Never Mind, I’ll Find Someone Like You
Posted: May 16, 2012 Filed under: Uncategorized 2 Comments »Tau lagunya Adele? Yang judulnya “Someone Like You” ? Tadinya aku nggak tau dan nggak kenal sama sekali dengan Adele dan lagunya itu. Tapi setiap datang ke rumah ibuku, dari kamar adikku kadang terdengar si Adele itu lagi teriak-teriak “never mind I’ll find someone like you……” aku jadi pingin tau, gimana sebenarnya lirik lagunya. Wah, ternyata lumayan juga. Salut sama ketegarannya.
Ya, aku salut dengan pesan yang tersirat dari lirik lagu itu. Dia kuat, tegar dan tidak cengeng. Padahal dia menghadapi sebuah kenyataan pahit :
I heard that you’re settled down
That you found a girl and you’re married now
I heard that your dreams came true
Guess she gave you things I didn’t give to you
Tapi Adele cuma bilang :
Never mind, I’ll find someone like you
I wish nothing but the best for you, too
Don’t forget me, I begged, I remember you said
Sometimes it lasts in love, but sometimes it hurts instead
Berapa banyak orang yang bisa seperti itu ? Kebanyakan orang dan juga lirik lagu lokal di sini mengatakan “aku tak bisa pindah ke lain hati” atau “tak kan ada yang seperti dirimu” atau bahkan begini, “meskipun aku di surga, mungkin aku tak bahagia, bahagiaku tak sempurna, bila itu tanpamu..” Halah. Lebay banget ya
. Ada juga sih lagu “sono” yang bilang gitu “there’s nothing compares to you..” atau “no one like you” dan lain-lain semacamnya.
Mungkin, berada dalam situasi seperti Adele itu memang sulit ya, makanya di lirik itu dia juga bilang:
I hate to turn up out of the blue, uninvited
But I couldn’t stay away, I couldn’t fight it
I had hoped you’d see my face and that you’d be reminded
That for me, it isn’t over yet
Aku nggak bisa menyalahkan mereka yang merasa tidak sanggup pindah ke lain hati
. Bahkan kalau nggak kuat, ada juga yang sampai bundir, atau jadi gila (na’udzubillahi min dzalik). Kalau sampai begitu sih, salah banget ya.
Rupanya Adele itu penganut paham “dunia tidak selebar daun kelor”
. Kenapa yang dipakai di pepatah itu daun kelor ya ? Padahal kan masih banyak daun-daun lain yang lebih sempit, daun putri malu mungkin, daun rumput teki atau malah daun cemara
. Kenapa aku jadi nulis postingan macam begini ya ? Nggak penting banget. Tapi mungkin ada kesimpulan yang bisa diambil bahwa ; inilah hidup (di dunia), yang seringkali berjalan tidak sesuai dengan keinginan kita, tapi harus tetap kita syukuri adanya, karena mungkin justru itulah yang terbaik buat kita. Jadi inget kalimat ini : “Dear Heart, welcome to the Dunya (World) where you can’t be with everyone you love, you can’t have everything you want & everything is temporary here. But be patient & strive for the Akhirah, where you can have anything that you desire & you can be with whoever you love & the best part is, everything is forever!” Dan juga jadi ingat quote ini :
Kata Sambutan Terakhir
Posted: May 8, 2012 Filed under: Uncategorized 4 Comments »Aku sama sekali tidak menyangka kalau Menkes akan berpulang dalam waktu secepat itu. Tanggal 26 April beliau mengundurkan diri, tanggal 28 April aku menulis postingan tentang itu, dan tanggal 2 Mei 2012, Menkes non aktif Endang Rahayu Sedyaningsih meninggal.
Berikut ini kutipan berita yang kubaca dari Kompas.com
JAKARTA, KOMPAS.com - Menteri Kesehatan nonaktif, Endang Rahayu Sedyaningsih tutup usia, Rabu (2/5/2012) siang tadi. Selama masa hidupnya, Endang meninggalkan pesan dan kesan yang menjadi tauladan bagi masyarakat.
Salah satu pesan yang ditinggalkan Endang termuat dalam kata sambutan yang ditulisnya dalam rangka menyambut penerbitan buku “Berdamai dengan Kanker”. Tiada yang menyangka, kata sambutan yang ditulis Endang pada 13 April 2011 itu menjadi kata sambutan terakhir dari Endang.
Inilah penggalan kata sambutan terakhir Endang yang diperoleh wartawan dari pihak Kementerian Kesehatan:
“Saya sendiri belum bisa disebut sebagai survivor kanker. Diagnose kanker paru stadium empat baru ditegakkan lima bulan yang lalu dan sampai kata sambutan ini saya tulis, saya masih berjuang untuk mengatasinya. Tetapi, saya tidak bertanya “Why me ??”.
Saya menganggap ini adalah salah satu anugerah dari Allah SWT. Sudah begitu banyak anugerah yang saya terima dalam hidup ini. Hidup di negara yang indah, tidak dalam peperangan, diberi keluarga besar yang pandai-pandai, dengan sosial ekonomi lumayan, dianugerahi suami yang sangat sabar dan baik hati, dengan dua putra dan satu puteri yang alhamdulillah sehat, cerdas dan berbakti kepada orang tua.
Hidup saya penuh dengan kebahagiaan. “So… Why not?” Mengapa tidak, Tuhan menganugerahi saya kanker paru? Tuhan pasti mempunyai rencana-Nya, yang belum saya ketahui, tetapi saya merasa SIAP untuk menjalankannya. Insya Allah. Setidaknya saya menjalani sendiri penderitaan yang dialami pasien kanker, sehingga bisa memperjuangkan program pengendalian kanker dengan lebih baik.
Bagi rekan-rekanku sesama penderita kanker dan para survivor, mari kita berbaik sangka kepada Allah. Kita terima semua anugerahNya dengan bersyukur. Sungguh, lamanya hidup tidaklah sepenting kualitas hidup itu sendiri. Mari lakukan sebaik-baiknya apa yang bisa kita lakukan hari ini. Kita lakukan dengan sepenuh hati.
Dan… jangan lupa, nyatakan perasaan kita kepada orang-orang yang kita sayangi. Bersyukurlah, kita masih diberi kesempatan untuk itu. “
Demikian pesan yang disampaikan Ibu Menkes Endang… selamat jalan bu…
Bagiku, kata-kata sambutan beliau itu sangat bijaksana dan menyentuh. Aku jadi berpikir, nanti bila suatu saat aku juga harus berpulang, kira-kira apa yang kukatakan di postingan terakhirku? Bagaimana untaian kalimat terakhirku, yang akan terekam selamanya di blogku ini ? Semoga saja tulisan terakhirku nanti cukup baik. Aku tidak bisa membuat tulisan yang bermakna dan menyentuh seperti yang tertulis pada kata sambutan almarhumah Ibu Menkes. Tulisanku selama ini, hanya sekedar ungkapan isi hati saja. Aku bahkan tak pernah berpikir sebelumnya, apakah tulisan-tulisanku di blog ini bermakna atau tidak. Kalau aku kepingin nulis, maka akupun akan menulis. Tentang apa saja yang terpikirkan saat itu. Aku menulis di blog, karena banyak orang mengatakan bahwa menulis adalah salah satu obat.
Setidaknya dengan menulis di blog, aku akan meninggalkan kenangan untuk orang-orang terdekatku. Keluargaku, saudara-saudaraku, bisa membaca blogku kapan saja dan dimanapun mereka berada. Bila memungkinkan, suatu saat aku akan beritahukan ke Nayla password blogku, supaya dia bisa melanjutkan menulis di sini, tentang apa saja. Tapi nanti, masih lama, karena Nayla sekarang baru 7 tahun !
Nanti, kalau aku masih punya cukup waktu sampai dia bisa menuliskan sesuatu di sini :) .
