It’s About Their Life

Sebenarnya, awalnya aku ragu, mau tuliskan tentang masalah ini atau tidak. Karena aku khawatir, kalau misalnya mereka baca tulisan ini, aku dikira terlalu ikut campur urusan orang lain, hidup orang lain. Tapi semakin lama, aku selalu terpikir tentang masalah ini dan tidak bisa menahan diri untuk menumpahkan semua unek-unekku di sini. Sama sekali bukan maksudku untuk ikut campur urusan hidup orang lain, tapi aku menuliskan ini lebih kepada rasa simpatiku kepada mereka, para sahabatku, dan juga rasa soliderku sebagai sesama wanita.

Dulu, di tulisanku yang berjudul It’s About Love and Family, aku pernah menulis tentang kisah seorang wanita yang ditakdirkan tidak bisa memiliki keturunan, dan dia berusaha untuk bisa punya anak dengan mengikuti program bayi tabung. Di tulisan itu aku katakan bahwa kebanyakan, para suami dari wanita seperti itu, akan berpaling kepada wanita lain, dan dengan kejam, dengan tanpa perasaan, tanpa rasa bersalah, meninggalkan istrinya begitu saja. Inilah yang terjadi, yang dialami oleh dua orang sahabatku dari masa SMA. Di usiaku, mereka terpaksa harus bercerai setelah sebelas tahun pernikahan, karena kenyataan pahit yang harus mereka hadapi.

Begitu amat sangat penting kah kehadiran seorang anak dalam sebuah pernikahan ? Apakah anak lebih penting dibandingkan cinta ? Bukankah bila memang sang suami benar-benar mencintai istrinya, maka hadirnya anak atau tidak, tidak akan menjadi masalah yang sampai bisa menghancurkan rumah tangga ? Seharusnya seperti itu, bukan ? Seharusnya mereka tidak perlu meninggalkan istrinya dan berpaling kepada wanita lain karena masalah satu itu ? Karena, mestinya mereka, para suami itu, menyadari bahwa keadaan itu (hamil atau tidak) adalah bukan pilihan para istri mereka, tapi merupakan kehendak Tuhan ? Tentu saja seandainya mereka bisa memilih, mereka akan memilih untuk menjadi wanita sempurna yang bisa hamil dan melahirkan. Seharusnya mereka justru menguatkan hati istrinya untuk tetap bersabar dalam menjalani takdir itu, bukan ?

Setiap kali berpikir tentang hal itu, rasanya aku kepingin marah. Aku kasihan dengan mereka, teman-temanku itu. Baru beberapa hari yang lalu aku mendengar kabar bahwa seorang teman sekelasku ketika SMA dulu, telah bercerai dengan suaminya, karena masalah satu itu. Sebelum dia, ada lagi teman sekelasku juga, bercerai juga, dengan kasus yang sama. Tak terbayangkan betapa besar rasa marah dan sakit hati yang mereka alami. Tapi untungnya, mereka adalah orang-orang yang tegar. Beberapa kali, mereka menulis status di facebook dengan kalimat-kalimat yang memotivasi diri sendiri untuk tetap tegar dan tetap tersenyum menghadapi kelanjutan hidup mereka. Salah satunya, “Be a Strong Women Again. Yes I Can. Keep Spirit and Smile.” Aku hanya bisa menghibur mereka dengan kata-kata, maka kutuliskan “ Yes, you can. And you don’t know what Allah has prepared for you, after all this trial.” (untuk Y dan D).


…and I Continue My Life….

Tulisan ini kubuat beberapa hari yang lalu, baru sempat diupload sekarang :

Aku menuliskan postingan ini dari Kebumen, di sebuah ruang kelas, tepatnya ruang 3 yang terletak di lantai dua SMK N 1 Kebumen, dengan pemandangan indah, berupa sawah yang terhampar luas menghijau dengan latar belakang perbukitan, yang tampak dari jendelanya. Sawah yang hijau terhampar luas adalah salah satu pemandangan favoritku. Apalagi yang dibutuhkan mata yang lelah setelah suntuk dengan segala macam pekerjaan di sekolah (apalagi di  semester genap seperti ini), selain pemandangan indah seperti itu ? (Eh, tapi ngapain aku di Kebumen ? Nanti ya, aku ceritain :) .)

Sebetulnya tanggal delapan Februari kemarin aku juga mau nulis postingan, tapi nggak jadi karena nggak sempat. Padahal ada momen khusus sehubungan dengan tanggal itu. Karena delapan Februari tahun lalu adalah hari terakhirku kemo doxo. Itu adalah jadwal kemoterapi doxorubicinku yang ke enam. Walaupun setelah itu, aku masih harus menjalani dua kali kemo herceptin, tapi saat itu aku merasa sangat senang dan lega karena sudah melalui enam kali kemo “wajib” itu.

