Kalimat Indah Penuh Makna

Awalnya aku bingung mau kasih judul apa untuk postingan kali ini. Ada tiga alternatif soalnya, Inspiring Words, It’s About My Books dan terakhir yang di atas itu. Sebetulnya aku cuma mau cerita tentang buku yang kubaca dan inspiring words yang ada di dalamnya. Bulan Juli kemarin,  ternyata aku berhasil membaca lima judul novel. Itu adalah rekor terbanyakku. Walaupun judul-judul novel itu bukan judul baru, tapi juga bukan termasuk judul lama. Dua judul dari karya Andrea Hirata, Padang Bulan dan Cinta di Dalam Gelas. Satu judul karya Ahmad Fuadi, Ranah 3 Warna, dan dua judul e-book hasil dari download, dari Atul Gawande, Better dan Komplikasi. Sebetulnya aku nggak suka baca novel dalam format e-book, tapi untuk dua judul ini, kekecualian.  :)

Kelima novel itu, semuanya bagus. Banyak kalimat-kalimat bermakna di dalamnya, yang membuatku tercenung-termenung. Misalnya saja, seperti ini (Diambil dari Ranah 3 Warna) :

“Bersabar dan ikhlaslah dalam setiap langkah perbuatan

Terus meneruslah berbuat baik , ketika di kampung dan di rantau

Jauhilah perbuatan buruk,, dan ketahuilah

Pelakunya pasti diganjar,  di perut bumi dan di atas bumi

Bersabarlah menyongsong musibah yang terjadi

Dalam waktu yang mengalir

Sungguh di dalam sabar ada pintu sukses dan impian kan tercapai

Jangan cari kemuliaan di kampung kelahiranmu

Sungguh kemuliaan itu ada dalam perantauan di usia muda

Singsingkan lengan baju dan bersungguh-sungguhlah menggapai impian

Karena kemuliaan tak akan bisa diraih dengan kemalasan

Jangan bersilat kata dengan orang yang tak mengerti apa yang kau katakan

Karena debat kusir adalah pangkal keburukan”

(Diterjemahkan dengan bebas dari syair Sayyid Ahmad Hasyimi. Syair ini diajarkan pada tahun ke-4 di pondok Modern Gontor , Ponorogo)

“Aku coba kembali mengingat pesan Kiai Rais waktu di Pondok Madani :” Wahai anakku, latihlah diri kalian untuk selalu bertopang pada diri kalian sendiri dan Allah. I’timad ‘ala nafsi. Segala hal dalam hidup ini tidak abadi. Semua akan pergi silih berganti. Kesusahan akan pergi. Kesenangan akan hilang. Akhirnya hanya tinggal urusan kalian sendiri dengan Allah saja nanti. “ (Ranah 3 Warna, halaman 101)

(I’timad ‘ala nafsi = mandiri, bertumpu pada diri sendiri).

“Yang namanya dunia itu ada masa senang dan masa kurang senang. Di saat kurang senanglah kalian perlu aktif. Aktif untuk bersabar. Bersabar tidak pasif, tapi aktif bertahan, aktif menahan cobaan, aktif mencari solusi. Aktif menjadi yang terbaik. Aktif untuk tidak menyerah pada keadaan. Kalian punya pilihan untuk tidak menjadi pesakitan. Sabar adalah punggung bukit terakhir sebelum sampai di tujuan. Setelah ada titik terbawah, ruang kosong hanyalah ke atas. Untuk lebih baik. Bersabar untuk menjadi lebih baik. Tuhan sudah berjanji bahwa sesungguhnya Dia berjalan dengan orang yang sabar.” (Ranah 3 Warna, halaman 131)

“Anak-anakku…. Dalam menjalani hidup, Ananda pasti menghadapi banyak problematika kehidupan yang kadang-kadang terasa sangatlah berat. Namun, Ananda janganlah sampai putus asa karena putus asa adalah penyakit yang menggagalkan perjuangan, harapan dan cita-cita. Problem tidak akan selesai hanya dengan disusahkan, tetapi harus dipikirkan dan dengan selalu dekat kepada Allah serta selalu mohon hidayah dan taufikNya. Maka berbuatlah, berpikirlah, bekerjalah semaksimal mungkin, menuju kesempurnaan manusiawi yang lebih bertakwa. Aamin yaa robbal ‘aalamiin.” (Disarikan dari nasihat para kiai Gontor di acara khutbatul wada, ketika lulusan akan berjuang di masyarakat). (Ranah 3 Warna, halaman 132)