Empat dari nama-nama blog yang aku cantumkan di widget Blogroll di kolom sebelah kanan itu, adalah blog para mantan survivor. Mereka telah lama berjuang dengan gigih sebagai survivor, dan terpaksa harus mengalah karena memang telah tiba waktunya bagi mereka untuk “pulang”. Karena bukankah bila telah datang waktunya, maka tidak ada seorangpun yang bisa memajukannya maupun memundurkannya ? Mbak Sima dengan blog Cancer Sucks, Bu Danti dengan Weblog Kanker Payudara, Bu Rahmi dengan Mimi Breast Friends , dan Mbak Siti Aniroh dengan Sahabat Kanker Yogya. Selain itu, ada juga Blognya Mbak Nita dengan Pondok Nita dan masih banyak lagi yang lainnya yang tidak aku cantumkan di Blogroll. Mereka semua telah meninggalkan tulisan terakhir di blog mereka, seperti juga aku nantinya juga pasti akan memiliki sebuah tulisan terakhir. Semoga kelak diberi khusnul khotimah. Amin..
Being Strong
Posted: May 2, 2012 Filed under: Uncategorized 2 Comments »Pada suatu hari aku membaca blog milik temanku, Emil. Di kolom sebelah kanan, di tempat widget twitter ada satu tweet dari temannya,”Sampai dimana kesabaranku akan terus diuji ya…?” Temanku jawab, “Kalau nggak lulus-lulus akan terus diuji…” “Tau nggak, kenapa orang yang lemah, rapuh dan oon seperti aku diuji terus?” Aku tersenyum membacanya. Pertanyaan itu sama seperti yang kupikirkan setahun yang lalu, bahkan sekarang, kadang-kadang I still wondering why. Jawaban temanku adalah “Supaya kamu kuat.” Hm, jawaban yang cukup memotivasi.
Mungkin memang benar ya, kita yang lemah diuji dengan maksud supaya menjadi kuat. Tapi kadang, dalam keterbatasan akalku, aku bertanya-tanya bagaimana kalau yang terjadi justru sebaliknya ? Bagaimana kalau orang yang diuji itu, karena lemah dan rapuh, malah menjadi hancur karenanya? (Semoga hal itu tidak akan pernah terjadi pada diriku dan semua orang yang kukenal. Amin)
Soalnya, aku tahu ada beberapa kasus yang begitu. Misalnya, ada pasien ca mamae yang setelah mastektomi dan kemoterapi, bukannya jadi sembuh, malah jadi gila (na’udzubillahi min dzalik). Ada juga pasien ca mamae yang seharusnya kemoterapi selama enam kali, tapi baru kemo satu kali terus berhenti, tidak mau lagi melanjutkan kemonya karena merasa tidak kuat. Padahal resikonya, sel kankernya semakin berkembang setiap hari. Berarti penyakitnya akan semakin parah.
Bagaimana dengan mereka ? Walaupun aku yakin dengan satu ayat dalam Al Qur’an surat Al Baqarah ayat 286 yang menyatakan bahwa ”Allah tidak akan membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya.” tapi kadang-kadang aku masih bertanya-tanya seperti itu. Bukannya aku tidak percaya dengan apa yang telah Allah firmankan. Mungkin, mestinya mereka kuat. Seharusnya mereka kuat. Allah tidak mungkin salah. Maha Benar Allah dengan segala firmanNya. Ketika Allah memberikan mereka ujian itu, pasti Allah tahu bahwa mereka mestinya sanggup melaluinya. Tapi mungkin ada faktor lain, yang membuat mereka tidak sanggup. Faktor apakah itu ? Aku tidak tahu, benar-benar tidak tahu. Aku bukan psikolog, soalnya.
Dan bagaimana dengan diriku sendiri ? Apakah aku kuat ? Aku tidak bisa mengatakan bahwa aku orang yang kuat dan tegar menghadapi semuanya ini. Sombong sekali tampaknya, kalau aku katakan itu. Karena ada saat-saat dimana aku menangis, dan yang amat sangat terasa sulit bagiku adalah, aku harus menyembunyikan air mataku, dan menghilangkan jejak tangisanku. Aku tidak boleh terlihat menangis di depan semua orang terdekatku. Mereka tidak boleh melihat aku sedih karena sakitku.
Ada saat-saat dimana aku tidak bisa tersenyum. Bahkan pernah, pada suatu hari, aku tidak bisa membalas senyum seseorang yang kukenal. Keterlaluan sekali, bukan? Bayangkan, seseorang tersenyum padamu, tapi kau hanya bisa menatapnya, karena saat itu kau sedang berpikir tentang sesuatu hal yang mencemaskanmu. Kau hanya bisa menatapnya, bahkan tidak sadar bahwa orang itu telah tersenyum padamu. Memalukan sekali, bukan ? (I wonder what he thought about me that time
GR amat ya..
bisa aja dia nggak mikirin sama sekali). (Please forgive me
).
Setiap pasien ca, pasti punya luka psikis yang mungkin (bisa) sulit untuk sembuh. Tak perlu kata-kata menyakitkan untuk membuatnya bersedih. Dia sudah cukup banyak menangis karena bersedih, kok. Percayalah. Tak perlu melukainya dengan kata-kata yang tak perlu, karena biasanya mereka sangat sensitif, sehingga gampang sekali terluka. Sampai sekarang, aku masih ingat apa yang dikatakan oleh gerombolan residen bedah (I really hate them all
) pada suatu pagi, ketika mereka melihatku sedang duduk sendirian di depan ruang simulator.
Haruskah aku cerita ? Oke, aku ceritakan aja, ya. Hari itu, Senin, 28 Maret 2011. Jam delapan pagi, aku sudah duduk di depan ruang simulator, karena hari itu adalah jadwal simulatorku yang ke dua. Sebetulnya tanggal 28 Februari 2011 aku sudah simulator, tapi karena jadwal radioterapinya mundur,maka aku harus mengulang lagi proses simulator. Saat itu aku sudah selesai siklus kemo doxo, tinggal dua kali kemo herceptin dan aku merasa gembira karena pada akhirnya aku mendapat jadwal untuk radioterapi, dan memulai proses itu dengan simulator (pemberian tanda di lokasi yang akan disinar).
Ruang simulator itu bersebelahan dengan sebuah ruang tempat belajar koass. Pagi itu, ruang itu penuh dengan koass dan residen. Mereka sedang belajar tentang sesuatu rupanya. Sepertinya para residen itu sedang mengajari para koass membaca hasil foto rontgen. Aku bisa melihatnya, karena aku duduk di kursi tunggu yang ada di depan jendela ruang itu. Jendelanya dari kaca yang lebar dan rendah, jadi siapapun yang duduk di situ bisa melihat mereka.
Rupanya, aku datang terlalu awal. Petugas simulator memintaku menunggu dulu. Aku duduk sendirian, menunggu petugas yang lainnya datang. Sekian lama menunggu, aku masih saja sendirian, belum ada pasien yang lain. Tiba-tiba, seorang residen keluar dari ruang sebelah, nggak tau mau kemana, dan dia melihatku. Rupanya dia mengenaliku (mungkin dia salah satu residen yang berada di ruang operasi, waktu itu). Aku pura-pura tidak melihatnya, sibuk dengan hp ku. Entah bagaimana, tiba-tiba beberapa residen sudah berdiri mengerumuniku (nggak ding, tapi berdiri berjejer di depan bangku dekatku), menatapku. Aku pura-pura asyik dengan hapeku, terus menunduk dan tidak mau melihat mereka. Kalau ada orang lewat aku lihat orang itu, berharap mereka juga pasien yang akan simulator dan duduk di dekatku. Tapi aku tetap tidak mau melihat ke arah para residen yang berdiri di dekatku itu.
