Random Thought

Dear readers… bagaimana kabarnya ? semoga semuanya sehat selalu. Sekarang ini aku sedang sibuk dengan Kegiatan Diklat Guru Program Keahlian Ganda (Diklat In Service 1) Kompetensi Keahlian Multimedia sebagai tindak lanjut dari keberangkatanku ke Makassar awal bulan Maret lalu ketika mengikuti Rapat Koordinasi untuk penyelenggaraan diklat ini. (Di postingan lalu aku sudah pernah ceritakan tentang ini)  Karena sekolahku ditunjuk menjadi PB (Pusat Belajar) untuk guru keahlian ganda oleh LP3TK KPTK Gowa Makassar, maka aku harus menjalankan tugas dan tanggung jawabku sebagai salah satu komponen kecil dalam kesuksesan dan kelancaran penyelenggaraan Diklat yang dilaksanakan di sekolahku ini. Kegiatan Diklat Guru Keahlian Ganda ini dilaksanakan selama 2 bulan dengan 45 hari efektif, dimulai sejak 25 Maret 2017 sampai dengan 24 Mei 2017.

Para peserta Diklat ini adalah guru-guru SMK yang telah terdaftar dalam program ini yaitu sebanyak 28 orang berasal dari Purwokerto, Purbalingga, Brebes, Banyumas dan Cilacap. Di kegiatan ini, sebenarnya aku hanya merupakan satu komponen kecil aja. Aku lebih suka menyebut diriku sebagai PU, atau Pembantu Umum. Aku hanya sibuk wira-wiri kesana-kemari sambil berlari-lari mengurusi apa saja yang bisa diurus. Capek sih,  dalam sehari aku bisa naik turun tangga berkali-kali, karena urusan di lantai atas dan di lantai bawah. Seminggu pertama kegiatan ini dilaksanakan di lantai 2, di ruang sidang. Minggu berikutnya berlangsung di laboratorium komputer 1. Lokasi lab 1 itu jauh di pojokan belakang sekolah. Jadi walaupun berada di lantai 1, aku wira-wiri bolak-balik dari ruang guru ke lab 1, dari kelas ke lab 1, sama aja capeknya. Semoga saja setelah kegiatan ini berakhir, berat badanku bisa turun sekitar 5 kilo. 🙂 🙂

Sebetulnya aku pusing dengan banyaknya tugas yang harus aku jalani. Aku mengajar, koreksi hasil pekerjaan siswa, aku membuat laporan keuangan komite, mengambil uang komite di bank jika ada surat permintaan pengambilan uang dari bendahara sekolah (dan ini hampir 2 hari sekali), mengurusi administrasi keuangan kegiatan Diklat, ikut mendampingi kegiatan peserta Diklat sampai mereka pulang jam 5 sore (yang ini sebenarnya gantian dengan 2 orang temanku lainnya, tapi aku hampir setiap hari pulang sampai sore 😦 😦 😦 ). Aku sama sekali tidak punya waktu untuk merajut ataupun membaca buku. Sampai rumah sudah capek, bahkan di hari libur pun aku masih merasa capek dan nggak kepingin ngapa-ngapain lagi.

Kalaupun lagi kepingin baca, paling aku cuma baca-baca blog di HP sambil tiduran. Dan suatu hari ketika aku sedang blogwalking, aku menemukan sebuah travel blog yang lumayan bisa bikin kepingin piknik, walaupun lokasi yang dibahas di blog itu adalah tempat yang sudah berkali-kali aku kunjungi, yaitu Yogyakarta. Ada banyak sekali lokasi di Yogya yang bisa dieksplor, yang belum pernah aku datangi. Membaca blog itu, ingin rasanya aku berkunjung ke Yogya lagi. (Oh ya, ngomong-ngomong tentang Yogya, aku akan ada acara bulan depan di sana, jika tidak ada perubahan, waktunya tanggal 8-10 Mei, Bimtek Pendampingan Pendidikan Karakter di hotel UNY. Alhamdulillah aku lolos seleksi tahap awal lomba Karbang yang diadakan Dirjen GTK melalui web kesharlindungdikmen.id. Masih ada beberapa tahapan lagi yang harus kulalui, wish me luck.)

Kembali ke ceritaku ketika blogwalking di atas : Blog itu, walaupun penampakannya adalah travel blog, tapi rupanya dalam setiap tulisannya, bertebaran iklan di sana-sini, bikin agak sedikit nggak nyaman bacanya. Terutama iklan hotel. Di setiap tulisannya, nama hotel itu disebut. Ditambah dengan pujian semacam “Di sini nyaman banget, menunya komplit banget, enak-enak semuanya”. Ih, norak banget. Dimana-mana hotel mahal ya kayak gitu. Setelah membaca beberapa judul postingan, lama-lama aku jadi sebel. Hotel itu dan segala fasilitasnya disebut-sebut lagi. Tempat-tempat makan, lokasi-lokasi bagus direkomendasikan untuk dikunjungi. Cukup membantu buat orang yang lagi cari referensi sebenarnya, tapi tidak buatku.

Mungkin aku yang jealous, atau aku yang sedang terlalu banyak pikiran dengan segala urusan pekerjaan, aku jadi membanding-bandingkan blogku dengan blog itu. Enak banget dia ya, seluruh isi postingannya tentang jalan-jalan, makan-makan, udah gitu dia dibayar pula sama hotelnya, sama rumah makannya… sedangkan blogku ? Apa yang bisa aku rekomendasikan? Bakalan lucu banget kalau aku tulis “Obat Doxorubicin dan Brexel ini hebat banget deh, keren banget, bisa bikin sakit kankerku sembuh lho…” atau gini “Obat Herceptin ini mujarab banget lho, untuk pasien dengan Her2 +++” Lalu aku bayangkan aku dapat uang dari produsen obat itu (wkwkwkwkwkw… 🙂 🙂 🙂 LOL). Atau misalnya aku nulis gini “Dokter K atau dokter A ini hebat banget lho, sabar, pinter banget, jadi kalau pembaca blog ini harus ke poli Tulip pilih  dokternya beliau aja” 🙂 🙂 🙂 Padahal beliau dokter A dan dokter K tiap harinya udah kebanjiran pasien, udah full banget tanpa perlu aku iklankan. Orang kalo baca iklanku yang kayak gitu pasti dikira aku ini sakit jiwa 🙂 🙂 🙂 . Beginilah nasib blog cancer patient. Isinya melulu tentang keluh-kesah, cemas, khawatir, jauh dari model travel blog. Tapi aku nggak mungkin mengubah blog ku jadi travel blog, karena aku jarang banget travelling… mana mungkin aku dibayarin pabrik obat buat travelling around the world (kepingin…. 🙂 🙂 :)).

Oh sudahlah. Berhentilah bermimpi. Sudah terlalu banyak mimpi-mimpiku selama ini yang belum juga menjadi kenyataan. But maybe I’m a dreamer, my dreams are always there, hide on a place somewhere in my mind. Recently I’m dreaming about having a log cabin in the woods, in the middle of nowhere. A place where I can forget my daily routine. I hope one day this dream will come true. Mungkin sampai disini saja dulu random thought yang kutuliskan menjadi postingan tak bermakna kali ini.


Paranoid

Dear  readers, if you ever read my writing on this blog from the very beginning, you know how I want to be free from any anxiety, any worries. But it’s seem so hard to feel. Sulit rasanya untuk bisa merasa tidak pernah khawatir tentang apapun. Saat inipun, aku sedang merasa sedikit khawatir. Bukan, bukan tentang kankerku, kali ini bukan itu. Tapi tentang jantungku. Aku merasa khawatir jika ada masalah pada jantungku.

