It’s About My Blog

Dear readers, tak terasa hampir 6 tahun usia blog ku ini. Awal aku membuat blog ini dan memposting tulisan pertamaku adalah sekitar bulan Maret 2011. Aku lihat di archive, ternyata sudah cukup banyak tulisan-tulisanku yang terkumpul. Dulu ketika awal-awal ngeblog, hampir setiap bulan aku bikin postingan, semangat banget menulis, bahkan dalam satu bulan bisa tiga judul yang aku posting. Sayangnya akhir-akhir ini aku jarang buka blogku dan jarang membuat postingan. Sok sibuk dengan banyaknya jam mengajar dan banyaknya pesanan rajutan.

Kalau biasanya setiap tahun aku memposting annual report yang kudapat dari wordpress.com, tahun ini tidak bisa. Rupanya ada yang berubah dengan wordpress.com. Tak ada annual report masuk ke emailku. Rasanya agak aneh, kupikir jangan-jangan kehapus. Tapi aku sudah cari-cari di trash, tetep nggak ada. Sayang juga, karena tanpa annual report itu, aku tidak bisa tahu berapa judul yang sudah diposting dalam setahun ini, berapa banyak pengunjung blogku setahun terakhir, judul-judul apa saja yang mereka baca, judul-judul postingan yang mana yang paling banyak dibaca dalam setahun terakhir, dan laporan-laporan lain semacam itu.

Sekilas ketika pagi ini kubuka-buka tulisan-tulisan di blog ini, rupanya banyak judul yang hampir sama, mirip-mirip. Cerita-ceritanya pun tentang itu-itu saja. Tentang kanker, kemoterapi, radioterapi, tentang check up dan hasil check up, jumlah leukosit yang nol koma sekian, suntik leukoken, tentang bone survey, hasil lab ca 15-3, dan hal-hal semacam itu, hal-hal “ajaib” yang bisa dituliskan oleh seorang survivor kanker, yang telah mengalami segala hal dan peristiwa yang terkait dengan usaha penyembuhan penyakitnya.

Image result for writing is healing

Amat sangat jauh berbeda dengan blog milik teman dumay ku yang seorang traveller blogger. Kalau mungkin ada diantara para pembaca yang kebetulan kesasar baca blogku, mungkin ketika membaca tulisan-tulisan yang terkait dengan kanker dan pengobatan kankerku, akan merasa ngeri. Banyak atau sedikit. Karena tema kanker ini, bagaimanapun, terasa cukup menyeramkan. Sayang sekali, ini bukan blog yang bertipe travel blog. Andai aku bisa menjadi seorang traveller blogger, yang kerjaannya travelling kemana-mana kemudian menuliskan kisah-kisah travellingnya yang menakjubkan, penuh dengan foto-foto tempat-tempat eksotik dan pemandangan indah yang bisa membuat mupeng para pembacanya.Sedihnya, aku hanya bisa menjadi pembaca setia para traveller blogger itu, sambil berkhayal ikut mengunjungi tempat-tempat yang mereka kunjungi. Kasian banget.

Tapi bagaimanapun, ternyata di blog ini ada juga tiga kisah travelling yang pernah kulakukan, yaitu ketika dulu aku pergi ke Singapura di tahun 2011 (at https://failasufah01.wordpress.com/2012/06/30/finally-my-dream-comes-true/), ke Palembang di tahun 2014 (at https://failasufah01.wordpress.com/2014/10/15/kenang-kenangan-dari-palembang/) dan ketika pergi ke Bali, Oktober lalu (at https://failasufah01.wordpress.com/2016/10/28/piknik-ke-bali/). Sudah, hanya tiga itu saja, kisah perjalananku yang ada di blog ini. Yang ke Bali bahkan tanpa foto-foto sama sekali.

Selain itu, kalau bukan cerita tentang pengobatan kankerku, aku bercerita tentang hal-hal remeh temeh seputar pekerjaanku sebagai guru SMK. Tentang mengantar siswa mengikuti lomba, tentang hasil lomba-lomba yang diraih, cerita yang biasa saja dari seorang guru yang juga biasa saja. Tak ada yang luar biasa, kecuali  prestasi murid-muridku. Lantas, apa bagusnya semua itu diceritakan?

Bagus, ada bagusnya, tentu saja. Setidaknya dengan menuliskan itu semua, aku sehat. Aku dengar, writing is healing. So I heal my breast cancer disease with my writing, besides any other medical treatments. At least one day I can read my memories with my breast cancer, my memories with my students. All that has been written, is a part of my life. That’s why I choose that words “It’s About My Life” as a tagline of this blog. Because it’s true, all in this blog is about my life. And that “Because everyday is a wonderful life”, that sentence make me realize that I have so many things in my life to be thankful. The days in my life are so wonderful that I have to be grateful. And now I feel so grateful to Allah for so many experiences I have passed. Dan setidaknya, dengan menuliskan itu semua, barangkali saja sebagian tulisan bisa menjadi inspirasi bagi para breast cancer warrior, untuk tetap semangat berjuang melawan penyakitnya, menuju kesembuhan.

Image result for writing is healing

Sepanjang sekian waktu menulis blog, pernah juga terlintas dalam benakku, kapan ya ada penerbit yang menawarkan untuk membukukan tulisan-tulisanku, lalu menerbitkannya. Mimpi banget deh kayaknya. Khayalan tingkat tinggi banget (mestinya lain kali aku buat tulisan aja dengan judul”it’s about my dreams” 🙂 ). Tentu saja aku sadar bahwa tulisan-tulisan yang ada di blog ini masih jauh dari kata “layak” bagi seorang penerbit untuk berani menerbitkannya menjadi sebuah buku. Belum, sangat belum layak. Tentu saja aku tidak seperti mereka, blogger-blogger itu, yang tulisan-tulisannya begitu bagus sehingga para penerbit berebut untuk menerbitkannya dan buku-buku mereka laris dibaca orang-orang, bahkan kemudian difilmkan.

Sudahlah. I think I just have to face the reality, this blog is an ordinary blog from an ordninary woman like me. Just pray my cancer never come back anymore. Just be grateful and pray, that’s all.


Finally, It’s Over

Dear Readers, saat ini, aku menuliskan postingan ini di ruang guru, di tengah-tengah hiruk pikuk kesibukan teman-temanku menyiapkan raport untuk diambil wali murid besok pagi. Ada yang sedang ngeprint, ada yang sedang menuliskan halaman dan paraf di kolom validasi, ada yang sedang tanda-tangan di bagian tanda tangan wali kelas, ada juga yang sedang memasukkan hasil print out ke dalam buku raport.

Aku sendiri, setelah kemarin lembur sampai jam 5 sore, akhirnya selesai juga mempersiapkan raport untuk kelas XII Akuntansi 3, anak-anak waliku. Walaupun dalam keadaan tidak enak badan (aku sedang flu, pilek dan batuk), aku paksakan juga untuk menyelesaikan semuanya kemarin sore, karena hari ini ada jadwal lain yang sudah menungguku.

Hari ini nanti, jam 10.00 siang, aku harus mengikuti UKG (Uji Kompetensi Guru) online di Lab 4. Guru Akuntansi hanya aku dan seorang temanku yang ikut UKG kali ini, dari 6 orang guru akuntansi yang ada di SMK ku. Entah mengapa, hanya kami berdua juga yang kebetulan dapat panggilan diklat online guru pembelajar. Untuk menempuh UKG kali ini, bisa dibilang aku tanpa persiapan sama sekali. Semoga saja nilainya nanti tidak terlalu memalukan. Ternyata, walaupun sudah tidak menjabat sebagai K3 Kepala Kompetensi Keahlian), aku masih saja kesulitan membagi waktu antara mengajar dan mengerjakan tugas-tugas lain.