Mungkin mereka jengkel atau kenapa, lalu salah satu dari mereka berkata “Botak….” Pelan, tapi aku mendengarnya dengan jelas. Tentu saja mereka tahu aku botak waktu itu, karena alis mataku habis dan untuk pertama kalinya seumur hidupku, aku memakai pensil alis. Aku dengar seseorang dari mereka berkata “botak”, dan yang lainnya tertawa, sambil berjalan menjauh. Cukup menyakitkan, bukan ? Lebih dari cukup untuk bisa membuatku menangis. Saat itu, rasanya aku ingin sekali menangis, tapi aku tak bisa. Tidak boleh ada orang melihatku menangis di situ, karena bisa-bisa nanti aku dikira orang gila. Cukup. Itulah ceritaku tentang hari itu. Memang sudah lama berlalu, tapi aku tetap tidak bisa lupa. Kalau saja aku punya alat penghapus kenangan. Akan kuhapus semua kenangan buruk yang pernah kualami. (Mungkinkah suatu hari nanti ada penemuan baru alat ini, memory eraser ?
)
Kupikir, adalah suatu keajaiban bahwa aku masih merasa baik-baik saja saat ini. Quote yang ada di gambar di atas adalah salah satu quote favoritku. “Never stop believing miracles happen everyday.” Yes, I believe miracles had been happen to me, and it’s still happening until today.
Dulu, saat masih kemo, teman-temanku heran karena kuku jari tangan dan kakiku tetap putih, tidak berubah warna menjadi hitam, seperti teman-teman kemo ku yang lain. I believe that it was a kind of miracle. Lalu setiap leukositku nol koma seminggu setelah kemo, aku masih bisa berjalan ke mana-mana, sementara temanku sesama pasien, jatuh pingsan ketika suatu ketika leukositnya nol koma. Keajaiban telah terjadi pada diriku, dan aku yakin masih akan tetap terjadi, dengan kehendak Allah. I just have to be strong, to fill the rest of my life. Dan berbaik sangka.
Seperti sekarang ini, sejak tanggal 23 April kemarin sampai tanggal 4 Mei nanti, aku mengikuti diklat guru inti di P4TK Sawangan, Depok. Aku mendapat kamar di asrama, di lantai 3. Lantai 3, bayangkan. Sehari aku naik turun tangga minimal 3 kali. Tapi aku berusaha berbaik sangka, mungkin dengan cara ini Allah bermaksud untuk menguatkan ototku, menguatkan jantungku, menguatkan fisikku. Masih ditambah dengan seminggu dua kali, ada jadwal senam aerobik. Aku yakin, ini adalah cara Allah untuk membuatku lebih sehat. Dan semoga saja aku benar-benar sudah sembuh, dan sehat, seperti yang kurasakan sekarang. Amin..
It’s About Me and Maher Zain
Posted: September 13, 2011 Filed under: Uncategorized 2 Comments »
Wow…is there something between me and Maher Zain
? Bukan cuma Maher Zain saja sebetulnya. Tapi Sami Yusuf juga. I love their song. Tapi diantara dua nama itu, yang paling berkesan adalah Maher Zain. Do you know why ? Karena lirik-lirik lagunya kebetulan pas banget untukku, just like it has been made for me (Ge-Er .com
).
Misalnya saja suatu lirik di salah satu lagunya yang berjudul “Insha Allah” : “Don’t despair and never lose hope, cause Allah is always by your side, Insha Allah.” Selain itu, ada lagi di lagunya yang berjudul “Thank You Allah” : “Allah, I wanna thank you for all the things that you’ve done for me trough all my years I’ve been lost.” Tapi lirik tersebut aku ganti sedikit, kusesuaikan dengan keadaanku menjadi “Allah, I wanna thank you for all the things that you’ve done for me through all the years of my life…”
Bukankah benar bahwa apapun yang telah terjadi dalam hidup kita, itu semua dapat terjadi atas kehendak Allah, dan bahwa apapun itu, harus bisa kita terima dengan penuh syukur ? Seperti kata Mario Teguh bahwa “Kita sering tidak tahu apa rencana Tuhan bagi kehidupan kita. Hanya satu hal yang harus kita yakini, rencana Tuhan selalu indah. Tergantung dari sudut mana kita melihatnya.”
Lagu berjudul Thank You Allah (Alhamdulillah) itu dulu sering kudengarkan, menemani hari-hariku pada saat-saat tersulit. Dan betapa menakjubkannya efek sebuah lagu, yang mampu menghadirkan kenangan dengan teramat jelas, hingga emosi yang dulu dirasakan pada saat mendengar lagu itu, bisa kembali dirasakan pada saat mendengar lagi lagu yang sama.
Dulu, saat masih dirawat selama seminggu sesudah operasi, lagu Nidji yang berjudul “Tuhan Maha Cinta” (soundtrack film Sang Pencerah) sering banget diputar di radio-radio di Yogya. Kebetulan saat itu waktunya berdekatan dengan launching film Sang Pencerah. Dan sekarang, kalau dengar lagi lagu itu, terasa lagi semua emosi dan perasaan pada saat itu. Terkenang lagi suasana pada hari-hari itu. Itu sebabnya sekarang aku berusaha untuk tidak pernah lagi mendengar lagu itu. Kasihan Nidji ya…
. Sebetulnya nggak ada yang salah dengan lagu itu, bagus kok liriknya. Yang salah itu cuma perasaanku aja.
Kalau lagu Maher Zain sih nggak papa aku dengerin. Efeknya tidak sehebat lagunya Nidji. So, let’s sing together “Don’t despair and never lose hope, cause Allah is always by your side… Insha Allah…”
Kalimat Indah Penuh Makna
Posted: August 2, 2011 Filed under: Uncategorized 2 Comments »
Awalnya aku bingung mau kasih judul apa untuk postingan kali ini. Ada tiga alternatif soalnya, Inspiring Words, It’s About My Books dan terakhir yang di atas itu. Sebetulnya aku cuma mau cerita tentang buku yang kubaca dan inspiring words yang ada di dalamnya. Bulan Juli kemarin, ternyata aku berhasil membaca lima judul novel. Itu adalah rekor terbanyakku. Walaupun judul-judul novel itu bukan judul baru, tapi juga bukan termasuk judul lama. Dua judul dari karya Andrea Hirata, Padang Bulan dan Cinta di Dalam Gelas. Satu judul karya Ahmad Fuadi, Ranah 3 Warna, dan dua judul e-book hasil dari download, dari Atul Gawande, Better dan Komplikasi. Sebetulnya aku nggak suka baca novel dalam format e-book, tapi untuk dua judul ini, kekecualian. :)
Kelima novel itu, semuanya bagus. Banyak kalimat-kalimat bermakna di dalamnya, yang membuatku tercenung-termenung. Misalnya saja, seperti ini (Diambil dari Ranah 3 Warna) :
“Bersabar dan ikhlaslah dalam setiap langkah perbuatan
Terus meneruslah berbuat baik , ketika di kampung dan di rantau
Jauhilah perbuatan buruk,, dan ketahuilah
Pelakunya pasti diganjar, di perut bumi dan di atas bumi
Bersabarlah menyongsong musibah yang terjadi
Dalam waktu yang mengalir
Sungguh di dalam sabar ada pintu sukses dan impian kan tercapai
Jangan cari kemuliaan di kampung kelahiranmu
Sungguh kemuliaan itu ada dalam perantauan di usia muda
Singsingkan lengan baju dan bersungguh-sungguhlah menggapai impian
Karena kemuliaan tak akan bisa diraih dengan kemalasan
Jangan bersilat kata dengan orang yang tak mengerti apa yang kau katakan
Karena debat kusir adalah pangkal keburukan”
(Diterjemahkan dengan bebas dari syair Sayyid Ahmad Hasyimi. Syair ini diajarkan pada tahun ke-4 di pondok Modern Gontor , Ponorogo)
“Aku coba kembali mengingat pesan Kiai Rais waktu di Pondok Madani :” Wahai anakku, latihlah diri kalian untuk selalu bertopang pada diri kalian sendiri dan Allah. I’timad ‘ala nafsi. Segala hal dalam hidup ini tidak abadi. Semua akan pergi silih berganti. Kesusahan akan pergi. Kesenangan akan hilang. Akhirnya hanya tinggal urusan kalian sendiri dengan Allah saja nanti. “ (Ranah 3 Warna, halaman 101)
(I’timad ‘ala nafsi = mandiri, bertumpu pada diri sendiri).