“Man jadda wajada = siapa yang bersungguh-sungguh akan sukses

Man shabara zhafira = siapa yang bersabar akan beruntung

Man sara ala darbi washala = siapa yang berjalan di jalannya akan sampai ke tujuan

Idza shadaqal azmu wadaha sabil = kalau sudah jelas dan benar keinginan, akan terbukalah jalan”

“Kalau kita kondisikan sedemikian rupa, impian itu lambat laun akan jadi nyata. Pada waktu yang tidak pernah kita sangka-sangka.”

“Betapa hikayat hidupku sebetulnya hanya karena melebihkan usaha, bersabar dan berdoa. Tanpa itu entah bagaimana aku bisa mengarungi hidup. “

“Anak-anakku…

Akan tiba masa ketika kalian dihadang badai dalam hidup. Bisa badai di luar diri kalian,bisa badai di dalam diri kalian. Hadapilah dengan tabah dan sabar, jangan lari. Badai pasti akan berlalu.

Anak-anakku…

Badai paling dahsyat dalam sejarah manusia adalah badai jiwa, badai rohani, badai hati. Inilah badai dalam perjalanan menemukan dirinya yang sejati. Inilah badai yang bisa membongkar dan melepaskan iman, logika, kepercayaan diri dan tujuan hidup. Akibat badai ini bisa lebih hebat dari badai ragawi. Menangilah badai rohani dengan iman dan sabar, kalian akan menjinakkan dunia akhirat.

Anak-anakku…

Bila badai datang, hadapi dengan iman dan sabar. Laut tenang ada untuk dinikmati dan disyukuri. Sebaliknya laut badai ada untuk ditaklukkan, bukan ditangisi. Bukankah karakter pelaut andal ditatah oleh badai yang silih berganti ketika melintas lautan tak bertepi ?” (Ranah 3 Warna, halaman 467)

“Hidupku selama ini membuat aku insaf untuk menjinakkan badai hidup, “mantra” man jadda wajada saja ternyata tidak cukup sakti. Antara sungguh-sungguh dan sukses itu tidak bersebelahan, tapi ada jarak. Jarak ini bisa hanya satu sentimeter, tapi bisa juga ribuan kilometer. Jarak ini bisa ditempuh dalam hitungan detik, tapi juga bisa puluhan tahun.”

“Jarak antara sungguh-sungguh dan sukses hanya bisa diisi sabar. Sabar yang aktif, sabar yang gigih, sabar yang tidak menyerah, sabar yang penuh dari pangkal sampai ujung yang paling ujung. Sabar yang bisa membuat sesuatu yang tidak mungkin menjadi mungkin, bahkan seakan-akan itu sebuah keajaiban dan keberuntungan. Padahal keberuntungan adalah hasil kerja keras, doa dan sabar yang berlebih-lebih.”

“Bagaimanapun tingginya impian, dia tetap wajib dibela habis-habisan walau hidup sudah digelung oleh nestapa akut. Hanya dengan sungguh-sungguhlah jalan sukses terbuka. Tapi hanya dengan sabarlah takdir itu terkuak menjadi nyata. Dan Tuhan selalu memilihkan yang terbaik dan paling kita butuhkan. Itulah hadiah Tuhan buat hati yang kukuh dan sabar.” (Ranah 3 Warna, halaman 468)

Itulah Ahmad Fuadi, dengan kata-katanya yang telah menginspirasi banyak pembaca novelnya, sejak “Negeri 5 Menara” diluncurkan.