Pernah menjalani delapan kali kemoterapi dengan obat Herceptin, dan sebuah kejadian yang kualami beberapa waktu yang lalu, sudah cukup menjadi alasan bagiku untuk merasa khawatir dengan kondisi jantungku. Efek Herceptin itu benar-benar merusak jantung. Aku ingat dulu sebelum dr. K (Sp.B (K) Onk) merekomendasikan dan meresepkan obat ini (karena hasil pemeriksaan immunohistokimia ku menunjukkan Her2Neu +++ pada 30 – 35% sel tumor), beliau memintaku untuk cek up jantung dulu di Poli Jantung Terpadu. Untunglah hasilnya bagus. Berdasarkan hasil cek up yang ditandatangani oleh ahli jantung dr. M (Sp.JP), jantungku normal sehingga layak untuk mendapatkan kemoterapi dengan obat Herceptin.

Dulu ketika akan memakai obat itu, oleh salah seorang medical representative dari produsen Herceptin (PT Roche) yang bernama Mas Bagyo, aku diberi semacam product knowledge tentang Herceptin. Bentuknya berupa buku kecil yang menjelaskan tentang Herceptin. Ketika kubaca, disebutkan bahwa Herceptin memiliki efek ke jantung. Jadi kemungkinannya kankerku bisa sembuh, tetapi jantungku bisa rusak… Duh, obat-obat kanker memang seperti itu ya… menyedihkan sekali. Tak adakah obat yang tidak memiliki efek samping memiliki daya rusak ke organ lain ? Obat-obat yang dulu kupakai,  obat kemo doxorubicin dan brexel daya rusaknya kalau bukan ke liver maka ke ginjal atau keduanya. Karena itulah dulu aku selalu diminta rutin cek up untuk melihat normal tidaknya fungsi liver dan fungsi ginjal setiap satu minggu setelah kemoterapi.

Kekhawatiranku akan fungsi jantungku saat ini bukannya tanpa sebab. Aku ingat suatu pagi di hari senin ketika sedang mengikuti upacara bendera di sekolah, tiba-tiba aku merasa lemas seperti mau pingsan. Rasanya nggak karuan, padahal posisi barisku berada di bawah keteduhan, pagi itu baru jam tujuh, matahari belum tinggi, dan aku juga sudah sarapan di rumah. Mengapa tiba-tiba aku merasa seperti mau pingsan ? Saat itu aku merasa tidak kuat lagi melanjutkan kegiatan upacara. Aku berpikir bahwa aku tak boleh pingsan di depan seluruh siswa dan teman-teman guru peserta upacara. Maka aku segera keluar dari barisan dan berjalan menuju UKS. Untungnya lokasi UKS tidak terlalu jauh dari lapangan upacara sehingga aku tidak keburu pingsan di selasar. Aku segera berbaring dan beristirahat. Rasanya badanku lemas, jantung berdebar-debar dan keringat dingin bercucuran.

Kalau kuingat-ingat lagi, penyebab jantungku berdebar keras pagi itu adalah karena sebelum upacara aku sempat berlari kecil di selasar ketika akan menyerahkan kunci mobil kepada suamiku. Pagi itu suamiku menyusulku ke sekolah, mau menukar motornya dengan mobil yang kupakai. Dia butuh mitsu mirage itu untuk suatu keperluan. Sehari-hari dia lebih suka pakai motor ke tempat kerja, dan karena aku lebih membutuhkan mobil itu untuk antar jemput 2 orang anak dengan 2 tas ransel yang besar-besar, maka mobil itu aku  yang pakai. Ketika dia datang itulah aku berlari kecil di sepanjang selasar sekolah yang panjang untuk memberikan kunci. Waktu itu aku sudah berada di bagian belakang sekolah, sudah dekat dengan lapangan upacara dan suamiku berada jauh di depan, di dekat ruang guru. Aku berlari karena aku nggak mau terlambat ikut upacara. Sejak itulah jantungku berdebar, dan ketika upacara aku merasa sangat lemas seperti mau pingsan.

Aku ingat, dulu ketika pertama kali obat Herceptin itu masuk ke venaku, perawat yang memberikan obat itu bertanya, “Ada yang dirasakan bu ?” Aku jawab, “Iya mbak, jantung saya jadi berdebar-debar…” padahal obat itu masuk lewat infus yang di drip lambat. Mendengar jawabanku, perawat itu mengatur drip infusku, membuat laju tetes drip yang masuk lebih pelan lagi. See ? Obat itu, baru beberapa tetes yang masuk ke tubuhku, jantungku langsung memberikan reaksi. Sebegitu besarkah daya rusak herceptin kepada jantung ? Mengerikan sekali.

Senin pagi itu, kebetulan hari pertamaku masuk sekolah kembali setelah 3 hari berada di Makassar untuk suatu kegiatan. Ketika kembali sampai di kotaku  malam sabtu, rasanya memang capek sekali. Tapi bukankah aku sudah cukup beristirahat selama dua hari di hari sabtu dan minggu ? Tapi sampai hari ini, aku tak pernah lagi mengalami perasaan seperti mau pingsan dan lemas seperti senin pagi itu. Mungkin, sebenarnya jantungku baik-baik saja. Aku saja yang terlalu paranoid. Mohon doanya, semoga semuanya baik-baik saja. All is well.

Semoga saja tulisanku ini tidak membuat takut orang yang diresepkan herceptin. Sungguh, bukan maksudku membuat takut. Jika mungkin ada diantara para pembaca yang kebetulan saja mengalami hal yang sama seperti saya (breast cancer dengan hasil immunohistikimia Her2 +++ dan diresepkan Herceptin), saya sarankan ikuti saja yang direkomendasikan dan diprogramkan oleh dokter onkologi anda. Semua itu tentu demi kesembuhan anda. Jangan takutkan apapun. Just be brave and never give up. And everything will be allright.


My Latest Adventure (2)

IMG_20170309_170714

Dear readers, seperti telah kujanjikan di postingan sebelumnya https://failasufah01.wordpress.com/2017/03/10/my-latest-adventure/, kali ini aku akan memposting foto-fotoku ketika di Makassar, terutama yang paling banyak adalah ketika berada di Fort Rotterdam.You can see how excited I am to found such a treasure like those. I hope one day I’ll be back to Makassar, and I will visit this beautiful historical place again.

IMG_20170309_170707

IMG_20170309_170824

IMG-20170310-WA0026

IMG-20170310-WA0005IMG-20170310-WA0007IMG-20170310-WA0010IMG-20170310-WA0012IMG_20170309_170710IMG_20170309_171239IMG_20170309_170710IMG-20170310-WA0016IMG-20170310-WA0017IMG-20170310-WA0018IMG-20170310-WA0020IMG-20170310-WA0021IMG-20170310-WA0023IMG-20170310-WA0024


My Latest Adventure

I want to live my life to the absolute fullest

To open my eyes to be all I can be

To travel roads not taken, to meet faces unknown

To feel the wind, to touch the stars

I promise to discover myself

To stand tall with greatness

To chase down and catch every dream

Because life is an adventure

Dear readers, lama sekali aku tak menuliskan apapun di blog ini. Rasanya sibuk, dan sibuk terus. Pulang sekolah sudah sore, di rumah sudah capek, nggak sempat buka laptop lagi. Tapi sekarang, saat ini, aku sedang tidak terlalu sibuk, jadi aku akan menuliskan sesuatu disini.

Sebenarnya, aku menuliskan ini dari suatu tempat yang jauh dari rumahku. Amat jauh. Saat ini, ketika mengetikkan ini, aku sedang duduk di ruang tunggu di bandara Sultan Hasanuddin Makassar. Aku sedang menunggu pesawat yang akan membawaku pulang dari Makassar ke Yogya, kemudian dari Yogya disambung naik bis ke Cilacap.

Aku berangkat ke Makassar tiga hari yang lalu, mengikuti kegiatan rapat koordinasi yang diselenggarakan oleh LP3TK KPTK Gowa. Kedatanganku ke Makassar bersama tiga orang temanku, yaitu ibu Kepsek, dua orang Waka dan aku sendiri. Entahlah, kupikir aku sangat beruntung bisa terpilih untuk mendampingi teman-teman berangkat ke Makassar. Ini memang kegiatan dalam rangka pekerjaan.Kami berempat mendapat undangan dari LP3TK Gowa Makassar karena sekolah kami merupakan salah satu sekolah yang ditunjuk menjadi PB (Pusat Belajar) untuk Guru Program Keahlian Ganda Multimedia.