“Yang namanya dunia itu ada masa senang dan masa kurang senang. Di saat kurang senanglah kalian
perlu aktif. Aktif untuk bersabar. Bersabar tidak pasif, tapi aktif bertahan, aktif menahan cobaan, aktif mencari solusi. Aktif menjadi yang terbaik. Aktif untuk tidak menyerah pada keadaan. Kalian punya pilihan untuk tidak menjadi pesakitan. Sabar adalah punggung bukit terakhir sebelum sampai di tujuan. Setelah ada titik terbawah, ruang kosong hanyalah ke atas. Untuk lebih baik. Bersabar untuk menjadi lebih baik. Tuhan sudah berjanji bahwa sesungguhnya Dia berjalan dengan orang yang sabar.” (Ranah 3 Warna, halaman 131)
“Anak-anakku…. Dalam menjalani hidup, Ananda pasti menghadapi banyak problematika kehidupan yang kadang-kadang terasa sangatlah berat. Namun, Ananda janganlah sampai putus asa karena putus asa adalah penyakit yang menggagalkan perjuangan, harapan dan cita-cita. Problem tidak akan selesai hanya dengan disusahkan, tetapi harus dipikirkan dan dengan selalu dekat kepada Allah serta selalu mohon hidayah dan taufikNya. Maka berbuatlah, berpikirlah, bekerjalah semaksimal mungkin, menuju kesempurnaan manusiawi yang lebih bertakwa. Aamin yaa robbal ‘aalamiin.” (Disarikan dari nasihat para kiai Gontor di acara khutbatul wada, ketika lulusan akan berjuang di masyarakat). (Ranah 3 Warna, halaman 132)
“Man jadda wajada = siapa yang bersungguh-sungguh akan sukses
Man shabara zhafira = siapa yang bersabar akan beruntung
Man sara ala darbi washala = siapa yang berjalan di jalannya akan sampai ke tujuan
Idza shadaqal azmu wadaha sabil = kalau sudah jelas dan benar keinginan, akan terbukalah jalan”
“Kalau kita kondisikan sedemikian rupa, impian itu lambat laun akan jadi nyata. Pada waktu yang tidak pernah kita sangka-sangka.”
“Betapa hikayat hidupku sebetulnya hanya karena melebihkan usaha, bersabar dan berdoa. Tanpa itu entah bagaimana aku bisa mengarungi hidup. “
“Anak-anakku…
Akan tiba masa ketika kalian dihadang badai dalam hidup. Bisa badai di luar diri kalian,bisa badai di dalam diri kalian. Hadapilah dengan tabah dan sabar, jangan lari. Badai pasti akan berlalu.
Anak-anakku…
Badai paling dahsyat dalam sejarah manusia adalah badai jiwa, badai rohani, badai hati. Inilah badai dalam perjalanan menemukan dirinya yang sejati. Inilah badai yang bisa membongkar dan melepaskan iman, logika, kepercayaan diri dan tujuan hidup. Akibat badai ini bisa lebih hebat dari badai ragawi. Menangilah badai rohani dengan iman dan sabar, kalian akan menjinakkan dunia akhirat.
Anak-anakku…
Bila badai datang, hadapi dengan iman dan sabar. Laut tenang ada untuk dinikmati dan disyukuri. Sebaliknya laut badai ada untuk ditaklukkan, bukan ditangisi. Bukankah karakter pelaut andal ditatah oleh badai yang silih berganti ketika melintas lautan tak bertepi ?” (Ranah 3 Warna, halaman 467)
“Hidupku selama ini membuat aku insaf untuk menjinakkan badai hidup, “mantra” man jadda wajada saja ternyata tidak cukup sakti. Antara sungguh-sungguh dan sukses itu tidak bersebelahan, tapi ada jarak. Jarak ini bisa hanya satu sentimeter, tapi bisa juga ribuan kilometer. Jarak ini bisa ditempuh dalam hitungan detik, tapi juga bisa puluhan tahun.”
“Jarak antara sungguh-sungguh dan sukses hanya bisa diisi sabar. Sabar yang aktif, sabar yang gigih, sabar yang tidak menyerah, sabar yang penuh dari pangkal sampai ujung yang paling ujung. Sabar yang bisa membuat sesuatu yang tidak mungkin menjadi mungkin, bahkan seakan-akan itu sebuah keajaiban dan keberuntungan. Padahal keberuntungan adalah hasil kerja keras, doa dan sabar yang berlebih-lebih.”
“Bagaimanapun tingginya impian, dia tetap wajib dibela habis-habisan walau hidup sudah digelung oleh nestapa akut. Hanya dengan sungguh-sungguhlah jalan sukses terbuka. Tapi hanya dengan sabarlah takdir itu terkuak menjadi nyata. Dan Tuhan selalu memilihkan yang terbaik dan paling kita butuhkan. Itulah hadiah Tuhan buat hati yang kukuh dan sabar.” (Ranah 3 Warna, halaman 468)
Itulah Ahmad Fuadi, dengan kata-katanya yang telah menginspirasi banyak pembaca novelnya, sejak “Negeri 5 Menara” diluncurkan.
Novel berikutnya adalah dwilogi yang dikemas dalam satu novel. Padang Bulan dan Cinta di Dalam
Gelas. Sungguh, baca novel Andrea Hirata itu memang bisa bikin ketawa-ketawa sendiri kayak orgil. :) Dia itu memang lucu banget ya…?
Tapi walaupun lucu begitu, ada juga inspiring words yang terselip di novelnya. Seperti ini misalnya :
“Dulu, guru mengajiku pernah mengajarkan, bahwa pertemuan dengan seseorang mengandung rahasia Tuhan. Maka, pertemuan sesungguhnya adalah nasib. Orang tak hanya bertemu begitu saja, pasti ada sesuatu di balik itu. Begitu banyak hidup orang berubah lantaran sebuah pertemuan. Disebabkan hal itu, umat islam disarankan untuk melihat banyak tempat dan bertemu dengan banyak orang agar nasibnya berubah. Namun sayang, tak semua dapat mengungkap rahasia itu, dan beruntunglah sedikit orang yang memahami maksud dari sebuah pertemuan.” (Padang Bulan, halaman 189)
Benarkah begitu ? Berapa banyak orang yang telah kutemui di sepanjang hidupku ? Dan aku tak bisa memahami maksud yang tersembunyi dari pertemuan-pertemuan itu… sayang sekali, bukan ?
“Harapan Enong adalah ingin pandai berbahasa Inggris meski semua orang mengatakan sudah sangat terlambat untuk belajar dan tak ada gunanya pintar berbahasa Inggris. Ingin bicara dengan siapa ? Orang-orang itu telah melupakan bahwa belajar tidaklah melulu untuk mengejar dan membuktikan sesuatu, namun belajar itu sendiri adalah perayaan dan penghargaan pada diri sendiri. Pasti hal itu yang dialami Enong.” (Padang Bulan, halaman 197)
Inspiring words tentang belajar ini, membuatku teringat pada satu tulisan seorang kokiers (penulis di koki, kolom kita, sebuah citizen journalism) bernama Harry Lukman. Dia pernah menulis : “I firmly believe that life is a learning process. No matter how old you are, you’re never too late to learn. The question is, how far are you willing to go for an extra mile to improve yourself? “ Aku paling suka dengan pertanyaannya itu, yang dimulai dari “The question is….”
Ahmad Fuadi di Negeri 5 Menara dan Ranah 3 Warna, juga mengatakan tentang going for an extra mile, melebihkan usaha, di atas rata-rata kebanyakan orang. Itulah yang telah dia lakukan. Kalo inspiring words tentang belajar dariku adalah “Life is like a book. Everyday has a new page. New adventures to tell and new lessons to learn.” Sebenarnya kalimat itu aku dapatkan dari sms adikku (thanks, my bro
).
