Alhamdulillah, Everything is Over

Dear readers, akhirnya, segalanya berakhir sudah. Sekarang, semuanya hanya tinggal menjadi kenangan yang tak kan terlupakan. Sebuah kisah dalam perjalanan hidupku sudah berakhir. Tentunya masih akan ada kisah-kisah yang lain, dan aku harus mempersiapkan diri untuk menghadapinya.

Rasanya seperti mimpi, hampir aku tak percaya. Masih kuingat bagaimana lima tahun lalu, siang itu di bulan November 2010. Pertama kalinya aku datang ke poli Tulip untuk menemui dr. Kunta, membawa dan memperlihatkan hasil PA biopsiku yang bertuliskan “invasif ductal carcinoma mammae grade 2”. Masih kuingat ketika dokter Kunta berkata padaku dan ibuku yang menemani saat itu, “Operasinya besok ya. Kita kejar-kejaran dengan waktu”. Aku paham maksudnya. Semakin cepat sel kanker itu dibuang dari tubuhku, akan semakin bagus hasilnya nanti. Kemungkinanku untuk bisa sembuh akan lebih besar. Itu sebabnya aku jawab “Ya”. Setuju dengan langkah pengobatan yang akan diambil. Aku tahu, beliau sudah mempersiapkan sebuah program pengobatan yang terencana dan sistematis untuk mengobati sakit kankerku. Terimakasih banyak atas semuanya Dok, melalui Dokter, dengan ijin Allah saya bisa sembuh.

Aku masih mengingat juga apa yang beliau katakan tentang Tamofen. Postingannya bisa dibaca di sini : https://failasufah01.wordpress.com/2011/03/26/be-patient-please/ . Saat itu beliau berkata : “Ibu harus minum Tamofen selama lima tahun”. Masih kuingat bagaimana reaksiku. Aku menahan napas dan dalam hati berkata “Lima tahun??? Lama sekali…” tapi yang kuucapkan adalah “baik Dok.” Alhamdulillah, waktu lima tahun itu akan berakhir bulan April depan. Setelah itu, aku tak perlu lagi minum Tamofen.

Melalui postingan di blog ini, aku ingin mengucapkan banyak terimakasih kepada semua tenaga kesehatan yang telah terlibat dalam proses pengobatan kankerku selam lima tahun di RSUP dr. Sardjito. Terimakasih kepada para dokter yang telah merawatku, dr. Kunta, dr. Artanto dan dr. Herjuna, semua dokter di Poli Tulip yang telah menuliskan resep dan/atau surat rujukan ke laborat dan radiologi untukku, termasuk dokter residen di Poli Bedah.

Terimakasih kepada para perawat di ruang Instalasi Rawat Inap Wijaya yang telah merawatku selama 6 hari pasca operasi. Aku lupa nama-namanya, yang kuingat hanya Mbak Iin dan Mas Andi (kalau tidak salah). Mas Andi ini yang malam hari sebelum operasi mendorong kursi rodaku menuju ruang 3 di Poli Radiologi untuk diambil foto rontgen. Padahal aku bisa berjalan sendiri, tapi tentu saja prosedurnya aku harus naik kursi roda.🙂

Terimakasih kepada para perawat dan tenaga administrasi di Poli Tulip, bu Siti, para perawat di ruang kemoterapi ; Bu Kaning, Bu Rukini, Mbak Apri, Mbak Santi, Mbak Atun, Mbak Dorta yang telah menyuntikkan obat-obat kemo, melayani proses kemoterapi, menyuntikkan Leukoken saat leukositku nol koma sekian setiap selesai kemoterapi dan melakukan cek EKG sebelum kemoterapi. Terimakasih kepada para laboran di laboratorium Patologi Klinik, juga di laboratorium Wijaya waktu itu, yang melayani proses cek darah setiap kali aku membutuhkan untuk cek darah sebelum kemo atau sesudah kemoterapi.

Terimakasih kepada perawat di IRD yang waktu itu (dulu) menyuntikkan Leukoken pada hari Minggu ketika poli Tulip tutup, saat kebetulan jadwal harian suntik Leukoken-ku melewati hari Minggu.  Kepada dr. Maharani, dokter ahli penyakit jantung yang telah memeriksa kesehatan jantungku dulu, di awal ketika aku akan memakai obat Herceptin. Kepada dr. Mimiek, dr. Wigati, para dokter ahli radiologi di poli radioterapi dan kedokteran nuklir, para petugas radioterapi yang dulu melayani proses radioterapiku. Kepada para petugas penata rontgen di poli radiologi, para residen radiologi di poli USG yang melayaniku setiap kali check up.

Terimakasih juga kepada dokter bedah di RSUD Cilacap dr. Gatot yang telah melakukan biopsi, memberiku diagnosa sesuai hasil PA kemudian menyarankan pengobatan tuntas dan pengantar untuk berobat ke poli Tulip RSUP dr. Sardjito. Beliau juga yang meresepkan tamofen setiap persediaan obatku habis dan tidak sempat ke Yogya, dulu sebelum era BPJS.

Terimakasih juga kepada dr. Maryam di puskesmas Cilacap Selatan, yang selalu memberiku rujukan askes setiap aku akan kontrol ke Yogya. Beliau juga yang terkadang memberikan semangat dan motivasi. Terimakasih, semoga semua yang telah Bapak Ibu lakukan menjadi pahala amal kebaikan.

Tak lupa, ucapan terimakasih juga ingin kusampaikan kepada teman-teman sesama pasien yang telah bersama-sama berjuang menuju kesembuhan. Baik teman-teman lama sejak 5 tahun lalu, maupun teman-teman baru. Dari mereka semua aku belajar tentang makna kesabaran dan keikhlasan. Kepada teman-teman Love Pink dan Tulip Lover, terimakasih banyak atas sapaan, postingan dan candaan, semangat dan motivasi yang ditularkan melalui grup WhatsApp. Andaikan sejak 2010 ada grup semacam ini, pasti dulu aku tidak akan sempat bersedih dan menangis🙂 Tapi tak apalah, walau belum begitu lama bergabung, aku banyak belajar dari mereka. Senang sekali bisa kenal dengan wanita-wanita hebat seperti mereka. Terimakasih banyak kepada dr. Inez Nimpuno yang telah memperkenalkanku dengan teman-teman Love Pink.

