Pesona Rumah Kuno

Aku suka sekali dengan rumah-rumah kuno. Dulu waktu masih kecil, aku pernah beberapa kali diajak ibuku ke rumah budeku yang bagiku waktu itu “sangat besar, sangat tinggi dan sangat sejuk”. Budeku dulu pernah tinggal di rumah kuno warisan seorang keturunan cina yang mewarisi rumah itu dari orang belanda (bingung nggak bacanya ? :) Dulu, ada orang cina yang beli rumah itu dari orang belanda, lalu keluarga budeku membelinya dari orang cina itu). Rupanya kenangan masa kecilku akan rumah itu sangat membekas di hatiku.

Seperti yang sudah kuceritakan pada postingan sebelumnya, bahwa aku pernah menulis tentang rumah kuno dan dimuat di KoKi (Kolom Kita), sebuah Citizen Journalism di Detik.Com yang punya tagline “Siapa Saja, Menulis Apa Saja.” Sebenarnya aku sendiri heran, kenapa tulisanku yang biasa aja (ordinary, just like me) itu dimuat. Awalnya aku cuma iseng aja kirim tulisan, eh ternyata dimuat juga. Aku pakai nama samaran Philos di situ. (Cie..pakai nama samaran, kayak penulis beken aja ya… :)  Kenapa pilih nama Philos ? Karena namaku Failasufah itu, aslinya berasal dari kata Filsafat, dari bahasa Yunani Philos dan Sophia.  Philos artinya cinta, Sophia artinya kebijaksanaan. Jadi aku ambil nama Philos aja… Para penulis di KoKi juga biasanya menyebutkan lokasi dimana mereka berada, jadi aku tulis saja lokasiku  here, there and everywhere (terinspirasi dari lagu The beatles yang judulnya here, there and everywhere). Aku lupa persisnya kapan tulisanku itu dimuat, tapi sepertinya tidak jauh dari tanggal 5 Juni 2009, karena tanggal comment yang masuk juga tanggal itu. Dulu langsung aku simpan di file, jadi sekarang bisa aku tampilkan di sini.

Oke, ini dia tulisanku sesuai aslinya, enggak kuedit lagi (aslinya ada fotonya dari Zevie, tapi tidak aku tampilkan disini)  :

Pesona Rumah Kuno
Philos, Here, There, and Everywhere

Dear KoKiers, apa kabar? Tentunya semua dalam keadaan baik, cerah ceria, seceria rumah baru koki. Saya adalah seorang silent reader yang telah sekian lama (lama banget) membaca koki. Dari hanya membaca, akhirnya pengin juga menulis di KoKi.

Sebetulnya saya hanya mau cerita saja tentang kesukaan saya akan rumah kuno. Setiap kali saya bepergian, pemandangan yang paling dicari-cari di sepanjang jalan adalah rumah kuno.

Pengertian kuno ini menurut saya adalah yang dibangun sebelum atau sampai dengan tahun 1950an. Kebanyakan berupa rumah-rumah peninggalan Belanda. Modelnya bisa bermacam-macam, tapi ciri-cirinya sama yaitu plafon tinggi, diatas 4 meter. Jendela-jendelanya besar dan tinggi. Struktur bangunannya kuat dan kukuh, dengan batu bata yang amat tebal, bahkan ada yang berdinding batu.Bagi saya, keseluruhan penampilan rumah kuno itu begitu mempesona, begitu anggun.

Begitu besarnya minat saya pada rumah-rumah kuno, sampai-sampai saya memiliki suatu impian yang entah kapan bisa terwujud. Impian itu adalah, saya ingin menulis sebuah buku tentang sejarah rumah-rumah kuno semacam itu di setiap daerah di Indonesia. Buku itu akan berisi tentang riwayat para penghuninya dari mulai berdiri sampai sekarang, lengkap dengan foto-foto tata ruangnya, desain interiornya seperti buku-buku laris karya Imelda Akmal. Akan dimuat di dalamnya gambar-gambar pola lantainya, yang biasanya memiliki motif geometris berwarna-warni yang indah. Yang takkan ditemukan lagi sekarang di toko bangunan manapun. Akan dimuat di dalamnya foto jendela-jendelanya yang besar, pintunya yang kokoh dan tinggi, dan detil-detil lainnya.