Aku bersyukur bahwa sekarang aku bukan lagi seorang K3, karena sudah ada seorang teman yang dengan sukarela menggantikanku. Senang sekali rasanya menjadi guru biasa, setelah merasa amat lelah menjadi K3 selama 5 tahun. Awalnya, aku sebenarnya hanya ingin menjadi guru biasa saja, bukan wali kelas dan tidak menjadi apa-apa. Aku ingin hanya fokus mengajar saja. Sepertinya enak sekali jika bisa mengajar saja, fokus, tidak menjabat apa pun. Tetapi, aku lupa bahwa aku masih butuh angka kredit untuk kenaikan pangkat. Akhirnya, setelah diingatkan seorang teman, akupun bersedia menjadi wali kelas. Maka jadilah aku wali kelas XII AK 3.

Semester ini, ada pergantian kepala sekolah di sekolah tempat aku mengajar. Kepsek lama memasuki usia pensiun, sementara digantikan oleh Pelaksana Tugas (Plt). Banyak peristiwa telah terjadi semester ini, semua kesibukan mengajar akan berakhir, dan liburan semester akan menjelang. Semoga aku bisa memanfaatkan liburan besok dengan baik, mengerjakan pesanan-pesanan rajutan sampai selesai semuanya. Amin

(latepost)

 

 


Piknik Ke Bali

Dear readers…. setelah hampir setengah tahun aku absen menulis postingan di blog ku ini, kini ketika aku ingin menulis lagi, aku bingung mesti cerita tentang apa. Banyak yang ingin kuceritakan, tapi aku bingung mana yang akan kupilih lebih dahulu. Begini rupanya efek dari lama absen menulis.

Akhirnya, aku memutuskan untuk memilih judul ini, dan bercerita tentang perjalanan ke Bali beberapa waktu lalu. Sebetulnya, ceritanya amat sangat biasa sekali, hanya kisah tentang seorang guru yang menemani para siswanya (yang terdiri dari rombongan 7 bis) yang mengadakan kunjungan industri dan berwisata ke pulau Bali.

Bisa ditebak, bahwa ini adalah my first trip to Bali. Iya, mana pernah aku pergi-pergi ke tempat-tempat eksotis di manca negara. Ke Bali ini aja kalau nggak nebeng rombongan siswa mungkin aku nggak akan pernah sampai ke sana. Dulu pernah sekali ke Singapura aja karena alhamdulillah dapet yang gratisan semuanya. 🙂 🙂 Waktu ke Palembang juga. Kalau dipikir, aku ini beruntung banget bisa dapat banyak trip gratisan, lengkap dengan akomodasinya pula. Oh ya, nggak banyak banget sih, baru tiga itu seingatku. Semoga di masa-masa mendatang akan ada lebih banyak lagi. Aamiin… ngarep banget deh.

Tentang perjalanan ke Bali ini, sebenarnya aku sudah ditawari berkali-kali oleh temanku, Waka Humas yang merupakan panitia kegiatan kunjungan industri siswa kelas 12. Sejak tahun 2011, setiap tahun aku ditawari untuk ikut. Karena katanya, satu sekolahan hanya aku sendiri yang belum pernah pergi ke Bali. Dan temanku itu mengutamakan guru-guru yang belum pernah ke Bali untuk mengawal siswa yang melakukan kunjungan industri dan wisata ke sana.

Sejak tahun 2011 itu pula, aku selalu menolak tawaran itu, tentu saja dengan alasan kesehatan. Di tahun 2011 itu kan, aku baru saja menyelesaikan serangkaian proses pengobatan breast cancer, diantaranya kemoterapi. Bagaimana mungkin aku berani melakukan perjalanan jauh ke Bali? Oh ya, perlu diketahui bahwa sarana transportasi yang dipakai semua siswa dan guru pendamping adalah bis. Tentu saja, kan ? Mana mungkin carter pesawat ? Jadi kupikir pasti capek banget perjalanan sehari semalam ke Bali. Itu sebabnya aku selalu menolak tawaran itu. Sampai tahun ini. Kebetulan di tahun ajaran ini aku sudah mengundurkan diri dari jabatan K3 (Kepala Kompetensi Keahlian) Akuntansi, dan sekarang dengan senang hati aku menjadi wali kelas 12 Ak 3. Kupikir sekaranglah waktu yang tepat untuk pergi ke Bali, senasib seperjalanan bersama anak-anak, duduk satu bis bareng mereka, dan kebetulan di tahun ini pengobatanku bisa dibilang sudah berakhir sempurna (walaupun aku memutuskan untuk tetap minum tamofen sampai 10 tahun) jadilah  aku mendaftar untuk ikut kunjungan industri tahun ini.

Akhirnya, malam itu tanggal 10 Oktober 2016, aku diantar suamiku (yang alhamdulillah mengijinkan kepergianku, padahal biasanya susah dimintain ijin :)) ke sekolah, tempat berkumpul sebelum semua peserta tour masuk bis masing-masing. Aku mendapat tempat di bis 2, bersama dengan siswa-siswa kompetensi keahlian Akuntansi. Berada satu bis bersama anak-anak, sungguh pengalaman yang amat menyenangkan. Melihat mereka yang begitu ceria tanpa beban, membuatku ketularan ceria pula. Aku berusaha menikmati perjalanan panjang itu sebaik-baiknya, walaupun ada rasa capek, tapi kubawa tidur jika memungkinkan :).

Sesampainya di Pulau Bali, banyak jadwal yang harus kami ikuti sesuai itinerary yang telah dirancang. Kami mengunjungi Istana Tampak Siring, mengunjungi pabrik PT Tehbotol Sosro (hanya bis 2 yang kesana, bis lain ke perusahaan lain sesuai kompetensi keahlian masing-masing), ke Garuda Wisnu Kencana, museum Bajra Sandhi, menonton pertunjukan tari Barong di Galuh…pokoknya tempat-tempat yang khas anak sekolahan banget deh. Tapi selain itu kami juga ke Bedugul, ke pantai Kuta, ke Krisna, Joger dan Mr. Kuta. Oh ya, di Joger aku menemukan satu kalimat yang kucatat dalam hati : lebih baik sedikit tetapi cukup daripada banyak tetapi tidak cukup :).

Travelling (pakai kata ini aja biar keren :)) ini berlangsung selama 5 hari, 2 hari di perjalan dan 3 hari di Bali. 5 hari itu, berjalan bagaikan mimpi. Waktu melayang begitu cepat. Perjalanan yang tadinya kupikir “it will be the longest trip I’ve ever made” itu pun berakhir. Senang sekali jika kita mengalami sebuah perjalanan yang penuh kesan. Itu pula yang kualami. Dan…yang paling berkesan dari seluruh perjalanan ini adalah….saat itu ketika rombongan kami mulai menaiki kapal ferry yang akan membawa kami semua menyeberang dari Gilimanuk ke Ketapang, kami menyaksikan di langit sore saat itu, tergambar dua bentuk awan yang serupa dengan dua orang memakai ikat khas bali, berdiri menunduk dan mengatupkan kedua tangan di dada. Sungguh, bukan hanya aku sendiri yang mendapatkan kesan bentuk awan itu. Maksudku, itu bukan imajinasiku seorang. Teman-temanku juga punya pendapat yang sama tentang bentuk kedua awan itu, yang tergambar dengan sangat jelas di langit sore yang cerah ketika itu. Dan saat itu pula, di kapal ferry itu, aku menyaksikan senja turun perlahan, menyinari seluruh panorama alam yang terbentang. Aku menyaksikan semuanya hingga selesai, hingga Gunung Ijen dan Gunung Raung yang tadinya tampak jelas, tinggal menjadi siluet saja, dan kemudian menghilang dalam kegelapan yang perlahan menyelimuti.