Begitu banyak orang yang telah terlibat dalam rangka proses pengobatanku selama ini, mereka yang telah berusaha untuk membantu kesembuhanku. Mereka adalah orang-orang yang telah dipersiapkan oleh Allah untuk kutemui dalam perjalanan hidupku, mereka yang akan membantu kesembuhan penyakitku. Aku percaya, ketika Allah memberikan penyakit itu kepadaku, Dia sudah mempersiapkan semua skenarionya. Dia sudah mempersiapkan siapa saja orang-orang yang akan kutemui dalam rangka proses pengobatan ini, supaya aku bisa sembuh.

Saat ini, ketika aku duduk mengetikkan ini sambil “melihat ulang” seluruh peristiwa yang terjadi sejak diagnosa itu muncul, aku hanya bisa bersyukur, berterimakasih atas segalanya. Bahwa Allah telah memberiku kesempatan untuk mendapatkan pengalaman berobat kanker hingga sembuh. Bahwa Allah telah memilihku untuk mendapatkan penyakit ini. Bersyukur bahwa Allah telah memberiku kekuatan untuk dapat melalui seluruh proses pengobatan itu. Bahwa Allah mengijinkan aku untuk bertemu dengan mereka, orang-orang yang telah banyak berperan dalam proses pengobatanku hingga sembuh.  Sungguh, Allah telah merangkai seluruh skenarionya, dan aku hanya tinggal menjalaninya.

Sebuah quote dari Tere Liye kebetulan kubaca tadi ketika sedang menuliskan ini. “Selalu ada alasan terbaik kenapa sesuatu itu terjadi, meski itu menyakitkan, membuat sesak dan menangis. Kita boleh jadi tidak paham kenapa itu harus terjadi, kita juga mungkin tidak terima, tapi Tuhan selalu punya skenario terbaiknya. Jadi, jalanilah dengan tulus. Besok lusa, semoga kita bisa melihatnya…dan tersenyum lapang”.  *Tere Liye, novel “Rindu”.

Kiranya, inilah yang bisa kutuliskan, setelah kemarin tanggal 14 dan 15 Maret 2016 aku kembali menjalani check up per 6 bulanan. Dokter bilang, aku hanya tinggal satu bulan lagi minum tamofen, dan setelah itu check up cukup satu tahun sekali. Tapi untuk 6 bulan ke depan, yaitu bulan September yang akan datang, aku masih akan check up ca 15-3. Hanya cek darah saja.

Aku berharap, kisah hidupku dengan breast cancer disease benar-benar sudah berakhir, dan aku akan bisa lebih tenang melanjutkan hidupku, tanpa kekhawatiran akan apapun lagi. Aku harus melanjutkan hidupku dan berusaha mewujudkan mimpi-mimpku. I hope one day, all my dreams come true. Amin.

 


Thank You for Everything :)

Dear readers, I still feel amazed and so grateful. How could all of these happened to me ? Jika mengingatnya, rasanya takjub banget dengan ke-Maha Besar-an dan ke-Maha Kuasa-an Allah SWT.  Bagaimana mungkin hal itu terjadi padaku ? Bagaimana mungkin Allah begitu cepat mengabulkan keinginanku ? Tidak semua, memang tidak semua keinginan…. Tapi cukuplah jika hanya satu saja keinginan yang terbersit di dalam hati kemudian begitu cepat Dia mewujudkannya, bukankah itu benar-benar menakjubkan ? Padahal aku hanyalah seorang hambaNya yang amat-sangat-biasa-biasa-saja-sekali. Yang masih banyak dosanya. Masih banyak lalainya. Sungguh, Allah benar-benar Maha Pemberi.

Jadi… memang benar sekali apa yang sering dikatakan orang-orang. Janganlah kau pernah berhenti berharap, janganlah kau pernah berhenti meminta. Karena kau tidak tahu kapan semuanya itu akan dikabulkan. Kapan Dia berkenan untuk mewujudkannya. Bisa dalam waktu dekat… atau pada suatu saat nanti. Dan benar sekali, berharap dan memintalah hanya kepadaNya, karena hanya Dialah yang Maha Kuasa atas segala sesuatu, Maha Kuasa atas segalanya, yang menentukan segala apa yang akan terjadi maupun segala apa yang tidak akan (pernah) terjadi.

Sebenarnya keinginanku yang telah Dia kabulkan itu sederhana saja. Mungkin itu sebabnya Dia berkenan untuk mewujudkannya, karena apa sih yang tidak mungkin bagi Allah? Adalah mudah sekali bagiNya untuk memberikan apapun yang diminta oleh hambaNya. Apapun. Jangankan hanya sebuah keinginan sederhana.

Well, I think I have to tell you the whole story. Pada suatu hari di bulan November, aku diberi tugas oleh Lembaga Sertifikasi Profesi Teknisi Akuntansi (LSP TA) sebagai asesor uji kompetensi di sebuah SMK. Ini adalah kegiatan tahunan dan hampir setiap tahun aku diberi tugas sebagai asesor uji kompetensi akuntansi manual di sekolah-sekolah yang berbeda, yang telah menjadi Tempat Uji Kompetensi / TUK (karena tidak semua sekolah adalah TUK). Saat itulah, ketika usai menjadi asesor di sana, terbersit keinginan ditugaskan sebagai asesor untuk unit kompetensi Spreadsheet dan Komputer Akuntansi. Kebetulan aku sudah lulus dari dua mata uji itu dan juga sudah punya sertifikatnya. Aku hanya bisa berharap, karena yang mengatur para asesor dan menentukan seseorang menguji mata uji apa adalah pihak LSP. Aku sudah merasa bersyukur setiap tahun bisa diberi tugas untuk menguji sebagai asesor kompetensi, dan selama ini kebetulan hanya diberi tugas untuk menguji kompetensi akuntansi manual saja. Sebetulnya, memang salah satu penyebabnya adalah karena hanya sedikit sekali sekolah yang mengujikan Spreadsheet dan Komputer Akuntansi. Selama ini kebanyakan sekolah yang menjadi TUK, ketika mengikuti UK LSP Teknisi Akuntansi  hanya mengujikan Akuntansi Manual saja untuk para siswanya

Dalam rentang waktu kurang dari seminggu setelah itu, tiba-tiba aku mendapat telepon dari LSP, ditawari untuk menjad asesor pada unit kompetensi Spreadsheet dan Komputer Akuntansi, bertempat di D3 Perpajakan Kampus Tri Sakti Jakarta. Wow…. I feel so grateful. Begitu cepat Allah memberikan kesempatan itu. It was His gift. So quickly He sent to me. And to me, it was a huge gift.