Novel berikutnya adalah dwilogi yang dikemas dalam satu novel. Padang Bulan dan  Cinta di Dalam Gelas. Sungguh, baca novel Andrea Hirata itu memang bisa bikin ketawa-ketawa sendiri kayak orgil.  :) Dia itu memang lucu banget ya…?🙂 Tapi walaupun lucu begitu, ada juga inspiring words yang terselip di novelnya. Seperti ini misalnya :

“Dulu, guru mengajiku pernah mengajarkan, bahwa pertemuan dengan seseorang mengandung rahasia Tuhan. Maka, pertemuan sesungguhnya adalah nasib. Orang tak hanya bertemu begitu saja, pasti ada sesuatu di balik itu. Begitu banyak hidup orang berubah lantaran sebuah pertemuan. Disebabkan hal itu, umat islam disarankan untuk melihat banyak tempat dan bertemu dengan banyak orang agar nasibnya berubah. Namun sayang, tak semua dapat mengungkap  rahasia itu, dan beruntunglah sedikit orang yang memahami maksud dari sebuah pertemuan.” (Padang Bulan, halaman 189)

Benarkah begitu ? Berapa banyak orang yang telah kutemui di sepanjang hidupku ? Dan aku tak bisa memahami maksud yang tersembunyi dari pertemuan-pertemuan itu… sayang sekali, bukan ?

“Harapan Enong adalah ingin pandai berbahasa Inggris meski semua orang mengatakan sudah sangat terlambat untuk belajar dan tak ada gunanya pintar berbahasa Inggris. Ingin bicara dengan siapa ? Orang-orang itu telah melupakan bahwa belajar tidaklah melulu untuk mengejar dan membuktikan sesuatu, namun belajar itu sendiri adalah perayaan dan penghargaan pada diri sendiri. Pasti hal itu yang dialami Enong.” (Padang Bulan, halaman 197)

Inspiring words tentang belajar ini, membuatku teringat pada satu tulisan seorang kokiers (penulis di koki, kolom kita, sebuah citizen journalism) bernama Harry Lukman. Dia pernah menulis : “I firmly believe that life is a learning process. No matter how old you are, you’re never too late to learn. The question is, how far are you willing to go for an extra mile to improve yourself? “ Aku paling suka dengan pertanyaannya itu, yang dimulai dari “The question is….”🙂  Ahmad Fuadi di Negeri 5 Menara dan Ranah 3 Warna, juga  mengatakan tentang going for an extra mile, melebihkan usaha, di atas rata-rata kebanyakan orang. Itulah yang telah dia lakukan. Kalo inspiring words tentang belajar dariku adalah “Life is like a book. Everyday has a new page. New adventures to tell and new lessons to learn.” Sebenarnya kalimat itu aku dapatkan dari sms adikku (thanks, my bro :)).

Masih ada lagi dari Andrea Hirata, seperti ini misalnya :

”Pertemuan dengan Maryamah hari ini meletupkan semangatku. Aku telah melihatnya belajar bahasa Inggris dengan susah payah, tanpa merasa ragu akan usia dan segala keterbatasan, dan dia berhasil. Sekarang, ia siap berjibaku menguasai catur, dengan tekad mengalahkan seorang kampiun seperti Matarom. Ia tak dapat disurutkan oleh bimbang, tak dapat dinisbikan oleh gamang. Darinya, aku mengambil filosofi bahwa belajar adalah sikap berani menantang segala ketidakmungkinan ; bahwa ilmu yang tak dikuasai akan menjelma di dalam diri manusia menjadi sebuah ketakutan. Belajar dengan keras hanya bisa dilakukan oleh seseorang yang bukan penakut.” (Cinta di Dalam Gelas, halaman 103) Wow…🙂 itulah Andrea Hirata, with his inspiring novels.

Masih ada yang lain lagi : ” Melalui Maryamah, aku belajar menaruh hormat pada orang yang menegakkan martabatnya dengan cara membuktikan dirinya sendiri, bukan dengan membangun pikiran negatif tentang orang lain. Lalu aku berpikir, seumpama catur, hidup sedikit banyak seperti reaksi atas pilihan sulit yang silih-berganti mem-fait accompli manusia, dan rupanya alasan selalu lebih mudah dilupakan ketimbang akibat.” (Cinta di Dalam Gelas, halaman 250).

