It’s About Love (And Family)

Sebenarnya aku sama sekali nggak punya kewenangan untuk ngomong apapun tentang cinta dan keluarga. Mestinya yang berani bicara tentang itu adalah pakar atau konsultan di bidang tersebut. Aku hanya ingin berbagi cerita, ingin keluarkan sesuatu yang sudah lama mengendap di pikiranku, dengan cara menuliskannya di sini.

Berawal dari pertemuan dan perkenalanku dengan Mbak Lisa dan suaminya, dari Bengkulu. Mbak Lisa yang asli Bengkulu, sedangkan suaminya berasal dari Medan. Mereka adalah temanku satu kost, waktu aku masih kost di Yogya dalam rangka berobat dulu itu. Mereka datang ke Yogya, dalam rangka berobat di Sardjito juga, sama seperti aku. Tapi mereka bukannya sakit. Mereka berdua sehat. Mereka hanya ingin berobat agar punya anak. Belasan tahun sudah mereka menikah, sampai kini berumur 45 an, belum juga dikaruniai anak. Sebelumnya, mereka sudah berusaha berobat kemana-mana baik secara medis maupun non medis, tetapi belum juga berhasil.

Di Sardjito, mereka mengikuti program pengobatan di Klinik Permata Hati. Setelah melalui beberapa pemeriksaan, akhirnya mereka direkomendasikan untuk mengikuti program bayi tabung. Berkali-kali, bolak-balik mereka datang dari Bengkulu ke Yogya, sesuai jadwal pengobatan yang sudah ditentukan oleh tim dokter. Mengorbankan banyak waktu, tenaga dan biaya. Tetapi itu semua bukan masalah bagi mereka. Mereka sangat menginginkan usaha ini berhasil.

Tetapi rupanya, untuk bisa memiliki anak dengan program bayi tabungpun mereka sulit. Kata Mbak Lisa, kadar hormonnya terlalu tinggi. Untuk bisa melaksanakan program bayi tabung, rupanya fisik harus dikondisikan sedemikian rupa agar mencapai nilai ideal seperti yang ditetapkan oleh tim dokter, misalnya kadar hormon dan lain-lain yang aku nggak mudeng. Mbak Lisa yang tau, dan dia sering cerita ke aku tentang proses berobatnya.

Awalnya, dia sangat bersemangat mengikuti program pengobatan itu. Dia nggak peduli tentang prosentase tingkat keberhasilannya. “Yang penting mencoba dulu, hasilnya kita pasrahkan pada Tuhan,” Begitu katanya. Tetapi, saat terakhir dia bertemu aku, saat dia tahu bahwa untuk mencobapun kelihatannya sulit, dia terlihat sangat sedih. Untuk pertama kalinya sejak mengenalnya, aku melihat dia menangis.

Sebagai sesama wanita, aku tahu persis bagaimana perasaannya saat itu. Aku bisa ikut merasakan kesedihan dan kekecewaan yang dialaminya. Aku tahu betapa dia ingin merasakan bagaimana rasanya hamil, melahirkan, merawat dan membesarkan anaknya sendiri.

Suatu ketika, dengan hati-hati aku pernah bertanya kepadanya, “Kenapa nggak adopsi aja, Mbak ?” Dia jawab, “Nggak dulu deh, pengin nyoba ini dulu, siapa tahu berhasil. Kalo adopsi, Mbak takut nggak bisa menyayangi dan mencintai sepenuh hati, karena bagaimanapun dia bukan berasal dari kami, Mbak khawatir.”

Aku tahu, penyebab utamanya sebenarnya bukan itu. Suatu ketika dia pernah cerita bahwa bagi orang Medan (dan Sumatra umumnya), nama marga adalah hal yang penting untuk diturunkan.  Dan bila dia tidak punya anak kandung, maka tidak ada penerus marga dari keluarganya.

Betapa menyedihkan.  Betapa menderitanya dia selama ini, betapa sering dia mendapat pertanyaan dari keluarga besarnya, “Kok belum hamil ?” Untunglah suaminya adalah orang yang sangat baik. Sangat menyayangi Mbak Lisa, apapun keadaannya. Ini berdasarkan penilaianku selama beberapa kali menjadi tetangga kamarnya di kost, selama ini. Juga berdasarkan cerita dari  Mbak Lisa.

Kenapa sih di dunia ini harus ada nama marga? Yang harus diturunkan dari generasi ke generasi ? Kenapa pula seorang wanita yang sudah menikah dituntut untuk bisa hamil ? Oleh keluarga besar, oleh masyarakat, oleh semua orang ? Terus, kalau wanita itu sampai lama sudah menikah, belum juga hamil, maka orang-orang akan berkata “Dia nggak bisa hamil. Dia mandul.” O, ya?!!