Saat itu, dalam hati aku berkata, “Selamat tinggal pulau Bali, entah kapan aku bisa datang lagi ke sini.” Kedengarannya sedikit lebay ya…tapi memang itulah yang kuucapkan dalam hatiku saat itu. Sama seperti dulu ketika aku melintasi jembatan Ampera di Palembang untuk terakhir kalinya, saat aku dalam perjalanan menuju bandara Sultan Mahmud Badaruddin II, untuk kembali pulang ke pulau Jawa. Ya, mungkin aku memang lebay, karena saat itu akupun berkata dalam hati “Selamat tinggal Palembang, entah kapan aku bisa datang ke sini lagi…” :). Sambil dalam hatiku bertanya-tanya, apakah kiranya yang akan membuatku datang lagi ke Palembang. Tak mungkin aku diundang diklat di sana bukan ? Oh sudahlah. lupakan Palembang, kita kembali ke pulau Bali.

Aku merasa bersyukur bahwa aku diberi kesehatan yang cukup dan kesempatan untuk bisa berkunjung ke pulau Bali, pulau yang membuat semua orang ingin berlibur di sana. Dan kemarin aku dikejutkan dengan berita gembira yang dibawa oleh suamiku bahwa kita bertiga (aku, suamiku dan Nayla) akan pergi ke Bali naik pesawat dari Yogya. Ada program family gathering di sana, dari kantor suamiku. Waktunya belum pasti, tapi sudah diprogramkan. Jadi suatu saat nanti pasti berangkat.

Memang, sewaktu aku berada di Bali, sempat aku berpikir, betapa senangnya jika aku datang ke sini bersama keluarga, bersama anak dan suamiku. Bahagia sekali ketika Allah mengabulkan doaku. Walaupun belum pasti kapan tanggalnya, but I feel so happy and grateful for whatever I had. I feel that all my life is full with blessing. Thank You Allah, for everything You have given to me.

 

 


Alhamdulillah, Everything is Over

Dear readers, akhirnya, segalanya berakhir sudah. Sekarang, semuanya hanya tinggal menjadi kenangan yang tak kan terlupakan. Sebuah kisah dalam perjalanan hidupku sudah berakhir. Tentunya masih akan ada kisah-kisah yang lain, dan aku harus mempersiapkan diri untuk menghadapinya.

Rasanya seperti mimpi, hampir aku tak percaya. Masih kuingat bagaimana lima tahun lalu, siang itu di bulan November 2010. Pertama kalinya aku datang ke poli Tulip untuk menemui dr. Kunta, membawa dan memperlihatkan hasil PA biopsiku yang bertuliskan “invasif ductal carcinoma mammae grade 2”. Masih kuingat ketika dokter Kunta berkata padaku dan ibuku yang menemani saat itu, “Operasinya besok ya. Kita kejar-kejaran dengan waktu”. Aku paham maksudnya. Semakin cepat sel kanker itu dibuang dari tubuhku, akan semakin bagus hasilnya nanti. Kemungkinanku untuk bisa sembuh akan lebih besar. Itu sebabnya aku jawab “Ya”. Setuju dengan langkah pengobatan yang akan diambil. Aku tahu, beliau sudah mempersiapkan sebuah program pengobatan yang terencana dan sistematis untuk mengobati sakit kankerku. Terimakasih banyak atas semuanya Dok, melalui Dokter, dengan ijin Allah saya bisa sembuh.

Aku masih mengingat juga apa yang beliau katakan tentang Tamofen. Postingannya bisa dibaca di sini : https://failasufah01.wordpress.com/2011/03/26/be-patient-please/ . Saat itu beliau berkata : “Ibu harus minum Tamofen selama lima tahun”. Masih kuingat bagaimana reaksiku. Aku menahan napas dan dalam hati berkata “Lima tahun??? Lama sekali…” tapi yang kuucapkan adalah “baik Dok.” Alhamdulillah, waktu lima tahun itu akan berakhir bulan April depan. Setelah itu, aku tak perlu lagi minum Tamofen.

Melalui postingan di blog ini, aku ingin mengucapkan banyak terimakasih kepada semua tenaga kesehatan yang telah terlibat dalam proses pengobatan kankerku selam lima tahun di RSUP dr. Sardjito. Terimakasih kepada para dokter yang telah merawatku, dr. Kunta, dr. Artanto dan dr. Herjuna, semua dokter di Poli Tulip yang telah menuliskan resep dan/atau surat rujukan ke laborat dan radiologi untukku, termasuk dokter residen di Poli Bedah.

Terimakasih kepada para perawat di ruang Instalasi Rawat Inap Wijaya yang telah merawatku selama 6 hari pasca operasi. Aku lupa nama-namanya, yang kuingat hanya Mbak Iin dan Mas Andi (kalau tidak salah). Mas Andi ini yang malam hari sebelum operasi mendorong kursi rodaku menuju ruang 3 di Poli Radiologi untuk diambil foto rontgen. Padahal aku bisa berjalan sendiri, tapi tentu saja prosedurnya aku harus naik kursi roda. 🙂

Terimakasih kepada para perawat dan tenaga administrasi di Poli Tulip, bu Siti, para perawat di ruang kemoterapi ; Bu Kaning, Bu Rukini, Mbak Apri, Mbak Santi, Mbak Atun, Mbak Dorta yang telah menyuntikkan obat-obat kemo, melayani proses kemoterapi, menyuntikkan Leukoken saat leukositku nol koma sekian setiap selesai kemoterapi dan melakukan cek EKG sebelum kemoterapi. Terimakasih kepada para laboran di laboratorium Patologi Klinik, juga di laboratorium Wijaya waktu itu, yang melayani proses cek darah setiap kali aku membutuhkan untuk cek darah sebelum kemo atau sesudah kemoterapi.

Terimakasih kepada perawat di IRD yang waktu itu (dulu) menyuntikkan Leukoken pada hari Minggu ketika poli Tulip tutup, saat kebetulan jadwal harian suntik Leukoken-ku melewati hari Minggu.  Kepada dr. Maharani, dokter ahli penyakit jantung yang telah memeriksa kesehatan jantungku dulu, di awal ketika aku akan memakai obat Herceptin. Kepada dr. Mimiek, dr. Wigati, para dokter ahli radiologi di poli radioterapi dan kedokteran nuklir, para petugas radioterapi yang dulu melayani proses radioterapiku. Kepada para petugas penata rontgen di poli radiologi, para residen radiologi di poli USG yang melayaniku setiap kali check up.

Terimakasih juga kepada dokter bedah di RSUD Cilacap dr. Gatot yang telah melakukan biopsi, memberiku diagnosa sesuai hasil PA kemudian menyarankan pengobatan tuntas dan pengantar untuk berobat ke poli Tulip RSUP dr. Sardjito. Beliau juga yang meresepkan tamofen setiap persediaan obatku habis dan tidak sempat ke Yogya, dulu sebelum era BPJS.

Terimakasih juga kepada dr. Maryam di puskesmas Cilacap Selatan, yang selalu memberiku rujukan askes setiap aku akan kontrol ke Yogya. Beliau juga yang terkadang memberikan semangat dan motivasi. Terimakasih, semoga semua yang telah Bapak Ibu lakukan menjadi pahala amal kebaikan.

