Cek Darah

Tadi pagi aku cek darah lengkap, termasuk fungsi hati, ginjal sekaligus CEA dan CA 15-3, di instalasi laboratorium, bukannya di lab kecil belakang paviliun wijaya. Ini adalah pertama kali aku cek darah di sana. Ada dua penyebab kenapa aku nggak cek darah di lab pav wijaya. Yang pertama, karena kalo cek CEA dan CA di lab wijaya itu mahal. Empat ratus ribu lebih, karena nggak pake askes. Sedangkan di lab depan, aku cuma disuruh nambah sebelas ribu limaratus rupiah, karena pake askes (kan hemat pangkal kaya.. :)). Yang kedua, karena aku trauma. Sewaktu cek darah sebelumnya, dua kali di hari Jumat, tanggal 8 dan 15 April, lengan kananku sudah ditusuk jarum dua kali di tempat yang berbeda (berarti empat kali, karena kejadiannya dua kali), tapi tetap darah nggak mau keluar. Lagi pula petugas pengisap darah itu (apa sih namanya, orang yang kerjanya ambil darah di laborat ? Laboran kali, ya? :)) keliatannya tidak berperikemanusiaan sama sekali. Mungkin dia kira aku nggak sakit. Coba aja kalo dia yang ngalami gitu. Dua Jumat itu, petugasnya adalah orang yang sama. Bapak-bapak, yang kalo ambil darah prosesnya menyakitkan. Padahal beberapa kali sebelumnya, petugasnya dia juga, bisa keluar darah.

Ada empat orang petugas pengisap darah (laboran ?) pake alat suntik, di lab kecil belakang wijaya itu, setahuku. Ada dua orang ibu-ibu, satu pake kerudung, satunya enggak. Terus adalagi mas-mas, yang selalu baca bismillah dulu kalo mau ambil darah. Terus satunya bapak-bapak itu…yang horor banget. Dari empat orang itu, yang prosesnya selalu paling nggak sakit adalah yang mas-mas itu. Dan yang prosesnya selalu paling menyakitkan adalah yang bapak-bapak itu. Ini berdasarkan pengalamanku selama 20 kali lebih ambil darah. Iya, kalo dihitung aku sudah cek darah di situ selama 20 kali lebih, selama 6 kemo doxo dan 8 kemo herceptin dulu.

Dan ternyata, itu bukan cuma penilaianku saja. Ketika aku cerita dengan teman sesama pasien, ibu muda yang sakit leukemia dan sering ketemu  kalo pas cek darah bareng, dia juga bilang begitu. Terus tadi, di instalasi laboratorium depan, ada teman sesama pasien, dia kanker nasofaring, cerita kalo dia juga mengalami proses pengambilan darah di lab wijaya, yang bikin trauma seperti aku. Dua kali lengannya ditusuk di tempat berbeda, dua-duanya juga nggak mau keluar darah. Dan proses itu dilakukan oleh orang yang sama, petugas yang bapak-bapak itu. Kejadiannya hari ini tadi. Terus dia langsung kabur, ke lab depan. Berani juga dia ya…coba dulu aku juga kabur. Bukannya kabur, dulu malah aku manut aja waktu yang tanggal 8 April akhirnya dia ambil darah dari lengan kiriku, padahal kan  harusnya nggak boleh… kan harusnya kontralateral. Terus yang tanggal 15 April akhirnya dia ambil darah dari punggung telapak tangan kananku. Tadinya aku sempat berpikir minta ganti orang, ganti petugas maksudnya. Tapi mana mungkin aku berani ngomong “Pak, tolong panggilin petugas yang mas-mas itu aja.” Nggak enak sama bapak  itu…

Jadi aku hari ini cek darah di lab depan. Prosedurnya, taruh berkas di bagian pendaftaran, lalu nunggu dipanggil untuk bayar di kasir, lalu masuk ruangan pengambilan sample darah. Karena ini hari senin dan kebetulan juga sesudah long weekend, jadi pasien di lab itu banyak banget, dan antrinya lama…. Aku diberitahu sama temanku yang sudah sering cek darah di situ, laboran yang mana yang proses ambil darahnya nggak sakit. Jadi sewaktu aku dipanggil untuk bayar di kasir,  lalu masuk ruangan ambil darah, aku pilih petugas yang direkomendasikan temanku. Bener juga, ibu-ibu petugas itu ambil darahnya nggak sakit, pake jarum yang ukuran kecil, lagi, yang ada sayapnya…🙂 padahal kalo di lab wijaya selalu pake jarum ukuran besar. Aku senang hari ini dapat pelajaran dan pengalaman baru. Tinggal ambil hasilnya besok, semoga bagus semuanya..terutama CA nya…(bikin deg-degan juga nih…) Amin…


4 Comments on “Cek Darah”

  1. Titah says:

    Sehat, sehat, sehat, insya Allah!🙂

  2. Failasufah says:

    Amin…amin…makasih mbak..🙂 Mbak aku pengin bikin link ke blognya Mbak Titah tapi belum tahu caranya…nanti deh aku coba utak-utik lagi.. Maklum…baru belajar…🙂

  3. gambarpacul says:

    emang La, perawat pun ada yang kayak gitu, ada yang pinter ada yang sembarangan aja……..

  4. failasufah says:

    Iya Mil…harus tetep sabar ya…?


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s