada suatu hari. Kematian adalah takdir yang pasti akan menjemput siapa saja, tanpa kecuali. Maka yang sekarang terpikirkan dan aku renungkan adalah…”Jika kau mati, bagaimana kau ingin orang lain mengenangmu ?”


5 Comments on “Selamat Jalan Mbak Sima Gunawan”

  1. widodo lestari says:

    Tetap semangat dan optimis bu…Allah slalu memberikan yg trbaik tuk hambanya..

  2. gambarpacul says:

    optimis aja La..gak kambuh lagi

  3. Echaimutenan says:

    Kita pasti sembuh mba

    SemnAgath

    SelMat jalan mb sima


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s