IMG_20170309_091906

Rupanya Allah telah mengabulkan doaku, bahwa pada suatu hari nanti aku ingin menginjakkan kaki di pulau Sulawesi, setelah pulau Sumatra (you can read at https://failasufah01.wordpress.com/2014/10/15/kenang-kenangan-dari-palembang/). Hotel Singgasana, nama hotel yang kutempati di Makassar kebetulan berada cukup dekat dengan Pantai Losari dan Fort Rotterdam. Aku sempat jalan-jalan pagi ke pantai Losari. Tapi karena aku sendiri berasal dari daerah pantai, maka keindahan Pantai Losari bagiku terasa biasa-biasa saja. Berbeda sekali dengan benteng Fort Rotterdam. Aku yang sangat menyukai bangunan kuno, merasa ingin sekali berlama-lama berada di situ. I was so excited. And childish. I walk everywhere here and there, kadang-kadang berlari kecil, just like a child who find a new toy. I feel like I just found a treasure.

IMG-20170310-WA0024

Tak bosan-bosannya aku memandangi bangunan-bangunan kuno yang ada di sana. Memotretnya. Tapi sayang, foto-foto yang kuambil seberapapun banyaknya, tak akan mampu memindahkan seluruh keindahan dan nuansa kuno yang kurasakan saat berada di sana. Saat itu sore hari, cuaca cerah,bangunan-bangunan kuno menjulang tinggi, dengan taman-taman di depannya. Bagiku yang berada di sana pada saat itu, semua tampak begitu indah.

Sungguh, setelah tiga hari berada di kota Makassar ini, kenangan yang terindah bagiku adalah suatu sore di benteng Rotterdam. Tentang kedatanganku pada suatu sore yang sempurna, tentang bangunan-bangunan kuno, taman-taman, halaman rumput, pohon-pohon yang terawat, segala yang ada di sana, semuanya bagiku amat mempesona.

Sebelum pulang kembali ke bandara siang ini, aku sempatkan lagi mengunjungi Benteng Rotterdam untuk terakhir kalinya. Sebetulnya aku hanya punya waktu 1 jam setelah check out untuk pulang. Jam satu siang aku check out, jam dua kami harus berangkat ke bandara. Tapi karena jaraknya dekat, aku nekat naik becak ke Benteng Rotterdam. Aku ingin melihatnya untuk terakhir kalinya. Sayang sekali aku hanya bisa berada disana sebentar sekali, hanya sekitar 25 menit, karena seorang temanku (Bapak-bapak, takut ketinggalan pesawat 😦 )menelponku suruh kembali ke hotel, katanya takut macet kalau jam 2 belum berangkat ke Bandara. Akhirnya aku pulang, padahal masih sekitar 20 menit sebelum jam 2. Dalam hati aku sangat berharap agar suatu saat aku bisa kembali lagi ke sini, mengunjungi benteng Rotterdam dalam waktu yang jauh lebih lama, selama yang aku suka. Sometimes I wonder, perasaanku, kecintaanku terhadap bangunan-bangunan kuno terkadang mengherankan. (You can read at https://failasufah01.wordpress.com/2011/05/31/pesona-rumah-kuno/)

IMG-20170310-WA0018

Ketika menyusuri jalan-jalan di kota Makassar ini, aku teringat kutipan di atas itu, tentang “I want to live my life to the absolute fullest. To travel roads not taken”. Menyusuri jalan-jalan yang belum pernah kulewati sebelumnya. Aku bersyukur telah mendapatkan kesempatan ini dalam hidupku.I hope it will enrich my experiences. I hope one day, Allah will give me another experiences to see another beautiful historical place, in another island maybe, or another continent. Amin.

(Foto-foto lainnya di benteng Rotterdam akan aku posting lain kali)


It’s About My Blog

Dear readers, tak terasa hampir 6 tahun usia blog ku ini. Awal aku membuat blog ini dan memposting tulisan pertamaku adalah sekitar bulan Maret 2011. Aku lihat di archive, ternyata sudah cukup banyak tulisan-tulisanku yang terkumpul. Dulu ketika awal-awal ngeblog, hampir setiap bulan aku bikin postingan, semangat banget menulis, bahkan dalam satu bulan bisa tiga judul yang aku posting. Sayangnya akhir-akhir ini aku jarang buka blogku dan jarang membuat postingan. Sok sibuk dengan banyaknya jam mengajar dan banyaknya pesanan rajutan.

Kalau biasanya setiap tahun aku memposting annual report yang kudapat dari wordpress.com, tahun ini tidak bisa. Rupanya ada yang berubah dengan wordpress.com. Tak ada annual report masuk ke emailku. Rasanya agak aneh, kupikir jangan-jangan kehapus. Tapi aku sudah cari-cari di trash, tetep nggak ada. Sayang juga, karena tanpa annual report itu, aku tidak bisa tahu berapa judul yang sudah diposting dalam setahun ini, berapa banyak pengunjung blogku setahun terakhir, judul-judul apa saja yang mereka baca, judul-judul postingan yang mana yang paling banyak dibaca dalam setahun terakhir, dan laporan-laporan lain semacam itu.

Sekilas ketika pagi ini kubuka-buka tulisan-tulisan di blog ini, rupanya banyak judul yang hampir sama, mirip-mirip. Cerita-ceritanya pun tentang itu-itu saja. Tentang kanker, kemoterapi, radioterapi, tentang check up dan hasil check up, jumlah leukosit yang nol koma sekian, suntik leukoken, tentang bone survey, hasil lab ca 15-3, dan hal-hal semacam itu, hal-hal “ajaib” yang bisa dituliskan oleh seorang survivor kanker, yang telah mengalami segala hal dan peristiwa yang terkait dengan usaha penyembuhan penyakitnya.

Image result for writing is healing

Amat sangat jauh berbeda dengan blog milik teman dumay ku yang seorang traveller blogger. Kalau mungkin ada diantara para pembaca yang kebetulan kesasar baca blogku, mungkin ketika membaca tulisan-tulisan yang terkait dengan kanker dan pengobatan kankerku, akan merasa ngeri. Banyak atau sedikit. Karena tema kanker ini, bagaimanapun, terasa cukup menyeramkan. Sayang sekali, ini bukan blog yang bertipe travel blog. Andai aku bisa menjadi seorang traveller blogger, yang kerjaannya travelling kemana-mana kemudian menuliskan kisah-kisah travellingnya yang menakjubkan, penuh dengan foto-foto tempat-tempat eksotik dan pemandangan indah yang bisa membuat mupeng para pembacanya.Sedihnya, aku hanya bisa menjadi pembaca setia para traveller blogger itu, sambil berkhayal ikut mengunjungi tempat-tempat yang mereka kunjungi. Kasian banget.

Tapi bagaimanapun, ternyata di blog ini ada juga tiga kisah travelling yang pernah kulakukan, yaitu ketika dulu aku pergi ke Singapura di tahun 2011 (at https://failasufah01.wordpress.com/2012/06/30/finally-my-dream-comes-true/), ke Palembang di tahun 2014 (at https://failasufah01.wordpress.com/2014/10/15/kenang-kenangan-dari-palembang/) dan ketika pergi ke Bali, Oktober lalu (at https://failasufah01.wordpress.com/2016/10/28/piknik-ke-bali/). Sudah, hanya tiga itu saja, kisah perjalananku yang ada di blog ini. Yang ke Bali bahkan tanpa foto-foto sama sekali.

Selain itu, kalau bukan cerita tentang pengobatan kankerku, aku bercerita tentang hal-hal remeh temeh seputar pekerjaanku sebagai guru SMK. Tentang mengantar siswa mengikuti lomba, tentang hasil lomba-lomba yang diraih, cerita yang biasa saja dari seorang guru yang juga biasa saja. Tak ada yang luar biasa, kecuali  prestasi murid-muridku. Lantas, apa bagusnya semua itu diceritakan?

