One Day in My Life

Rasanya sudah lama banget aku nggak nulis postingan di sini. Soalnya, sempat tergantikan dengan nulis setiap hari pakai aplikasi diaro. Jadilah tulisan ini sebagai postingan pertamaku di tahun 2012.

Pada postingan sebelumnya, aku menulis tentang kembali ke Yogya (RS Sardjito) dan di situ ada gambar rumah sakit dan mobil ambulans. Selama ini, aku selalu merasa ngeri kalau bertemu dengan mobil ambulans yang berlari kencang, meraung-raung di jalan. Melihatnya, aroma kematian seolah tercium begitu dekat. Mendengar suara sirinenya yang melengking, seolah menyuarakan keputusasaan akan nasib pasien yang terbaring di dalamnya. Aku sama sekali tidak menyangka bahwa pada suatu saat dalam hidupku, aku akan berada dalam situasi itu.

Pada suatu hari dalam hidupku, aku berada di dalam mobil ambulans yang berlari kencang menuju Yogya, ke RSUP Sardjito. Aku duduk di depan, di samping sopir bersama ibuku. Sedangkan di belakang, ada suamiku dan seorang perawat yang menjaga bapakku yang terbaring sakit, dan harus dirujuk ke Yogya. Berada dalam ambulans yang berlari kencang membelah jalan raya, dengan sirine yang meraung-raung, dengan segenap perasaan harap dan cemas, sungguh sebuah pengalaman yang memperkaya hidup. Saat itu adalah hari kamis, tanggal 4 Januari 2012.

Sebelumnya, sejak 31 Desember 2011 bapak dirawat di RSUD Cilacap, karena sakit perut. Kata dokter nama penyakitnya adalah melena. Kemungkinan ada pendarahan di usus, atau lambung. Kadar HB Bapak sempat drop ke angka 8, sehingga harus ditranfusi dua kantong. Sempat di oksigen juga, karena sesak nafas. Cari darah golongan O sulit banget ternyata. Stok darah di PMI kosong, jadi kami harus cari donor. Alhamdulillah dapat. Setelah ditranfusi, kondisi Bapak membaik. Tapi esok harinya, setelah dicek darahnya, ternyata HB nya drop lagi, turun jadi 7. Lalu kami cari donor lagi untuk tranfusi dua kantong lagi. Akhirnya, setelah dirawat lima hari di Cilacap, melihat perkembangannya yang tidak menggembirakan itu, kami memutuskan untuk langsung membawa Bapak ke Yogya, menggunakan ambulans. Dokter penyakit dalam di RSUD Cilacap menandatangani surat rujukan yang akan kami bawa ke Yogya.

Kami sampai di Yogya jam setengah lima sore, langsung menuju UGD. Bapak langsung dirubung oleh koas dan residen, untuk diobservasi. Langsung dapat obat suntikan untuk menghentikan pendarahan juga.  Saat itu kamar yang kosong hanya ada di bangsal bougenvil, bangsal khusus penyakit dalam, kelas 3. Kupikir, ya sudahlah, nggak papa seadanya. Aku beritahukan ke Bapak bahwa kamar VIP penuh semua, yang ada hanya kelas 3, sekamar berenam. Aku bilang mungkin suasananya kurang nyaman. Kalau mau di VIP pindah ke RS PKU aja, tapi nanti disana diobservasi awal lagi. Bapak bilang di sini aja, kelas 3 nggak papa.

Dari UGD, kami pindah ke bangsal bougenvil. Penghuni kamar lainnya menyambut kami dengan baik dan ramah. Juga residen-residen penyakit dalam, yang datang silih berganti menemui Bapak, bertanya tentang keluhan yang dirasakan, awal mula sakit, dan sebagainya. Bapak menjawab semua pertanyaan mereka dengan sabar, padahal aku tahu Bapak pasti capek sekali.

Esoknya, setelah menelepon ke paviliun Kusuma, kami mendapat info bahwa ada satu kamar kosong disana. Langsung kami mengurus kepindahan Bapak siang itu ke Kusuma kamar 16. Ternyata, hampir semua perawat Kusuma sekarang adalah para perawat yang dulu merawat aku di Wijaya, sewaktu aku rawat inap sesudah operasi 22 September 2010 dulu itu. Rupanya beberapa bulan sekali para perawat itu rolling ke semua paviliun. Ketika dokter jaga Kusuma menanyakan, siapa dokter yang akan kami pilih, kami memutuskan untuk memilih salah seorang dokter Sp.PD KGEH, salah satu nama yang direkomendasikan teman suamiku.

Sejak berada di Sardjito, Alhamdulillah kondisi Bapak semakin membaik. Bapak sempat diminta cek CEA, dan hasilnya normal. Hari senin tanggal 9 Bapak di colonoscopy di GBST lantai 4. Aku menunggui di luar bersama suamiku. Alhamdulillah semuanya berjalan lancar, hasilnya baik, hanya ada polip kecil dan di biopsi untuk dikirim ke lab Patologi Anatomi. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Esoknya, kami boleh pulang. Seminggu kemudian, hari selasa tanggal 17 Januari Bapak kontrol ke Yogya sekaligus mengambil hasil Patologi Anatomi. Hasil PA nya baik. Bapak hanya diberi resep obat untuk seminggu berikutnya, dan setelah itu pengobatan selesai. Alhamdulillah sekarang Bapak sudah sehat kembali, dan beraktivitas seperti biasanya lagi.

Aku berharap semoga tidak terulang lagi pengalaman berada di dalam mobil ambulans yang membawa anggota keluarga yang sakit, selamanya.


4 Comments on “One Day in My Life”

  1. gambarpacul says:

    aku dulu ikut nungguin camer di jogja jogja dua kali operasi kangker pankreas 1 bulan di panti rapih dan 5 bulan beikutnya 3 minggu di bethesda………dan akhirnya meninggal satu tahun persis dari operasi pertama setelah menikahkan kami……

    • Failasufah says:

      Innalillahi wa inna ilaihi roji’un… tapi beliau meninggal pasti sudah tenang karena sudah menitipkan putrinya pada orang yang tepat🙂 Kau dulu ke Yogya naik ambulans juga nggak Mil ?

      • gambarpacul says:

        gak La…waktu itu kondis alm. masih baik jadi pake kendaraan pribadi……..20 hari setelah menikah kemudian meninggal…….kaya sinetron pokoknya pernikahanku, pelaminannya di lorong RSPC lantai 4……

  2. Failasufah says:

    Wah, iya ya…kayak sinetron beneran…🙂


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s