Hari Rabu aku mendapatkan telepon itu, Jumat sore aku berangkat dengan kereta api Purwojaya menuju Jakarta, sendirian. Kegiatan Uji Kompetensi itu berlangsung selama dua hari. Hari pertama dengan mata uji akuntansi manual yang terdiri dari memproses entry jurnal, memproses buku besar, menyusun laporan keuangan dan uji teori akuntansi, hari kedua uji wawancara, uji praktek spreadsheet dan praktek komputer akuntansi. Jadi aku hanya berada di sana selama satu hari yaitu hari Sabtu saat mata ujiku diujikan.

Aku belum pernah sendirian pergi ke Jakarta. Tapi saat itu aku merasa bahwa aku harus berani. Suamiku tidak bisa menemani karena sedang berada di Solo mengurus pameran pertanian, tugas dari kantor. Tidak ada teman asesor lain yang menemani. Asesor untuk mata uji ini hanya aku sendiri, teman asesor lain yang ditugaskan adalah bu Siti Komariah dari Bengkulu, untuk mata uji akuntansi manualnya. Saat itu aku berpikir, “this will be my one day adventure”. Hanya sehari, karena usai pelaksanaan kegiatan pada hari Sabtu sore aku langsung pulang ke Cilacap. Aku menginap di rumah kakak iparku di Bekasi. Sabtu pagi diantar menuju kampus Tri Sakti.

Di perjalanan saat berangkat, hujan gerimis turun. Aku memandangi pemandangan indah yang terhampar bagaikan lukisan di sepanjang jalur kereta, di antara rinai hujan gerimis, sungguh indah. Aku pasti sudah pernah cerita kalau aku suka sekali naik kereta api (seperti anak kecil saja🙂🙂 ). Aku sungguh menikmati my-one-day-adventure ini. Aku berada di Jakarta dari jam 10 malam pada hari Jumat  tanggal 6 November sampai dengan hari Sabtu 7 November  jam 10 malam. Bener-bener one day🙂. Malam itu aku sampai di Stasiun Bekasi dan dijemput kakak iparku. Menginap di rumahnya semalam, esok paginya aku diantar ke kampus Trisakti di daerah Grogol.

Pagi itu sekitar jam 10 pagi, saat aku sedang menguji praktik komputer akuntansi dan spreadsheet di lantai 9 gedung I FE Trisakti, hujan gerimis turun.  Sambil menunggui para peserta uji mengerjakan soal, aku memandangi keruwetan jalanan Jakarta diantara rinai hujan gerimis dari ketinggian, sungguh asyik sekali. Kapan lagi aku punya kesempatan seperti ini.  Mungkin suatu saat nanti aku kembali akan menguji di sana, tapi belum tentu saat  kesempatan itu datang, hujan gerimis turun bukan ? Seolah, hujan gerimis itu mengiringi perjalananku, my-one-day-adventure sejak berangkat hingga kepulanganku kembali ke kotaku. Karena sore itu, saat aku tiba di stasiun Gambir, hujan pun turun. Aku suka hujan gerimis, karena gerimis itu romantis, eksotis dan melankolis🙂

Di Gambir, aku menunggu lama. Keretaku berangkat jam 21.30 WIB, dan aku datang ke stasiun itu pukul 16.00 WIB. Dan rupanya, Allah tak henti memberiku kejutan. Sore itu, aku dipertemukan dengan teman seperjuangan dalam melawan kanker, anggota komunitas Love Pink Yogyakarta. Mereka bertiga tiba-tiba datang, duduk di sebelahku, di kiri dan kananku, karena kebetulan bangku yang kosong berada di situ, di sebelah menyebelah dari tempat dudukku. Mereka mengobrol tentang kanker, tentang proses pengobatan, kemoterapi dan sebagainya. Aku tak tahan untuk ikut menimbrung dalam pembicaraan mereka. Mereka menyambut obrolanku dengan hangat. Sampai akhirnya salah satu dari mereka berkata, “kami ikut grup WhatsApp Love Pink Bu…” spontan aku bilang, “Saya juga anggota Love Pink bu… “ Rupanya, mereka adalah Bu Endang Hangestiningsih (yang sering dipanggil Eyang Uthie di grup dan sering kubaca postingannya) beserta sepupunya  (lupa namanya🙂 yang juga sedang berobat breast cancer serta seorang saudaranya yang tinggal di Jakarta. Wah, makin ramailah perbincangan kami sore itu. Hingga kereta mereka datang dan mereka pamit untuk menuju lantai atas, dimana kereta yang akan membawa mereka ke Yogyakarta, sudah menunggu.

Kembali aku merasa takjub. Allah sungguh penuh kejutan. Skenarionya sungguh luar biasa. Setting dan waktunya sudah diatur sedemikian detil, tepat waktunya tanpa ada keterlambatan sedetikpun. Kun fayakun. Jika Dia berkehendak, maka jadilah. Thank you Allah, for everything you have given to me.

(Ini tulisan late post, kutulis sejak bulan November, baru sempat diposting hari ini :))

 

 

 


Surat Terbuka

Kepada Yth : Bpk. Ir. H. Joko Widodo

Presiden Republik Indonesia

Di

Jakarta

Assalaamu’alaikum  Warahmatullaahi wa Barakaatuhu

Selamat pagi dan salam sejahtera untuk kita semua

Sebelumnya mohon maaf Pak, saya mengucapkan selamat pagi karena saya berasumsi bahwa Bapak membaca surat terbuka ini pada waktu pagi hari. Pagi hari adalah saat dimana saya dan banyak teman-teman saya merasa sangat bersyukur bahwa kami telah diberi satu hari lagi kesempatan untuk hidup dan berkarya.

Bapak Presiden yang saya hormati, sekali lagi mohon maaf apabila surat ini menyita waktu Bapak yang sangat berharga untuk bekerja mengurus rakyat yang sangat banyak dalam satu negara yang sangat besar bernama Indonesia beserta segenap isinya. Tentunya hal itu menyita banyak sekali waktu, tenaga dan pemikiran Bapak.

Melalui surat ini, ijinkanlah saya menyampaikan harapan saya beserta seluruh teman-teman saya, para penderita kanker (maaf, sebetulnya saya lebih suka menggunakan kalimat ini : “orang-orang yang telah dipilih oleh Tuhan untuk mendapatkan penyakit kanker pada suatu masa dalam hidup mereka”).

Barangkali Bapak sudah mengetahui bahwa kami para pasien kanker membutuhkan waktu yang lama dalam proses pengobatan dalam rangka upaya menuju kesembuhan. Banyak diantara kami yang harus mengikuti berbagai macam pengobatan sesuai dengan petunjuk dokter. Jika jenis kankernya adalah breast cancer (kanker payudara) seperti yang dialami oleh saya dan teman-teman saya yang lain, maka terapi yang harus dijalani diantaranya adalah operasi, kemoterapi, radioterapi dan (kalau relevan), terapi hormon dan apa yang disebut sebagai ‘targeted therapy’ misalnya dengan obat Herceptin.