Bagus, ada bagusnya, tentu saja. Setidaknya dengan menuliskan itu semua, aku sehat. Aku dengar, writing is healing. So I heal my breast cancer disease with my writing, besides any other medical treatments. At least one day I can read my memories with my breast cancer, my memories with my students. All that has been written, is a part of my life. That’s why I choose that words “It’s About My Life” as a tagline of this blog. Because it’s true, all in this blog is about my life. And that “Because everyday is a wonderful life”, that sentence make me realize that I have so many things in my life to be thankful. The days in my life are so wonderful that I have to be grateful. And now I feel so grateful to Allah for so many experiences I have passed. Dan setidaknya, dengan menuliskan itu semua, barangkali saja sebagian tulisan bisa menjadi inspirasi bagi para breast cancer warrior, untuk tetap semangat berjuang melawan penyakitnya, menuju kesembuhan.

Image result for writing is healing

Sepanjang sekian waktu menulis blog, pernah juga terlintas dalam benakku, kapan ya ada penerbit yang menawarkan untuk membukukan tulisan-tulisanku, lalu menerbitkannya. Mimpi banget deh kayaknya. Khayalan tingkat tinggi banget (mestinya lain kali aku buat tulisan aja dengan judul”it’s about my dreams” 🙂 ). Tentu saja aku sadar bahwa tulisan-tulisan yang ada di blog ini masih jauh dari kata “layak” bagi seorang penerbit untuk berani menerbitkannya menjadi sebuah buku. Belum, sangat belum layak. Tentu saja aku tidak seperti mereka, blogger-blogger itu, yang tulisan-tulisannya begitu bagus sehingga para penerbit berebut untuk menerbitkannya dan buku-buku mereka laris dibaca orang-orang, bahkan kemudian difilmkan.

Sudahlah. I think I just have to face the reality, this blog is an ordinary blog from an ordninary woman like me. Just pray my cancer never come back anymore. Just be grateful and pray, that’s all.


Finally, It’s Over

Dear Readers, saat ini, aku menuliskan postingan ini di ruang guru, di tengah-tengah hiruk pikuk kesibukan teman-temanku menyiapkan raport untuk diambil wali murid besok pagi. Ada yang sedang ngeprint, ada yang sedang menuliskan halaman dan paraf di kolom validasi, ada yang sedang tanda-tangan di bagian tanda tangan wali kelas, ada juga yang sedang memasukkan hasil print out ke dalam buku raport.

Aku sendiri, setelah kemarin lembur sampai jam 5 sore, akhirnya selesai juga mempersiapkan raport untuk kelas XII Akuntansi 3, anak-anak waliku. Walaupun dalam keadaan tidak enak badan (aku sedang flu, pilek dan batuk), aku paksakan juga untuk menyelesaikan semuanya kemarin sore, karena hari ini ada jadwal lain yang sudah menungguku.

Hari ini nanti, jam 10.00 siang, aku harus mengikuti UKG (Uji Kompetensi Guru) online di Lab 4. Guru Akuntansi hanya aku dan seorang temanku yang ikut UKG kali ini, dari 6 orang guru akuntansi yang ada di SMK ku. Entah mengapa, hanya kami berdua juga yang kebetulan dapat panggilan diklat online guru pembelajar. Untuk menempuh UKG kali ini, bisa dibilang aku tanpa persiapan sama sekali. Semoga saja nilainya nanti tidak terlalu memalukan. Ternyata, walaupun sudah tidak menjabat sebagai K3 Kepala Kompetensi Keahlian), aku masih saja kesulitan membagi waktu antara mengajar dan mengerjakan tugas-tugas lain.

Aku bersyukur bahwa sekarang aku bukan lagi seorang K3, karena sudah ada seorang teman yang dengan sukarela menggantikanku. Senang sekali rasanya menjadi guru biasa, setelah merasa amat lelah menjadi K3 selama 5 tahun. Awalnya, aku sebenarnya hanya ingin menjadi guru biasa saja, bukan wali kelas dan tidak menjadi apa-apa. Aku ingin hanya fokus mengajar saja. Sepertinya enak sekali jika bisa mengajar saja, fokus, tidak menjabat apa pun. Tetapi, aku lupa bahwa aku masih butuh angka kredit untuk kenaikan pangkat. Akhirnya, setelah diingatkan seorang teman, akupun bersedia menjadi wali kelas. Maka jadilah aku wali kelas XII AK 3.

Semester ini, ada pergantian kepala sekolah di sekolah tempat aku mengajar. Kepsek lama memasuki usia pensiun, sementara digantikan oleh Pelaksana Tugas (Plt). Banyak peristiwa telah terjadi semester ini, semua kesibukan mengajar akan berakhir, dan liburan semester akan menjelang. Semoga aku bisa memanfaatkan liburan besok dengan baik, mengerjakan pesanan-pesanan rajutan sampai selesai semuanya. Amin

(latepost)


Piknik Ke Bali

Dear readers…. setelah hampir setengah tahun aku absen menulis postingan di blog ku ini, kini ketika aku ingin menulis lagi, aku bingung mesti cerita tentang apa. Banyak yang ingin kuceritakan, tapi aku bingung mana yang akan kupilih lebih dahulu. Begini rupanya efek dari lama absen menulis.

Akhirnya, aku memutuskan untuk memilih judul ini, dan bercerita tentang perjalanan ke Bali beberapa waktu lalu. Sebetulnya, ceritanya amat sangat biasa sekali, hanya kisah tentang seorang guru yang menemani para siswanya (yang terdiri dari rombongan 7 bis) yang mengadakan kunjungan industri dan berwisata ke pulau Bali.

Bisa ditebak, bahwa ini adalah my first trip to Bali. Iya, mana pernah aku pergi-pergi ke tempat-tempat eksotis di manca negara. Ke Bali ini aja kalau nggak nebeng rombongan siswa mungkin aku nggak akan pernah sampai ke sana. Dulu pernah sekali ke Singapura aja karena alhamdulillah dapet yang gratisan semuanya. 🙂 🙂 Waktu ke Palembang juga. Kalau dipikir, aku ini beruntung banget bisa dapat banyak trip gratisan, lengkap dengan akomodasinya pula. Oh ya, nggak banyak banget sih, baru tiga itu seingatku. Semoga di masa-masa mendatang akan ada lebih banyak lagi. Aamiin… ngarep banget deh.

Tentang perjalanan ke Bali ini, sebenarnya aku sudah ditawari berkali-kali oleh temanku, Waka Humas yang merupakan panitia kegiatan kunjungan industri siswa kelas 12. Sejak tahun 2011, setiap tahun aku ditawari untuk ikut. Karena katanya, satu sekolahan hanya aku sendiri yang belum pernah pergi ke Bali. Dan temanku itu mengutamakan guru-guru yang belum pernah ke Bali untuk mengawal siswa yang melakukan kunjungan industri dan wisata ke sana.

Sejak tahun 2011 itu pula, aku selalu menolak tawaran itu, tentu saja dengan alasan kesehatan. Di tahun 2011 itu kan, aku baru saja menyelesaikan serangkaian proses pengobatan breast cancer, diantaranya kemoterapi. Bagaimana mungkin aku berani melakukan perjalanan jauh ke Bali? Oh ya, perlu diketahui bahwa sarana transportasi yang dipakai semua siswa dan guru pendamping adalah bis. Tentu saja, kan ? Mana mungkin carter pesawat ? Jadi kupikir pasti capek banget perjalanan sehari semalam ke Bali. Itu sebabnya aku selalu menolak tawaran itu. Sampai tahun ini. Kebetulan di tahun ajaran ini aku sudah mengundurkan diri dari jabatan K3 (Kepala Kompetensi Keahlian) Akuntansi, dan sekarang dengan senang hati aku menjadi wali kelas 12 Ak 3. Kupikir sekaranglah waktu yang tepat untuk pergi ke Bali, senasib seperjalanan bersama anak-anak, duduk satu bis bareng mereka, dan kebetulan di tahun ini pengobatanku bisa dibilang sudah berakhir sempurna (walaupun aku memutuskan untuk tetap minum tamofen sampai 10 tahun) jadilah  aku mendaftar untuk ikut kunjungan industri tahun ini.