Tak lupa, ucapan terimakasih juga ingin kusampaikan kepada teman-teman sesama pasien yang telah bersama-sama berjuang menuju kesembuhan. Baik teman-teman lama sejak 5 tahun lalu, maupun teman-teman baru. Dari mereka semua aku belajar tentang makna kesabaran dan keikhlasan. Kepada teman-teman Love Pink dan Tulip Lover, terimakasih banyak atas sapaan, postingan dan candaan, semangat dan motivasi yang ditularkan melalui grup WhatsApp. Andaikan sejak 2010 ada grup semacam ini, pasti dulu aku tidak akan sempat bersedih dan menangis 🙂 Tapi tak apalah, walau belum begitu lama bergabung, aku banyak belajar dari mereka. Senang sekali bisa kenal dengan wanita-wanita hebat seperti mereka. Terimakasih banyak kepada dr. Inez Nimpuno yang telah memperkenalkanku dengan teman-teman Love Pink.

Begitu banyak orang yang telah terlibat dalam rangka proses pengobatanku selama ini, mereka yang telah berusaha untuk membantu kesembuhanku. Mereka adalah orang-orang yang telah dipersiapkan oleh Allah untuk kutemui dalam perjalanan hidupku, mereka yang akan membantu kesembuhan penyakitku. Aku percaya, ketika Allah memberikan penyakit itu kepadaku, Dia sudah mempersiapkan semua skenarionya. Dia sudah mempersiapkan siapa saja orang-orang yang akan kutemui dalam rangka proses pengobatan ini, supaya aku bisa sembuh.

Saat ini, ketika aku duduk mengetikkan ini sambil “melihat ulang” seluruh peristiwa yang terjadi sejak diagnosa itu muncul, aku hanya bisa bersyukur, berterimakasih atas segalanya. Bahwa Allah telah memberiku kesempatan untuk mendapatkan pengalaman berobat kanker hingga sembuh. Bahwa Allah telah memilihku untuk mendapatkan penyakit ini. Bersyukur bahwa Allah telah memberiku kekuatan untuk dapat melalui seluruh proses pengobatan itu. Bahwa Allah mengijinkan aku untuk bertemu dengan mereka, orang-orang yang telah banyak berperan dalam proses pengobatanku hingga sembuh.  Sungguh, Allah telah merangkai seluruh skenarionya, dan aku hanya tinggal menjalaninya.

Sebuah quote dari Tere Liye kebetulan kubaca tadi ketika sedang menuliskan ini. “Selalu ada alasan terbaik kenapa sesuatu itu terjadi, meski itu menyakitkan, membuat sesak dan menangis. Kita boleh jadi tidak paham kenapa itu harus terjadi, kita juga mungkin tidak terima, tapi Tuhan selalu punya skenario terbaiknya. Jadi, jalanilah dengan tulus. Besok lusa, semoga kita bisa melihatnya…dan tersenyum lapang”.  *Tere Liye, novel “Rindu”.

Kiranya, inilah yang bisa kutuliskan, setelah kemarin tanggal 14 dan 15 Maret 2016 aku kembali menjalani check up per 6 bulanan. Dokter bilang, aku hanya tinggal satu bulan lagi minum tamofen, dan setelah itu check up cukup satu tahun sekali. Tapi untuk 6 bulan ke depan, yaitu bulan September yang akan datang, aku masih akan check up ca 15-3. Hanya cek darah saja.

Aku berharap, kisah hidupku dengan breast cancer disease benar-benar sudah berakhir, dan aku akan bisa lebih tenang melanjutkan hidupku, tanpa kekhawatiran akan apapun lagi. Aku harus melanjutkan hidupku dan berusaha mewujudkan mimpi-mimpku. I hope one day, all my dreams come true. Amin.

 


Thank You for Everything :)

Dear readers, I still feel amazed and so grateful. How could all of these happened to me ? Jika mengingatnya, rasanya takjub banget dengan ke-Maha Besar-an dan ke-Maha Kuasa-an Allah SWT.  Bagaimana mungkin hal itu terjadi padaku ? Bagaimana mungkin Allah begitu cepat mengabulkan keinginanku ? Tidak semua, memang tidak semua keinginan…. Tapi cukuplah jika hanya satu saja keinginan yang terbersit di dalam hati kemudian begitu cepat Dia mewujudkannya, bukankah itu benar-benar menakjubkan ? Padahal aku hanyalah seorang hambaNya yang amat-sangat-biasa-biasa-saja-sekali. Yang masih banyak dosanya. Masih banyak lalainya. Sungguh, Allah benar-benar Maha Pemberi.

Jadi… memang benar sekali apa yang sering dikatakan orang-orang. Janganlah kau pernah berhenti berharap, janganlah kau pernah berhenti meminta. Karena kau tidak tahu kapan semuanya itu akan dikabulkan. Kapan Dia berkenan untuk mewujudkannya. Bisa dalam waktu dekat… atau pada suatu saat nanti. Dan benar sekali, berharap dan memintalah hanya kepadaNya, karena hanya Dialah yang Maha Kuasa atas segala sesuatu, Maha Kuasa atas segalanya, yang menentukan segala apa yang akan terjadi maupun segala apa yang tidak akan (pernah) terjadi.

Sebenarnya keinginanku yang telah Dia kabulkan itu sederhana saja. Mungkin itu sebabnya Dia berkenan untuk mewujudkannya, karena apa sih yang tidak mungkin bagi Allah? Adalah mudah sekali bagiNya untuk memberikan apapun yang diminta oleh hambaNya. Apapun. Jangankan hanya sebuah keinginan sederhana.

Well, I think I have to tell you the whole story. Pada suatu hari di bulan November, aku diberi tugas oleh Lembaga Sertifikasi Profesi Teknisi Akuntansi (LSP TA) sebagai asesor uji kompetensi di sebuah SMK. Ini adalah kegiatan tahunan dan hampir setiap tahun aku diberi tugas sebagai asesor uji kompetensi akuntansi manual di sekolah-sekolah yang berbeda, yang telah menjadi Tempat Uji Kompetensi / TUK (karena tidak semua sekolah adalah TUK). Saat itulah, ketika usai menjadi asesor di sana, terbersit keinginan ditugaskan sebagai asesor untuk unit kompetensi Spreadsheet dan Komputer Akuntansi. Kebetulan aku sudah lulus dari dua mata uji itu dan juga sudah punya sertifikatnya. Aku hanya bisa berharap, karena yang mengatur para asesor dan menentukan seseorang menguji mata uji apa adalah pihak LSP. Aku sudah merasa bersyukur setiap tahun bisa diberi tugas untuk menguji sebagai asesor kompetensi, dan selama ini kebetulan hanya diberi tugas untuk menguji kompetensi akuntansi manual saja. Sebetulnya, memang salah satu penyebabnya adalah karena hanya sedikit sekali sekolah yang mengujikan Spreadsheet dan Komputer Akuntansi. Selama ini kebanyakan sekolah yang menjadi TUK, ketika mengikuti UK LSP Teknisi Akuntansi  hanya mengujikan Akuntansi Manual saja untuk para siswanya

Dalam rentang waktu kurang dari seminggu setelah itu, tiba-tiba aku mendapat telepon dari LSP, ditawari untuk menjad asesor pada unit kompetensi Spreadsheet dan Komputer Akuntansi, bertempat di D3 Perpajakan Kampus Tri Sakti Jakarta. Wow…. I feel so grateful. Begitu cepat Allah memberikan kesempatan itu. It was His gift. So quickly He sent to me. And to me, it was a huge gift.

Hari Rabu aku mendapatkan telepon itu, Jumat sore aku berangkat dengan kereta api Purwojaya menuju Jakarta, sendirian. Kegiatan Uji Kompetensi itu berlangsung selama dua hari. Hari pertama dengan mata uji akuntansi manual yang terdiri dari memproses entry jurnal, memproses buku besar, menyusun laporan keuangan dan uji teori akuntansi, hari kedua uji wawancara, uji praktek spreadsheet dan praktek komputer akuntansi. Jadi aku hanya berada di sana selama satu hari yaitu hari Sabtu saat mata ujiku diujikan.