Kami dengan patuh mengikuti petunjuk dokter dengan harapan akan mendapatkan kesembuhan. Kami berusaha untuk bisa mengikuti semua terapi itu sesuai dengan waktu yang telah dijadwalkan. Kami mendapatkan kemoterapi setiap tiga minggu sekali, sesuai dengan waktu yang ditentukan oleh dokter spesialis onkologi kami. Obat-obatan untuk kemoterapi itu sungguh mahal sekali bagi kami, Pak. Alhamdulillah banyak diantara kami yang beruntung karena dicover oleh ASKES (dulu) atau BPJS sekarang. Akan tetapi, banyak juga diantara kami yang belum tercover BPJS dan harus menjual tanah, rumah dan apa saja yang kami miliki demi harapan untuk bisa sembuh dari penyakit mematikan ini.

Salah satu contoh yang klasik dari obat mahal ini adalah, obat Herceptin, yaitu obat yang termasuk ‘targeted therapy’ yang sekali infus pasien harus membayar sekitar 22 juta rupiah karena BPJS hanya mengcover obat ini pada keadaan tertentu.  Rekomendasi dokter adalah, Herceptin diberikan 18 kali infus (total hampir 400 juta rupiah), sementara BPJS hanya mengcover 10 kali infus, itupun dengan syarat kalau penderita menyandang kanker payudara yang sudah stadium lanjut (= stadium 4) dimana kanker nya sudah menyebar ke organ tubuh lain dan tidak hanya ada di dalam payudara.  Peraturan BPJS ini menyebabkan tidak ada coverage sama sekali untuk Herceptin yang diperlukan pada mereka dengan stadium yang lebih awal (stadium 1 sampai stadium 3), sehingga seluruh biaya hampir 400 juta tersebut harus ditanggung pasien sendiri.

Padahal dulu sewaktu masih ASKES, saya yang stadium 3 dan berobat di tahun 2011 masih bisa mendapatkan obat kemo herceptin walaupun hanya 8 kali. Dan saya sudah sangat bersyukur bisa mendapatkan obat itu karena jika saya berobat sekarang maka harus bayar sendiri, karena untuk stadium 3 tidak dicover BPJS, seperti telah saya sampaikan di atas. Mengapa kebijakan ASKES dan BPJS berbeda Pak?

Kami bersedia mengupayakan berbagai cara hanya untuk mendapatkan layanan pengobatan untuk penyakit kami. Hanya saja, perlu saya sampaikan bahwa upaya kami sepertinya menjadi tak berarti lagi ketika selain obat yang mahal juga ada persoalan besar lain, yaitu peralatan untuk mengobati kami rupanya tidak cukup tersedia. Bapak bisa bayangkan, untuk pasien yang mendaftar layanan radioterapi sekarang (bulan ini), baru akan bisa dilayani berbulan-bulan lagi. Dari data yang berhasil saya dapatkan, jika sekarang mendaftar radioterapi, maka : di Rumah Sakit Ken Saras Ungaran antrinya sekitar 3 bulan, di Rumah Sakit Dr. Moewardi Solo antri 4 bulan dan di Rumah Sakit Umum Pusat Dr. Sardjito antriannya mencapai 7 bulan. Padahal idealnya setelah selesai dengan kemoterapi, kami harus segera mendapatkan radioterapi.

Hal ini terjadi karena begitu banyak pasien yang membutuhkan layanan radioterapi, tetapi alat yang tersedia jumlahnya sangat minim. Hanya ada satu alat tersedia di rumah sakit-rumah sakit tersebut. Di RSUP dr. Sardjito tempat dimana saya berobat, sebelumnya tersedia 2 alat, tetapi yang satu sering sekali rusak dan informasi yang terakhir saya dapatkan, alat tersebut sudah “dinonaktifkan” karena memang sudah tidak bisa berfungsi lagi, sehingga yang tersisa hanya satu.

Bapak mungkin sudah mengetahui bahwa hanya rumah sakit tertentu yang sanggup membeli alat radioterapi karena harganya yang sangat mahal. Pada saat yang bersamaan, hanya rumah sakit yang memiliki dokter spesialis radioterapi onkologi yang bisa meresepkan dosis yang tepat untuk penyinaran dengan sinar gamma melalui alat radioterapi tersebut.

Tingkat kesembuhan kami bergantung pada stadium penyakit kami. Banyak diantara teman kami yang sudah masuk dalam stadium IV/stadium lanjut/stadium terminal dimana proses pengobatan yang harus dijalani adalah layanan paliatif. Padahal sementara ini di Indonesia layanan paliatif tidak masuk dalam kategori layanan yang dapat dicover oleh BPJS.

Untuk itu, melalui surat ini mohon kiranya Bapak dapat memberikan kebijakan yang lebih berpihak kepada kami para penderita kanker pada umumnya dan secara khusus terutama kepada para pasien dari kalangan kurang mampu. Kami berharap kemudahan dan kelancaran untuk bisa mendapatkan layanan pengobatan dengan baik, ketersediaan alat untuk proses pengobatan dan biaya yang terjangkau.

Mohon apabila memungkinkan untuk bisa digratiskan bagi kalangan yang benar-benar kurang mampu. Penghasilan mereka pas-pasan untuk hidup bahkan untuk membayar iuran BPJS saja mereka kesulitan. Sehingga tidak terbayangkan jika mereka harus mengeluarkan uang 400 juta untuk mendapatkan infus obat Herceptin. Yang ada adalah, banyak dari kami yang “menerima nasib” saja untuk menunggu kematian karena kanker payudara, dengan tidak menjalani terapi yang dianjurkan oleh dokter karena memang tidak mampu membeli obat tersebut.

Kiranya demikian yang dapat saya sampaikan dalam kesempatan ini. Saya berharap bahwa setelah membaca surat ini, tergerak hati Bapak untuk dapat membantu kami, orang-orang yang hidup dengan kanker. Sungguh, kami semua memiliki semangat dan daya juang untuk tetap bertahan hidup selama mungkin, dengan kualitas hidup yang sama dengan mereka yang dikaruniai kesehatan. Bagi kami, setiap detik waktu sangat berharga. Kebijakan Bapak yang berpihak kepada kami, akan sangat besar artinya bagi hidup kami.