Saya takkan peduli betapa tebalnya buku itu nantinya, karena saya tahu ada begitu banyak rumah kuno tersebar di seluruh Indonesia. Ada rumah kuno yang didiami oleh keturunan Arab, yang banyak terdapat di Pekalongan. Banyak pula rumah kuno yang didiami oleh keturunan Cina, dengan desain interior yang menunjukkan kekhasan budaya Cina. Bagi saya, rumah-rumah itu demikian indah. Ingin rasanya menjelajahi semuanya, agar semua orang juga bisa menikmati keindahannya dari buku itu, agar tidak hanya para pemilik dan penghuni rumah itu saja yang bisa merasakan keanggunan dan keindahannya.

Saya bukanlah orang dengan latar belakang arsitektur sehingga demikian tertarik dengan arsitektur rumah-rumah kuno. Mungkin bagi orang yang tidak memiliki minat seperti saya akan bertanya, “Apa bagusnya sih, rumah-rumah tua yang lumutan seperti itu ?”

Tak tahukah anda, bahwa dengan melihat rumah kuno yang indah itu, saya melihat keanggunan, warisan budaya dari masa lalu yang masih tegak berdiri. Saya melihat ketegaran, kesabaran, bahwa mereka telah menghadapi segala cuaca, dari hari yang paling panas dan terik, hingga dingin hujan yang mengguyur. Hari demi hari, selama puluhan, bahkan ratusan tahun. Mereka tegar berdiri menantang segala cuaca, melindungi para penghuni di dalamnya. Mereka adalah saksi bisu dari kehidupan para penghuninya, dari generasi ke generasi.

Setiap kali memandang sebuah rumah tua, seolah saya mendengarnya berkata “Lihatlah aku. Aku telah berdiri di sini sejak berpuluh-puluh tahun yang lalu.Aku tak peduli dengan perubahan yang terjadi di sekelilingku. Aku adalah sesuatu yang berasal dari masa lalu.”

Ya, melihat rumah kuno, saya seakan melihat ke masa lalu. Bila saya bisa kembali ke masa lalu, bukankah saya juga akan menjumpai rumah yang sama ? Itulah istimewanya rumah kuno bagiku. Sesuatu yang sama, yang bisa dilihat berada di tempat yang sama, pada dimensi waktu yang berbeda.

Pada akhirnya, saya tahu, impian dan keinginan tentang buku itu hanya akan menjadi angan-angan bagi saya. Karena saya tak mungkin bisa, tak mungkin sempat. Atau……….adakah diantara KoKiers yang terinspirasi ? Siapa tahu bakal jadi best seller, lho.

Demikian Zevie, apa yang bisa saya tuangkan. Mohon maaf saya tidak punya foto-foto rumah kuno, Jika tulisan ini butuh diedit, silakan saja, karena memang cukup amburadul. Yang jelas saya bingung apakah akan memakai “saya” atau “aku” sebagai kata ganti diri.

Terimakasih sudi membaca, Salam damai dari saya.

1 dari 3 Halaman Komentar

Philos, aku dan mamaku jg suka liat2 rumah kuno klo pas jalan2 gitu seneng aja, kagum sama jendelanya yg besar2, angin semilir bikin adem. kebetulan rumah nenek jg bangunan kuno dgn ruangan besar2 dan jendela byk, pas kecil sih seneng2 aja pas udh gede kok serem ya…hehehe kebykan nonton pilem nih. pas kuliah di jogja dulu kampusku jg bangunan kuno smp pny sebutan universitas seribu djendela :)

Posted by: phie-midstate | Sabtu, 6 Juni 2009 | 08:59 WIB

Philos: salam kenal, atau malah sudah kenal? Soalnya baru beberapa hari ada KoKier yang e-mail ke aku membahas dengan isi sama-persis-plek dengan tulisan di atas…hehe….betul sekali, aku juga suka dan salah satu pecinta rumah kuno….terima kasih sharing’nya di sini….

Posted by: Josh Chen | Jumat, 5 Juni 2009 | 11:16 WIB

Rumah Kuno????? Kalo di film2 bukannya banyak setannya ya???

Posted by: Ocha | Jumat, 5 Juni 2009 | 09:48 WIB

aku juga suka banget ngeliat rumah2 kuno, mbayangin dulu siapa yak yang tinggal di situ, sayangnya banyak rumah2 kuno peninggalan belanda yang telantar, malah banyak juga yang dihancurkan trus diganti dengan bangunan2 baru, hiks hiks

Posted by: Ratih | Jumat, 5 Juni 2009 | 08:30 WIB

 kayaknya gw familiar bgt ama gbr no.2…. bangunan tua dr zaman belanda di indo kyknya gak terlalu diurus tuh..menyedihkan,padahal kok dicat dan selalu dijaga kebersihannya bs jd tujuan wisatawan..kayak di eropa tuh semua bangunan kuno dirawat dgn baik..krn mereka menghargai instruktus tempo dulu…

Posted by: farvel | Jumat, 5 Juni 2009 | 06:35 WIB

Zevie adalah nama panggilan untuk almarhumah Zeverina, moderator KoKi yang sudah meninggal. Dan aku dulu memang pernah kirim email ke pak Joseph Chen untuk menanyakan alamat URL KoKi waktu dulu baru pertama pindah dari Kompas.com dan minta dikirim file family budget plan. Sayangnya sekarang pak JC nggak pernah nulis di KoKi lagi, sama sepertiku.