Aku masih ingat, saat itu aku menulis di status FB ku bahwa “Setelah 8 Februari 2011, takkan kubiarkan doxo dan brexel mengalir dalam venaku lagi, selamanya. Duet obat itu benar-benar mengerikan.” Kataku waktu itu. Dan aku ingat, seperti yang pernah kutuliskan juga di postinganku tahun lalu bahwa aku berjanji, setelah seluruh kemoterapi dan radioterapi selesai dilalui, aku akan melanjutkan hidupku. I will continue my wonderful and colourful life :) (Tentu saja, memangnya mau ngapain lagi ? :) )

Maka di sinilah aku sekarang, di SMK N 1 Kebumen, di ruang 3 (salah satu ruang uji) bertugas sebagai asesor dalam rangka pelaksanaan Uji Kompetensi Teknisi Akuntansi yang diselenggarakan oleh Lembaga Sertifikasi Profesi Teknisi Akuntansi (LSP-TA) sebuah LSP yang mendapat lisensi dari BNSP (Badan Nasional Sertifikasi Profesi). Ha, panjang lebar banget aku jelasinnya. :) Habis kepanjangannya emang panjang sih :) . Aku di sini dalam rangka continue my wonderful and colourful life.

Jadi kemarin itu waktu tanggal 7, aku mendapat telepon dari Mbak Lili Safitri, dari LSP-TA memberitahukan bahwa aku diminta untuk bertugas menjadi asesor pada uji kompetensi akuntansi yang akan diadakan di SMKN 1 Kebumen pada tanggal 10 dan 11 Februari 2012. Selain aku, ada beberapa asesor lain, ada bu Titin dari SMK N 8 Jakarta, bu Ani dari SMK N 1 Yogyakarta, bu Endah dari SMK YPPK Yogyakarta, Pak Syamsul dari SMK Muhammadiyah Purbalingga, Pak Santo dan lead asesornya adalah Pak Wibowo dari LSP, yang juga dosen akuntansi di Universitas Tri Sakti.

Aku dulu sudah pernah cerita kan, di postingan berjudul http://failasufah01.wordpress.com/2011/04/26/masih-banyak-kesempatan/, bahwa tahun lalu aku juga mendapat tugas seperti itu, hanya saja waktu itu pelaksanaannya tanggal 2 Mei, bertepatan dengan jadwal radioterapi terakhirku. Dan tempatnya dulu di SMK N 1 Yogyakarta. Akhirnya kesempatan itu datang kembali, walaupun sebenarnya aku ingin tempatnya di SMKN 1 Yogyakarta, ingin suasana baru, karena selama ini aku selalu mendapat tempat pelaksanaan uji di SMKN 1 Kebumen.

Aku bersyukur bahwa setelah semuanya usai, akhirnya aku benar-benar bisa melakukan semua aktivitasku seperti dulu. Being a teacher is my passion, but being an assessor is my another passion :) Jadi, mumpung siswa masih pada ngerjakan materi uji Memproses Entry Jurnal, belum ada koreksian, aku sempatkan untuk menuliskan ini. Karena setelah ini, nggak bakalan sempat, karena bakalan ada setumpuk pekerjaan yang harus dikoreksi. Semoga saja nanti malam tidak harus lembur koreksi sampai pagi, karena hanya lima unit kompetensi yang diujikan, tidak seperti dulu yang sampai sebelas unit. So, have a nice day… :)


Selamat Jalan Mbak Sima Gunawan

Tadi malam aku baru tahu kalau Mbak T. Sima Gunawan sudah meninggal, pada 19 Januari 2012. Beliau adalah wartawati The Jakarta Post, survivor ca mamae stadium 4, pemilik blog Cancer Sucks yang sering aku kunjungi, karena aku menyukai tulisan-tulisannya. Dia menulis di blog itu sejak November 2007 dan tulisan terakhirnya bertanggal 22 Desember 2012.

Sejak 2004, beliau sudah mastektomi dan kemoterapi sebanyak 6 kali. Tapi tahun 2007, kankernya kambuh lagi, dan sudah stadium 4, sudah menyebar ke tulangnya. Selama ini beliau sudah berjuang dengan sangat gigih dan tidak kenal menyerah, melawan penyakitnya. Beliau berobat di beberapa rumah sakit di Jakarta, antara lain di RS. Dharmais, dan beberapa rumah sakit swasta bahkan RS. National University Hospital Singapura. Beliau sudah menjalani berbagai macam terapi dan tindakan medis untuk membunuh sel kankernya. Sejak akhir 2004 sampai 2011, jumlah dokter yang telah ditemuinya dalam rangka pengobatan itu total berjumlah 30 orang.

