Pada Jaman Dahulu Kala, Di Tepi Sebuah Hutan…

Begitulah kalimat pembuka dongengku setiap malam, untuk Nayla sebelum tidur. Selalu dengan kalimat pembuka yang sama, walaupun isi ceritanya berbeda-beda. Isi ceritanya, bukanlah tentang seorang putri yang cantik jelita dan sang pangeran,   yang hidup bahagia di istana yang indah untuk selama-lamanya. Karena aku ingin Nayla mengerti bahwa hidup tak akan seindah dongeng.

Selain cerita tentang Nabi dan Rasul, biasanya isi ceritanya aku karang sendiri, dan di dalamnya aku sisipkan hal-hal yang aku inginkan darinya. Aku ingin dia jujur, maka aku akan buat cerita tentang seekor kelinci yang jujur dan disayangi oleh teman-temannya. Aku ingin dia berani, maka aku akan cerita tentang seekor anak singa yang pemberani. Aku ingin dia rajin belajar, maka aku akan buat cerita tentang seekor burung hantu yang pandai dan rajin belajar. Aku ingin dia nurut, dan aku akan cerita tentang seekor anak beruang yang patuh kepada orang tuanya, dan membandingkannya dengan  seekor monyet yang tidak patuh kepada orang tuanya. Repotnya, setiap malam dia minta dua cerita. Jadilah aku pengarang dadakan yang (harus bisa) kreatif.

Saking banyaknya cerita, kadang aku bingung mau cerita tentang apa lagi. Akhirnya, kadang-kadang aku tanya, “Nayla kepingin didongengin  tentang apa ?” Biasanya dia akan mengusulkan “Cerita yang kelinci aja , Mi.” atau “Cerita tentang kancil yang nggak manut  aja, Mi, yang dimakan serigala.” atau “tentang angsa yang baik hati Mi.” Akhirnya sekarang ini, dongengku lebih sering dongeng pesanan. Dan ketika aku memulainya dengan “Pada jaman dahulu kala, di tepi sebuah hutan, tinggallah seekor….” Dia akan memusatkan seluruh perhatiannya padaku. Matanya akan melebar dengan takjub, atau dia akan tertawa bila ada yang lucu, atau dia akan mengomentari ceritaku. “Makanya jangan suka bohong ya Mi, kalau suka bohong nanti dimakan serigala..Nayla sih nggak pernah bohong ya Mi?” katanya suatu ketika.

Karena setiap malam dia mendapat dua macam dongeng, keliatannya hasilnya mulai tampak. Kadang dia sendiri yang bikin cerita, menurut versinya sendiri, tentu saja. Ceritanya lucu-lucu, dan tokoh-tokohnya aneh-aneh. Ada macan tutul, ada serigala tutul, ada kelinci tutul…🙂 aku sampai ketawa geli mendengar ceritanya. Tapi aku biarkan saja dia mengembangkan imajinasinya seluas mungkin. Semoga kelak dia bisa mengerti bahwa hidup tak akan seindah dongeng tentang pangeran dan putri raja yang cantik jelita.


2 Comments on “Pada Jaman Dahulu Kala, Di Tepi Sebuah Hutan…”

  1. gambarpacul says:

    hi..hi…saya malah gak pernah ndongeng ke anak-anak La…


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s