Aku belum pernah sendirian pergi ke Jakarta. Tapi saat itu aku merasa bahwa aku harus berani. Suamiku tidak bisa menemani karena sedang berada di Solo mengurus pameran pertanian, tugas dari kantor. Tidak ada teman asesor lain yang menemani. Asesor untuk mata uji ini hanya aku sendiri, teman asesor lain yang ditugaskan adalah bu Siti Komariah dari Bengkulu, untuk mata uji akuntansi manualnya. Saat itu aku berpikir, “this will be my one day adventure”. Hanya sehari, karena usai pelaksanaan kegiatan pada hari Sabtu sore aku langsung pulang ke Cilacap. Aku menginap di rumah kakak iparku di Bekasi. Sabtu pagi diantar menuju kampus Tri Sakti.

Di perjalanan saat berangkat, hujan gerimis turun. Aku memandangi pemandangan indah yang terhampar bagaikan lukisan di sepanjang jalur kereta, di antara rinai hujan gerimis, sungguh indah. Aku pasti sudah pernah cerita kalau aku suka sekali naik kereta api (seperti anak kecil saja 🙂 🙂 ). Aku sungguh menikmati my-one-day-adventure ini. Aku berada di Jakarta dari jam 10 malam pada hari Jumat  tanggal 6 November sampai dengan hari Sabtu 7 November  jam 10 malam. Bener-bener one day :). Malam itu aku sampai di Stasiun Bekasi dan dijemput kakak iparku. Menginap di rumahnya semalam, esok paginya aku diantar ke kampus Trisakti di daerah Grogol.

Pagi itu sekitar jam 10 pagi, saat aku sedang menguji praktik komputer akuntansi dan spreadsheet di lantai 9 gedung I FE Trisakti, hujan gerimis turun.  Sambil menunggui para peserta uji mengerjakan soal, aku memandangi keruwetan jalanan Jakarta diantara rinai hujan gerimis dari ketinggian, sungguh asyik sekali. Kapan lagi aku punya kesempatan seperti ini.  Mungkin suatu saat nanti aku kembali akan menguji di sana, tapi belum tentu saat  kesempatan itu datang, hujan gerimis turun bukan ? Seolah, hujan gerimis itu mengiringi perjalananku, my-one-day-adventure sejak berangkat hingga kepulanganku kembali ke kotaku. Karena sore itu, saat aku tiba di stasiun Gambir, hujan pun turun. Aku suka hujan gerimis, karena gerimis itu romantis, eksotis dan melankolis 🙂

Di Gambir, aku menunggu lama. Keretaku berangkat jam 21.30 WIB, dan aku datang ke stasiun itu pukul 16.00 WIB. Dan rupanya, Allah tak henti memberiku kejutan. Sore itu, aku dipertemukan dengan teman seperjuangan dalam melawan kanker, anggota komunitas Love Pink Yogyakarta. Mereka bertiga tiba-tiba datang, duduk di sebelahku, di kiri dan kananku, karena kebetulan bangku yang kosong berada di situ, di sebelah menyebelah dari tempat dudukku. Mereka mengobrol tentang kanker, tentang proses pengobatan, kemoterapi dan sebagainya. Aku tak tahan untuk ikut menimbrung dalam pembicaraan mereka. Mereka menyambut obrolanku dengan hangat. Sampai akhirnya salah satu dari mereka berkata, “kami ikut grup WhatsApp Love Pink Bu…” spontan aku bilang, “Saya juga anggota Love Pink bu… “ Rupanya, mereka adalah Bu Endang Hangestiningsih (yang sering dipanggil Eyang Uthie di grup dan sering kubaca postingannya) beserta sepupunya  (lupa namanya 🙂 yang juga sedang berobat breast cancer serta seorang saudaranya yang tinggal di Jakarta. Wah, makin ramailah perbincangan kami sore itu. Hingga kereta mereka datang dan mereka pamit untuk menuju lantai atas, dimana kereta yang akan membawa mereka ke Yogyakarta, sudah menunggu.

Kembali aku merasa takjub. Allah sungguh penuh kejutan. Skenarionya sungguh luar biasa. Setting dan waktunya sudah diatur sedemikian detil, tepat waktunya tanpa ada keterlambatan sedetikpun. Kun fayakun. Jika Dia berkehendak, maka jadilah. Thank you Allah, for everything you have given to me.

(Ini tulisan late post, kutulis sejak bulan November, baru sempat diposting hari ini :))

 

 

 


Surat Terbuka

Kepada Yth : Bpk. Ir. H. Joko Widodo

Presiden Republik Indonesia

Di

Jakarta

Assalaamu’alaikum  Warahmatullaahi wa Barakaatuhu

Selamat pagi dan salam sejahtera untuk kita semua

Sebelumnya mohon maaf Pak, saya mengucapkan selamat pagi karena saya berasumsi bahwa Bapak membaca surat terbuka ini pada waktu pagi hari. Pagi hari adalah saat dimana saya dan banyak teman-teman saya merasa sangat bersyukur bahwa kami telah diberi satu hari lagi kesempatan untuk hidup dan berkarya.

Bapak Presiden yang saya hormati, sekali lagi mohon maaf apabila surat ini menyita waktu Bapak yang sangat berharga untuk bekerja mengurus rakyat yang sangat banyak dalam satu negara yang sangat besar bernama Indonesia beserta segenap isinya. Tentunya hal itu menyita banyak sekali waktu, tenaga dan pemikiran Bapak.

Melalui surat ini, ijinkanlah saya menyampaikan harapan saya beserta seluruh teman-teman saya, para penderita kanker (maaf, sebetulnya saya lebih suka menggunakan kalimat ini : “orang-orang yang telah dipilih oleh Tuhan untuk mendapatkan penyakit kanker pada suatu masa dalam hidup mereka”).

Barangkali Bapak sudah mengetahui bahwa kami para pasien kanker membutuhkan waktu yang lama dalam proses pengobatan dalam rangka upaya menuju kesembuhan. Banyak diantara kami yang harus mengikuti berbagai macam pengobatan sesuai dengan petunjuk dokter. Jika jenis kankernya adalah breast cancer (kanker payudara) seperti yang dialami oleh saya dan teman-teman saya yang lain, maka terapi yang harus dijalani diantaranya adalah operasi, kemoterapi, radioterapi dan (kalau relevan), terapi hormon dan apa yang disebut sebagai ‘targeted therapy’ misalnya dengan obat Herceptin.

Kami dengan patuh mengikuti petunjuk dokter dengan harapan akan mendapatkan kesembuhan. Kami berusaha untuk bisa mengikuti semua terapi itu sesuai dengan waktu yang telah dijadwalkan. Kami mendapatkan kemoterapi setiap tiga minggu sekali, sesuai dengan waktu yang ditentukan oleh dokter spesialis onkologi kami. Obat-obatan untuk kemoterapi itu sungguh mahal sekali bagi kami, Pak. Alhamdulillah banyak diantara kami yang beruntung karena dicover oleh ASKES (dulu) atau BPJS sekarang. Akan tetapi, banyak juga diantara kami yang belum tercover BPJS dan harus menjual tanah, rumah dan apa saja yang kami miliki demi harapan untuk bisa sembuh dari penyakit mematikan ini.