Masih ada lagi dari Andrea Hirata, seperti ini misalnya :
”Pertemuan dengan Maryamah hari ini meletupkan semangatku. Aku telah melihatnya belajar bahasa Inggris dengan susah payah, tanpa merasa ragu akan usia dan segala keterbatasan, dan dia berhasil. Sekarang, ia siap berjibaku menguasai catur, dengan tekad mengalahkan seorang kampiun seperti Matarom. Ia tak dapat disurutkan oleh bimbang, tak dapat dinisbikan oleh gamang. Darinya, aku mengambil filosofi bahwa belajar adalah sikap berani menantang segala ketidakmungkinan ; bahwa ilmu yang tak dikuasai akan menjelma di dalam diri manusia menjadi sebuah ketakutan. Belajar dengan keras hanya bisa dilakukan oleh seseorang yang bukan penakut.” (Cinta di Dalam Gelas, halaman 103) Wow…
itulah Andrea Hirata, with his inspiring novels.
Masih ada yang lain lagi : ” Melalui Maryamah, aku belajar menaruh hormat pada orang yang menegakkan martabatnya dengan cara membuktikan dirinya sendiri, bukan dengan membangun pikiran negatif tentang orang lain. Lalu aku berpikir, seumpama catur, hidup sedikit banyak seperti reaksi atas pilihan sulit yang silih-berganti mem-fait accompli manusia, dan rupanya alasan selalu lebih mudah dilupakan ketimbang akibat.” (Cinta di Dalam Gelas, halaman 250).
Kalau dari Atul Gawande (dia dokter bedah Amerika yang aslinya dari India) ada juga beberapa, sebetulnya bukan inspiring words menurutku, tapi kata-katanya sempat membuatku tercenung juga. Misalnya begini : “Aku sadar, ilmu kedokteran merupakan sesuatu yang aneh yang kadang merisaukan. Taruhannya begitu tinggi, kewenangan yang diambil begitu besar. Kami cekoki orang dengan obat, kami masukkan jarum dan slang ke tubuh mereka, kami kutak-katik mereka secara fisik, biologis dan kimiawi, kami buat mereka berbaring tak sadar, lalu membukakan tubuhnya untuk dilihat semua orang. Kami lakukan semua itu dengan keyakinan yang mantap tentang keterampilan kami sebagai profesional. Tetapi, bila diamati lebih dekat – cukup dekat untuk dapat melihat kesulitan, keraguan dan salah langkah, kegagalan maupun keberhasilan – maka akan tampak betapa kacau, tak pasti dan juga mencengangkannya ilmu kedokteran itu.” (Komplikasi, halaman 17).
Karena dia adalah dokter bedah, maka di dua novel itu dia berkisah tentang dunianya, pekerjaannya menangani berbagai kasus pasien, yang semuanya adalah kisah nyata. Sebenarnya, membaca novel itu bagiku seperti membuka luka lama, ingatanku saat menjelang operasi dan saat masuk ruang operasi, sebelum dibius. Membaca novel itu, membuatku merasa bahwa keraguanku selama ini akan- “siapa sebenarnya dokter yang mengoperasiku ? Dokter SpB(K)Onk itu, atau residen bedah yang dulu visit setiap hari itu?”- sangat beralasan. Ternyata, walaupun aku menginap di kamar VIP, bukan jaminan bahwa aku dioperasi oleh sang SpB(K)Onk itu. Mungkin beliau hanya penanggungjawab, tapi operatornya adalah residen itu. Atau, mungkin juga operatornya adalah sang SpB(K)Onk itu, dan asistennya adalah residen bedah yang itu (seperti kata perawat ruangan saat aku bertanya dulu). Entahlah, aku nggak tau mana yang benar. Kenapa aku jadi berburuk sangka begini ?
Karena novel itu, kan ? (Karena apa yang tertulis di Komplikasi, hal 46)
Sudahlah. It’s over now.
Kalau yang di Better, ada juga tulisan Atul Gawande yang sempat membuatku termenung. “Dalam
dunia kedokteran, kami terbiasa mengalami kegagalan. Semua dokter pernah menghadapi kematian dan komplikasi tak terduga. Yang tak biasa kami lakukan adalah saling membandingkan catatan keberhasilan dengan para sejawat. Saya seorang dokter bedah di departemen yang kami yakini paling hebat senegara. Tapi sebenarnya kami tak punya bukti untuk menunjukkan kami memang sehebat itu. Tim baseball punya catatan menang-kalah. Bisnis punya laporan pendapatan triwulan. Dokter bagaimana ?” (Better, halaman 243)
“Tapi tak ada dokter yang ingin percaya bahwa dia cuma tokoh kecil. Bagaimanapun juga, dokter diberi kekuasaan untuk meresepkan lebih dari 6.600 obat yang dapat berbahaya. Kami boleh mengiris manusia seperti mengiris melon. Tak lama lagi kami akan diperkenankan mengotak-atik DNA manusia. Orang-orang mempercayakan kehidupan mereka kepada kami. Dan meski demikian, sebagai dokter, tiap orang diantara kami hanyalah satu dari 819.000 dokter di Amerika Serikat yang ditugasi membantu orang hidup sepanjang dan sesehat mungkin.”(Better, halaman 292). Mengiris manusia seperti mengiris melon ? Benarkah ? Betapa mengerikan. Kayaknya, judul postinganku ini nggak cocok deh, dengan kutipanku dari novel-novel Gawande.
Kalau bulan kemarin bisa selesai lima novel, (sebenarnya ditambah dengan buku-buku cerita anak-anak yang aku bacakan dua judul bergantian setiap malam sebelum Nayla tidur), maka bulan ini aku punya target untuk menyelesaikan satu buku khusus saja, satu kitab istimewa yang berasal dari Sang Pencipta, Allah Yang Maha Kuasa Atas Segalanya : Al Qur’an. Kebangeten banget kalau satu bulan ini Al Qur’an nggak khatam. Ramadhan, lagi..
. Semoga bisa ya…Amin…
Selamat bulan ramadhan…
Dan Ketentuan Takdirpun Berjalan…
Posted: July 22, 2011 Filed under: Uncategorized 6 Comments »Pagi ini, Jumat, 22 Juli 2011, seluruh warga sekolahku berduka. Seorang siswi bernama Annisa Nur Arviyantari, yang kebetulan juga putri dari bu Navy, seorang teman guru, meninggal tadi malam setelah sempat dirawat di RSUP Sardjito. Arvi sakit jantung sudah lama, sejak umur balita. Dan beberapa minggu terakhir, ada komplikasi ke ginjalnya. Bu Navy sudah mengupayakan berbagai usaha maksimal untuk pengobatan putrinya, sejak kecil. Dan rupanya, Allah berkenan mengambil kembali Arvi di usianya yang ke 17. Selamat jalan Arvi…semoga kau kelak menjadi salah satu dari bidadari surga. Amin…
Dan tadi pagi, aku tidak bisa menahan tangis selama prosesi pelepasan jenazah berlangsung. Mendengar kata sambutan dari pihak keluarga yang sangat menyentuh hati, dari pihak lingkungan sekitar dan dari pihak sekolah. Mendengar kajian dan doa yang dibawakan oleh Ustadz Askan, melihat bu Navy yang sangat berduka dan terus menangis, dan akhirnya beliau bahkan pingsan ketika jenazah dibawa pergi ambulans ke pemakaman.
Akhir-akhir ini, setiap kali takziah, aku juga selalu membayangkan andaikata akulah si mayit itu. Aku menyadari masih banyak kekuranganku, bekalku belum cukup untuk dibawa mati. Masih banyak dosa-dosaku, dan aku bahkan tidak tahu apakah seluruh amalanku selama ini diterima atau tidak. Aku hanya bisa berdoa agar kelak aku diwafatkan dalam keadaan khusnul khotimah. Amin. Pagi ini aku menyadari bahwa bagaimanapun usaha kita, ketentuan takdir akan tetap berlaku.