Terimakasih banyak saya ucapkan atas kesediaan Bapak membaca surat ini, di sela-sela kesibukan yang tidak terhingga dalam tugas yang mulia, tugas negara sebagai seorang Presiden Republik Indonesia. Mohon maaf jika ada diantara kata-kata saya yang kurang berkenan di hati Bapak. Semoga Bapak diberi karunia dengan kesehatan, kebahagiaan, umur yang panjang yang bermanfaat untuk seluruh rakyat Indonesia.

Wassalaamu’alaikum Warahmatulaahi wa Barakaatuhu

Failasufah

Survivor  Breast Cancer

(Ditulis dalam rangka memperingati Breast Cancer Awareness Month pada bulan Oktober)


Bone Survey (I Mean “Photo Session” :))

Guess what I have done today ? Ya, hari ini (23 September 2015) aku check up di Yogya lagi, di RSUP Sardjito. Jangan bosan ya… dengan ceritaku seputar check up mencheck up🙂. Sebetulnya aku berangkat dari Cilacap hari selasa sore jam 4, sampai di rumah ibu mertua di Klaten jam11 malam. Lalu paginya dari Klaten berangkat jam 6 ke Yogya, sampai di Yogya sekitar jam 07.30. Langsung menuju laboratorium Patologi Klinik. Masih pagi, jadi dapat antrian no 14. Sekitar jam 08.30 aku dipanggil masuk ruangan pengambilan sampel darah.

Selesai dari lab Patologi Klinik, aku menuju ke Poli Radiologi. Tapi ternyata, bagian pendaftarannya masih tutup ! Padahal sudah jam 09.00 wib lewat beberapa menit. Tapi memang, hari ini sebagian orang sudah merayakan hari raya Idul Adha. Jadi mungkin para karyawan di bagian pendaftaran itu tadi pagi baru shalat Idul Adha sehingga jadwal kedatangannya mundur sedikit. Pasien sudah banyak banget berkumpul di depan loket pendaftaran.Tempat duduk di situ penuh, dan yang tidak dapat tempat duduk, mereka berdiri di depan loket dan di depan ruang-ruang sekitar loket.  Setelah menunggu agak lama (karena pasiennya emang banyak banget dan “being a patient is have to be patient” bukan ?) namaku dipanggil, lalu diberi berkas untuk dibawa ke ruang tes (bukan ruang ujian, tapi :)).

Tes pertama adalah di ruang 3 tempat rontgen. Kalau dulu-dulu di tempat rontgen aku hanya menjalani rontgen thorax aja, tadi itu aku menjalani semacam sesi pemotretan (berasa kayak model🙂🙂 :)). Sungguh aku jadi kepingin ketawa kalo  inget tulisannya  Mbak Sima di blognya yang dia ceritakan dengan lucu tentang sesi pemotretan yang dijalaninya di poli radiologi RS Dharmais. Mbak Sima itu orangnya lucu banget, aku inget dulu Mbak Sima bilang gimana. Jadi pas sesi pemotretan itu berlangsung, sambil berbaring di meja alat rontgen itu aku hampir aja kelepasan ketawa. Tapi untung masih bisa kutahan, nggak aku tau apa jadinya kalau aku beneran ketawa karena Mbak petugas rontgennya itu jutek banget. Cantik sih, tapi judes. “Cepetan bu, banyak pasien lain yang nunggu dirontgen juga” gitu katanya waktu menyuruh aku naik meja itu, padahal aku masih sibuk melepas perhiasan dan karet rambut🙂🙂. “Jangan bergerak bu. Sudah diposisikan begini jangan gerak-gerak” katanya beberapa kali dengan sikap judes. Gak papalah, asal acara kali ini berlangsung dengan sukses, aku menurut saja berbaring diam tak bergerak selama sekitar 10-15 menit.  Mbak petugasnya sibuk mengatur posisi lampu (atau kamera kalii…) di atasku.

Rupanya, aku sedang menjalani apa yang disebut ”bone survey”.  Jadi seluruh tubuhku di rontgen. Mulai dari kepala, leher, dada, perut atas, perut bawah, kaki (terdiri dari 3 bagian), bahu, lengan atas dan lengan bawah. Bener-bener dari ujung kepala sampai ujung kaki. Aku hitung kira-kira aku dipotret sebanyak 14 kali. Berasa jadi model dadakan🙂🙂 Aku nggak menyangka bahwa pada akhirnya aku akan menjalani tes ini, tes yang pernah dijalani oleh Mbak Sima, yang  pernah kubaca di blog nya. Sempat ada sedikit rasa ngeri dan khawatir dengan hasilnya besok Jumat. Tapi, ketika aku ingat kembali tulisan Mbak Sima, aku malah jadi kepingin ketawa.

Bener yang Mbak Sima bilang. Rasanya ini seperti bukan tes imaging. Ini seperti sesi pemotretan. Walaupun sedikit ngeri jika membayangkan jangan-jangan hasilnya menampakkan ada massa di tulangku (Oh No!!!!). Tapi ketika di USG setelah rontgen, Mbak residennya bilang kalau penampakannya baik. “Untuk sementara aman kok bu”, begitu katanya  :). Tinggal nunggu hasil cek darah dan hasil bone survey nya ini nih…yang bikin deg-degan. Tak sabar rasanya menunggu hari Jumat pagi saat aku kembali ke RSUP Sardjito untuk mengambil hasil lab semuanya. Semoga saja hasilnya baik, normal semuanya. Amin…🙂

(Itu tulisan late post…kutulis pada hari H, baru bisa kuposting hari ini. Alhamdulillah, semua hasil lab pada hari itu hasilnya baik semua. Tidak ditemukan massa pada tulang ataupun metastase. Hasil USG juga sama. dan hasil Ca 15-3 ku masih berada pada angka normal. Alhamdulillah :))


Just Another Post

Bingung mau kasih judul apa di postingan kali ini…. akhirnya pakai kalimat itu saja. Just another post. Hanya sekedar postingan lainnya. Sebenarnya aku kepingin menulis tentang banyak kisah…tapi…mungkin sebaiknya jangan. Aku kepingin nulis tentang frenvy yang bikin sebel dan jengkel, tapi kayaknya mendingan nggak usah aja. Nanti ujung-ujung nya ada yang tersinggung lalu terpaksa aku delete postinganku, seperti dulu.

Sejauh ini… sejak mulai bikin blog di awal Maret 2011, aku sudah delete dua postingan yang pernah aku publish gara-gara nggak enak sama orang. Gara-gara orang itu ngerasa lalu tersinggung dengan tulisanku, kebetulan tentang hal yang sama dengan yang ingin aku tulis, yaitu tentang frenvy, atau friend envy. Sudahlah. Biarpun sebel dan marah, sebaiknya aku tuliskan di tempat lain saja, bukan di blog yang seluruh dunia bisa baca seperti ini🙂🙂. Padahal aku nggak pernah pamerin blog ku, tapi orang-orang ini tau kalo aku punya blog. Dan kadang mereka suka mengintip-intip…apa yang aku tulis di sini🙂🙂 .