Kalau dari Atul Gawande (dia dokter bedah Amerika yang aslinya dari India) ada juga beberapa, sebetulnya bukan inspiring words menurutku, tapi kata-katanya sempat membuatku tercenung juga. Misalnya begini : “Aku sadar, ilmu kedokteran merupakan sesuatu yang aneh yang kadang merisaukan. Taruhannya begitu tinggi, kewenangan yang diambil begitu besar. Kami cekoki orang dengan obat, kami masukkan jarum dan slang ke tubuh mereka, kami kutak-katik mereka secara fisik, biologis dan kimiawi, kami buat mereka berbaring tak sadar, lalu membukakan tubuhnya untuk dilihat semua orang. Kami lakukan semua itu dengan keyakinan yang mantap tentang keterampilan kami sebagai profesional. Tetapi, bila diamati lebih dekat – cukup dekat untuk dapat melihat kesulitan, keraguan dan salah langkah, kegagalan maupun keberhasilan – maka akan tampak betapa kacau, tak pasti dan juga mencengangkannya ilmu kedokteran itu.” (Komplikasi, halaman 17).

Karena dia adalah dokter bedah, maka di dua novel itu dia berkisah tentang dunianya, pekerjaannya menangani berbagai kasus pasien, yang semuanya adalah kisah nyata. Sebenarnya, membaca novel itu bagiku seperti membuka luka lama, ingatanku saat menjelang operasi dan saat masuk ruang operasi, sebelum dibius. Membaca novel itu, membuatku merasa bahwa keraguanku selama ini akan- “siapa sebenarnya dokter yang mengoperasiku ? Dokter SpB(K)Onk itu, atau residen bedah yang dulu visit setiap hari itu?”- sangat beralasan. Ternyata, walaupun aku menginap di kamar VIP, bukan jaminan bahwa aku dioperasi oleh sang SpB(K)Onk  itu. Mungkin beliau hanya penanggungjawab, tapi operatornya adalah residen itu. Atau, mungkin juga operatornya adalah sang SpB(K)Onk itu, dan asistennya adalah residen bedah yang itu (seperti kata perawat ruangan saat aku bertanya dulu). Entahlah, aku nggak tau mana yang benar. Kenapa aku jadi berburuk sangka begini ?🙂 Karena novel itu, kan ? (Karena apa yang tertulis di Komplikasi, hal 46)🙂 Sudahlah. It’s over now.

Kalau yang di Better, ada juga tulisan Atul Gawande yang sempat membuatku termenung. “Dalam dunia kedokteran, kami terbiasa mengalami kegagalan. Semua dokter pernah menghadapi kematian dan komplikasi tak terduga. Yang tak biasa kami lakukan adalah saling membandingkan catatan keberhasilan dengan para sejawat. Saya seorang dokter bedah di departemen yang kami yakini paling hebat senegara. Tapi sebenarnya kami tak punya bukti untuk menunjukkan kami memang sehebat itu. Tim baseball punya catatan menang-kalah. Bisnis punya laporan pendapatan triwulan. Dokter bagaimana ?” (Better, halaman 243)

“Tapi tak ada dokter yang ingin percaya bahwa dia cuma tokoh kecil. Bagaimanapun juga, dokter diberi kekuasaan untuk meresepkan lebih dari 6.600 obat yang dapat berbahaya. Kami boleh mengiris manusia seperti mengiris melon. Tak lama lagi kami akan diperkenankan mengotak-atik DNA manusia. Orang-orang mempercayakan kehidupan mereka kepada kami.  Dan meski demikian, sebagai dokter, tiap orang diantara kami hanyalah satu dari 819.000 dokter di Amerika Serikat yang ditugasi membantu orang hidup sepanjang dan sesehat mungkin.”(Better, halaman 292). Mengiris manusia seperti mengiris melon ? Benarkah ? Betapa mengerikan. Kayaknya, judul postinganku ini nggak cocok deh, dengan kutipanku dari novel-novel Gawande.

Kalau bulan kemarin bisa selesai lima novel, (sebenarnya ditambah dengan buku-buku cerita anak-anak yang aku bacakan dua judul bergantian setiap malam sebelum Nayla tidur), maka bulan ini aku punya target untuk menyelesaikan satu buku khusus saja, satu kitab istimewa yang berasal dari Sang Pencipta, Allah Yang Maha Kuasa Atas Segalanya : Al Qur’an. Kebangeten banget kalau satu bulan ini Al Qur’an nggak khatam. Ramadhan, lagi..🙂. Semoga bisa ya…Amin…🙂 Selamat bulan ramadhan…🙂🙂

 


2 Comments on “Kalimat Indah Penuh Makna”

  1. gambarpacul says:

    khatam qur’an dengan terjemahannya La..


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s