Akhirnya, malam itu tanggal 10 Oktober 2016, aku diantar suamiku (yang alhamdulillah mengijinkan kepergianku, padahal biasanya susah dimintain ijin :)) ke sekolah, tempat berkumpul sebelum semua peserta tour masuk bis masing-masing. Aku mendapat tempat di bis 2, bersama dengan siswa-siswa kompetensi keahlian Akuntansi. Berada satu bis bersama anak-anak, sungguh pengalaman yang amat menyenangkan. Melihat mereka yang begitu ceria tanpa beban, membuatku ketularan ceria pula. Aku berusaha menikmati perjalanan panjang itu sebaik-baiknya, walaupun ada rasa capek, tapi kubawa tidur jika memungkinkan :).

Sesampainya di Pulau Bali, banyak jadwal yang harus kami ikuti sesuai itinerary yang telah dirancang. Kami mengunjungi Istana Tampak Siring, mengunjungi pabrik PT Tehbotol Sosro (hanya bis 2 yang kesana, bis lain ke perusahaan lain sesuai kompetensi keahlian masing-masing), ke Garuda Wisnu Kencana, museum Bajra Sandhi, menonton pertunjukan tari Barong di Galuh…pokoknya tempat-tempat yang khas anak sekolahan banget deh. Tapi selain itu kami juga ke Bedugul, ke pantai Kuta, ke Krisna, Joger dan Mr. Kuta. Oh ya, di Joger aku menemukan satu kalimat yang kucatat dalam hati : lebih baik sedikit tetapi cukup daripada banyak tetapi tidak cukup :).

Travelling (pakai kata ini aja biar keren :)) ini berlangsung selama 5 hari, 2 hari di perjalan dan 3 hari di Bali. 5 hari itu, berjalan bagaikan mimpi. Waktu melayang begitu cepat. Perjalanan yang tadinya kupikir “it will be the longest trip I’ve ever made” itu pun berakhir. Senang sekali jika kita mengalami sebuah perjalanan yang penuh kesan. Itu pula yang kualami. Dan…yang paling berkesan dari seluruh perjalanan ini adalah….saat itu ketika rombongan kami mulai menaiki kapal ferry yang akan membawa kami semua menyeberang dari Gilimanuk ke Ketapang, kami menyaksikan di langit sore saat itu, tergambar dua bentuk awan yang serupa dengan dua orang memakai ikat khas bali, berdiri menunduk dan mengatupkan kedua tangan di dada. Sungguh, bukan hanya aku sendiri yang mendapatkan kesan bentuk awan itu. Maksudku, itu bukan imajinasiku seorang. Teman-temanku juga punya pendapat yang sama tentang bentuk kedua awan itu, yang tergambar dengan sangat jelas di langit sore yang cerah ketika itu. Dan saat itu pula, di kapal ferry itu, aku menyaksikan senja turun perlahan, menyinari seluruh panorama alam yang terbentang. Aku menyaksikan semuanya hingga selesai, hingga Gunung Ijen dan Gunung Raung yang tadinya tampak jelas, tinggal menjadi siluet saja, dan kemudian menghilang dalam kegelapan yang perlahan menyelimuti.

Saat itu, dalam hati aku berkata, “Selamat tinggal pulau Bali, entah kapan aku bisa datang lagi ke sini.” Kedengarannya sedikit lebay ya…tapi memang itulah yang kuucapkan dalam hatiku saat itu. Sama seperti dulu ketika aku melintasi jembatan Ampera di Palembang untuk terakhir kalinya, saat aku dalam perjalanan menuju bandara Sultan Mahmud Badaruddin II, untuk kembali pulang ke pulau Jawa. Ya, mungkin aku memang lebay, karena saat itu akupun berkata dalam hati “Selamat tinggal Palembang, entah kapan aku bisa datang ke sini lagi…” :). Sambil dalam hatiku bertanya-tanya, apakah kiranya yang akan membuatku datang lagi ke Palembang. Tak mungkin aku diundang diklat di sana bukan ? Oh sudahlah. lupakan Palembang, kita kembali ke pulau Bali.

Aku merasa bersyukur bahwa aku diberi kesehatan yang cukup dan kesempatan untuk bisa berkunjung ke pulau Bali, pulau yang membuat semua orang ingin berlibur di sana. Dan kemarin aku dikejutkan dengan berita gembira yang dibawa oleh suamiku bahwa kita bertiga (aku, suamiku dan Nayla) akan pergi ke Bali naik pesawat dari Yogya. Ada program family gathering di sana, dari kantor suamiku. Waktunya belum pasti, tapi sudah diprogramkan. Jadi suatu saat nanti pasti berangkat.

Memang, sewaktu aku berada di Bali, sempat aku berpikir, betapa senangnya jika aku datang ke sini bersama keluarga, bersama anak dan suamiku. Bahagia sekali ketika Allah mengabulkan doaku. Walaupun belum pasti kapan tanggalnya, but I feel so happy and grateful for whatever I had. I feel that all my life is full with blessing. Thank You Allah, for everything You have given to me.


Alhamdulillah, Everything is Over

Dear readers, akhirnya, segalanya berakhir sudah. Sekarang, semuanya hanya tinggal menjadi kenangan yang tak kan terlupakan. Sebuah kisah dalam perjalanan hidupku sudah berakhir. Tentunya masih akan ada kisah-kisah yang lain, dan aku harus mempersiapkan diri untuk menghadapinya.

Rasanya seperti mimpi, hampir aku tak percaya. Masih kuingat bagaimana lima tahun lalu, siang itu di bulan November 2010. Pertama kalinya aku datang ke poli Tulip untuk menemui dr. Kunta, membawa dan memperlihatkan hasil PA biopsiku yang bertuliskan “invasif ductal carcinoma mammae grade 2”. Masih kuingat ketika dokter Kunta berkata padaku dan ibuku yang menemani saat itu, “Operasinya besok ya. Kita kejar-kejaran dengan waktu”. Aku paham maksudnya. Semakin cepat sel kanker itu dibuang dari tubuhku, akan semakin bagus hasilnya nanti. Kemungkinanku untuk bisa sembuh akan lebih besar. Itu sebabnya aku jawab “Ya”. Setuju dengan langkah pengobatan yang akan diambil. Aku tahu, beliau sudah mempersiapkan sebuah program pengobatan yang terencana dan sistematis untuk mengobati sakit kankerku. Terimakasih banyak atas semuanya Dok, melalui Dokter, dengan ijin Allah saya bisa sembuh.

Aku masih mengingat juga apa yang beliau katakan tentang Tamofen. Postingannya bisa dibaca di sini : https://failasufah01.wordpress.com/2011/03/26/be-patient-please/ . Saat itu beliau berkata : “Ibu harus minum Tamofen selama lima tahun”. Masih kuingat bagaimana reaksiku. Aku menahan napas dan dalam hati berkata “Lima tahun??? Lama sekali…” tapi yang kuucapkan adalah “baik Dok.” Alhamdulillah, waktu lima tahun itu akan berakhir bulan April depan. Setelah itu, aku tak perlu lagi minum Tamofen.

Melalui postingan di blog ini, aku ingin mengucapkan banyak terimakasih kepada semua tenaga kesehatan yang telah terlibat dalam proses pengobatan kankerku selam lima tahun di RSUP dr. Sardjito. Terimakasih kepada para dokter yang telah merawatku, dr. Kunta, dr. Artanto dan dr. Herjuna, semua dokter di Poli Tulip yang telah menuliskan resep dan/atau surat rujukan ke laborat dan radiologi untukku, termasuk dokter residen di Poli Bedah.