Aku juga sebenernya kepingin nulis tentang proses menuju kegiatan akreditasi kemarin… tentang orang-orang yang tidak bisa bekerjasama…tentang orang-orang yang hanya bisa membebankan pekerjaan dan hanya bisa memerintah. Sepertinya tidak ada kata “membantu” dalam kamus hidup mereka, yang ada hanya kata “memerintah”. Sedih sekali rasanya mengerjakan tugas yang begitu banyak hanya dengan dibantu beberapa orang. Syukurlah, masih ada beberapa orang yang baik hati dan mau menolong dengan tulus. Mungkin sebaiknya aku fokus saja pada mereka dan mengabaikan orang-orang yang tidak mau membantu sama sekali, padahal sudah dimasukkan dalam daftar kepanitiaan.

Tapi cukuplah hanya satu paragraf itu saja yang kutuliskan disini. Nggak enaknya nulis di blog itu kayak gini. Aku tak bisa dan tak boleh menuliskan segala hal yang ingin kutulis, karena orang-orang dari seluruh dunia bisa membaca…😦 Pada akhirnya, aku harus bisa menata hatiku, menghibur diri dengan bersyukur. Bahwa selama aku masih bisa merasa marah, jengkel dan sakit hati, berarti aku masih hidup. Yay…I’m still alive !! Because you are a woman with cancer, remember ??? Apa lagi yang harus disyukuri selain kesadaran bahwa hari ini kau masih hidup, masih bisa bekerja, masih bisa beraktivitas dengan normal seperti orang-orang lain?

Jadi jika teman-temanmu membuatmu marah, kecewa, sakit hati dan terluka, itu berarti hatimu masih bisa berfungsi dengan baik bukan ? Bukannya marah-marah dan menuliskan segalanya di blog, justru sebaliknya harusnya kau bersyukur bukan ? Dan dunia ini memang tempatnya segala hal seperti ini. Segala hal yang membuat galau, segala kekacauan, kemarahan, kekecewaan, sakit hati dan luka, semuanya hanya ada di dunia. Dan kau masih ada di sini, bukan di surga.😦 Sabarlah, hadapilah segalanya dengan senyum.

(Rasanya cukup sampai di sini saja dulu nasehat untuk diriku sendiri.😦 )


Blogging and Blogwalking

blog1 Ketika kembali membuka blog ini, terbaca postingan terakhir ternyata tanggal 29 April… padahal sekarang sudah bulan Juli. Target untuk menulis satu postingan minimal dalam satu bulan rupanya belum terpenuhi. Benar yang orang-orang bilang bahwa untuk bisa konsisten menulis di blog itu bukan satu hal yang mudah. Sebetulnya mungkin bukan karena tidak ada yang perlu ditulis atau diceritakan, tapi lebih kepada sempitnya waktu untuk menulis. Sebegitu sibuknyakah diriku ? Mungkin tidak juga, mungkin hanya karena aku tidak mau meluangkan waktu saja untuk membuat postingan baru.

Tetapi memang, bulan Mei lalu sepertinya aku cukup sibuk. Sebenarnya kesibukan di sekolah biasa aja, tapi bulan Mei itu dua kali aku ikut diklat di luar. Satu di luar kota, satu lagi di luar sekolah. Setelah itu, persiapan Lomba Kompetensi Siswa.

Bulan Juni, acaranya adalah membuat soal, lalu Ulangan Umum Kenaikan Kelas, koreksi dan memproses nilai. Setelah itu adalah Penerimaan Peserta Didik Baru. Dan selanjutnya adalah menyiapkan segala sesuatu untuk akreditasi yang akan dilaksanakan besok tanggal 10-13 Agustus 2015. Liburnya cuma sebentar, hari-hari berikutnya diisi dengan menyiapkan dokumen-dokumen akreditasi.

Dan… ada hal lain lagi yang akan kuceritakan kali ini. Suatu ketika saat aku sedang blogwalking, aku menemukan sebuah blog yang sangat informatif sekali tentang ca mamae. Dan ternyata  blog itu ditulis oleh seorang survivor ca mamae dan beliau adalah seorang dokter yang tinggal di Australia. Kalau mau baca blognya, klik saja di sini . Dan berkat bu dokter Inez Nimpuno pula (sang pemilik blog) aku menjadi member grup WhatsApp dan Telegram Love Pink, tempat berkumpul dan sharing segala hal tentang breast cancer oleh para warrior dan survivor ca mamae.

Sebenarnya, di satu sisi aku senang bisa berkomunikasi dengan mereka, saling sharing tentang berbagai hal. Tapi di sisi lain, ada rasa khawatir jika aku akan mengalami apa yang beberapa orang dari mereka alami. Satu hal yang jadi momok paling menakutkan adalah : setelah bertahun-tahun minum tamofen, rutin menjalani cek up dengan hasil yang selalu bagus, tiba-tiba pada suatu hari muncul hasil lab yang menyatakan bahwa sel kanker telah ber metastase sampai ke tulang. Horor banget bukan ? Paling horor diantara segala horor deh.

Tapi mungkin, aku tak boleh memikirkan hal-hal yang belum tentu terjadi seperti itu. Mestinya aku harus bisa berpikir positif. Fokus untuk selalu berpikir positif. Tapi sayangnya kadang-kadang aku tak bisa. Kapan aku bisa bebas dari rasa khawatir semacam ini ? Apakah setelah lewat 5 tahun dari tanggal kemoterapi pertama? Jadi sebetulnya ketika di postingan sebelumnya aku menulis “there will be no more worries forever and ever” itu bohong belaka. Sepertinya tak mungkin aku bisa bebas dari rasa khawatir seperti itu. Hanya saja, mungkin jangan terlalu khawatir. Sebaiknya aku berpikir positif saja, sebisanya. That’s it. And I just have to try.

picture taken from http://andrewchen.co/2011-blogging-roadmap-zero-to-productmarket-fit/


Too Many Dreams (Never) Come True :)

Recently I wonder what happen to me ? Ada apa dengan diriku ini ya ? Rupanya impian dan keinginanku terlalu banyak. Selain bermimpi untuk bisa travelling around the world (mimpi yang kelewat absurd, menyedihkan, macam ABG labil saja😦 untung nggak pake tambahan “in eighty days”  kayak judul novel Jules Verne “Travelling Around The World in Eighty Days”🙂🙂 ) aku juga punya banyak keinginan yang aku tahu bahwa mungkin itu semua tidak bakalan bisa terealisasi. Ada beberapa yang awalnya sempat kupikir  rasanya takkan bisa terealisasi, tapi tidak juga ternyata. Syukurlah ada satu dua yang ternyata sudah bisa direalisasikan. Misalnya, aku kepingin punya online shop… dan ternyata aku sudah bisa mewujudkannya dengan berjualan shabby chic stuff (new and second), di instagram dan BB.