Salah satu contoh yang klasik dari obat mahal ini adalah, obat Herceptin, yaitu obat yang termasuk ‘targeted therapy’ yang sekali infus pasien harus membayar sekitar 22 juta rupiah karena BPJS hanya mengcover obat ini pada keadaan tertentu.  Rekomendasi dokter adalah, Herceptin diberikan 18 kali infus (total hampir 400 juta rupiah), sementara BPJS hanya mengcover 10 kali infus, itupun dengan syarat kalau penderita menyandang kanker payudara yang sudah stadium lanjut (= stadium 4) dimana kanker nya sudah menyebar ke organ tubuh lain dan tidak hanya ada di dalam payudara.  Peraturan BPJS ini menyebabkan tidak ada coverage sama sekali untuk Herceptin yang diperlukan pada mereka dengan stadium yang lebih awal (stadium 1 sampai stadium 3), sehingga seluruh biaya hampir 400 juta tersebut harus ditanggung pasien sendiri.

Padahal dulu sewaktu masih ASKES, saya yang stadium 3 dan berobat di tahun 2011 masih bisa mendapatkan obat kemo herceptin walaupun hanya 8 kali. Dan saya sudah sangat bersyukur bisa mendapatkan obat itu karena jika saya berobat sekarang maka harus bayar sendiri, karena untuk stadium 3 tidak dicover BPJS, seperti telah saya sampaikan di atas. Mengapa kebijakan ASKES dan BPJS berbeda Pak?

Kami bersedia mengupayakan berbagai cara hanya untuk mendapatkan layanan pengobatan untuk penyakit kami. Hanya saja, perlu saya sampaikan bahwa upaya kami sepertinya menjadi tak berarti lagi ketika selain obat yang mahal juga ada persoalan besar lain, yaitu peralatan untuk mengobati kami rupanya tidak cukup tersedia. Bapak bisa bayangkan, untuk pasien yang mendaftar layanan radioterapi sekarang (bulan ini), baru akan bisa dilayani berbulan-bulan lagi. Dari data yang berhasil saya dapatkan, jika sekarang mendaftar radioterapi, maka : di Rumah Sakit Ken Saras Ungaran antrinya sekitar 3 bulan, di Rumah Sakit Dr. Moewardi Solo antri 4 bulan dan di Rumah Sakit Umum Pusat Dr. Sardjito antriannya mencapai 7 bulan. Padahal idealnya setelah selesai dengan kemoterapi, kami harus segera mendapatkan radioterapi.

Hal ini terjadi karena begitu banyak pasien yang membutuhkan layanan radioterapi, tetapi alat yang tersedia jumlahnya sangat minim. Hanya ada satu alat tersedia di rumah sakit-rumah sakit tersebut. Di RSUP dr. Sardjito tempat dimana saya berobat, sebelumnya tersedia 2 alat, tetapi yang satu sering sekali rusak dan informasi yang terakhir saya dapatkan, alat tersebut sudah “dinonaktifkan” karena memang sudah tidak bisa berfungsi lagi, sehingga yang tersisa hanya satu.

Bapak mungkin sudah mengetahui bahwa hanya rumah sakit tertentu yang sanggup membeli alat radioterapi karena harganya yang sangat mahal. Pada saat yang bersamaan, hanya rumah sakit yang memiliki dokter spesialis radioterapi onkologi yang bisa meresepkan dosis yang tepat untuk penyinaran dengan sinar gamma melalui alat radioterapi tersebut.

Tingkat kesembuhan kami bergantung pada stadium penyakit kami. Banyak diantara teman kami yang sudah masuk dalam stadium IV/stadium lanjut/stadium terminal dimana proses pengobatan yang harus dijalani adalah layanan paliatif. Padahal sementara ini di Indonesia layanan paliatif tidak masuk dalam kategori layanan yang dapat dicover oleh BPJS.

Untuk itu, melalui surat ini mohon kiranya Bapak dapat memberikan kebijakan yang lebih berpihak kepada kami para penderita kanker pada umumnya dan secara khusus terutama kepada para pasien dari kalangan kurang mampu. Kami berharap kemudahan dan kelancaran untuk bisa mendapatkan layanan pengobatan dengan baik, ketersediaan alat untuk proses pengobatan dan biaya yang terjangkau.

Mohon apabila memungkinkan untuk bisa digratiskan bagi kalangan yang benar-benar kurang mampu. Penghasilan mereka pas-pasan untuk hidup bahkan untuk membayar iuran BPJS saja mereka kesulitan. Sehingga tidak terbayangkan jika mereka harus mengeluarkan uang 400 juta untuk mendapatkan infus obat Herceptin. Yang ada adalah, banyak dari kami yang “menerima nasib” saja untuk menunggu kematian karena kanker payudara, dengan tidak menjalani terapi yang dianjurkan oleh dokter karena memang tidak mampu membeli obat tersebut.

Kiranya demikian yang dapat saya sampaikan dalam kesempatan ini. Saya berharap bahwa setelah membaca surat ini, tergerak hati Bapak untuk dapat membantu kami, orang-orang yang hidup dengan kanker. Sungguh, kami semua memiliki semangat dan daya juang untuk tetap bertahan hidup selama mungkin, dengan kualitas hidup yang sama dengan mereka yang dikaruniai kesehatan. Bagi kami, setiap detik waktu sangat berharga. Kebijakan Bapak yang berpihak kepada kami, akan sangat besar artinya bagi hidup kami.

Terimakasih banyak saya ucapkan atas kesediaan Bapak membaca surat ini, di sela-sela kesibukan yang tidak terhingga dalam tugas yang mulia, tugas negara sebagai seorang Presiden Republik Indonesia. Mohon maaf jika ada diantara kata-kata saya yang kurang berkenan di hati Bapak. Semoga Bapak diberi karunia dengan kesehatan, kebahagiaan, umur yang panjang yang bermanfaat untuk seluruh rakyat Indonesia.

Wassalaamu’alaikum Warahmatulaahi wa Barakaatuhu

Failasufah

Survivor  Breast Cancer

(Ditulis dalam rangka memperingati Breast Cancer Awareness Month pada bulan Oktober)


Bone Survey (I Mean “Photo Session” :))

Guess what I have done today ? Ya, hari ini (23 September 2015) aku check up di Yogya lagi, di RSUP Sardjito. Jangan bosan ya… dengan ceritaku seputar check up mencheck up :). Sebetulnya aku berangkat dari Cilacap hari selasa sore jam 4, sampai di rumah ibu mertua di Klaten jam11 malam. Lalu paginya dari Klaten berangkat jam 6 ke Yogya, sampai di Yogya sekitar jam 07.30. Langsung menuju laboratorium Patologi Klinik. Masih pagi, jadi dapat antrian no 14. Sekitar jam 08.30 aku dipanggil masuk ruangan pengambilan sampel darah.

Selesai dari lab Patologi Klinik, aku menuju ke Poli Radiologi. Tapi ternyata, bagian pendaftarannya masih tutup ! Padahal sudah jam 09.00 wib lewat beberapa menit. Tapi memang, hari ini sebagian orang sudah merayakan hari raya Idul Adha. Jadi mungkin para karyawan di bagian pendaftaran itu tadi pagi baru shalat Idul Adha sehingga jadwal kedatangannya mundur sedikit. Pasien sudah banyak banget berkumpul di depan loket pendaftaran.Tempat duduk di situ penuh, dan yang tidak dapat tempat duduk, mereka berdiri di depan loket dan di depan ruang-ruang sekitar loket.  Setelah menunggu agak lama (karena pasiennya emang banyak banget dan “being a patient is have to be patient” bukan ?) namaku dipanggil, lalu diberi berkas untuk dibawa ke ruang tes (bukan ruang ujian, tapi :)).