Padahal yang sebenarnya bukan begitu. Dia ingin bisa hamil, sangat ingin, tetapi Allah tidak mengijinkan. Allah yang tidak menghendakinya untuk bisa hamil. Bukannya masalah bisa atau tidak bisa. Hamil itu bukan suatu kompetensi yang harus dimiliki oleh seorang perempuan. Berbeda kalau kalimatnya “Dia nggak bisa masak.” Oke, karena memasak adalah kompetensi yang mestinya dimiliki oleh perempuan. Memangnya urusan hamil atau tidak itu kehendak manusia ? Aku heran banget dengan orang-orang yang seenaknya aja ngomong, “Dia itu nggak bisa hamil.” Dan aku lebih heran lagi dengan para laki-laki, para suami yang seenaknya saja menyalahkan pihak istri. Seolah-olah urusan bisa hamil atau tidak itu tanggungjawab istri seorang.

Tentu saja ketika sepasang suami istri menikah, mereka berharap ingin segera bisa punya anak, punya penerus keturunan. Aku yakin tak ada satupun pengantin perempuan di dunia ini yang berharap nggak akan bisa punya anak. Dan seandainya, setelah bertahun-tahun menikah, mereka belum juga dikaruniai anak, sang istri belum juga hamil, lantas apa yang terjadi ? Kebanyakan yang terjadi di masyarakat, sang suami seenaknya saja menyalahkan sang istri, lalu menikah lagi dengan orang lain. Entah sesudah menikah lagi itu, dia bisa punya anak atau enggak. Yang jelas, dia ganti istri.

Lihatlah, betapa malang istrinya. Malang, kalau dia mencintai suaminya. Dia akan merasakan sakit hati yang sangat. Tapi kalau sang istri itu sebenarnya tidak mencintai suaminya, apalagi mungkin karena dulu terpaksa menikah dengannya karena dijodohkan (ngomong apaan, sih…), dia mungkin justru akan merasa bahagia. Mungkin dia akan berkata, “Kau boleh menikah lagi dengan perempuan manapun sesukamu, yang bisa memberimu anak. Tapi lepaskan dulu ikatan ini dariku. Bebaskan aku.”  Cie…lebay banget ya…kayak dialog sinetron aja…🙂

Ada juga kisah lainnya. Bila sudah bertahun-tahun menikah, sang istri belum juga hamil, sudah berusaha, berobat secara medis maupun non medis tidak juga berhasil, maka sang suami dan keluarga besarnya menerima keadaan itu dengan lapang dada, sabar dan ikhlas. Ketika pasangan suami istri itu memutuskan untuk mengadopsi seorang anak, keluarga besar merekapun bisa menerima anak itu sebagai bagian dari mereka. Indah sekali bukan? (seperti kisah sinetron juga..? :)). Tetapi berapa banyak keluarga yang bisa menerima apa adanya seperti ini ? Mungkin tidak lebih banyak dari hitungan jari.

Saat terakhir aku bertemu Mbak Lisa, aku hanya bisa menghiburnya, sebisaku. Dengan hati-hati aku hanya bisa menyarankan, “Mungkin sekarang Mbak bisa memikirkan kemungkinan untuk adopsi anak.” Dia cuma jawab, “Iya…coba nanti dipikir dulu…” Aku sungguh kasihan kepadanya.

Bagaimanapun, inilah hidup, sebuah anugerah yang harus dinikmati setiap detiknya. Yang harus dihadapi apapun yang terjadi di dalamnya. Walau kadang tidak sesuai dengan harapan atau keinginan kita. Inilah hidup, yang harus disyukuri setiap detiknya. Yang harus disadari bahwa Allah sudah punya rencana yang lebih baik untuk kita, bila kita sudah berusaha dan berdoa. Inilah hidup, ladang pahala tempat kita berusaha untuk berbuat sebaik mungkin, agar nantinya kita menuai hasil yang baik. Inilah hidup, tempat kita berjuang untuk kehidupan yang lebih baik sesudah mati nantinya. So, live a happy life with love !


3 Comments on “It’s About Love (And Family)”

  1. PAP says:

    Berusaha memang wajib hukumnya dan berusaha ikhlas menerima yg akhirnya digariskan Allah SWT setelahnya (kalo tdk bisa dikatakan harus atau sebaiknya). Semoga aku dan keluargaku, kamu Ella dan keluarga menjadi bagian dari golongan yg ikhlas aamiin. Inspiring, thx Ela🙂

  2. Failasufah says:

    Puri…makasih banget doanya…Amin…ya Robbal ‘Alamin… Aku kadang masih sedih aja kalo inget Mbak Lisa itu…

  3. […] di tulisanku yang berjudul It’s About Love and Family, aku pernah menulis tentang kisah seorang wanita yang ditakdirkan tidak bisa memiliki keturunan, […]


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s