Aku kepingin ikut jelly art cooking class, lalu jualan kreasi jelly art ku. Ini yang belum bisa terealisasi sampai sekarang. Padahal aku sudah punya contact person master jelly art di kotaku. Impian yang lainnya, aku kepingin punya produk dengan label namaku sendiri. Karena aku sangat hobby merajut, tadinya aku ingin membuat tas rajut, dompet dan tempat pensil rajut dengan warna-warni yang colourful (colourful and wonderful as my life🙂 ) diberi label dengan bordiran yang colourful juga. Sebenernya ini bisa diwujudkan, kalau saja aku lebih serius mengejar mimpiku🙂.

Sepertinya mudah saja. Aku tinggal pesan aja labelnya. Selanjutnya aku tinggal belanja benang rajut atau nylon, lalu duduk manis sambil asyik merajut sepanjang hari. Tapi…bagaimana dengan pekerjaanku ? What about my students ? Saking banyaknya pekerjaanku (mengajar, masak, nyapu, ngepel, nyetrika, beberes rumah… (help😦😦 …aku nggak punya  pembantu…😦😦😦 ) aku sampai “bingung” yang mana sebenernya perkerjaan utamaku. Apakah pekerjaan sebagai PNS guru akuntansi SMK atau pekerjaan rumah tangga sebagai istri ?

Sebagai seorang istri (yang baik), mestinya yang diutamakan adalah pekerjaan rumah tangga, melayani anak dan suami di rumah sebelum berangkat bekerja keluar rumah. Mestinya pekerjaan sebagai PNS guru akuntansi SMK itu bisa dianggap sebagai pekerjaan sambilan saja bukan ? (Hm… kalau Kepsek ku baca ini, nggak kebayang apa komentar beliau😦😦 ). Jadi sebagai seorang istri (yang baik🙂 ) aku harus bangun sebelum subuh menyiapkan segala sesuatunya supaya rumah bisa ditinggal seharian. Setelah itu, tibalah waktunya untuk pekerjaan berikutnya yang merupakan “pekerjaan sambilan” yaitu PNS guru akuntansi SMK.

Tapi… gimana bisa dibilang pekerjaan sambilan kalau jam kerjanya menyita banyak sekali waktu dan juga menyita banyak perhatian, tenaga dan pikiran. Dari jam 7 pagi sampai jam 3 sore, dengan pekerjaan yang amat banyak, dengan banyak target yang harus dipenuhi, dengan banyak event-event yang harus dipersiapkan…Oke, cukup sampai disini. Tidak baik mengeluh begini. Tapi sungguh, kadang-kadang aku merasa capek banget. Mungkin ini gara-gara sudah sekitar setengah tahun ini aku nggak punya ART. Cari asisten rumah tangga yang cocok itu sulit sekali. Rasanya bener-bener so little time so much to do😦 .

Kadang-kadang aku kepingin seperti temanku yang full time mother. Dia bisa asyik merajut seharian, bisa asyik membuat jelly art… mengurus rumah dan tanaman… what a wonderful life. Temanku ini  tadinya kerja di bank, lalu resign karena ingin fokus mengurus rumah, anak dan suami. Kadang terpikir, seneng banget dia ya… nggak perlu kerja…bisa punya waktu untuk hobby… Nggak kayak aku yang harus curi-curi waktu untuk bisa menekuni hobby.

Tapi kadang terpikir juga, mestinya aku bisa bersyukur karena dengan bekerja aku bisa mandiri, punya pendapatan sendiri untuk membeli kebutuhanku sendiri. Wanita yang bekerja, maka jika dia membelanjakan pendapatannya untuk keluarganya, itu adalah shodaqoh baginya. Pahalanya banyak. Enaknya punya pendapatan sendiri, aku bisa belanja apa aja tanpa perlu merasa bersalah karena menghabiskan gaji suami🙂

Anyway, aku harus bersyukur atas apapun dan bagaimanapun keadaanku sekarang. And I believe there will be so many dreams will come true in the future🙂🙂


There’s Nothing to Say but Alhamdulillah :)

salah satu rute yang harus kutempuh diantara panjangnya perjalanan hidupku

salah satu rute yang harus kutempuh diantara panjangnya perjalanan hidupku

Dengan menuliskan ini di blog, berarti aku mengumumkan kepada seluruh dunia bahwa : semua hasil lab ku di bulan Maret ini baik semua🙂🙂🙂 Wow🙂 Alhamdulillah🙂🙂 So, there will be no more worries…forever and ever. It’s been four years since my breast cancer surgery and other cancer treatment… and now I’m still alive, healthy and happily🙂🙂🙂 Sungguh sebuah karunia yang tak terhingga, Allah benar-benar amat baik dan Maha Penyayang. Tiada henti aku mengucap rasa syukur dalam hati, sejak aku membaca semua hasil lab itu.

Jadi kemarin itu tanggal 23 dan 24 Maret hari Senin dan Selasa aku kontrol rutin 6 bulanan ke RSUP Dr. Sardjito Yogya. Sebetulnya kami berangkat dari Cilacap sejak hari Sabtu tanggal 21, tapi ke Klaten dulu, ke rumah ibu mertua. Hari senin tanggal 23 Maret kami ke RSUP untuk cek darah, ronsen dan usg. Acara cek up hari pertama itu berjalan lancar. Hasil lab baru bisa diambil esok hari. Siang itu setelah segala urusan selesai, kami kembali ke rumah ibu mertua di Klaten. Esok paginya, kami bersiap untuk kembali ke Yogya mengambil hasil lab dan menemui dokter, setelah itu pulang ke Cilacap.

Hari kedua itu, tanggal 24 Maret aku ambil hasil lab di lab patologi klinik, sementara suamiku ke bagian radiologi. Selanjutnya kami fotokopi semua hasilnya. Sebelum difotokopi, kubaca dulu. Ca15-3 berada di angka normal. Hasil USG, normal, tak tampak tanda metastase. Hasil ronsen juga normal, tak tampak kelainan. Rasanya lega sekali setelah membaca itu semua. Selanjutnya kami mendaftar ke poli tulip. Dapat antrian no 16, jadi ketika dzuhur tiba kami sholat dulu di masjid dan karena Nayla lapar, kami makan siang dulu di kantin depan gedung radioterapi.