Tes pertama adalah di ruang 3 tempat rontgen. Kalau dulu-dulu di tempat rontgen aku hanya menjalani rontgen thorax aja, tadi itu aku menjalani semacam sesi pemotretan (berasa kayak model 🙂 🙂 :)). Sungguh aku jadi kepingin ketawa kalo  inget tulisannya  Mbak Sima di blognya yang dia ceritakan dengan lucu tentang sesi pemotretan yang dijalaninya di poli radiologi RS Dharmais. Mbak Sima itu orangnya lucu banget, aku inget dulu Mbak Sima bilang gimana. Jadi pas sesi pemotretan itu berlangsung, sambil berbaring di meja alat rontgen itu aku hampir aja kelepasan ketawa. Tapi untung masih bisa kutahan, nggak aku tau apa jadinya kalau aku beneran ketawa karena Mbak petugas rontgennya itu jutek banget. Cantik sih, tapi judes. “Cepetan bu, banyak pasien lain yang nunggu dirontgen juga” gitu katanya waktu menyuruh aku naik meja itu, padahal aku masih sibuk melepas perhiasan dan karet rambut 🙂 :). “Jangan bergerak bu. Sudah diposisikan begini jangan gerak-gerak” katanya beberapa kali dengan sikap judes. Gak papalah, asal acara kali ini berlangsung dengan sukses, aku menurut saja berbaring diam tak bergerak selama sekitar 10-15 menit.  Mbak petugasnya sibuk mengatur posisi lampu (atau kamera kalii…) di atasku.

Rupanya, aku sedang menjalani apa yang disebut ”bone survey”.  Jadi seluruh tubuhku di rontgen. Mulai dari kepala, leher, dada, perut atas, perut bawah, kaki (terdiri dari 3 bagian), bahu, lengan atas dan lengan bawah. Bener-bener dari ujung kepala sampai ujung kaki. Aku hitung kira-kira aku dipotret sebanyak 14 kali. Berasa jadi model dadakan 🙂 🙂 Aku nggak menyangka bahwa pada akhirnya aku akan menjalani tes ini, tes yang pernah dijalani oleh Mbak Sima, yang  pernah kubaca di blog nya. Sempat ada sedikit rasa ngeri dan khawatir dengan hasilnya besok Jumat. Tapi, ketika aku ingat kembali tulisan Mbak Sima, aku malah jadi kepingin ketawa.

Bener yang Mbak Sima bilang. Rasanya ini seperti bukan tes imaging. Ini seperti sesi pemotretan. Walaupun sedikit ngeri jika membayangkan jangan-jangan hasilnya menampakkan ada massa di tulangku (Oh No!!!!). Tapi ketika di USG setelah rontgen, Mbak residennya bilang kalau penampakannya baik. “Untuk sementara aman kok bu”, begitu katanya  :). Tinggal nunggu hasil cek darah dan hasil bone survey nya ini nih…yang bikin deg-degan. Tak sabar rasanya menunggu hari Jumat pagi saat aku kembali ke RSUP Sardjito untuk mengambil hasil lab semuanya. Semoga saja hasilnya baik, normal semuanya. Amin… 🙂

(Itu tulisan late post…kutulis pada hari H, baru bisa kuposting hari ini. Alhamdulillah, semua hasil lab pada hari itu hasilnya baik semua. Tidak ditemukan massa pada tulang ataupun metastase. Hasil USG juga sama. dan hasil Ca 15-3 ku masih berada pada angka normal. Alhamdulillah :))


Just Another Post

Bingung mau kasih judul apa di postingan kali ini…. akhirnya pakai kalimat itu saja. Just another post. Hanya sekedar postingan lainnya. Sebenarnya aku kepingin menulis tentang banyak kisah…tapi…mungkin sebaiknya jangan. Aku kepingin nulis tentang frenvy yang bikin sebel dan jengkel, tapi kayaknya mendingan nggak usah aja. Nanti ujung-ujung nya ada yang tersinggung lalu terpaksa aku delete postinganku, seperti dulu.

Sejauh ini… sejak mulai bikin blog di awal Maret 2011, aku sudah delete dua postingan yang pernah aku publish gara-gara nggak enak sama orang. Gara-gara orang itu ngerasa lalu tersinggung dengan tulisanku, kebetulan tentang hal yang sama dengan yang ingin aku tulis, yaitu tentang frenvy, atau friend envy. Sudahlah. Biarpun sebel dan marah, sebaiknya aku tuliskan di tempat lain saja, bukan di blog yang seluruh dunia bisa baca seperti ini 🙂 :). Padahal aku nggak pernah pamerin blog ku, tapi orang-orang ini tau kalo aku punya blog. Dan kadang mereka suka mengintip-intip…apa yang aku tulis di sini 🙂 🙂 .

Aku juga sebenernya kepingin nulis tentang proses menuju kegiatan akreditasi kemarin… tentang orang-orang yang tidak bisa bekerjasama…tentang orang-orang yang hanya bisa membebankan pekerjaan dan hanya bisa memerintah. Sepertinya tidak ada kata “membantu” dalam kamus hidup mereka, yang ada hanya kata “memerintah”. Sedih sekali rasanya mengerjakan tugas yang begitu banyak hanya dengan dibantu beberapa orang. Syukurlah, masih ada beberapa orang yang baik hati dan mau menolong dengan tulus. Mungkin sebaiknya aku fokus saja pada mereka dan mengabaikan orang-orang yang tidak mau membantu sama sekali, padahal sudah dimasukkan dalam daftar kepanitiaan.

Tapi cukuplah hanya satu paragraf itu saja yang kutuliskan disini. Nggak enaknya nulis di blog itu kayak gini. Aku tak bisa dan tak boleh menuliskan segala hal yang ingin kutulis, karena orang-orang dari seluruh dunia bisa membaca… 😦 Pada akhirnya, aku harus bisa menata hatiku, menghibur diri dengan bersyukur. Bahwa selama aku masih bisa merasa marah, jengkel dan sakit hati, berarti aku masih hidup. Yay…I’m still alive !! Because you are a woman with cancer, remember ??? Apa lagi yang harus disyukuri selain kesadaran bahwa hari ini kau masih hidup, masih bisa bekerja, masih bisa beraktivitas dengan normal seperti orang-orang lain?

Jadi jika teman-temanmu membuatmu marah, kecewa, sakit hati dan terluka, itu berarti hatimu masih bisa berfungsi dengan baik bukan ? Bukannya marah-marah dan menuliskan segalanya di blog, justru sebaliknya harusnya kau bersyukur bukan ? Dan dunia ini memang tempatnya segala hal seperti ini. Segala hal yang membuat galau, segala kekacauan, kemarahan, kekecewaan, sakit hati dan luka, semuanya hanya ada di dunia. Dan kau masih ada di sini, bukan di surga. 😦 Sabarlah, hadapilah segalanya dengan senyum.

(Rasanya cukup sampai di sini saja dulu nasehat untuk diriku sendiri. 😦 )


Blogging and Blogwalking

blog1 Ketika kembali membuka blog ini, terbaca postingan terakhir ternyata tanggal 29 April… padahal sekarang sudah bulan Juli. Target untuk menulis satu postingan minimal dalam satu bulan rupanya belum terpenuhi. Benar yang orang-orang bilang bahwa untuk bisa konsisten menulis di blog itu bukan satu hal yang mudah. Sebetulnya mungkin bukan karena tidak ada yang perlu ditulis atau diceritakan, tapi lebih kepada sempitnya waktu untuk menulis. Sebegitu sibuknyakah diriku ? Mungkin tidak juga, mungkin hanya karena aku tidak mau meluangkan waktu saja untuk membuat postingan baru.

Tetapi memang, bulan Mei lalu sepertinya aku cukup sibuk. Sebenarnya kesibukan di sekolah biasa aja, tapi bulan Mei itu dua kali aku ikut diklat di luar. Satu di luar kota, satu lagi di luar sekolah. Setelah itu, persiapan Lomba Kompetensi Siswa.