Selama ini, setiap kali membaca tulisannya, aku terinspirasi dengan semangat dan kegigihannya untuk terus berjuang dengan berbagai macam cara menuju kesembuhan.  “Perang melawan kanker memang melelahkan. Hampir empat tahun telah berlalu sejak aku naik kelas ke stadium lanjut. Berbagai cara telah dilakukan untuk memberantasnya hingga tuntas, atau paling tidak untuk mengendalikannya agar tidak menyebar ke mana2. Perjuangan belum selesai. Pengobatan dan pemeriksaan rutin dilakukan untuk mendeteksi keberadaan sel2 kanker.” Tulisnya, tertanggal 14 Maret 2011. Melalui blognya, aku juga banyak belajar dari informasi-informasi yang beliau berikan, seperti ini misalnya :”

Dokter Roland adalah salah satu pembicara dalam Temu Pasien Kanker Payudara: “Mengobati Kanker Payudara: Peluang Kesembuhan dan Akses Terhadap Pengobatan Inovatif.”

Tak jelas apa yang dimaksud dengan pengobatan inovatif, tapi yang jelas acara ini diadakan oleh Yayasan Kanker Indonesia dan Roche Indonesia pada tanggal 30 Oktober 2007 dalam rangka memperingati Bulan Peduli Kanker Payudara yang jatuh setiap bulan Oktober.

Sebelum tulisan ini dilanjutkan, bagi yang ingin mengetahui mengenai stadium kanker, berikut petikan dari http://www.cancerhelp.org.uk/.

Stage 1 usually means a cancer is relatively small and contained within the organ it started in
Stage 2 usually means the cancer is localised, but the tumour is larger than in stage 1. Sometimes stage 2 means there are nearby lymph nodes that have cancer cells in.
Stage 3 usually means the cancer is larger and there are cancer cells in the lymph nodes in the area
Stage 4 means the cancer has spread from where it started to another body organ, such as the liver, bones or lungs

Kata Dr. Ronald, harapan sembuh pasien dalam stadium awal atau stadium 1 dan 2 mencapai lebih dari 70 persen. Bahkan jika masih dalam stadium 1, kemungkinan untuk sembuh bisa mencapai 95 persen.
Kalau pasien dalam stadium 3, kemungkinan sembuh 40-50 persen dan stadium 4 kemungkinan sembuh kurang dari 15 persen.

Tetapi “sembuh” disini bukan berarti benar-benar sembuh. Setelah beberapa tahun, bisa saja penyakit ini muncul kembali.

Setelah lima tahun, sebanyak 70 persen dari pasien yang sudah sembuh itu memang “bersih” dari sel-sel kanker. Tetapi sisanya ternyata kurang beruntung karena kanker kembali menyerang mereka.

“Hal ini disebabkan karena perangai sel tumor yang memang berbeda,” kata Dr. Ronald.

Rendahnya peluang kesembuhan bagi penderita kanker stadium lanjut harus menjadi peringatan bagi perempuan agar menyadari pentingnya deteksi dini kanker, yang bisa dilakukan melalui mamografi.

Selain menegaskan perlunya deteksi dini kanker, Dr. Melissa Luwia MHA (singkatan apakah itu? … ooohhh … ternyata Master of Health Administration) dari YKI mengumumkan bahwa YKI menyediakan layanan mamografi murah bagi anggotanya maupun masyarakat.

Kalau di RS, biaya mamografi paling sedikit Rp 175.000, tapi di YKI hanya Rp 100.000 untuk masyarakat dan Rp 75.000 untuk anggota. Itu tarif untuk mereka yang berpayudara sepasang. Anggota yang hanya mempunyai 1 payudara (setelah payudara yang sebelah dibuang dalam operasi mastectomy) hanya perlu membayar Rp 50.000 dan non-anggota Rp 75.000.”

Selain itu, aku sangat menyukai blognya karena beliau itu humoris, tulisannya kadang-kadang lucu-lucu. Di tengah penderitaannya melawan sakit, Mbak Sima masih bisa bercanda. Kepergian Mbak Sima menambah panjang daftar survivor ca pemilik blog yang tidak bisa lagi bertahan untuk tetap survive.

Sekarang, seperti para survivor ca pemilik blog lainnya yang telah berpulang, seperti http://sitianiroh.wordpress.com/, http://kankerpayudara.wordpress.com/, dan mungkin juga http://dirikuwanita.wordpress.com/, (kebetulan pake wordpress semua) dan lain-lainnya, blog mereka tidak akan pernah diupdate lagi. Aku tidak bisa lagi membaca tulisan-tulisan terbaru mereka. :(

Seperti tulisanku di http://failasufah01.wordpress.com/2011/03/05/selamat-jalan-siti-aniroh/, bahwa segalanya harus berakhir pada suatu hari. Kematian adalah takdir yang pasti akan menjemput siapa saja, tanpa kecuali. Maka yang sekarang terpikirkan dan aku renungkan adalah…”Jika kau mati, bagaimana kau ingin orang lain mengenangmu ?”


Follow

Get every new post delivered to your Inbox.