Ada satu hal lain lagi yang membawaku pada kesadaran itu. Yaitu kesimpulan yang kuambil dari tanya jawabku dengan seorang dokter onkologi. Siang ini, sepulang dari sekolah, aku buka facebook. Di postingan sebelumnya, aku sudah pernah cerita kan, kalo aku beberapa kali tanya-tanya di blog milik dokter bedah, baik bedah umum maupun bedah onkologi (karena ada begitu banyak pertanyaan yang aku tidak tahu jawabannya, jadi harus tanya). Dan aku juga pernah cerita bahwa ada beberapa dokter yang memiliki akun facebook. Dan salah seorang dari beliau adalah dr. Bahar Azwar, SpB (K)Onk, yang punya web di www.suaradokter.com. Dan kebetulan beliau adalah salah seorang teman facebook ku.
Sebetulnya, beberapa kali ketika aku online sebelumnya, aku tahu bahwa beliau juga sedang online. Beberapa kali juga sempat terpikir untuk bertanya melalui chat box, untuk menanyakan beberapa pertanyaan yang aku pikirkan. Hanya saja, rasanya sungkan untuk bertanya di chat box.
Tapi siang ini, ketika aku online dan aku lihat beliau juga online, aku beranikan diri untuk bertanya. Ternyata beliau menyambut baik semua pertanyaanku, dan tidak pelit informasi. Beliau menjawab semuanya, dengan terus terang, jujur dan apa adanya.
Berikut ini adalah kutipan tanya jawab tersebut, di chat box dan message box.
FS : Assalamualaikum dokter…saya pasien ca mamae (survivor) yang pernah tanya di blog dokter…bolehkah saya tanya lagi di chat ini ?
Dr. Bahar : boleh Mbak
FS : Kalau boleh tahu sebetulnya makanan apa yang sama sekali tidak boleh dikonsumsi oleh survivor ca ? Apakah hanya yang mengandung pengawet, perasa dan pewarna ? Soalnya banyak yang memberitahu saya tidak boleh makan daging, tape, durian, kelengkeng…apakah memang ada pengaruhnya bila makanan tersebut dikonsumsi ? Sebelumnya terimakasih atas jawaban dokter..
Dr. Bahar : khusus untuk kanker payudara tidak ada pantangan
FS : oh, terimakasih dok…mungkin kalau ca colon ya ? Terus saya kan ER positif…bolehkah tetap mengkonsumsi makanan yang mengandung estrogen seperti kedelai dan hasil olahannya, juga terong ?
Terus obat anti estrogen saya merknya ganti2 dok, kadang tamoplex, kadang tamofen, terus ada satu lagi saya lupa namanya tapi semua kandungannya sama tamoxifen 20 mg..nggak papa kan dok..?
Dr. Bahar : nggak apa2 Mbak mengenai obat itu sama hanya berbeda pabrik saja
FS : Terus makanan yang mengandung estrogen itu nggak papa dok ?
Dr. Bahar : bahan itu kan dari tumbuh2an ya nggak apa-apa. Selain itu masalahnya bukan yang dimakan tetapi hormon yang dihasilkan oleh tubuh
FS : oh ya dok…terimakasih jawabannya…. boleh tanya lagi dok…sebetulnya faktor apakah yang membuat seseorang kankernya bisa kambuh kembali ? saya berobat di poli tulip sardjito dan disana saya banyak bertemu dengan pasien yang kankernya kambuh kembali setelah 3 th atau 4 th.. walaupun saya pernah bertemu juga dengan survivor yang sudah 10 th dari waktu pengobatan, masih sehat. Adakah yang harus saya lakukan agar kanker tidak kambuh selain minum anti estrogen ? Karena mereka yang kambuhpun tidak berhenti minum tamofen, tapi tetap kambuh juga..?
Bahar Azwar 22 July at 14:51
Wah itu tergantung jenis dan luas sewaktu memulai pengobatan Mbak
Faila Sufah 22 July at 14:55
Tapi dok, ada yang sewaktu memulai pengobatan baru stadiun 2B, ternyata 3 th berikutnya sudah stadium 4, sudah ke tulang… Padahal saya sewaktu memulai pengobatan stadium 3 A dok, TNM nya T3N1M0…
Bahar Azwar 22 July at 14:56
selain stadium kanker itu bermacam-macam jenisnya seperti halnya keganasannya
Faila Sufah 22 July at 15:00
kalo saya invasif ductal carcinoma grade 2, dok, ER, PR dan HER2 semuanya positif. saya kemo doxo dan brexel 6 kali diseling dengan herceptin 8 kali, lalu radioterapi 25 kali. semuanya sudah berakhir awal Mei kemarin, dimulai dari operasi september 2010 dulu. Kalau saya boleh tahu, berapa persen dari pasien dokter yang kasusnya sama dengan saya, yang mengalami kekambuhan kembali ?
Bahar Azwar 22 July at 15:02
hampir semua ada yang ssd 3 tapi ada juga ssd 15 thn
Faila Sufah 22 July at 15:08
Mereka kasusnya sama dengan saya ya, dok? Sama2 grade 2 dan stadium 3A juga ? Apakah yang sesudah 3 th lebih banyak bila dibandingkan dengan yang sesudah 15 th ? Terus menurut dokter, mereka yang kambuhnya sesudah 15 tahun itu bagaimana orangnya, perbedaannya dengan yang kambuhnya 3 th ? Maaf dok pertanyaan saya banyak banget, soalnya saya benar-benar ingin tahu…tentu saja saya khawatir…dan saya menghargai keterusterangan jawaban dokter..
Faila Sufah 22 July at 15:10
Satu lagi dok…bolehkah tanya jawab ini saya muat di blog saya ?
Bahar Azwar 22 July at 15:10
nasib saja Faila
Bahar Azwar 22 July at 15:10
umur Faila berapa dan kawan itu berapa?
Faila Sufah 22 July at 15:11
saya Agustus besok 37 th dok, teman saya yang kambuh lagi 57 th dok..
Bahar Azwar 22 July at 15:12
biasanya lebih muda lebih ganas dan lebih cepat kambuhnya, jadi waspada sangat penting
Bahar Azwar 22 July at 15:13
boleh saja Ila tapi tolong cantumkan website saya,www.suaradokter.com
Faila Sufah 22 July at 15:19
Inggih dok…saya juga sudah masukkan blog dokter di link blog saya, bersama blog dokter Eka Kusmawan, Mbak Titah Rahayu, dokter M. Aleq Sander, dan lain-lainnya. Terimakasih atas kesediaan dokter menjawab semua pertanyaan saya. Lain kali kalau saya ingin tanya-tanya lagi, semoga dokter juga berkenan untuk menjawab. Sekali lagi, terimakasih dok…O,ya dok..blog saya di failasufah01.wordpress.com
Dan berakhirlah tanya jawab ini. Dan kesimpulan yang kuambil itu, bahwa bagaimanapun usaha kita, ketentuan takdir tetap berjalan. Tapi tentu saja kita diwajibkan untuk tetap berusaha secara maksimal, dan tidak boleh menyalahkan takdir. Harus bisa tetap bersabar dan bersyukur atas segala kejadian yang menimpa di sepanjang perjalanan hidup. (Sok wise banget ya…
) Semoga aku bisa menjalani semuanya, dengan tetap sabar dan tetap bersyukur. Amin…
Acara Perpisahan Nayla
Posted: July 4, 2011 Filed under: Uncategorized 3 Comments »
Sebenarnya acara itu sudah lama, hari Selasa tanggal 14 Juni 2011 yang lalu. Tapi baru sekarang aku tuliskan di sini dan upload foto-fotonya. Hari itu Nayla wisuda, lulus dari TK B. Dan dia sudah mendaftar di SD Al Irsyad 01 untuk tahun ajaran besok, yang dimulai tanggal 11 Juli 2011. Rasanya baru kemarin dia masih bayi, baru kemarin dia umur 3 tahun dan masuk playgroup, lalu TK A, TK B dan sekarang sudah mau kelas satu !