Bulan Juni, acaranya adalah membuat soal, lalu Ulangan Umum Kenaikan Kelas, koreksi dan memproses nilai. Setelah itu adalah Penerimaan Peserta Didik Baru. Dan selanjutnya adalah menyiapkan segala sesuatu untuk akreditasi yang akan dilaksanakan besok tanggal 10-13 Agustus 2015. Liburnya cuma sebentar, hari-hari berikutnya diisi dengan menyiapkan dokumen-dokumen akreditasi.

Dan… ada hal lain lagi yang akan kuceritakan kali ini. Suatu ketika saat aku sedang blogwalking, aku menemukan sebuah blog yang sangat informatif sekali tentang ca mamae. Dan ternyata  blog itu ditulis oleh seorang survivor ca mamae dan beliau adalah seorang dokter yang tinggal di Australia. Kalau mau baca blognya, klik saja di sini . Dan berkat bu dokter Inez Nimpuno pula (sang pemilik blog) aku menjadi member grup WhatsApp dan Telegram Love Pink, tempat berkumpul dan sharing segala hal tentang breast cancer oleh para warrior dan survivor ca mamae.

Sebenarnya, di satu sisi aku senang bisa berkomunikasi dengan mereka, saling sharing tentang berbagai hal. Tapi di sisi lain, ada rasa khawatir jika aku akan mengalami apa yang beberapa orang dari mereka alami. Satu hal yang jadi momok paling menakutkan adalah : setelah bertahun-tahun minum tamofen, rutin menjalani cek up dengan hasil yang selalu bagus, tiba-tiba pada suatu hari muncul hasil lab yang menyatakan bahwa sel kanker telah ber metastase sampai ke tulang. Horor banget bukan ? Paling horor diantara segala horor deh.

Tapi mungkin, aku tak boleh memikirkan hal-hal yang belum tentu terjadi seperti itu. Mestinya aku harus bisa berpikir positif. Fokus untuk selalu berpikir positif. Tapi sayangnya kadang-kadang aku tak bisa. Kapan aku bisa bebas dari rasa khawatir semacam ini ? Apakah setelah lewat 5 tahun dari tanggal kemoterapi pertama? Jadi sebetulnya ketika di postingan sebelumnya aku menulis “there will be no more worries forever and ever” itu bohong belaka. Sepertinya tak mungkin aku bisa bebas dari rasa khawatir seperti itu. Hanya saja, mungkin jangan terlalu khawatir. Sebaiknya aku berpikir positif saja, sebisanya. That’s it. And I just have to try.

picture taken from http://andrewchen.co/2011-blogging-roadmap-zero-to-productmarket-fit/


Too Many Dreams (Never) Come True :)

Recently I wonder what happen to me ? Ada apa dengan diriku ini ya ? Rupanya impian dan keinginanku terlalu banyak. Selain bermimpi untuk bisa travelling around the world (mimpi yang kelewat absurd, menyedihkan, macam ABG labil saja 😦 untung nggak pake tambahan “in eighty days”  kayak judul novel Jules Verne “Travelling Around The World in Eighty Days” 🙂 🙂 ) aku juga punya banyak keinginan yang aku tahu bahwa mungkin itu semua tidak bakalan bisa terealisasi. Ada beberapa yang awalnya sempat kupikir  rasanya takkan bisa terealisasi, tapi tidak juga ternyata. Syukurlah ada satu dua yang ternyata sudah bisa direalisasikan. Misalnya, aku kepingin punya online shop… dan ternyata aku sudah bisa mewujudkannya dengan berjualan shabby chic stuff (new and second), di instagram dan BB.

Aku kepingin ikut jelly art cooking class, lalu jualan kreasi jelly art ku. Ini yang belum bisa terealisasi sampai sekarang. Padahal aku sudah punya contact person master jelly art di kotaku. Impian yang lainnya, aku kepingin punya produk dengan label namaku sendiri. Karena aku sangat hobby merajut, tadinya aku ingin membuat tas rajut, dompet dan tempat pensil rajut dengan warna-warni yang colourful (colourful and wonderful as my life 🙂 ) diberi label dengan bordiran yang colourful juga. Sebenernya ini bisa diwujudkan, kalau saja aku lebih serius mengejar mimpiku :).

Sepertinya mudah saja. Aku tinggal pesan aja labelnya. Selanjutnya aku tinggal belanja benang rajut atau nylon, lalu duduk manis sambil asyik merajut sepanjang hari. Tapi…bagaimana dengan pekerjaanku ? What about my students ? Saking banyaknya pekerjaanku (mengajar, masak, nyapu, ngepel, nyetrika, beberes rumah… (help 😦 😦 …aku nggak punya  pembantu… 😦 😦 😦 ) aku sampai “bingung” yang mana sebenernya perkerjaan utamaku. Apakah pekerjaan sebagai PNS guru akuntansi SMK atau pekerjaan rumah tangga sebagai istri ?

Sebagai seorang istri (yang baik), mestinya yang diutamakan adalah pekerjaan rumah tangga, melayani anak dan suami di rumah sebelum berangkat bekerja keluar rumah. Mestinya pekerjaan sebagai PNS guru akuntansi SMK itu bisa dianggap sebagai pekerjaan sambilan saja bukan ? (Hm… kalau Kepsek ku baca ini, nggak kebayang apa komentar beliau 😦 😦 ). Jadi sebagai seorang istri (yang baik 🙂 ) aku harus bangun sebelum subuh menyiapkan segala sesuatunya supaya rumah bisa ditinggal seharian. Setelah itu, tibalah waktunya untuk pekerjaan berikutnya yang merupakan “pekerjaan sambilan” yaitu PNS guru akuntansi SMK.

Tapi… gimana bisa dibilang pekerjaan sambilan kalau jam kerjanya menyita banyak sekali waktu dan juga menyita banyak perhatian, tenaga dan pikiran. Dari jam 7 pagi sampai jam 3 sore, dengan pekerjaan yang amat banyak, dengan banyak target yang harus dipenuhi, dengan banyak event-event yang harus dipersiapkan…Oke, cukup sampai disini. Tidak baik mengeluh begini. Tapi sungguh, kadang-kadang aku merasa capek banget. Mungkin ini gara-gara sudah sekitar setengah tahun ini aku nggak punya ART. Cari asisten rumah tangga yang cocok itu sulit sekali. Rasanya bener-bener so little time so much to do 😦 .

Kadang-kadang aku kepingin seperti temanku yang full time mother. Dia bisa asyik merajut seharian, bisa asyik membuat jelly art… mengurus rumah dan tanaman… what a wonderful life. Temanku ini  tadinya kerja di bank, lalu resign karena ingin fokus mengurus rumah, anak dan suami. Kadang terpikir, seneng banget dia ya… nggak perlu kerja…bisa punya waktu untuk hobby… Nggak kayak aku yang harus curi-curi waktu untuk bisa menekuni hobby.

Tapi kadang terpikir juga, mestinya aku bisa bersyukur karena dengan bekerja aku bisa mandiri, punya pendapatan sendiri untuk membeli kebutuhanku sendiri. Wanita yang bekerja, maka jika dia membelanjakan pendapatannya untuk keluarganya, itu adalah shodaqoh baginya. Pahalanya banyak. Enaknya punya pendapatan sendiri, aku bisa belanja apa aja tanpa perlu merasa bersalah karena menghabiskan gaji suami 🙂

Anyway, aku harus bersyukur atas apapun dan bagaimanapun keadaanku sekarang. And I believe there will be so many dreams will come true in the future 🙂 🙂