Cerita Tentang Macem-Macem…And There’s Nothing to Worry About

Keliatannya blog ku ini keadaannya semakin mengkhawatirkan. Liat aja di archive. Keliatan kan, kalo postingannya makin lama makin sedikit ? Waktu awal-awal punya blog, semangat banget nulis. Apa aja ditulis, penginnya dipublish. Belum lagi ditambah tulisan-tulisan hasil copy paste, dipublish juga (malu-maluin, sebenarnya :)). Liat aja, bulan Maret itu ada 14 postingan. Bulan April masih 13 postingan. Lalu bulan berikutnya berkurang, berkurang… sampai terakhir bulan Agustus kemarin cuma ada 5 postingan ! 5 postingan, itu aja yang 3 dapet dari copy paste (malu-maluin banget, ya :)) berarti bulan Agustus kemarin aku cuma bikin dua tulisan !

Sebenarnya, aku banyak menulis, tapi kebanyakan hanya aku simpan di laptopku, tidak semuanya berani aku publish di blog. Aku pilih-pilih, mana yang kira-kira pantas untuk dipublish dan mana yang tidak. Kadang-kadang juga, aku punya ide untuk membuat tulisan dan sudah aku niatkan untuk dipublish, tapi nggak sempet ngetik, atau nggak sempet buka blog untuk dimasukin di new post, sampai akhirnya ide tulisan itu jadi kadaluarsa seiring berjalannya waktu. Misalnya, bulan kemarin sewaktu aku ulang tahun, sebenarnya aku punya ide untuk menulis sesuatu tentang “it’s not the years in your life that count, it’s the life in your years” Tapi karena nggak sempat-sempat, akhirnya lewat deh… Mungkin kapan-kapan aja aku nulis tentang itu.

Dan… oh, ya. Kemarin baru hari raya idul fitri kan ? Kemarin sempat kepikiran juga untuk nulis tentang mudik. Bahwa bagiku, mudik itu bukan cuma untuk sungkem, tapi untuk menunjukkan kepada orang tua (atau mertua), saudara, kerabat dan handai taulan bahwa  “kami bahagia, kami baik-baik saja, kami rukun, kami cukup sejahtera, tidak usah khawatirkan kami.” Ya, semacam pesan tersirat semacam itu lah… (Selamat hari raya Idul Fitri bagi yang merayakan, Taqobbalallohu mina wa minkum, semoga seluruh amal kita diterima, semoga masih bertemu lagi dengan bulan ramadhan, dan mohon maaf lahir batin…)

Dan…sepulang dari mudik, aku, suamiku dan Nayla langsung ke Yogya. Senin tanggal 5 September kemarin, kebetulan jadwalku untuk kontrol. Sebenernya sih, stok obatku masih banyak… Kemarin itu aku cek darah lengkap, cek usg upper abdomen (pakai istilah yang tercetak di kertas itu aja, ya), dan foto rontgen thorax. Hasilnya nggak bisa selesai dalam satu hari, jadi kami nginep di yogya. Sorenya, kami jalan-jalan ke malioboro, lalu shalat maghrib di masjid agung kauman. Aku suka banget dengan bangunannya yang kuno, lampu-lampunya, suasana syahdu dan khusyuk di dalamnya, wah, pokoknya nikmat banget deh shalat maghrib di sana kemarin itu. Selasa paginya, sekitar jam 5, kami bertiga jalan-jalan lagi… kali ini ke gedung pusat UGM, lewat jalan depan fakultas kedokteran, lewat depan grha sabha pramana juga. Kayaknya iconnya UGM itu ya gedung pusat itu, ya? Keren banget deh. Kuno, antik, indah, asri, pokoknya aku nggak bosan-bosannya menatap bangunan megah itu. Aku foto-foto juga.