Sekitar jam 12.45 WIB kami kembali ke poli tulip dan langsung menuju ruang tunggu di depan kamar periksa 3. Baru duduk sebentar, sudah dipanggil dokter untuk masuk. Bukan dr. K, tapi dr. A. Beliau sangat baik dan ramah. Beliau mencatat semua hasil lab itu di rekam medisku. Aku memberanikan diri untuk bertanya, “Dok, apakah normal bila saya mendapat haid padalah sedang mengkonsumsi tamofen ? Karena setahu saya seharusnya jika mengkonsumsi tamofen itu tidak haid.” Sok tau banget aku ini ya…😦😦 Tau darimana aku ya…kalo seharusnya ketika mengkonsumsi tamofen itu tidak haid ? Oh, ya. Mungkin dari blog Cancer Sucks punya Mbak Sima. Entahlah. Atau mungkin dari blog lain. Kata dokter tidak apa-apa tuh. Berarti normal. Berarti aku tidak perlu khawatir.

Setelah itu, nunggu perawat memproses berkas rekam medis. Nunggunya agak lama, karena perawatnya sibuk sekali. Sungguh, poli tulip itu pasiennya banyak sekali,  dokternya juga banyak. Tapi…perawatnya kurang banyak :(😦 Ada 2-3 orang perawat di nurse station, satu bertugas di bag keuangan, memanggil pasien untuk membayar ke loket. Satu lagi menerima pendaftaran pasien. satu lagi mas-mas sibuk di depan komputer. Lalu ada beberapa perawat yang stand by di ruang kemoterapi. Lalu beberapa lagi yang memanggil pasien untuk masuk ke ruang periksa dan memproses berkas-berkas administrasi. Rekam medis, resep, surat keterangan diagnosis dan lain-lain yang diperoleh pasien dari dokter. Dan repotnya, sepertinya 1 perawat melayani pasien-pasien dari 2 orang dokter atau lebih. Sibuk banget, para perawat itu.

Kalo tidak salah, dulu malah tugas mereka dirangkap dobel-dobel. Jadi mereka merangkap bekerja di ruang kemoterapi sekaligus melayani pasien yang akan periksa di ruang periksa. Sekali lagi, poli tulip itu sibuk banget dan pasiennya banyak banget. Dan harus mendaftar lewat telepon 3 hari sebelumnya jika ingin menemui dokter tertentu. Jika tidak, maka dengan dokter pengganti. Buatku, tak masalah dengan dokter pengganti. Yang penting hasil lab ku bagus semua, tak jadi soal dengan siapa yang harus aku temui di poli Tulip. Mereka semua adalah para dokter yang kompeten dan baik hati.🙂

Segala urusan pada hari itu berakhir jam 3 sore. Sore itu, hari Selasa tanggal 24 Maret 2015, angin bertiup kencang ketika kami keluar dari apotik. Begitu kami sampai di depan gedung IRD, hujan turun deras. Terpaksa kami menunggu hujan reda karena tidak bawa payung dan tempat parkir lumayan jauh. Sekitar jam 4 sore hujan sedikit reda, kami bertiga (dengan Nayla) setengah berlari menuju ke lokasi parkir. Pulanglah kami ke Cilacap, sampai di rumah jam 22.00 WIB. Dan dua hari yang penuh cerita itupun berlalu sudah.

Sometimes I think… I wonder why, in the middle of my life journey, aku harus meluangkan sekian banyak dari waktuku untuk kuhabiskan di RSUP Sardjito Yogyakarta ? Mengapa aku harus sakit kanker, harus operasi di sana, berobat di sana… (berobatnya lama sekali…😦😦😦 ) Oh ya. Tidak ada seorangpun yang mengharuskan aku untuk berobat di sana. Ini pilihanku sendiri, ketika itu.  But… still I wonder why, dalam garis perjalanan hidupku, ada rute untuk ke sana pada suatu masa? Padahal, sebelum September 2010 when this story  has just begun, seumur-umur sama sekali tak pernah terlintas dalam benakku sama sekali tentang RSUP Dr. Sardjito. Indeed, this life is full of unsolved mistery.

Oh sudahlah. Selama semua hasil lab ku bagus dan normal, aku tidak perlu berpikir macam-macam. I just have to continue my life, healthy and happily🙂 And this is the end of my story🙂🙂.


How Time Flies ….

I cannot believe it has already been two months since I posted last. Well, actually I didn’t wrote my latest post on January. I just share that annual report from wordpress.com🙂

Begitu banyak peristiwa telah terjadi dalam dua bulan terakhir ini. Kesibukan di sekolah…jangan tanya lagi. Pengayaan, ujian praktek, baik di sekolah sendiri maupun di sekolah yang menginduk. Untuk tahun ini ada 10 SMK Swasta yang menginduk dan untuk kompetensi keahlian akuntansi sendiri ada 4 SMK.

Tapi, aku tetap bisa mengerjakan hobiku. Akau sangat suka merajut, dan aku tak ingin kesibukanku  di sekolah mengganggu hobiku yang satu ini. I believe that making crochet is my cure beside tamofen🙂 What I’ve been made is crochet flower, flower and flower…because I love them all.

Oh… I forgot. Not only flower…but I also have been made crochet bag and phone case

Ini bahan mentahnya, sebelum diolah.

Ini bahan mentahnya, sebelum diolah. Aku beli benang nylon, katun rajut dan wol. Tapi kebanyakan nylon

IMG_20150129_191853

These are my “African Flower Hexagon”

Flower and flower

Flower and flower

And those flowers are stitch together become a bag

And those flowers are stitch together become a bag

This bag is still in process :)

This “Colourful African Flower Hexagon Bag” is still in process :) 

I've been made this colourful HP case too :)

I’ve been made this colourful HP case too :) 

And this "red fanta bag" too

And this “red fanta bag” too

Aku nggak peduli betapapun banyaknya pekerjaan di sekolah…ujian praktek… rekap nilai… whatever. Aku sempatkan untuk bisa merajut setiap hari di rumah. Walaupun cuma dapat sedikit. Walaupun cuma dapat satu bunga saja. Because I believe that making crochet is a cure.


2014 in review

The WordPress.com stats helper monkeys prepared a 2014 annual report for this blog.

Here’s an excerpt:

The concert hall at the Sydney Opera House holds 2,700 people. This blog was viewed about 14,000 times in 2014. If it were a concert at Sydney Opera House, it would take about 5 sold-out performances for that many people to see it.

Click here to see the complete report.


Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 29 other followers