Terimakasih kepada para perawat di ruang Instalasi Rawat Inap Wijaya yang telah merawatku selama 6 hari pasca operasi. Aku lupa nama-namanya, yang kuingat hanya Mbak Iin dan Mas Andi (kalau tidak salah). Mas Andi ini yang malam hari sebelum operasi mendorong kursi rodaku menuju ruang 3 di Poli Radiologi untuk diambil foto rontgen. Padahal aku bisa berjalan sendiri, tapi tentu saja prosedurnya aku harus naik kursi roda. 🙂

Terimakasih kepada para perawat dan tenaga administrasi di Poli Tulip, bu Siti, para perawat di ruang kemoterapi ; Bu Kaning, Bu Rukini, Mbak Apri, Mbak Santi, Mbak Atun, Mbak Dorta yang telah menyuntikkan obat-obat kemo, melayani proses kemoterapi, menyuntikkan Leukoken saat leukositku nol koma sekian setiap selesai kemoterapi dan melakukan cek EKG sebelum kemoterapi. Terimakasih kepada para laboran di laboratorium Patologi Klinik, juga di laboratorium Wijaya waktu itu, yang melayani proses cek darah setiap kali aku membutuhkan untuk cek darah sebelum kemo atau sesudah kemoterapi.

Terimakasih kepada perawat di IRD yang waktu itu (dulu) menyuntikkan Leukoken pada hari Minggu ketika poli Tulip tutup, saat kebetulan jadwal harian suntik Leukoken-ku melewati hari Minggu.  Kepada dr. Maharani, dokter ahli penyakit jantung yang telah memeriksa kesehatan jantungku dulu, di awal ketika aku akan memakai obat Herceptin. Kepada dr. Mimiek, dr. Wigati, para dokter ahli radiologi di poli radioterapi dan kedokteran nuklir, para petugas radioterapi yang dulu melayani proses radioterapiku. Kepada para petugas penata rontgen di poli radiologi, para residen radiologi di poli USG yang melayaniku setiap kali check up.

Terimakasih juga kepada dokter bedah di RSUD Cilacap dr. Gatot yang telah melakukan biopsi, memberiku diagnosa sesuai hasil PA kemudian menyarankan pengobatan tuntas dan pengantar untuk berobat ke poli Tulip RSUP dr. Sardjito. Beliau juga yang meresepkan tamofen setiap persediaan obatku habis dan tidak sempat ke Yogya, dulu sebelum era BPJS.

Terimakasih juga kepada dr. Maryam di puskesmas Cilacap Selatan, yang selalu memberiku rujukan askes setiap aku akan kontrol ke Yogya. Beliau juga yang terkadang memberikan semangat dan motivasi. Terimakasih, semoga semua yang telah Bapak Ibu lakukan menjadi pahala amal kebaikan.

Tak lupa, ucapan terimakasih juga ingin kusampaikan kepada teman-teman sesama pasien yang telah bersama-sama berjuang menuju kesembuhan. Baik teman-teman lama sejak 5 tahun lalu, maupun teman-teman baru. Dari mereka semua aku belajar tentang makna kesabaran dan keikhlasan. Kepada teman-teman Love Pink dan Tulip Lover, terimakasih banyak atas sapaan, postingan dan candaan, semangat dan motivasi yang ditularkan melalui grup WhatsApp. Andaikan sejak 2010 ada grup semacam ini, pasti dulu aku tidak akan sempat bersedih dan menangis 🙂 Tapi tak apalah, walau belum begitu lama bergabung, aku banyak belajar dari mereka. Senang sekali bisa kenal dengan wanita-wanita hebat seperti mereka. Terimakasih banyak kepada dr. Inez Nimpuno yang telah memperkenalkanku dengan teman-teman Love Pink.

Begitu banyak orang yang telah terlibat dalam rangka proses pengobatanku selama ini, mereka yang telah berusaha untuk membantu kesembuhanku. Mereka adalah orang-orang yang telah dipersiapkan oleh Allah untuk kutemui dalam perjalanan hidupku, mereka yang akan membantu kesembuhan penyakitku. Aku percaya, ketika Allah memberikan penyakit itu kepadaku, Dia sudah mempersiapkan semua skenarionya. Dia sudah mempersiapkan siapa saja orang-orang yang akan kutemui dalam rangka proses pengobatan ini, supaya aku bisa sembuh.

Saat ini, ketika aku duduk mengetikkan ini sambil “melihat ulang” seluruh peristiwa yang terjadi sejak diagnosa itu muncul, aku hanya bisa bersyukur, berterimakasih atas segalanya. Bahwa Allah telah memberiku kesempatan untuk mendapatkan pengalaman berobat kanker hingga sembuh. Bahwa Allah telah memilihku untuk mendapatkan penyakit ini. Bersyukur bahwa Allah telah memberiku kekuatan untuk dapat melalui seluruh proses pengobatan itu. Bahwa Allah mengijinkan aku untuk bertemu dengan mereka, orang-orang yang telah banyak berperan dalam proses pengobatanku hingga sembuh.  Sungguh, Allah telah merangkai seluruh skenarionya, dan aku hanya tinggal menjalaninya.

Sebuah quote dari Tere Liye kebetulan kubaca tadi ketika sedang menuliskan ini. “Selalu ada alasan terbaik kenapa sesuatu itu terjadi, meski itu menyakitkan, membuat sesak dan menangis. Kita boleh jadi tidak paham kenapa itu harus terjadi, kita juga mungkin tidak terima, tapi Tuhan selalu punya skenario terbaiknya. Jadi, jalanilah dengan tulus. Besok lusa, semoga kita bisa melihatnya…dan tersenyum lapang”.  *Tere Liye, novel “Rindu”.

Kiranya, inilah yang bisa kutuliskan, setelah kemarin tanggal 14 dan 15 Maret 2016 aku kembali menjalani check up per 6 bulanan. Dokter bilang, aku hanya tinggal satu bulan lagi minum tamofen, dan setelah itu check up cukup satu tahun sekali. Tapi untuk 6 bulan ke depan, yaitu bulan September yang akan datang, aku masih akan check up ca 15-3. Hanya cek darah saja.

Aku berharap, kisah hidupku dengan breast cancer disease benar-benar sudah berakhir, dan aku akan bisa lebih tenang melanjutkan hidupku, tanpa kekhawatiran akan apapun lagi. Aku harus melanjutkan hidupku dan berusaha mewujudkan mimpi-mimpku. I hope one day, all my dreams come true. Amin.


Thank You for Everything :)

Dear readers, I still feel amazed and so grateful. How could all of these happened to me ? Jika mengingatnya, rasanya takjub banget dengan ke-Maha Besar-an dan ke-Maha Kuasa-an Allah SWT.  Bagaimana mungkin hal itu terjadi padaku ? Bagaimana mungkin Allah begitu cepat mengabulkan keinginanku ? Tidak semua, memang tidak semua keinginan…. Tapi cukuplah jika hanya satu saja keinginan yang terbersit di dalam hati kemudian begitu cepat Dia mewujudkannya, bukankah itu benar-benar menakjubkan ? Padahal aku hanyalah seorang hambaNya yang amat-sangat-biasa-biasa-saja-sekali. Yang masih banyak dosanya. Masih banyak lalainya. Sungguh, Allah benar-benar Maha Pemberi.

Jadi… memang benar sekali apa yang sering dikatakan orang-orang. Janganlah kau pernah berhenti berharap, janganlah kau pernah berhenti meminta. Karena kau tidak tahu kapan semuanya itu akan dikabulkan. Kapan Dia berkenan untuk mewujudkannya. Bisa dalam waktu dekat… atau pada suatu saat nanti. Dan benar sekali, berharap dan memintalah hanya kepadaNya, karena hanya Dialah yang Maha Kuasa atas segala sesuatu, Maha Kuasa atas segalanya, yang menentukan segala apa yang akan terjadi maupun segala apa yang tidak akan (pernah) terjadi.

Sebenarnya keinginanku yang telah Dia kabulkan itu sederhana saja. Mungkin itu sebabnya Dia berkenan untuk mewujudkannya, karena apa sih yang tidak mungkin bagi Allah? Adalah mudah sekali bagiNya untuk memberikan apapun yang diminta oleh hambaNya. Apapun. Jangankan hanya sebuah keinginan sederhana.