Siangnya, suamiku ke rumah sakit untuk daftarkan aku di poli tulip dan mengambil semua hasil pemeriksaan kemarin dari radiologi dan laboratorium. Hasil USG, rontgen dan cek darah sudah jadi, hanya CEA dan CA15-3 yang belum jadi. Lalu suamiku kembali ke penginapan kami. Setelah shalat dzuhur dan makan siang, baru aku datang ke poli tulip (sendiri, soalnya suamiku dan Nayla ke lab ambil hasil CEA dan CA). Dan… (and this is where the story begin…) baru sebentar aku duduk di depan kamar periksa 2, aku dengar namaku dipanggil  dari counter pendaftaran “ibu Failasufah,” dengan nada normal. Aku langsung bangkit dari dudukku, berjalan (tepatnya, setengah berlari) menuju pintu. Eh, sedetik berikutnya, aku aja belum sampai ke pintu, panggilan tadi disusul dengan teriakan, lebih tepatnya semacam bentakan dengan nada keras, “FAILASUFAH !!!!!” Rupanya belum cukup juga, kali ini disusul panggilan dengan nada suara yang lebih lembut (oleh orang yang berbeda, tentu saja), lewat microphone, “Ibu Failasufah” Belum selesai namaku disebutkan, aku sudah berdiri di depan counter, dengan gugup berkata pelan “Saya, bu.” Tentu saja, aku gugup, dan panik, dan heran. Semua orang yang ada di ruang tunggu poli tulip itu, kalau mereka memperhatikan panggilan-panggilan itu, pasti juga heran. Ada apa sih ? Kok nama itu dipanggil sampai tiga kali ? Pakai teriak-teriak, lagi. Sebelnya, mereka, para petugas yang memanggilku itu, malah diam saja ketika aku sudah ada di depan mereka. Oke, memang ada dokter sih, di dekat meja counter itu, dokter onkologi, yang akan kutemui siang itu. Mungkin sebenarnya mereka mau marah atau apa (kan tadi bentak-bentak…), tapi sungkan sama dokter itu. Karena mereka semua hanya diam saja, jadi, untuk sekian detik aku hanya berdiri terpaku menatap mereka semua. Sambil masih terheran-heran aja🙂

Baru setelah dokter itu pergi ke arah ruang periksa, salah seorang dari mereka berkata “Nggak papa, di ruang periksa 3 bu.” Aku disuruh kesana rupanya. Tapi, nggak papa apa ? Apa yang nggak papa ? Aku jadi sebel banget. Sudah lama sebenernya aku kepingin cerita tentang seorang petugas resepsionis (atau petugas pendaftaran ?) kecil, kurus, berambut lurus model bob, yang judes banget sama pasien. Dan seorang petugas di situ juga, dia perawat, berambut lurus pendek model laki-laki, yang sama judesnya. Akhirnya sekarang deh aku tulis. Biar saja. Toh mereka nggak bakalan baca blogku, dan nggak tau juga kalau aku punya blog.

Kayaknya, siang itu mereka (semua, mungkin termasuk dokternya juga) marah sama aku karena sebelumnya aku dipanggil-panggil nggak datang-datang juga. Siang itu aku masuk poli tulip sekitar jam 1 siang, itupun belum membawa hasil CEA dan CA 15-3, karena dari lab nya juga belum jadi. Padahal biasanya, dokter itu datang ke poli jam 2 siang, karena biasanya beliau banyak operasi. Selesai operasi, baru ke tulip. Tapi ternyata siang itu beliau datang lebih awal…

Dan ternyata dokternya nggak marah kok. Setelah aku tunjukkan semua hasil labku, beliau berkata “Hasil lab ibu semuanya bagus, tidak ada yang perlu dikhawatirkan.” (Yes ! I think so :)). Beliau berkata lagi, ” Enam bulan lagi kita cek ulang ya, dan bulan depan ibu kontrol lagi. “ Perawat yang galak itu memberikan resep dari dokter itu sambil berkata dengan judes” besok lagi kalau mau ditinggal pergi bilang dulu ya Mbak, jadi kita nggak bengak-bengok (teriak-teriak) begitu.” Aku jawab sambil senyum aja, “Oh, nggih Bu….” Lha, memangnya aku tahu, kalo dokternya bakal dateng gasik ?🙂


2 Comments on “Cerita Tentang Macem-Macem…And There’s Nothing to Worry About”

  1. gambarpacul says:

    soal nulis emang gitu kok La……gak usah ditarget, mengalir sajalah………aku juga gitu kok, kalo lagi produktif ya banyak yang ditulis, kalo lagi males ya…bisa berbulan2 gak nulis……padahal soal ide buat nulis tetep banyak..

  2. Failasufah says:

    Iya ya Mil…mengalir sajalah…sebenernya nulis itu asyik ya Mil…🙂


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s