Di acara perpisahan itu, Nayla tampil menyanyi dan hafalan tiga ayat terakhir surat Al Baqarah dan juga surat-surat pendek, bersama teman-temannya. Dan sayang sekali, hari itu aku tidak bisa hadir di Griya Patra menyaksikan acara itu,karena pada hari yang sama di sekolahku juga ada acara yang menuntut aku untuk bisa hadir. Saat itu tim Humas dan Kerjasama Dunia Usaha/Dunia Industri mengundang guru tamu dari institusi pasangan untuk memberikan pembekalan kepada semua siswa kelas XI yang akan melaksanakan Praktek Kerja. Saat Nayla menyerahkan undangan perpisahan itu dari sekolahnya, dan aku baca harinya, aku sangat kecewa. “Aduh Nayla…hari selasa tanggal empat belas Ummi nggak bisa datang…ada acara di sekolah…Nayla sama abah aja ya..?” Untung Nayla mau dan abahnya juga bisa menghadiri. Dan aku berpesan kepada abahnya untuk ambil foto-foto dan direkam. Sebenarnya nggak enak juga dia harus ijin dari kantor…tapi mau gimana lagi ?
Aku tak pernah menyangka bakal mengalami situasi seperti di film-film drama keluarga. Sang anak pentas, dan ibunya terpaksa tidak bisa menyaksikannya. Sang anak kecewa, dan sang ibu juga kecewa dan merasa bersalah. Aku berharap semoga saja peristiwa seperti itu tidak akan terulang lagi.
Cerita, “Frank Slazak” (Kisah Nyata)
Posted: June 18, 2011 Filed under: Uncategorized Leave a comment »by Forum Bisnis dan Promosi on Saturday, 18 June 2011 at 18:58
Lagi mood ngeblog nih…kebetulan nemu satu tulisan bagus lagi… Jadi aku copy paste kan aja disini :
Semua dimulai dari impianku. Aku ingin menjadi astronot. Aku ingin terbang ke luar angkasa. Tetapi aku tidak memiliki sesuatu yang tepat. Aku tidak memiliki gelar. Dan aku bukan seorang pilot.
Namun, sesuatu pun terjadilah. Gedung Putih mengumumkan mencari warga biasa untuk ikut dalam penerbangan 51-L pesawat ulang-alik Challanger. Dan warga itu adalah seorang guru. Aku warga biasa, dan aku seorang guru. Hari itu juga aku mengirimkan surat lamaran ke Washington. Setiap hari aku berlari ke kotak pos. Akhirnya datanglah amplop resmi berlogo NASA. Doaku terkabulkan. Aku lolos penyisihan pertama. Ini benar-benar terjadi padaku.
Selama beberapa minggu berikutnya, perwujudan impianku semakin dekat saat NASA mengadakan test fisik dan mental. Begitu test selesai, aku menunggu dan berdoa lagi. Aku tahu aku semakin dekat pada impianku. Beberapa waktu kemudian, aku menerima panggilan untuk mengikuti program latihan astronot khusus di Kennedy Space Center.
Dari 43.000 pelamar, kemudian 10.000 orang, dan kini aku menjadi bagian dari 100 orang yang berkumpul untuk penilaian akhir. Ada simulator, uji klaustrofobi , latihan ketangkasan , percobaan mabuk udara. Siapakah di antara kami yang bisa melewati ujian akhir ini ?
Aku sangat yakin bahwa akulah yang akan terpilih. “ Tuhan, biarlah diriku yang terpilih karena itu adalah anugerah yang terbesar dalam hiduku!” , begitu aku berdoa. Lalu tibalah berita yang menghancurkan itu. NASA memilih orang lain yaitu Christina McAufliffe.
Aku kalah. Impian hidupku hancur. Aku mengalami depresi. Rasa percaya diriku lenyap, dan amarah menggantikan kebahagiaanku. Aku mempertanyakan semuanya. Kenapa Tuhan? Kenapa bukan aku? Bagian diriku yang mana yang kurang? Mengapa aku diperlakukan kejam ?
Aku berpaling pada ayahku. Dan katanya: “Semua terjadi karena suatu alasan.”
Selasa, 28 Januari 1986, aku berkumpul bersama teman-teman untuk melihat peluncuran Challanger. Saat pesawat itu melewati menara landasan pacu, aku menantang impianku untuk terakhir kali. Tuhan, aku bersedia melakukan apa saja agar berada di dalam pesawat itu. Kenapa bukan aku? 73 detik kemudian, Tuhan menjawab semua pertanyaanku dan menghapus semua keraguanku saat Challanger meledak… dan menewaskan semua penumpang.
Saat itulah aku menangis, dan perasaan kesal dan marah kepada Tuhan hilang…yang ada adalah perasaan yang sangat bahagia dan tersanjung…bahwa Tuhan benar-benar sayang kepada diriku.
Aku teringat kata-kata ayahku: “Semua terjadi karena suatu alasan.” Aku tidak terpilih dalam penerbangan itu, walaupun aku sangat menginginkannya karena Tuhan memiliki alasan lain untuk kehadiranku di bumi ini. Aku memiliki misi lain dalam hidup. Aku tidak kalah; aku seorang pemenang….Aku menang karena aku telah kalah. Aku, Frank Slazak, masih hidup untuk bersyukur pada Tuhan karena tidak semua doaku dikabulkan.
(Sumber : Anonymous)
Sahabat,Tuhan mengabulkan doa kita dengan 3 cara: 1. Apabila Tuhan mengatakan YA. Maka kita akan mendapatkan apa yang kita minta. 2. Apabila Tuhan mengatakan TIDAK. Maka mungkin kita akan mendapatkan yang lain yang lebih sesuai untuk kita. 3. Apabila Tuhan mengatakan TUNGGU. Maka mungkin kita akan mendapatkan yang terbaik sesuai dengan kehendakNYA.
Sahabat, izinkan saya mengutip salah satu ayat dalam Al Quran :
” Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.” (QS 2:216)
Terimakasih telah membaca… Semoga Bermanfaat….
I Guess That’s Just The Way The Story Goes……..
Posted: June 18, 2011 Filed under: Uncategorized 4 Comments »
Kadang-kadang aku berpikir, ada nggak ya….orang yang tidak pernah berurusan dengan dokter dan rumah sakit selama hidupnya ? Mungkin dia tidak pernah sakit, atau… kalaupun pernah merasa sakit, dia tidak pernah merasa perlu ke dokter atau rumah sakit. Mungkin dia pernah sakit, tapi sakitnya ringan saja dan bisa sembuh sendiri seiring berjalannya waktu. Aku yakin walaupun mungkin sangat sedikit, tapi jenis manusia langka seperti itu pasti ada.
Kadang-kadang aku juga berpikir, ada nggak ya….orang yang tidak pernah merasa sedih, pedih, kecewa,
sakit hati, marah, benci, takut dan segala emosi negatif lainnya, beserta semua kemungkinan penyebabnya ? Adakah orang yang selama hidupnya selalu bahagia, senang, gembira, tak pernah punya rasa khawatir, tak pernah punya masalah, pokoknya happily ever after deh… Selalu tersenyum dan tidak pernah menangis ? Hey…bangun, jangan mimpi…ini masih di dunia Jeng… bukan di Surga… Jadi kalau untuk pertanyaan ini, sebetulnya aku sudah tau jawabannya, nggak mungkin ada !
Ya, benar. Kita ini masih hidup di dunia, tempatnya susah payah, perjuangan, masalah, beban, tapi di sini juga ada cinta, kasih sayang, kebahagiaan, kegembiraan… ada segala emosi negatif dan emosi positif yang harus kita rasakan. Kita akan benar-benar merasa “hidup”, bila sudah merasakan pahit manisnya hidup kita. Dan orang yang sabar, adalah orang yang bisa menerima semuanya dengan rasa syukur yang sama.