Well, I think I have to tell you the whole story. Pada suatu hari di bulan November, aku diberi tugas oleh Lembaga Sertifikasi Profesi Teknisi Akuntansi (LSP TA) sebagai asesor uji kompetensi di sebuah SMK. Ini adalah kegiatan tahunan dan hampir setiap tahun aku diberi tugas sebagai asesor uji kompetensi akuntansi manual di sekolah-sekolah yang berbeda, yang telah menjadi Tempat Uji Kompetensi / TUK (karena tidak semua sekolah adalah TUK). Saat itulah, ketika usai menjadi asesor di sana, terbersit keinginan ditugaskan sebagai asesor untuk unit kompetensi Spreadsheet dan Komputer Akuntansi. Kebetulan aku sudah lulus dari dua mata uji itu dan juga sudah punya sertifikatnya. Aku hanya bisa berharap, karena yang mengatur para asesor dan menentukan seseorang menguji mata uji apa adalah pihak LSP. Aku sudah merasa bersyukur setiap tahun bisa diberi tugas untuk menguji sebagai asesor kompetensi, dan selama ini kebetulan hanya diberi tugas untuk menguji kompetensi akuntansi manual saja. Sebetulnya, memang salah satu penyebabnya adalah karena hanya sedikit sekali sekolah yang mengujikan Spreadsheet dan Komputer Akuntansi. Selama ini kebanyakan sekolah yang menjadi TUK, ketika mengikuti UK LSP Teknisi Akuntansi  hanya mengujikan Akuntansi Manual saja untuk para siswanya

Dalam rentang waktu kurang dari seminggu setelah itu, tiba-tiba aku mendapat telepon dari LSP, ditawari untuk menjad asesor pada unit kompetensi Spreadsheet dan Komputer Akuntansi, bertempat di D3 Perpajakan Kampus Tri Sakti Jakarta. Wow…. I feel so grateful. Begitu cepat Allah memberikan kesempatan itu. It was His gift. So quickly He sent to me. And to me, it was a huge gift.

Hari Rabu aku mendapatkan telepon itu, Jumat sore aku berangkat dengan kereta api Purwojaya menuju Jakarta, sendirian. Kegiatan Uji Kompetensi itu berlangsung selama dua hari. Hari pertama dengan mata uji akuntansi manual yang terdiri dari memproses entry jurnal, memproses buku besar, menyusun laporan keuangan dan uji teori akuntansi, hari kedua uji wawancara, uji praktek spreadsheet dan praktek komputer akuntansi. Jadi aku hanya berada di sana selama satu hari yaitu hari Sabtu saat mata ujiku diujikan.

Aku belum pernah sendirian pergi ke Jakarta. Tapi saat itu aku merasa bahwa aku harus berani. Suamiku tidak bisa menemani karena sedang berada di Solo mengurus pameran pertanian, tugas dari kantor. Tidak ada teman asesor lain yang menemani. Asesor untuk mata uji ini hanya aku sendiri, teman asesor lain yang ditugaskan adalah bu Siti Komariah dari Bengkulu, untuk mata uji akuntansi manualnya. Saat itu aku berpikir, “this will be my one day adventure”. Hanya sehari, karena usai pelaksanaan kegiatan pada hari Sabtu sore aku langsung pulang ke Cilacap. Aku menginap di rumah kakak iparku di Bekasi. Sabtu pagi diantar menuju kampus Tri Sakti.

Di perjalanan saat berangkat, hujan gerimis turun. Aku memandangi pemandangan indah yang terhampar bagaikan lukisan di sepanjang jalur kereta, di antara rinai hujan gerimis, sungguh indah. Aku pasti sudah pernah cerita kalau aku suka sekali naik kereta api (seperti anak kecil saja 🙂 🙂 ). Aku sungguh menikmati my-one-day-adventure ini. Aku berada di Jakarta dari jam 10 malam pada hari Jumat  tanggal 6 November sampai dengan hari Sabtu 7 November  jam 10 malam. Bener-bener one day :). Malam itu aku sampai di Stasiun Bekasi dan dijemput kakak iparku. Menginap di rumahnya semalam, esok paginya aku diantar ke kampus Trisakti di daerah Grogol.

Pagi itu sekitar jam 10 pagi, saat aku sedang menguji praktik komputer akuntansi dan spreadsheet di lantai 9 gedung I FE Trisakti, hujan gerimis turun.  Sambil menunggui para peserta uji mengerjakan soal, aku memandangi keruwetan jalanan Jakarta diantara rinai hujan gerimis dari ketinggian, sungguh asyik sekali. Kapan lagi aku punya kesempatan seperti ini.  Mungkin suatu saat nanti aku kembali akan menguji di sana, tapi belum tentu saat  kesempatan itu datang, hujan gerimis turun bukan ? Seolah, hujan gerimis itu mengiringi perjalananku, my-one-day-adventure sejak berangkat hingga kepulanganku kembali ke kotaku. Karena sore itu, saat aku tiba di stasiun Gambir, hujan pun turun. Aku suka hujan gerimis, karena gerimis itu romantis, eksotis dan melankolis 🙂

Di Gambir, aku menunggu lama. Keretaku berangkat jam 21.30 WIB, dan aku datang ke stasiun itu pukul 16.00 WIB. Dan rupanya, Allah tak henti memberiku kejutan. Sore itu, aku dipertemukan dengan teman seperjuangan dalam melawan kanker, anggota komunitas Love Pink Yogyakarta. Mereka bertiga tiba-tiba datang, duduk di sebelahku, di kiri dan kananku, karena kebetulan bangku yang kosong berada di situ, di sebelah menyebelah dari tempat dudukku. Mereka mengobrol tentang kanker, tentang proses pengobatan, kemoterapi dan sebagainya. Aku tak tahan untuk ikut menimbrung dalam pembicaraan mereka. Mereka menyambut obrolanku dengan hangat. Sampai akhirnya salah satu dari mereka berkata, “kami ikut grup WhatsApp Love Pink Bu…” spontan aku bilang, “Saya juga anggota Love Pink bu… “ Rupanya, mereka adalah Bu Endang Hangestiningsih (yang sering dipanggil Eyang Uthie di grup dan sering kubaca postingannya) beserta sepupunya  (lupa namanya 🙂 yang juga sedang berobat breast cancer serta seorang saudaranya yang tinggal di Jakarta. Wah, makin ramailah perbincangan kami sore itu. Hingga kereta mereka datang dan mereka pamit untuk menuju lantai atas, dimana kereta yang akan membawa mereka ke Yogyakarta, sudah menunggu.

Kembali aku merasa takjub. Allah sungguh penuh kejutan. Skenarionya sungguh luar biasa. Setting dan waktunya sudah diatur sedemikian detil, tepat waktunya tanpa ada keterlambatan sedetikpun. Kun fayakun. Jika Dia berkehendak, maka jadilah. Thank you Allah, for everything you have given to me.

(Ini tulisan late post, kutulis sejak bulan November, baru sempat diposting hari ini :))


Surat Terbuka

Kepada Yth : Bpk. Ir. H. Joko Widodo

Presiden Republik Indonesia

Di

Jakarta

Assalaamu’alaikum  Warahmatullaahi wa Barakaatuhu

Selamat pagi dan salam sejahtera untuk kita semua

Sebelumnya mohon maaf Pak, saya mengucapkan selamat pagi karena saya berasumsi bahwa Bapak membaca surat terbuka ini pada waktu pagi hari. Pagi hari adalah saat dimana saya dan banyak teman-teman saya merasa sangat bersyukur bahwa kami telah diberi satu hari lagi kesempatan untuk hidup dan berkarya.

Bapak Presiden yang saya hormati, sekali lagi mohon maaf apabila surat ini menyita waktu Bapak yang sangat berharga untuk bekerja mengurus rakyat yang sangat banyak dalam satu negara yang sangat besar bernama Indonesia beserta segenap isinya. Tentunya hal itu menyita banyak sekali waktu, tenaga dan pemikiran Bapak.