(Kalau mau baca tulisanku di atas dari KoKi langsung, klik aja disini : http://kolomkita.detik.com/baca/artikel/6/153/pesona_rumah_kuno )



11 Comments on “Pesona Rumah Kuno”

  1. gambarpacul says:

    aku juga sering nongkrong disini La… http://djawatempodoeloe.mutiply.com
    suka liat2 gambar tempo doeloe…

  2. Failasufah says:

    Makasih linknya Mil…aku juga mau kesana…

  3. didi says:

    aku juga suka rumah2 kuno, persis perti kamu aku juga suka ngeliat sepanjang jalan ketika aku bepergian, kenapa aku suka rumah kuno karena aku juga pernah memiliki pengalaman masa kecil bersinggungan dgn rumah kuno tetapi ini bukan rumah kuno belanda tapi rumah kuno jawa atau kami menyebutnya jrambah/joglo, tetapi aku berminat dgn hal2 yg konvensional, aku tertarik dengan sejarah yang menyertainya dari waktu ke waktu

  4. Failasufah says:

    Saya juga suka rumah kuno joglo… Memang rumah kuno itu menarik ya Pak, memikat dan mempesona, sayangnya mereka semakin langka dan banyak yang tidak terawat… Terimakasih sudah berkunjung ke blog saya :)

  5. Hasanudin says:

    Saya juga sangat suka pada rumah kuno, rumah kuno perlu dilestarikan keasliannya

  6. Felicity says:

    Hmmm, melihat definisi rumah kuno yang dibertikan, berarti saya tinggal di rumah kuno :) Rumah yang kami tempati di sini dibangun tahun 1930, masih berdiri dengan kokoh meski dari bahan kayu. Takjub juga melihat kualitas bahan bangunan jaman dulu yang baru terungkap setelah kami merenovasi sebagian ruangan (log kayu yang digunakan sangat tebal dan kokoh dibandingkan produksi saat ini). Suami juga suka rumah2x tua karena lebih mempunyai jiwa dibanding rumah modern.

  7. Failasufah says:

    wah.. senangnya tinggal di rumah kuno… :) iya mbak rumah jaman dulu memang ukuran materialnya serba jumbo, kuat dan kokoh. Makanya bisa bertahan sampai puluhan tahun..

    • Felicity says:

      Mau menambahkan komentar saya di atas. Buat renovasi rumah tua di sini ada toko yang khusus menjual ubin misalnya dengan motif2x jadul atau dengan pintu dan jendela dari rumah tua asli (kalau ubinnya reproduksi, dia terima juga pesanan motif customized misalnya mencontek motif ubin asli di rumah). Jadi terinspirasi mau bikin postingan tentang renovasi rumah tua deh. Moga2x buku yang ingin ditulis bisa direalisasikan ya….. saya pasti beli deh :)

  8. Irwin says:

    Sejak kecil saya tinggal di daerah yang banyak terdapat bangunan kunonya. Bahkan saya sendiripun dibesarkan di rumah dinas warisan Belanda di daerah Jl. Gandapura. Sayangnya kami sudah pindah ke rumah lain yg bergaya modern. Sampai saat ini saya masih berangan-angan untuk memiliki dan tinggal di salah satu rumah kuno di Bandung. Mudah mudahan kesampaian. Paling berkesan ketika mengunjungi Istana Bogor beberapa tahun yang lalu. Pokoknya, rumah kuno itu indah dan elegan….

    • Failasufah says:

      Wow…senangnya bisa berkunjung ke istana Bogor…saya hanya bisa menatapnya dari jauh waktu ke kebun raya Bogor…bahkan tidak bisa memfotonya karena tidak bawa kamera :( Saya juga kepingin bisa tinggal di rumah kuno peninggalan Belanda…tapi sayang pasti mahal sekali dan tidak bisa terbeli.. Oke semoga cita-cita Mas Irwin bisa kesampaian ya… Amin…
      oh ya. setuju banget kalo rumah kuno itu indah dan elegan


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.