Mudah saja orang berkata “Thank You Allah, for the joyful days you’ve given to me.” Tapi apakah dia akan bisa mengatakan dengan rasa terimakasih yang sama untuk hari-hari penuh derita dan airmata, for the terrible and horrible days yang harus dilaluinya ? Keliatannya enggak. Pasti beda deh… Tapi nggak papa, itu wajar dan manusiawi kok. Walaupun seharusnya dia bisa mengatakan dengan penuh rasa syukur : Alhamdulillâh ala kulli haal ~ Praise is due to Allâh in every circumstance (even the depressing ones) !!!
Ada satu quote dari teman FB ku, yang bagus banget menurutku (hobi ngumpulin tulisan bagus sih… :) )
“Today’s inspiration : you are responsible for your own happiness, don’t put the blame on others if you’re not happy.. Others can not make u happy or sad. It’s your own perspective of life… Quotation : Emmy Soekresno, S.Pd. Inspirasi hari ini : Anda bertanggungjawab atas kebahagiaan anda sendiri, jangan salahkan orang lain jika anda tidak bahagia. Orang lain tidak dapat membuatmu bahagia atau sedih. Semuanya bergantung pada cara pandang anda terhadap hidup sendiri… Bener juga sih menurutku, seharusnya memang begitu… Kalau menurut quote itu, mestinya hal apapun, yang tidak menyenangkan yang menimpa kita, tidak membuat kita sedih…tidak mengubah suasana hati kita, kita bisa memilih untuk tetap gembira dan bahagia…. tapi sayangnya….untuk menerapkannya kok sulit amat ya… Sampai hari ini aku masih belajar juga…
Dan tentang hal tidak menyenangkan yang menimpaku (this breast cancer), teman-temanku mengira aku sabar. Padahal aku masih saja terus belajar untuk sabar. Dan kalau saudara-saudara sepupuku, bulikku atau budeku, atau bahkan ibuku kadang masih saja bertanya “Kok bisa sih kamu kena kanker…kenapa sih…??” kepinginnya sih aku jawab “Mana aku tahu ? Meneketehe ?” Tapi tentu saja aku nggak jawab begitu dong… Untung saja adik-adikku nggak tanya begitu juga. Aku cuma bisa bilang, “Sudahlah, nggak usah ditanya kenapa nya. Nggak bakalan ketemu jawabannya juga. Ini sudah takdir, sudah ada skenarionya…just strengthen me please….”
Yes, I guess that’s just the way the story goes… Semua orang punya kisah hidup masing-masing, skenario
yang sudah dirancang sedemikian rupa oleh Yang Maha Kuasa Atas Segalanya. Dan semua skenario itu tentu saja adalah yang terbaik, yang sempurna untuk kita, menurut Dia. Ada bagian dari skenario itu, yang tidak bisa kita ubah. Tapi ada bagian lain yang masih bisa kita ubah, tentunya dengan usaha dan doa.
Tips bagus ini aku dapat dari FB juga : * ASK ALLAH TO HELP YOU * It’s not easy to be strong when you are weak – It’s not easy to be patient when you are restless – It’s not easy to be happy when you are depressed – But -> It’s not hard to lift up your hands in supplication to Allah and ask Allah to make it alright!!!
Semoga Saja Aku Selalu Sehat. Amin.
Posted: June 9, 2011 Filed under: Uncategorized 6 Comments »
Oh No ! Aku diminta menjadi ketua program keahlian akuntansi ! Andai saja aku bisa menolak. Kaprog yang sebelumnya mengundurkan diri, hanya mau menjabat satu periode saja, tidak mau dipilih lagi. Sementara teman-teman guru akuntansi lainnya sudah jadi “pejabat” semua. Dua orang jadi wakil kepala sekolah, satu orang jadi bendahara sekolah, seorang lagi jadi koordinator business centre. Satu orang lagi Kaprog lama itu, nggak mau jadi Kaprog lagi….. Tidak ada orang lain lagi selain diriku (nasib… :( )
Aku sempat protes pada seorang temanku. “Nggak salah nih? Aku kan nggak sehat ? Nanti kalau aku nggak bisa menjalankan tugas gimana ?” Kebayang betapa repotnya ketua program kalau menjelang audit ISO dan menjelang akreditasi. Aku sempat panik dan meminta kepada temanku yang ada di tim litbang agar keputusan itu ditinjau ulang. Aku juga melobi kaprog lama agar membatalkan niatnya mengundurkan diri. Tapi semua usahaku menemui jalan buntu. Teman-temanku malah berkata bahwa mereka akan membantuku, bahwa mereka mendoakan aku sehat agar bisa melaksanakan tugas dengan baik. Kalau sudah begitu, aku mau gimana lagi ? Aku nggak berani menghadap kepala sekolah, karena aku tahu bahwa seharusnya aku tidak boleh menolak tugas yang diberikan.
Sanggupkah aku ? Padahal sekarang aku gampang banget merasa capek. Beda dengan dulu. Sendi lutut, siku dan jari-jari tanganku rasanya sakit. Kayak rematik. Kata dokter radiologi, itu karena efek kemo. Padahal kemo terakhir Februari, udah lama banget. Lalu, sampai kapan efeknya akan masih terasa ? Aku sekarang jadi cepet banget lelah. Sekarang berasa kayak nenek-nenek banget ( Ada ya, nenek-nenek di usia 36 tahun ?).
Yah, gitu deh, kondisi fisikku turun, sementara tugas dan tanggungjawab bakalan bertambah. Keliatannya aku bakalan sering pulang sore. Beberapa hari terakhir ini aja aku udah pulang sore terus karena berbagai sebab.
Sekali lagi, aku nggak bisa nolak. Karena nggak ada lagi orang yang mau jadi ketua program akuntansi. Akhirnya, aku memutuskan untuk membuat tips untuk diriku sendiri, menghadapi hari-hari mendatang. Ini dia tips hasil perenunganku :
- Do your best as you can. Bekerja semampunya, sebaik-baiknya. Jangan memaksakan diri kalau merasa nggak mampu.
- Ask for help. Jangan segan meminta bantuan orang lain, bila tak mampu menangani sendiri.
- Be careful in speaking and behaving. Berhati-hatilah dalam berkata dan bertingkahlaku, jangan sampai menyakiti orang lain walaupun tidak disengaja (apalagi disengaja, jangan sampai !)
- Ignore whatever people say about you. Nggak usah didengerin, apalagi dimasukin hati.
- Keep your mind wide open. Terbukalah menerima saran, bimbingan, kritik dan teguran dari siapa saja.
- Keep positif thinking. Jangan pernah berburuk sangka kepada siapapun dan dalam situasi apapun.
Aku berharap semoga segalanya akan berjalan baik-baik saja. Aku sehat, bisa melaksanakan tugas dan
tanggungjawab dengan baik, masih bisa ngeblog diantara kesibukan yang harus dijalani. Apalagi bulan Juni ini, bakalan jadi bulan yang super sibuk. Ini sudah hari ke empat Ulangan Umum Semester, dua tumpukan tinggi hasil pekerjaan siswa (satu tumpuk dari Uji Kompetensi Akuntansi Intern, satu lagi hasil pekerjaan Praktek Akuntansi kelas XI) menungguku untuk dikoreksi, dan sampai sekarang belum juga selesai aku koreksi. Tanggal 14 besok ada guru tamu yang memberi materi pembekalan untuk para siswa yang akan praktek kerja, lalu tanggal 20 mengantar siswa yang praktek kerja, tanggal 21 In House Training , tanggal 22 dan 23 Outbound di Baturaden (Wow…asyiknya…), lalu berikutnya disusul dengan rangkaian kegiatan penerimaan siswa baru yang dimulai tanggal 27 Juni. Nggak bakalan ada acara liburan. Kasihan Nayla. Untung kemarin waktu abahnya dapat long weekend, sudah sempat berkunjung ke rumah neneknya di Klaten. Yah, aku berharap semoga saja aku selalu sehat dan bisa mengikuti semua rangkaian kegiatan itu dengan baik. Amin…

















Recent Comments