Melalui surat ini, ijinkanlah saya menyampaikan harapan saya beserta seluruh teman-teman saya, para penderita kanker (maaf, sebetulnya saya lebih suka menggunakan kalimat ini : “orang-orang yang telah dipilih oleh Tuhan untuk mendapatkan penyakit kanker pada suatu masa dalam hidup mereka”).

Barangkali Bapak sudah mengetahui bahwa kami para pasien kanker membutuhkan waktu yang lama dalam proses pengobatan dalam rangka upaya menuju kesembuhan. Banyak diantara kami yang harus mengikuti berbagai macam pengobatan sesuai dengan petunjuk dokter. Jika jenis kankernya adalah breast cancer (kanker payudara) seperti yang dialami oleh saya dan teman-teman saya yang lain, maka terapi yang harus dijalani diantaranya adalah operasi, kemoterapi, radioterapi dan (kalau relevan), terapi hormon dan apa yang disebut sebagai ‘targeted therapy’ misalnya dengan obat Herceptin.

Kami dengan patuh mengikuti petunjuk dokter dengan harapan akan mendapatkan kesembuhan. Kami berusaha untuk bisa mengikuti semua terapi itu sesuai dengan waktu yang telah dijadwalkan. Kami mendapatkan kemoterapi setiap tiga minggu sekali, sesuai dengan waktu yang ditentukan oleh dokter spesialis onkologi kami. Obat-obatan untuk kemoterapi itu sungguh mahal sekali bagi kami, Pak. Alhamdulillah banyak diantara kami yang beruntung karena dicover oleh ASKES (dulu) atau BPJS sekarang. Akan tetapi, banyak juga diantara kami yang belum tercover BPJS dan harus menjual tanah, rumah dan apa saja yang kami miliki demi harapan untuk bisa sembuh dari penyakit mematikan ini.

Salah satu contoh yang klasik dari obat mahal ini adalah, obat Herceptin, yaitu obat yang termasuk ‘targeted therapy’ yang sekali infus pasien harus membayar sekitar 22 juta rupiah karena BPJS hanya mengcover obat ini pada keadaan tertentu.  Rekomendasi dokter adalah, Herceptin diberikan 18 kali infus (total hampir 400 juta rupiah), sementara BPJS hanya mengcover 10 kali infus, itupun dengan syarat kalau penderita menyandang kanker payudara yang sudah stadium lanjut (= stadium 4) dimana kanker nya sudah menyebar ke organ tubuh lain dan tidak hanya ada di dalam payudara.  Peraturan BPJS ini menyebabkan tidak ada coverage sama sekali untuk Herceptin yang diperlukan pada mereka dengan stadium yang lebih awal (stadium 1 sampai stadium 3), sehingga seluruh biaya hampir 400 juta tersebut harus ditanggung pasien sendiri.

Padahal dulu sewaktu masih ASKES, saya yang stadium 3 dan berobat di tahun 2011 masih bisa mendapatkan obat kemo herceptin walaupun hanya 8 kali. Dan saya sudah sangat bersyukur bisa mendapatkan obat itu karena jika saya berobat sekarang maka harus bayar sendiri, karena untuk stadium 3 tidak dicover BPJS, seperti telah saya sampaikan di atas. Mengapa kebijakan ASKES dan BPJS berbeda Pak?

Kami bersedia mengupayakan berbagai cara hanya untuk mendapatkan layanan pengobatan untuk penyakit kami. Hanya saja, perlu saya sampaikan bahwa upaya kami sepertinya menjadi tak berarti lagi ketika selain obat yang mahal juga ada persoalan besar lain, yaitu peralatan untuk mengobati kami rupanya tidak cukup tersedia. Bapak bisa bayangkan, untuk pasien yang mendaftar layanan radioterapi sekarang (bulan ini), baru akan bisa dilayani berbulan-bulan lagi. Dari data yang berhasil saya dapatkan, jika sekarang mendaftar radioterapi, maka : di Rumah Sakit Ken Saras Ungaran antrinya sekitar 3 bulan, di Rumah Sakit Dr. Moewardi Solo antri 4 bulan dan di Rumah Sakit Umum Pusat Dr. Sardjito antriannya mencapai 7 bulan. Padahal idealnya setelah selesai dengan kemoterapi, kami harus segera mendapatkan radioterapi.

Hal ini terjadi karena begitu banyak pasien yang membutuhkan layanan radioterapi, tetapi alat yang tersedia jumlahnya sangat minim. Hanya ada satu alat tersedia di rumah sakit-rumah sakit tersebut. Di RSUP dr. Sardjito tempat dimana saya berobat, sebelumnya tersedia 2 alat, tetapi yang satu sering sekali rusak dan informasi yang terakhir saya dapatkan, alat tersebut sudah “dinonaktifkan” karena memang sudah tidak bisa berfungsi lagi, sehingga yang tersisa hanya satu.

Bapak mungkin sudah mengetahui bahwa hanya rumah sakit tertentu yang sanggup membeli alat radioterapi karena harganya yang sangat mahal. Pada saat yang bersamaan, hanya rumah sakit yang memiliki dokter spesialis radioterapi onkologi yang bisa meresepkan dosis yang tepat untuk penyinaran dengan sinar gamma melalui alat radioterapi tersebut.

Tingkat kesembuhan kami bergantung pada stadium penyakit kami. Banyak diantara teman kami yang sudah masuk dalam stadium IV/stadium lanjut/stadium terminal dimana proses pengobatan yang harus dijalani adalah layanan paliatif. Padahal sementara ini di Indonesia layanan paliatif tidak masuk dalam kategori layanan yang dapat dicover oleh BPJS.

Untuk itu, melalui surat ini mohon kiranya Bapak dapat memberikan kebijakan yang lebih berpihak kepada kami para penderita kanker pada umumnya dan secara khusus terutama kepada para pasien dari kalangan kurang mampu. Kami berharap kemudahan dan kelancaran untuk bisa mendapatkan layanan pengobatan dengan baik, ketersediaan alat untuk proses pengobatan dan biaya yang terjangkau.

Mohon apabila memungkinkan untuk bisa digratiskan bagi kalangan yang benar-benar kurang mampu. Penghasilan mereka pas-pasan untuk hidup bahkan untuk membayar iuran BPJS saja mereka kesulitan. Sehingga tidak terbayangkan jika mereka harus mengeluarkan uang 400 juta untuk mendapatkan infus obat Herceptin. Yang ada adalah, banyak dari kami yang “menerima nasib” saja untuk menunggu kematian karena kanker payudara, dengan tidak menjalani terapi yang dianjurkan oleh dokter karena memang tidak mampu membeli obat tersebut.

Kiranya demikian yang dapat saya sampaikan dalam kesempatan ini. Saya berharap bahwa setelah membaca surat ini, tergerak hati Bapak untuk dapat membantu kami, orang-orang yang hidup dengan kanker. Sungguh, kami semua memiliki semangat dan daya juang untuk tetap bertahan hidup selama mungkin, dengan kualitas hidup yang sama dengan mereka yang dikaruniai kesehatan. Bagi kami, setiap detik waktu sangat berharga. Kebijakan Bapak yang berpihak kepada kami, akan sangat besar artinya bagi hidup kami.

Terimakasih banyak saya ucapkan atas kesediaan Bapak membaca surat ini, di sela-sela kesibukan yang tidak terhingga dalam tugas yang mulia, tugas negara sebagai seorang Presiden Republik Indonesia. Mohon maaf jika ada diantara kata-kata saya yang kurang berkenan di hati Bapak. Semoga Bapak diberi karunia dengan kesehatan, kebahagiaan, umur yang panjang yang bermanfaat untuk seluruh rakyat Indonesia.

Wassalaamu’alaikum Warahmatulaahi wa Barakaatuhu

Failasufah

Survivor  Breast Cancer

(Ditulis dalam rangka memperingati Breast Cancer Awareness Month pada bulan Oktober)